Jatuh Cinta Pada Ayah Si Kembar

Jatuh Cinta Pada Ayah Si Kembar
Penyesalan


__ADS_3

"Aku nggak mau mandi!"


Baru saja Rania dan Bayu masuk ke dalam rumah, mereka sudah disambut oleh suara teriakan Anjani yang sangat nyaring.


Bahkan, Rania saja sampai menutup matanya saking nyaringnya suara gadis kecil itu.


"Maaf ya, biasa anak kecil, kalo pagi gini sukanya bikin drama," ucap Bayu merasa tidak enak.


Mendengar hal itu, Rania pun hanya dapat menunjukkan senyum canggung nya, "Oh, iya nggak papa kok, aku dulu juga gitu kalo mau sekolah,"


"Ya, bahkan sampe SMP juga kamu masih suka males mandi kan kalo mau sekolah?" ledek laki-laki itu sambil mengedip-ngedipkan matanya ke arah Rania.


Sontak saja, gadis itu pun jadi mengingat lagi masa-masa itu. Masa dimana ia masih sangat dekat dengan Bayu. Saat itu, Rania masih seorang gadis kecil dengan seragam biru putihnya. Karena kecantikan yang gadis itu miliki, ia jadi sering dibully oleh kakak kelasnya karena gebetan-gebetan mereka malah suka kepadanya.


Akhirnya Rania kecil jadi sosok anak yang penakut dan pemalu, setiap pagi sebelum berangkat sekolah dia pasti menangis dulu karena dia tidak mau bertemu dengan para kakak kelas pembully itu. Dan disaat-saat seperti itulah, Bayu hadir sebagai satu-satunya orang yang bisa mengembalikan rasa percaya diri Rania. Hingga dia bisa menjalani masa-masa SMP nya dengan tenang.


"Ran,"


Tubuh Rania tersentak kaget saat merasakan sentuhan lembut di bahunya, "Hah? Kenapa?


"Harusnya Mas yang tanya, kamu kenapa? Kayaknya dari tadi Mas liat-liat kamu bengong terus, lagi ada masalah ya?" tanya Bayu dengan tatapan lembut yang ditujukan pada Rania. Dan hal tersebut berhasil membuat jantung gadis itu berdetak lebih cepat dari biasanya.


Dengan gugup, Rania pun menjawab, "Hah? Nggak kok, nggak, aku nggak papa,"


"Beneran?" laki-laki itu kembali bertanya dengan raut wajah tak percaya.


Aaaaa… kenapa Mas Bayu harus kaya gitu sih! Iman gue kan nggak sekuat itu.


"Ben-"


"Papah! Aku nggak mau mandi! Papah, aku mau sama Papah!"


Belum sempat Rania menyelesaikan ucapannya, dari lantai dua sudah terdengar suara tangisan Anjani yang sangat kencang membuat gadis itu langsung menutup mulutnya kembali.


Lagi-lagi, Bayu pun hanya dapat menghembuskan nafasnya dengan keras saat mendengar teriakan sang putri.


"Kita ke atas dulu yuk," ucap laki-laki itu tiba-tiba, membuat Rania yang masih berdiri di samping nya langsung mengerutkan keningnya bingung.


"Ke atas?"


Bayu menganggukkan kepalanya dengan pelan, "Iya, ke kamarnya Anjani. Dia pasti bakal langsung diem kalo liat kamu, ayo,"


Tanpa menunggu persetujuan dari Rania, tiba-tiba saja Bayu sudah menarik tangan gadis itu untuk menaiki tangga menuju lantai dua. Sontak saja, hal tersebut pun membuat Rania melebarkan matanya karena tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi saat ini.


Bayu menggandeng nya.


Ya, Bayu menggandeng tangannya.


Sepanjang perjalanan menuju lantai dua Rania benar-benar tidak bisa mengalihkan pandangannya dari tautan tangan mereka berdua. Jangan tanyakan lagi bagaimana keadaan jantungnya saat ini, karena gadis itu sampai merasakan nyeri di dadanya saking cepatnya jantungnya berdetak.


Cklek.


Kesadaran Rania baru kembali saat indra pendengarnya menangkap suara pintu yang terbuka. Dengan cepat, gadis itu pun langsung mengalihkan pandangannya dari tautan tangan Bayu di tangannya. Dan pada saat itulah matanya langsung bertemu dengan mata indah Anjani yang tengah mengeluarkan air mata.


"Kakak Cantik?"


Gadis kecil yang tadinya sedang menangis di atas ranjangnya itu pun langsung menghentikan tangisannya saat melihat sosok wanita yang akhir-akhir ini selalu membuat nya nyaman. Tanpa ada yang menduga, tiba-tiba saja gadis kecil yang tak lain adalah Anjani itu langsung turun dari atas ranjang kecilnya kemudian berlari menuju Rania.


"Kakak cantik!" seru Anjani sambil memeluk kaki Kakak Cantiknya.


Melihat hal tersebut, Rania pun langsung menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman yang sangat lembut. Karena tangan kanannya masih ada di dalam genggaman Bayu, gadis itu pun mengangkat tangan kirinya untuk mengelus kepala Anjani.


"Anjani kenapa nangis?" tanya Rania dengan lembut.


Masih dengan sisa-sisa tangisnya, gadis kecil itu lalu menjawab, "Aku nggak mau mandi, tapi dipaksa sama Mbak," adu Anjani dengan air mata yang kembali mengalir.


"Kenapa kamu nggak mau mandi? Kan mau sekolah, masa nggak mandi sih? Nanti bau loh," ucap Rania dalam rangka membujuk Anjani agar mau mandi.


"Dingin… " lirih Anjani sambil menyembunyikan wajahnya di kaki Rania.


"Kan pake air anget," kini giliran Bayu yang angkat bicara.


"Tapi tetep aja dingin,"

__ADS_1


Kini bukan hanya Bayu saja yang menghembuskan nafasnya dengan keras tapi Rania juga jadi ikut-ikutan. Ternyata begini ya rasanya mengurus anak kecil. Padahal dia baru beberapa menit berada disini, namun kesabarannya sudah diuji. Bagaimana sang ibu yang sudah bertahun-tahun mengurus nya?


Mengingat hal itu, tiba-tiba saja membuat suasana hati Rania menjadi mellow. Sepertinya nanti malam dia harus meminta maaf kepada sang ibu atas kelakuan-kelakuan nakalnya saat kecil.


"Kalo di mandiin sama Kakak Cantik mau?"


Perkataan tiba-tiba yang dilontarkan oleh Rania membuat semua orang yang ada di dalam kamar itu menoleh ke arahnya, termasuk Bayu.


Dengan mata yang berbinar-binar, gadis kecil itu pun menjawab, "Mau, mau, mau, aku mau kalo mandi sama Kakak Cantik,"


Rania pun tersenyum saat melihat respon yang diberikan oleh Anjani, dia tidak menyangka kalau gadis kecil ini akan sangat lengket dengannya. Padahal sejak kecil dia adalah tipe orang yang tidak disukai oleh anak kecil. Tapi kenapa Anjani berbeda? Bahkan, dalam pertemuan pertama gadis kecil itu langsung dekat dengannya.


"Ya udah ayo," ajak Rania yang langsung di angguki oleh Anjani.


Dan pada saat gadis itu hendak berjalan, dia baru sadar kalau sejak tadi tangannya masih berada dalam genggaman Bayu.


"M-mas, tangan aku… "


"Tangan kamu kenapa? Sakit?" tanya laki-laki itu dengan raut wajah khawatir nya.


Sontak saja, jawaban dari laki-laki itu pun membuat Rania langsung menghembuskan nafasnya dengan keras.


"Bukan,"


"Terus kenapa?"


Bukannya menjawab, gadis itu malah mengangkat tangannya ke udara sehingga Bayu dapat melihat tautan tangan mereka berdua.


"O-oh iya, sorry, sorry, Mas lupa,"


Dengan cepat, Bayu pun langsung melepaskan tangan Rania dari dalam genggaman nya.


Barulah setelah itu, Rania kembali berjalan sambil menggandeng tangan mungil Anjani menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar ini.


Semalam, dia memang sempat masuk masuk ke dalam kamar Anjani. Jadi Rania sudah tahu dimana letak kamar mandinya.


Baru saja gadis itu hendak membuka pintu kamar mandi, sampai tiba-tiba…


Rania pun langsung menghentikan gerakannya saat mendengar suara Bayu yang memanggil namanya. Dengan pelan, gadis itu pun kembali memutar tubuhnya ke belakang.


"Kenapa Mas?" tanya Rania dengan kening yang berkerut.


"Kamu yakin mau mandiin Anjani? Nanti kalo baju kamu basah gimana?"


***


Dan benar saja, setelah selesai memandikan Anjani, saat ini kondisi Rania terlihat sangat memprihatinkan. Baju atasannya sudah basah kuyup, rambutnya juga tak kalah basah, dan riasan di wajahnya sudah tak berbentuk lagi.


Itu semua bisa terjadi karena tadi Rania tidak sengaja terkena siraman shower oleh gadis kecil itu.


Tapi jujur, dia tidak marah sama sekali kepada Anjani. Bahkan, kesal juga tidak. Ia malah merasa sangat bahagia karena tadi di kamar mandi mereka tertawa dengan sangat puas. Namun, tetap saja tidak bisa dipungkiri kalau sekarang ia tengah bingung bagaimana cara memperbaiki penampilan nya.


Cklek.


"Udah bel-"


Bayu langsung menghentikan gerakannya saat melihat Rania tengah mengeringkan tubuh Anjani di atas ranjang. Namun, bukan hal itu yang membuatnya terkejut. Melainkan, keadaan Rania yang basah kuyup dari atas sampai bawah.


"Ya Allah Rania! Tuh kan, apa Mas bilang, basah semua kan jadinya. Makanya kalo di omongin sama orang yang lebih tua itu nurut,"


Rania langsung melebarkan matanya saat mendengar hal tersebut. Apakah… Dia sedang dimarahi oleh Bayu? Kalau iya, menyebalkan sekali laki-laki itu! Dia sudah susah payah membantu memandikan anaknya, eh malah di marahi, harusnya kan dia dipuji karena sudah berhasil menjinakkan gadis kecil ini.


"Papah! Papah nggak boleh marahin Kakak Cantik!" seru Anjani sambil memeluk leher Rania.


Mendengar hal tersebut, gadis cantik itu pun langsung menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman puas.


"Papah nggak marahin Kak Rania, Papah cuma- ah udahlah kamu tunggu disini,"


Setelah mengatakan hal itu, Bayu langsung pergi begitu saja dari sana. Meninggalkan kedua wanita berbeda usia yang masih saling memeluk itu.


"Papah kok malah pergi sih! Aku kan belum selesai ngomong!" seru Anjani kesal. Dia masih tidak terima kalau Kakak Cantiknya dimarahi seperti itu oleh sang ayah.


"Udah, biarin aja. Mau minum obat kali, darah tingginya naik," sahut Rania sambil terus menggerakkan tangannya untuk mengeringkan tubuh Anjani.

__ADS_1


Mendengar ucapan dari wanita dewasa di depannya, Anjani pun mengerutkan keningnya bingung.


"Darah tinggi? Darah tinggi itu apa Kakak Cantik?"


Aduh salah ngomong gue!


Rania lupa kalau anak-anak seumuran Anjani ini sedang kritis-kritis nya. Apapun yang dia tidak tahu pasti akan ditanyakan. Makanya kita sebagai orang dewasa harus bisa lebih menjaga ucapan ketika berada di hadapan anak-anak.


"Mm… darah tinggi itu penyakitnya orang yang suka marah-marah," jawab Rania setelah memutar otaknya dengan keras untuk mencari jawaban yang paling mudah dipahami oleh anak kecil.


"Oo… tapi kok Kak Shaka nggak tinggi-tinggi sih padahal kan dia juga suka marah-marah,"


Ingin rasanya Rania berkata kasar! Sepertinya dia memang tidak jago untuk mengajari anak kecil, karena kesabarannya hanya setebal tisu dibagi 7.


"Nah, udah kering. Kita ganti baju dulu ya sekarang," ucap Rania mengalihkan topik, bisa makin blunder dia kalau terus-terusan membahas mengenai hal itu, "Ayo pake kaos dalamnya dulu," lanjut gadis itu seraya meraih dalaman yang sudah disiapkan oleh baby sitter Anjani.


Namun, saat Rania akan memakaikan nya ke tubuh gadis kecil itu, Anjani malah menolak.


"Kenapa lagi? Kok nggak mau?"


"Itu, pake minyak telon dulu biar badan aku wangi,"


Mendengar hal itu, Rania pun langsung menghembuskan nafasnya dengan keras. Namun tak urung, gadis itu tetap memakaikan minyak telon ke seluruh tubuh Anjani sesuai dengan requestan dari gadis kecil itu.


Setelah semuanya selesai, kini Rania tinggal menghias rambut Anjani yang sudah ia kepang dua. Ternyata hobinya me make over rambut barbie ada gunanya juga sekarang.


"Nah, selesai deh. Jadi cantik," ucap Rania seraya tersenyum puas melihat hasil kerja tangannya.


Anjani yang saat ini tengah duduk di atas ranjang pun langsung berdiri dan berlari menuju cermin besar yang tertempel di lemarinya.


"Aaa… Anjani suka! Makasih Kakak Cantik!" seru gadis kecil itu sambil mencium pipi Rania.


Cklek.


Kedua wanita berbeda usia itu pun langsung menoleh ke arah pintu dengan serentak saat mendengar suara pintu yang terbuka. Disana berdiri seorang laki-laki tampan yang tak lain adalah Bayu, dengan perlahan laki-laki itu mulai masuk ke dalam kamar dan berhenti tepat di hadapan kedua wanita itu.


"Nih, pake," ucap Bayu sambil mengulurkan satu stel pakaian ke arah Rania.


Melihat hal itu, Rania pun mengerutkan keningnya bingung.


"Itu apa?"


"Baju," jawab laki-laki itu singkat.


"Iya aku tahu, tapi Mas dapet baju cewek darimana?" tanya Rania masih dengan kening yang berkerut.


Sepertinya, gadis itu lupa kalau Bayu pernah menikah.


"Ini… bajunya almarhumah Adel," jawab laki-laki itu dengan nada yang lebih rendah dari sebelum nya.


Sontak saja, jawaban laki-laki itu pun membuat Rania langsung melebarkan matanya.


Aduh! Kayaknya gue salah ngomong lagi deh.


Sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal gadis itu pun kembali bertanya, "Mm… Emangnya nggak papa kalo aku pake?"


Sekarang gantian Bayu yang mengerutkan keningnya, "Ya nggak papa lah, emangnya kenapa?"


"Ya… itu kan peninggalan nya almarhumah Mbak Adel, kayak nggak sopan aja kalo aku pake," jawab Rania dengan gugup karena gadis itu takut salah bicara lagi.


"Ya nggak lah, Adel malah seneng kalo tahu kamu pake baju dia," ucap Bayu dengan senyum yang terpatri di wajah tampan nya, "Dari awal dia liat kamu, dia itu udah kagum banget sama kamu. Dia juga seneng banget kalo aku ajak dia dateng ke rumah kamu. Karena katanya dia juga udah anggep kamu sebagai adiknya sendiri, tapi sayangnya… waktu itu kamu nggak pernah mau nemuin kita. Bahkan, dia pernah bilang sama Mas, kalo kita punya anak perempuan, dia mau anaknya secantik kamu. Dan ya… doanya terkabulkan. Walaupun pada akhirnya dia nggak pernah lihat wajah anaknya sendiri,"


Deg.


Perasaan Rania langsung berubah drastis saat mendengar ucapan dari mulut Bayu. Hatinya bahkan terasa sangat sakit seperti tengah diremas-remas dengan kuat.


Kenapa? Kenapa dia baru mengetahui hal seperti ini sekarang? Kenapa dia baru mengetahui hal sepenting ini di saat orangnya sudah tidak ada lagi di dunia ini.


Tanpa sadar air mata Rania sudah keluar dengan derasnya. Dia benar-benar menyesal, dia menyesal karena dulu dia bersikap sangat kekanak-kanakan dengan menghindari Bayu dan Adel. Padahal mereka berdua tidak mempunyai salah apa-apa kepadanya. Dia yang punya perasaan, tapi kenapa dia malah melimpahkan rasa kecewanya itu kepada orang lain. Kenapa?


Kalau boleh meminta, apakah Rania bisa memutar waktu sebentar saja. Dia ingin mengatakan maaf secara langsung kepada Adel atas sikap kekanak-kanakan nya selama ini. Bahkan dengan jahatnya, dia juga pernah mendoakan Bayu dan Adel berpisah.


Kenapa lo bisa sejahat itu Rania?!

__ADS_1


__ADS_2