
Setelah keributan yang terjadi di depan kasir tadi, kini mereka bertiga pun sudah duduk manis di dalam mobil. Dengan posisi Bayu yang duduk dibelakang kemudi dan Rania yang duduk disamping laki-laki itu, tak lupa si kecil Anjani yang memaksa untuk duduk di atas pangkuan Rania.
Awalnya, Rania menolak untuk duduk di depan, tetapi karena paksaan dari gadis kecil di pangkuannya ini akhirnya ia pun hanya bisa pasrah.
"Papah, boleh makan es krim nya sekarang?" tanya Anjani dengan raut wajah memohon.
Bayu yang tengah fokus menyetir pun menoleh sekilas ke arah sang putri, lalu menganggukkan kepalanya.
"Boleh, tapi nanti kalo Kak Shaka makan, Anjani nggak boleh gangguin ya,"
"Iya papah," sahut Anjani sambil menganggukkan kepalanya hingga kedua ikatan rambutnya bergoyang-goyang lucu, dengan semangat gadis kecil itu pun membuka kantong plastik yang ada di sampingnya, lalu mengambil satu cup es krim miliknya.
Rania yang duduk di belakang Anjani pun hanya dapat tersenyum saat melihat tingkah lucu gadis kecil itu.
"Kakak cantik, boleh minta tolong bukain nggak?"
Rania yang masih fokus memperhatikan gerak-gerik Anjani pun langsung menganggukkan kepalanya, "Boleh," ucap gadis itu seraya mengambil cup es krim dari tangan Anjani.
Dengan telaten Rania membuka kertas yang menutupi bagian atas es krim itu lalu membuang sampahnya ke dalam plastik, kemudian barulah cup es krim tersebut ia kembalikan kepada Anjani.
"Selesai,"
"Makasih kakak cantik,"
__ADS_1
"Sama-sama,"
Bayu yang sejak tadi diam-diam memperhatikan interaksi kedua wanita di sampingnya itu pun tak bisa menahan kedua sudut bibir nya untuk tersenyum. Dia tidak menyangka kalau hari seperti ini akan hadir dalam hidupnya, hari dimana kedua gadis kecil yang sangat ia sayangi bisa bercengkrama dengan sehangat itu.
"Ran," panggil Bayu dengan pandangan yang masih fokus pada jalanan di depannya.
Rania yang masih fokus menatap Anjani pun tersentak kaget saat tiba-tiba suara berat Bayu memanggil namanya, dalam hati gadis itu langsung merutuk, baru denger suaranya aja gue udah nggak karuan gini, gimana gue bisa nahan perasaan gue kalo gini ceritanya. Sadar Rania, Mas Bayu itu suami orang, lo nggak boleh kayak gini!
Setelah memberikan peringatan kepada dirinya sendiri, barulah Rania menoleh ke arah Bayu.
"Tolong ambilin coklat yang ada di dalem plastik dong," ucap laki-laki itu sambil menunjuk kantong plastik di sampingnya dengan lirikan mata.
Mendengar hal itu, Rania pun mengerutkan keningnya bingung. Sejak kapan Bayu menyukai coklat? Padahal dulu laki-laki itu sangat tidak suka coklat. Namun, meski begitu Rania tetap menuruti omongan laki-laki itu.
Namun bukannya menerima coklat tersebut, Bayu malah mendorong tangan Rania yang tengah terulur ke arah nya seraya berkata, "Buat kamu,"
"Hah?" sontak saja mata Rania pun langsung melebar saat mendengar ucapan laki-laki itu.
"Mas kan nggak suka coklat," jawab Bayu dengan santai nya.
Dengan raut wajah herannya, Rania pun bertanya, "Terus kalo nggak suka ngapain beli?"
"Kan kamu suka,"
__ADS_1
Lagi-lagi jawaban singkat dari laki-laki itu membuat Rania menjadi mati kutu.
"Masih suka kan? Atau udah nggak?"
Deg.
Pertanyaan macam apa itu, kenapa Rania menangkapnya jadi berbeda. Mereka masih membahas mengenai coklat kan?
"Ran?" karena gadis itu tak kunjung bersuara Bayu pun menyentuh lengan Rania dengan lembut.
Membuat tubuh gadis itu seperti teraliri listrik yang langsung menyambar ke otaknya.
"Hah?"
"Kamu masih suka coklat kan?" ulang Bayu.
Dengan gugup Rania pun menjawab, "O-oh, m-masih kok, masih,"
"Ya udah makan,"
"Iya,"
Dengan perlahan, Rania pun mulai membuka bungkus coklat yang ada di tangannya lalu menggigit isinya.
__ADS_1
Masih Mas, aku masih suka coklat. Dan sialnya, aku juga masih suka sama kamu.