Jatuh Cinta Pada Ayah Si Kembar

Jatuh Cinta Pada Ayah Si Kembar
Luka dan rindu


__ADS_3

"Anjani!"


Mendengar suara seseorang yang sejak tadi ia cari-cari, gadis kecil itu pun langsung berlari mendekati sosok yang memanggilnya itu.


"Papah!" serunya dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipi chubby nya yang berwarna merah seperti tomat.


Rania yang sudah setengah berjongkok untuk menggendong gadis kecil itu pun langsung menghentikan gerakannya saat makhluk mungil itu malah pergi dari hadapannya.


"Ya ampun sayang, kamu kemana aja sih. Papah panik banget dari tadi nyariin kamu, kamu nggak papa kan?" tanya seorang pria dewasa dengan pakaian khas kantoran itu seraya meraih sang putri ke dalam gendongannya.


Deg.


Tunggu dulu, kenapa perasaan Rania tiba-tiba saja menjadi berdebar tidak karuan saat mendengar suara bariton itu. Tengkuknya bahkan terasa dingin seperti ada sesuatu yang menghembuskan angin disana.

__ADS_1


Dengan perlahan, gadis itu pun memutar tubuhnya ke belakang. Dan apa yang Rania lihat disana membuat mata indah gadis itu langsung terbelalak sempurna.


"Aku jatuh papah, pantat aku sakit," adu gadis kecil itu sambil memeluk leher sang ayah.


"Ya ampun, tuh kan papah bilang juga apa. Jangan lari-larian. Kamunya nggak mau nurut sih," omel pria dewasa itu pada sang putri. Namun, tangannya tetap bergerak untuk mengelus kepala putri satu-satunya itu.


Rania menatap pemandangan di depannya dengan tatapan tak percaya. Gadis itu bahkan tanpa sadar sampai menahan nafasnya karena sangat terkejut dengan takdir yang sudah tuhan gariskan untuknya.


Jadi, gadis kecil itu adalah… anaknya Bayu?


Rania pikir, selama ini ia sudah melupakan laki-laki itu. Tapi ternyata, saat ini ia baru sadar, kalau perasaannya terhadap Bayu masih sama seperti dulu. Bahkan mungkin, sekarang jauh lebih besar karena perasaan itu berbalut dengan rindu.


Selama ini Rania hanya membohongi dirinya sendiri agar dia bisa menjalani hari-harinya dengan baik, dan itu memang berhasil, karena selama di luar negeri ia memang tidak pernah sekalipun mencari tahu tentang laki-laki itu. Bahkan, ketika keluarganya ingin membahas mengenai laki-laki itu, Rania akan dengan cepat mengubah topik pembicaraan.

__ADS_1


Tapi, hari ini, setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri betapa bahagianya hidup laki-laki itu tanpanya, membuat hati Rania yang memang sudah tak utuh kembali hancur berkeping-keping.


"Ya udah ayo kita pergi, papah masih harus nunggu orang. Takut orangnya keburu pergi," ucap pria dewasa itu seraya melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana.


Namun, belum sampai satu langkah kakinya bergerak, pria itu langsung berhenti kembali saat mendengar ucapan sang putri.


"Sebentar papah, katanya kakak cantik itu mau beliin aku es krim," ucap gadis kecil itu sambil menunjuk Rania yang masih membeku di tempatnya.


Karena penasaran dengan maksud sang putri, pria itu pun lalu mengikuti arah yang ditunjuk oleh gadis kecilnya itu, dan betapa terkejut nya ia saat melihat seseorang yang wajahnya sangat tidak asing baginya, namun dengan versi yang jauh lebih cantik daripada saat terakhir kali ia melihat nya, tengah berdiri tak jauh dari posisi nya saat ini.


Sangking cemas nya dengan keadaan Anjani, Bayu bahkan sampai tidak sadar kalau ada orang lain lagi disitu.


"Rania?" gumam laki-laki itu dengan suara lirih nya, seolah sedang berkata kepada dirinya sendiri, apakah itu Rania?

__ADS_1


Apakah itu gadis kecilnya yang dulu selalu mengikutinya kemanapun? Gadis kecilnya yang selalu menceritakan apapun kepadanya? Dan gadis kecil yang sudah tidak membutuhkan kehadirannya lagi setelah merasa dirinya sudah cukup dewasa?


Kedua manusia yang sudah sangat lama sekali tidak bertemu itu tampak saling berpandangan dengan tatapan yang berbeda. Rania dengan tatapan terluka nya, dan Bara dengan tatapan kerinduan nya.


__ADS_2