
Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 7.00 pagi, setelah selesai mandi dan bersiap-siap, Rania dan Kayla pun langsung turun ke bawah untuk sarapan.
Sesampainya di ruang makan, Rania tampak mengerutkan keningnya saat melihat hanya ada sang kakak yang tengah asyik memakan roti panggang sambil bermain handphone.
"Bunda sama ayah kemana?" tanya Rania sambil menarik kursi yang berada tepat di depan kakaknya. Diikuti oleh Kayla yang duduk di samping gadis itu.
"Woi, kalo ada orang nanya di jawab kek, nggak sopan banget jadi orang," sungut gadis itu saat tak kunjung mendapatkan jawaban dari laki-laki di depannya.
Mendengar hal itu, Irsyad pun akhirnya mengangkat pandangannya pada sang adik.
"Lo ngomong sama gue?" tanya laki-laki itu dengan santainya, membuat gadis cantik yang duduk di hadapannya itu sampai melebarkan matanya karena tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Ya iyalah, masa gue ngomong sama setan! orang di sini cuma ada lo doang," sahut Rania seraya mengambil roti panggang yang ada di depannya. Tak lupa gadis itu juga menambahkan pasta coklat di atasnya.
"Makanya kalo ngomong tuh yang sopan dong, sama kakak nya masa ngomong nya gitu sih. Pake Mas kek minimal," gerutu Irsyad.
Walaupun mereka berdua memiliki jarak usia yang cukup ideal sebagai kakak beradik, namun entah mengapa mereka malah terlihat seperti teman sebaya yang sering ribut hanya karena hal-hal kecil. Bahkan kedua orang tua mereka saja sampai heran dengan tingkah laku anak-anak mereka yang seperti Tom and Jerry itu.
Rania tampak memutar bola matanya malas saat mendengar ucapan sang kakak, namun tak urung gadis itu tetap melakukan apa yang diucapkan oleh laki-laki itu, "Mas, Bunda sama Ayah mana? Kok nggak ada disini sih?" tanya Rania dengan nada yang dibuat-buat, tak lupa dengan senyum lebar yang terpatri di bibirnya.
Namun, tentu saja senyum itu hanya bertahan selama beberapa detik saja. Setelahnya, wajah Rania kembali ke setelan awal.
"Nah, gitu dong kan enak dengernya,"
"Jadi?"
"Jadi apa?"
Sontak saja Rania langsung bangkit dari duduknya saat mendengar jawaban yang dilontarkan oleh sang kakak, "Mas! Gue serius! Mana Ayah sama Bunda?!" seru Rania yang sudah mulai kehabisan kesabaran.
Bahkan, Kayla yang sejak tadi hanya menjadi penonton saja sampai tersentak kaget saat mendengar suara Rania yang menggelegar ke seisi rumah.
__ADS_1
"Oke, oke, gue jawab. Emosian banget sih jadi cewek, nanti cepet tua loh,"
"Gue emosi gara-gara lo ya!" sungut Rania yang sudah mendudukkan dirinya kembali ke atas kursi.
Mengabaikan ucapan sang adik, Irsyad pun berkata, "Ayah sama Bunda lagi ke rumah nenek,"
"Ke rumah nenek? Ngapain?" tanya gadis itu dengan kening yang berkerut.
Irsyad menaikkan kedua bahunya sebagai jawaban, "Nggak tau, tadi buru-buru banget perginya. Ayah aja masih pake sarung. Udah buruan makannya, gue tunggu di depan. 5 menit belum keluar gue tinggal,"
Setelah mengatakan hal itu, Irsyad pun langsung bangkit dari duduknya lalu melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana. Namun, saat lewat di depan Kayla laki-laki itu sempat berhenti sebentar dan melemparkan tatapan tajamnya pada gadis itu. Membuat Kayla yang tadinya sedang menatap ke arah kakak dari sahabatnya itu, langsung mengalihkan pandangannya.
***
Setelah keributan yang terjadi tadi pagi, kini ketiga anak manusia itu sudah berada di dalam mobil milik Irsyad untuk menuju salah satu ruko yang sudah Rania incar sejak jauh-jauh hari.
Tentu saja ia mendapatkan info mengenai ruko-ruko tersebut dari sang kakak. Sejak lulus dari dunia perkuliahan, Rania memang sudah bertekad untuk bisa membuat butiknya sendiri, oleh karena itu setelah lulus ia pernah bekerja di perusahaan yang cukup besar di London selama kurang lebih 1 tahun. Dari hasil pekerjaan itulah ia mengumpulkan uang untuk bisa membangun usahanya sendiri.
Saat ini suasana di dalam mobil terasa cukup canggung, apalagi bagi Kayla yang harus duduk di kursi depan, yang artinya ia duduk di samping laki-laki yang merupakan kakak dari sahabatnya itu.
Sebenarnya, Kayla juga tidak terlalu mengenal laki-laki yang merupakan kakak dari sahabatnya itu. Meskipun ia dan Rania sudah bersahabat selama bertahun-tahun, namun dapat dihitung dengan jari berapa kali Kayla dan Irsyad pernah bertatap muka. Itupun hanya sekilas karena Kayla bertemu dengan Irsyad saat laki-laki itu menjemput Rania di sekolah.
Jadi, gadis itu juga tidak terlalu memperhatikan kehadiran kakak dari sahabatnya itu. Namun, karena kejadian semalam semuanya menjadi berubah. Lagi-lagi Kayla hanya dapat merutuki dirinya sendiri, andai saja semalam dia tidak turun ke dapur, hal itu pasti tidak akan terjadi.
"Ngomong apa lo barusan?" tanya laki-laki itu dengan nada tajamnya.
Kayla yang terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba dari laki-laki itu pun langsung mendongakkan kepalanya agar ia bisa melihat wajah laki-laki yang jauh lebih tinggi darinya itu, "Hah? Ngomong apaan Kak? Saya dari tadi nggak ngomong apa-apa kok," ucap Kayla dengan kening yang berkerut.
"Eh, emangnya gue budek apa? Gue denger ya omongan lo tadi,"
Mendengar hal itu, Kayla pun langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Dia tidak menyangka kalau telinga laki-laki itu sangat tajam seperti kelinci. Bahkan bisikan nya saja bisa terdengar.
__ADS_1
"Maaf Kak, saya cuma kaget aja tiba-tiba kakak ada di situ," lirih Kayla dengan raut wajah tidak enaknya.
Melihat ekspresi teman adiknya yang sangat memelas seperti itu pun akhirnya Irsyad mengabaikan ucapan gadis itu barusan.
"Lagian lo ngapain malem-malem ngendap-ngendap disini?"
"Mm... saya ambil minum Kak," jawab Kayla seraya mengangkat botol air mineral yang isinya tinggal setengah di tangannya, "Di kamar Rania airnya habis, jadi saya terpaksa turun ke bawah deh, maaf ya Kak kalo saya kurang sopan," lanjut gadis itu dengan raut wajah bersalahnya.
Mendengar hal itu, Irsyad pun jadi merasa tidak enak. Baru saja ia hendak menjawab perkataan gadis itu tapi tiba-tiba…
Cklek.
Deg.
Mata Kayla melebar saat mendengar suara pintu yang terbuka dan disusul dengan suara langkah kaki yang kian mendekat ke arah dapur.
Karena tidak ingin ada yang memergoki mereka berdua disini, Kayla pun reflek menarik tangan laki-laki itu untuk bersembunyi di balik meja.
"Lo ap-"
"Diem dulu Kak, nanti kita ketahuan,"
Kini giliran Irsyad yang melebarkan matanya karena gadis itu tiba-tiba saja membekap mulutnya menggunakan tangan. Tubuhnya bahkan sampai membeku karena jarak tubuh mereka yang begitu dekat, sangking dekatnya Irsyad sampai dapat menghirup aroma tubuh gadis itu.
"Loh, kok nggak ada siapa-siapa? Perasaan tadi ada suara,"
Tubuh Kayla semakin menegang saat mendengar suara Bi Inem. Tapi untung nya, ketegangan itu tak berlangsung lama karena setelahnya wanita paruh baya itu kembali lagi ke kamar nya, ditandai dengan suara pintu yang terbuka dan kemudian tertutup kembali.
"Huh… akhirnya… " lirih Kayla sambil menghembuskan nafasnya lega.
Tanpa gadis itu sadari, sejak tadi tangannya masih bertengger manis di depan mulut Irsyad. Dan pada saat ia menyadarinya, dengan cepat Kayla pun langsung menarik tangannya menjauh.
__ADS_1
"Aduh, maaf Kak, maaf. Saya bener-bener nggak sengaja. Sekali lagi saya minta maaf ya Kak,"
Setelah mengatakan hal itu, Kayla langsung pergi begitu saja dari sana. Meninggalkan Irsyad yang masih mematung di tempatnya dengan pandangan kosong.