Jatuh Cinta Pada Ayah Si Kembar

Jatuh Cinta Pada Ayah Si Kembar
Couple


__ADS_3

"Woi, keluar lo! Dasar cowok nggak tau malu! Segitu nggak lakunya ya lo sampe jalan sama cewek orang?!"


Deg.


Tubuh Kayla langsung menegang saat mendengar suara tersebut, dengan gerakan perlahan gadis itu pun mulai memutar tubuhnya ke belakang, dan apa yang ia lihat selanjutnya benar-benar membuat Kayla terkejut luar biasa.


“Nando?” lirih gadis itu dengan pandangan tak percaya.


Irsyad yang masih menatap bingung ke arah laki-laki asing yang terlihat marah-marah itu pun langsung menolehkan wajahnya ke arah gadis cantik yang duduk tepat di sebelahnya.


“Lo kenal sama dia?” tanya laki-laki itu pada Kayla.


“Hah? O-oh kenal, kenal, dia temen kuliah saya. Y-ya udah, kalo gitu saya keluar dulu ya Kak,” jawab gadis itu dengan gugup.


Tanpa menunggu jawaban dari Irsyad, Kayla pun langsung membuka pintu mobil di sampingnya lalu keluar dari sana. Meninggalkan kakak dari sang sahabat yang masih menatapnya dengan pandangan bingung.


Dari dalam mobil Irsyad dapat melihat kalau gadis itu berjalan mendekati laki-laki yang masih marah-marah di samping mobilnya, lalu menarik laki-laki itu menjauh.


Bukan nya pergi, Irsyad malah diam saja sambil memperhatikan kedua anak muda itu. Entah apa yang mereka bicarakan, namun Irsyad dapat mencium hal yang tidak beres dari interaksi mereka. Hal itulah yang membuatnya enggan untuk pergi.


Dan benar saja, tak berapa lama kemudian, Irsyad dapat melihat kalau laki-laki itu mulai mengangkat tangannya dengan gerakan seperti orang yang hendak menampar. Tak ingin terjadi sesuatu yang buruk di depan mata kepalanya sendiri, Irsyad pun dengan cepat langsung keluar dari dalam mobil dan mendekat ke arah dua manusia yang sepertinya tengah terlibat dalam percekcokan itu.


“Berhenti.” ucap Irsyad dengan nada tajamnya sambil mencekal lengan laki-laki itu, yang tinggal beberapa centi lagi sudah melayang dengan indah ke wajah mulus Kayla.


Pemuda tampan yang bernama Nando itu pun langsung memelototkan matanya saat ada orang asing yang tiba-tiba ikut campur ke dalam urusannya.


“Siapa lo?! berani-beraninya ikut campur sama urusan gue!” seru pemuda itu, dan saat ia melihat kalau sosok yang menghentikan nya adalah sosok yang sama dengan laki-laki yang ada di dalam mobil, Nando pun langsung melebarkan matanya.


"Oh, lo selingkuhan nya Kayla kan? Iya kan? Ngaku lo!" seru pemuda itu sambil menunjuk-nunjuk wajah Irsyad.


Masih dengan sikap tenangnya, laki-laki itu pun berkata, "Lo tenang dulu dong bro, baru juga dateng udah di fitnah aja gue,"


"Eh anjing! Nggak usah sok baik ya lo di depan gue. Maju sini kalo berani! Cuma jadi selingkuhan aja bangga banget lo!" teriak Nando masih dengan emosi kuat yang melingkupi dirinya.


Karena tidak ingin terjadi keributan, Kayla pun langsung mendekat ke arah Irsyad dan berkata, "Kak, kakak mending pergi aja dari sini. Saya bisa nyelesain ini sendiri,"


Mendengar hal itu, Irsyad pun menarik sebelah sebelah sudut bibirnya hingga membentuk sebuah seringai, "Kalo lo mau selesain ini sendiri, bakal abis lo digebukin sama dia," ucap laki-laki itu dengan enteng nya.


Kayla pun tak dapat berkata apa-apa lagi, karena apa yang dikatakan oleh laki-laki itu memang benar. Sosok laki-laki yang ada di depannya saat ini adalah mantan kekasihnya saat ia masih berkuliah di Jogja, dan alasan Kayla memutuskan laki-laki itu adalah karena dia sangat ringan tangan. Jika ada masalah yang terjadi dalam hubungan mereka berdua, Nando tidak segan-segan memberikan tamparan ataupun pukulan kepada Kayla.


"Udah lo minggir aja, biar gue yang hadepin tuh bocah,"


Setelah mengatakan hal tersebut, Irsyad pun langsung melangkahkan kakinya untuk mendekati pemuda itu.


"Mau ngapain lo?" tanya Irsyad dengan santainya, berbanding terbalik dengan ekspresi Nando yang sangat menyeramkan karena emosinya sedang berkobar-kobar.


"Nggak usah banyak omong deh lo!"


Bug.


Satu pukulan langsung dilayangkan oleh Nando ke arah Irsyad, namun dengan mudahnya pukulan tersebut ditangkis oleh laki-laki berusia 30 tahun itu. Umur boleh tua, namun kalau mau adu skil berantem dengan Irsyad mending pikir-pikir dulu. Karena laki-laki itu adalah pemegang sabuk hitam taekwondo.


"Sialan! Maju sini lo!"


Karena pukulannya tak kunjung kena, Nando pun semakin emosi. Pemuda itu melakukan tinjuan membabi buat ke arah Irsyad. Namun terus saja berhasil dihalau oleh laki-laki itu.


Sebenarnya, Irsyad bisa dengan mudah melumpuhkan pemuda itu dalam satu kali pukulan. Tapi tentu saja dia tidak akan melakukan hal pengecut seperti itu. Jadi sekarang yang bisa ia lakukan hanyalah menangkis pukulan Nando agar tidak terkena tubuhnya.


Kayla yang sejak tadi masih berdiri tak jauh dari sana pun hanya dapat *******-***** kedua tangannya yang bergetar hebat, ia hanya bisa berdoa semoga Irsyad baik-baik saja. Karena kalau laki-laki itu sampai kenapa-kenapa, ia pasti akan merasa sangat bersalah.


Di depan sana, Nando mulai menghentikan gerakannya saat tenaganya sudah mulai habis. Bahkan, nafas pemuda itu pun terdengar begitu cepat.


Tentu saja hal itu membuat Irsyad langsung menerbitkan senyum meremehkan nya.


"Udah nih? Segini doang? Cemen!" ucap laki-laki itu sambil menggulung lengan kemejanya. Setelahnya, Irsyad pun melangkahkan kakinya ke depan dan berhenti tepat di hadapan Nando.

__ADS_1


"Mau ngapain lo?!" tanya pemuda itu saat tangan Irsyad tiba-tiba nangkring di bahunya.


"Tenang, gue nggak bakal ngapa-ngapain lo. Gue cuma mau bilang, kalo lo emang suka berantem, mending lo daftar organisasi bela diri. Jangan malah buat mukul cewek, itu namanya pengecut!" bisik Irsyad tepat di samping telinga Nando, membuat bulu kuduk pemuda itu langsung berdiri seketika.


Setelah mengatakan hal tersebut, Irsyad pun kembali menegakkan tubuhnya lalu berjalan pergi dari sana.


Tanpa laki-laki itu sadari kalau…


Bug.


Irsyad melebarkan matanya saat tiba-tiba Kayla berlari melewati nya dan tak lama kemudian terdengar suara pukulan yang cukup keras.


Dengan cepat, laki-laki itu pun langsung memutar tubuhnya ke belakang dan betapa terkejutnya ia saat melihat gadis cantik itu sudah terduduk di atas aspal.


"K-Kay… a-aku… aku nggak sengaja… aku… "


"Jangan pegang-pegang dia!" seru Irsyad saat melihat tangan kotor pemuda itu hendak menyentuh Kayla.


Tanpa berkata apa-apa lagi, Irsyad pun langsung berjongkok di samping gadis itu.


"Lo nggak papa?" tanya laki-laki itu dengan nada khawatirnya, apalagi saat melihat noda darah yang ada di sudut bibir Kayla.


"Bibir lo berdarah!" seru Irsyad dengan tangan yang reflek hendak menyentuh luka tersebut.


Namun, dengan cepat Kayla langsung mencekal tangannya, "Saya nggak papa," ucap gadis itu dengan pandangan kosong.


Setelahnya, Kayla pun berusaha untuk berdiri.


"Nando, hubungan kita udah berakhir. Gue sama lo udah putus. Kita nggak punya hubungan apa-apa lagi. Terserah lo mau bilang gue selingkuh kek, lo mau bilang gue pelacur kek, terserah lo! Tapi gue harap setelah ini lo jangan pernah lagi muncul di hadapan gue!"


Setelah mengatakan hal tersebut, Kayla langsung melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana. Meninggalkan Nando dan Irsyad yang masih terpaku di tempatnya masing-masing.


***


Irsyad yang tadinya masih larut dalam lamunannya pun langsung memutar bola matanya saat mendengar ucapan yang dilontarkan oleh sang adik.


"Sembarangan aja lo kalo ngomong, ya nggak lah! Gue anterin dia sampe depan pintu rumahnya, puas lo!"


"Terus, kenapa handphone dia nggak aktif?"


"Ya mana gue tahu, emangnya gue pacarnya apa,"


Terjadi awkward moment selama beberapa saat setelah Irsyad berucap seperti itu.


Melihat adik satu-satunya itu tengah memicingkan mata ke arahnya, Irsyad pun langsung bangkit dari duduknya.


"Gue tunggu di mobil, kalo lama gue tinggal!"


Setelah mengatakan hal tersebut, Irsyad pun langsung pergi dari sana. Meninggalkan Rania yang masih menatap sang kakak dengan pandangan bingung.


"Tuh cowok kenapa sih, aneh banget! Pantes jadi bujang lapuk!" gumam Rania kepada dirinya sendiri.


Karena tidak ingin ditinggal oleh sang kakak, Rania pun dengan cepat menghabiskan sarapannya, lalu langsung keluar menghampiri Irsyad yang sudah menunggu nya di mobil.


Selama perjalanan, Rania sibuk melihat-lihat ruko melalui ipad sang kakak. Sampai-sampai dia tidak sadar kalau saat ini mobil milik Irsyad sudah berhenti tepat di depan sebuah rumah mewah berlantai dua yang baru saja kemarin Rania datangi.


"Dek, udah sampe," ucap Irsyad seraya melepaskan seat belt yang melingkari tubuhnya.


Mendengar hal itu, Rania pun langsung mengangkat pandangannya. Pada beberapa detik pertama, gadis itu masih belum sadar dengan apa yang terjadi, namun pada detik berikutnya Rania langsung melebarkan matanya.


"Mas!" seru gadis itu dengan tatapan yang masih mengarah pada rumah di depannya.


"Kenapa sih? Pagi-pagi udah teriak-teriak aja, gue belom budek kali," gerutu Irsyad yang saat ini tengah menghubungi seseorang melalui ponsel nya.


Mengabaikan gerutuan sang kakak, Rania langsung menolehkan wajahnya ke arah laki-laki itu lalu berkata, "Kita ngapain disini?"

__ADS_1


"Nganterin lo," jawab Irsyad dengan santainya. Berbanding terbalik dengan Rania yang masih menatap laki-laki itu dengan tatapan tajamnya.


"Nganterin gue?" tanya gadis itu sambil menunjuk dirinya sendiri.


Masih dengan pandangan yang mengarah ke ponselnya, laki-laki itu menganggukkan kepalanya dengan pelan sebagai jawaban.


"Kenapa jadi nganterin gue? Bukannya kita mau cari ruko?"


Setelah selesai mengabari sahabatnya kalau dia sudah sampai di depan rumahnya, Irsyad pun langsung meletakkan handphone nya ke atas dashboard, lalu menoleh ke arah sang adik.


"Hari ini gue ada urusan di resto, jadi lo liat-liat ruko nya sama Bayu dulu ya. Gue udah bilang sama dia kok, kebetulan hari ini dia lagi nggak ada urusan di kantor,"


Sontak saja, Rania pun kembali melebarkan matanya saat mendengar ucapan kakaknya itu.


Apa dia tidak salah dengar? Dengan mudahnya sang kakak menitipkannya kepada orang lain? Bahkan, laki-laki itu tidak bertanya kepadanya terlebih dahulu sebelum membuat keputusan ini.


"Nggak!" tolak Rania dengan keras, "Mendingan gue cari sendiri,"


Setelah mengatakan hal tersebut, Rania pun langsung membuka pintu di sampingnya lalu keluar dari dalam mobil. Melihat hal itu, dengan cepat Irsyad pun menyusul sang adik dan menarik tangan gadis itu agar menghentikan langkahnya.


"Lo mau kemana?!" seru Irsyad dengan pandangan bingung.


Mendengar hal itu, Rania pun langsung berdecak, "Lo hobi banget ya nyusahin orang? Kalo emang lo nggak bisa ngomong dong dari awal, gue bisa kok cari sendiri. Emangnya gue anak kecil apa, yang apa-apa harus ditemenin?"


"Bukan gitu, maksud gue-"


Krek. Krek. Krek.


Perdebatan kedua adik kakak itu langsung terhenti saat gerbang besar yang ada di depan mereka terbuka lebar, menampilkan sosok seorang laki-laki tampan dengan gaya khas nya yaitu kemeja lengan panjang dan juga celana bahan.


Dan apakah kalian tahu? Ada sesuatu dari pakaian laki-laki itu yang membuat Rania dan Irsyad kompak melebarkan matanya.


"Kalian kenapa? Kok ngeliatin gue kaya gitu?" tanya Bayu dengan kening yang berkerut.


Bukannya menjawab pertanyaan dari laki-laki itu, Irsyad malah balik bertanya, "Kalian janjian ya pake bajunya?"


Mendengar hal itu, sontak saja Bayu pun langsung melihat ke arah bajunya sendiri lalu ke arah baju Rania. Dan benar saja, warna dari kemeja yang mereka pakai terlihat sangat mirip. Apalagi, celana yang mereka gunakan saat ini sama-sama berwarna hitam. Mereka benar-benar terlihat seperti sepasang suami-istri kalau begini.


"Ini namanya chemistry bro, iya nggak Ran?" ucap Bayu sambil melirik ke arah Rania seolah sedang meminta dukungan.


Namun, ucapan laki-laki itu tak ditanggapi oleh Rania, karena saat ini pikiran gadis itu sedang penuh oleh rasa bersalah. Meskipun kematian seseorang adalah takdir dari Tuhan yang sudah digariskan bahkan sebelum manusia itu lahir ke bumi, namun rasa bersalah itu tetap hadir di dalam benak Rania karena dulu ia sering berdoa semoga ia masih mempunyai kesempatan untuk bisa bersama Bayu.


Sekarang, ia amat sangat menyesali kebodohannya itu. Jika waktu dapat diputar, Rania janji kalau dia tidak akan pernah mengatakan hal-hal seperti itu lagi.


Karena tidak mendapatkan respon yang cukup baik dari Rania, Bayu pun hanya dapat menerbitkan senyum canggung nya, setelahnya laki-laki itu pun langsung menyuruh kedua adik kakak itu untuk masuk ke dalam rumah.


"Sorry Bay, kayaknya gue nggak bisa mampir dulu. Lagi buru-buru soalnya, gue nitip adek gue aja ya," ucap Irsyad seraya menepuk-nepuk lengan sahabatnya itu dengan pelan.


"Siap, gue pasti bakal jagain Rania dengan baik," jawab Bayu dengan percaya diri.


Tidak tahu saja laki-laki itu, kalau ucapannya barusan berhasil memporak-porandakan hati anak gadis orang.


"Thanks banget bro, lain kali gue traktir ya buat gantinya,"


"Gue tunggu," sahut Bayu dengan senyum yang terpatri di wajah tampannya.


"Ya udah kalo gitu gue pergi dulu ya, kalian berdua hati-hati nanti jalannya. InshaAllah kalo kerjaan gue udah selesai gue bakal langsung jemput Rania,"


"Sip, lo juga hati-hati di jalan,"


Irsyad pun hanya membalas ucapan sahabatnya itu dengan anggukkan kepala. Setelahnya laki-laki itu pun langsung pergi begitu saja, meninggalkan dua manusia berbeda usia yang saat ini masih berdiri di tempatnya masing-masing dengan jarak yang cukup jauh.


"Ekhem, ayo masuk dulu Ran," ajak Bayu kepada Rania.


Gara-gara gadis itu tadi mengabaikan ucapannya, Bayu jadi merasa canggung hanya berduaan seperti ini dengan Rania. Sampai-sampai otaknya ngeblank dan bingung harus berkata apa.

__ADS_1


__ADS_2