
Suasana hening tampak menyelimuti mobil yang saat ini tengah ditumpangi oleh Rania. Hampir 15 menit mereka menyusuri jalan raya ibukota, namun tak ada satupun dari mereka yang memulai pembicaraan.
Rania yang merasa canggung dengan keadaan itu pun memilih untuk menatap keluar jendela sambil memakan coklat yang tadi dibelikan oleh Bayu, sedangkan si kecil Anjani sudah berkelana ke alam mimpi setelah tadi menghabiskan satu cup es krim yang tadi dibelinya.
Sejak tadi, Rania tak henti-hentinya mengumpati sang kakak. Sebab, karena laki-laki itulah sekarang ia jadi terjebak di situasi yang sangat menyebalkan ini. Rania sudah bertekad dalam hati kalau nanti saat bertemu dengan laki-laki menyebalkan yang sayangnya tuhan takdirkan sebagai kakaknya itu, ia akan memukulinya sampai puas!
Bisa-bisanya kakaknya itu menyuruh Bayu untuk menjemputnya! Apakah tidak ada lagi orang lain yang bisa laki-laki itu suruh untuk menjemputnya?! Dari sekian banyaknya manusia dimuka bumi ini kenapa harus Bayu?! Kenapa?!
Lagi-lagi Rania hanya dapat memejamkan matanya untuk menahan rasa kesalnya pada sang kakak.
Tak jauh berbeda dengan Rania, Bayu juga merasakan kecanggungan itu. Sebenarnya, banyak sekali pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada gadis itu. Salah satunya mengenai alasan mengapa Rania pergi tanpa berpamitan kepadanya. Apakah dia memang se tidak penting itu sampai Rania tidak bilang kepadanya kalau dia mau melanjutkan studinya ke luar negeri?
Meskipun gadis itu sudah tidak membutuhkannya lagi, bukankah mereka tetap bisa menjadi kakak adik seperti biasa? Tapi kenapa gadis itu memperlakukan nya seperti orang asing? Semudah itukah Rania melupakan kedekatan mereka?
__ADS_1
Namun, sayangnya pertanyaan-pertanyaan itu hanya dapat berputar di kepalanya saja, karena entah mengapa rasanya sulit sekali untuk memulai pembicaraan dengan gadis itu.
Ckit.
Bayu menghentikan mobilnya saat di depan sana lampu lalu lintas berubah warna menjadi merah. Rania yang lehernya sudah mulai terasa pegal karena terus menghadap ke arah jendela pun ikut-ikutan melihat ke arah lampu merah, seakan-akan tengah menghitung berapa lama lagi mereka harus berhenti.
Dan pada saat itulah Bayu memberanikan diri untuk membuka suara.
"Ran,"
Nafas Rania langsung tercekat saat mendengar suara berat itu kembali memanggil namanya. Detak jantungnya yang tadi sudah mulai normal, kini kembali berdegup kencang. Bahkan, keringat dingin sepertinya mulai bermunculan di keningnya.
Bayu terlihat bingung saat gadis di depannya itu hanya diam saja dan tak merespon ucapannya.
__ADS_1
"Ran," karena khawatir gadis itu kenapa-kenapa, laki-laki itu pun kembali memanggil nama Rania
Namun kali ini ditambah dengan tepukan ringan di bahunya hingga membuat tubuh gadis itu tersentak kaget.
"Hah? Kenapa?" tanya Rania dengan mata yang melebar karena terkejut, namun dengan cepat gadis itu langsung merubah ekspresi nya saat menyadari kalau tadi dia sempat melamun, "Eh, sorry, sorry, tadi Mas Bayu manggil aku kenapa?"
Namun, bukannya menjawab Bayu malah balik bertanya, "Kamu nggak papa?"
Dengan gugup Rania pun menjawab, "A-ah ng-nggak nggak papa kok, tadi kenapa Mas manggil aku?" tanya gadis itu mengalihkan topik.
Sekarang giliran Bayu yang diam, padahal tadi dia sudah yakin sekali untuk memulai pembicaraan dengan gadis itu, tapi kenapa sekarang dia jadi bingung lagi harus mulai darimana. Apakah Bayu harus langsung to the point?
Setelah meyakinkan diri, akhirnya Bayu pun bertanya, "Mm… gimana kabar kamu selama disana?"
__ADS_1
Meskipun agak terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh laki-laki itu, tapi Rania tetap menjawabnya dengan, "Alhamdulillah, baik kok,"