
"Kamu mau es krim yang mana?" tanya Rania pada Anjani saat mereka berdua sudah berdiri di depan freezer berisi es krim dengan berbagai macam bentuk dan rasa.
Anjani yang berdiri di samping Rania pun tampak serius memperhatikan es krim di depannya, sampai gadis kecil itu menunjuk sebuah es krim cup dengan rasa strawberry.
"Aku mau yang itu,"
Rania mengikuti arah yang ditunjuk oleh Anjani, lalu menunjuk es krim tersebut"Kamu beneran mau yang ini?" tanya gadis itu dengan raut wajah tak percaya, "Nggak mau yang lain gitu, kaya yang ini, kan lebih gede," ucap gadis itu seraya menunjuk sebuah es krim berbentuk kepala beruang dengan ukuran yang lumayan besar.
Namun, bukannya kegirangan seperti anak kecil pada umumnya yang senang jika diberi makanan berukuran besar dan lucu, gadis kecil dengan pipi chubby nya itu malah menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Kenapa nggak mau?" tanya Rania dengan kening yang berkerut.
"Nanti nggak habis, mubazir kata papah,"
Hah?
Apakah Rania tidak salah dengar?
Anak sekecil ini sudah paham tentang mubazir?
Tidak salah lagi, anak ini memang benar-benar anaknya Bayu. Bahkan dari cara berbicara nya saja sangat persis. Rania sampai speechless mendengarnya.
__ADS_1
Bahkan, hal-hal seperti ini saja bisa membuat perasaan Rania kepada laki-laki itu menjadi lebih besar. Hatinya berdesir kala membayangkan, bagaimana kalau anak-anaknya kelak akan selucu dan sepintar Anjani. Tapi, apakah bisa seperti itu kalau ayahnya bukan Bayu?
"Oh, ya udah," tanpa berkata apa-apa lagi Rania pun langsung mengambil satu cup es krim dan memberikannya kepada Anjani, "Ini es krim nya,"
Dengan mata bulatnya yang berbinar-binar, Anjani pun langsung menerimanya, "Terima kasih kakak cantik,"
"Sama-sama sayang," ucap Rania sambil mengusap kepala gadis kecil itu dengan lembut.
Rania kembali mengerutkan keningnya saat melihat gadis kecil itu seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Kenapa sayang?"
"Mm… kakak cantik, aku boleh minta es krim nya satu lagi nggak?" tanya gadis kecil itu takut-takut.
Mendengar hal itu, Anjani pun langsung tersenyum, "Aku mau satu lagi aja kakak cantik, buat kakak aku di rumah,"
Deg.
Gerakan Rania yang hendak mengambil es krim lagi terhenti saat mendengar ucapan gadis kecil itu.
Setelah bisa menguasai dirinya kembali, ia pun langsung mengambil es krim yang sama dengan yang tadi ditunjuk oleh Anjani. Dengan perlahan, Rania pun kembali memutar tubuhnya menghadap gadis kecil itu.
__ADS_1
"Kakak?" tanya Rania seraya mengulurkan es krim di tangannya kepada Anjani.
Gadis kecil itu tampak menganggukkan kepalanya, lalu menjawab, "He'em,"
"Kamu… punya kakak?" tanya Rania ragu-ragu.
"Punya, namanya Shaka. Kita anak kembar, cuma beda lima menit," jawab Anjani sambil menunjukkan angka lima dengan jari-jari mungilnya.
Tanpa sadar Rania terkekeh saat mendengar hal itu, bukan karena lucu, tapi ia sedang menertawakan dirinya sendiri.
Ternyata setelah kepergiannya, kehidupan Bayu menjadi sangat sempurna ya. Bahkan, laki-laki itu memiliki anak kembar yang sangat lucu seperti ini.
Lalu, bagaimana dengan Rania? Apakah dia juga sudah menemukan kebahagiaannya sendiri?
"Udah pilih es krim nya?"
Tubuh Rania semakin menegang kala Bayu sudah kembali dari kamar mandi dan berjalan mendekati mereka berdua.
"Udah papah, ini es krim nya," seru Anjani sambil menunjukkan dua cup es krim yang ada di tangannya.
"Loh, kok kamu ngambilnya dua sih? Nanti nggak habis loh,"
__ADS_1
"Ihh, ini yang satunya lagi buat Kak Shaka papah. Bukan buat aku dua-duanya,'' jawab gadis kecil itu sambil mencebikkan bibir nya.