
"M-mas… kalo Mas emang nggak mau aku ikut ke rumah Mas, t-tolong anterin aku ke rumah aja dong. Masa Mas tega sih turunin aku di pinggir jalan kayak gini? Nanti kalo aku kenapa-kenapa gimana? Mas bisa masuk penjara loh, soalnya kan Mas yang terakhir ketemu sama aku," ucap Dara panjang lebar.
Bayu yang sejak tadi hanya mendengarkan ocehan gadis itu pun memutar tubuhnya agar menghadap ke arah Rania.
"Udah ngomongnya?" tanya laki-laki itu dengan nada yang sangat dingin. Bahkan Rania saja sampai bergidik saking dinginnya.
Dengan mata yang sudah berkaca-kaca karena ketakutan, gadis itu pun menganggukkan kepalanya dengan pelan.
"Sekarang turun," ucap laki-laki itu lagi. Membuat air mata yang sejak tadi sudah ditahan-tahan oleh Rania akhirnya keluar juga.
"Mas Bayu jahat! Harusnya tadi kalo emang nggak mau bilang aja sama Mas Icad, nggak usah so-soan mau nampung aku segala. Aku benci sama Mas Bayu!"
Cklek.
Deg.
Hah? Apa maksudnya ini? Hampir saja tubuh Rania limbung ke bawah, untung saja ia masih memiliki sedikit kesadaran untuk berpegangan pada pintu mobil sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
"Tolong bukain gerbangnya," ucap Bayu dari dalam mobil seraya mengulurkan kunci yang berada di tangannya ke arah Rania.
"Hah?"
Rania yang masih dalam mode lola pun hanya dapat memandangi tangan Bayu yang terulur di depannya dengan pandangan bingung.
Bayu yang sudah mulai merasa kesal dengan kelemotan gadis itu pun tampak menghembuskan nafasnya dengan kasar, setelahnya laki-laki itu memutuskan untuk turun dari dalam mobil dan berjalan menuju pintu gerbang lalu membukanya sendiri.
Rania yang masih berdiri di samping mobil pun hanya dapat terdiam sambil menggigit bibirnya.
Sial! Malu banget gue!
Bisa-bisanya dia tidak sadar kalau saat ini mereka sudah sampai di rumah Bayu, meskipun Dara sebelumnya belum pernah kesini karena ini adalah rumah yang baru dibeli Bayu setelah menikah dengan Adel, namun sang kakak pernah menunjukkan gambar rumah ini kepadanya.
Aarrghhh! Rania malu! Tolong siapapun juga, bawa Rania pergi dari sini. Rasanya dia sudah tidak punya muka lagi untuk berhadapan dengan Bayu.
__ADS_1
"Kamu mau berdiri disana sampe kapan?"
Tubuh Rania tersentak kaget saat mendengar suara Bayu yang begitu dekat dengan telinganya, dan benar saja saat gadis itu telah sadar dari lamunan nya, mata bulat Rania tampak melebar karena melihat posisi Bayu yang begitu dekat dengannya, bahkan ia dapat merasakan hembusan nafas laki-laki itu di telinga nya. Sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, Rania pun dengan cepat langsung memundurkan langkah nya hingga tercipta jarak yang cukup jauh di antara mereka berdua.
Melihat hal itu, Bayu pun menyatukan kedua alisnya, jelas sekali kalau laki-laki itu tidak suka dengan apa yang baru saja Rania lakukan. Entah mengapa, Bayu merasa kalau gadis itu sangat tidak suka dekat-dekat dengannya. Apakah dia memang se menjijikkan itu dimata Rania? Tanpa sadar, Bayu kembali menghembuskan nafasnya dengan keras.
Membuat Rania semakin ketakutan, karena ia sadar kalau saat ini Bayu tengah kesal kepadanya.
"Ayo masuk," setelah mengatakan hal itu, Bayu langsung masuk ke dalam mobil dan memasukkan mobilnya ke dalam garasi. Meninggalkan Rania yang masih terpaku di tempatnya berdiri.
Dengan kaku, gadis itu pun mulai melangkahkan kakinya memasuki gerbang, karena Rania merasa bingung sekaligus sungkan, ia pun memutuskan untuk berdiri tepat di dekat gerbang yang saat ini masih terbuka lebar.
Sebenarnya, Rania ingin membantu untuk menutup nya, namun karena takut akan membuat kesalahan lagi, akhirnya gadis itu pun memutuskan untuk mengurungkan niatnya.
Selama menunggu Bayu selesai memasukkan mobilnya ke dalam garasi, Rania tampak memutar pandangannya ke sekeliling rumah. Rumah dengan dua lantai ini terlihat sangat cantik, apalagi ditambah dengan kolam ikan yang di atasnya terdapat air terjun mini, benar-benar terlihat seperti rumah yang di dalamnya tinggal sebuah keluarga yang bahagia.
Tanpa sadar Rania meringis saat mengingat hal itu, karena sebentar lagi ia akan melihat pertunjukan yang akan membuat hatinya kembali hancur berkeping-keping seperti dulu lagi.
"Papah!"
"Den, Non, hati-hati larinya, nanti jatuh,"
Di belakang dua bocah kecil tadi, terlihat seorang wanita paruh baya yang mengenakan seragam berwarna biru muda, sepertinya beliau ada pengasuh dari dua bocah kembar itu.
"Halo sayang-sayangnya papah,"
Bayu yang baru saja keluar dari dalam mobil pun langsung melebarkan tangannya untuk menangkap kedua buah hatinya lalu mengangkat tubuh mereka secara bersamaan.
"Papah kenapa lama banget pulangnya? Tadi nenek dateng kesini loh, tapi sekarang udah pulang gara-gara papahnya kelamaan," ucap Anjani sambil mencebikkan bibirnya, membuat pipi chubby gadis kecil itu makin terlihat. Bayu yang melihatnya pun tidak tahan untuk menciumnya.
"Maaf ya sayang, hari ini kerjaan papah banyak. Jadi nggak bisa pulang cepet deh. Nanti kalo papah libur, gantian kita deh yang main ke rumah nenek," jawab laki-laki itu setelah puas mencium pipi sang putri.
Mendengar hal itu, mata Anjani pun langsung berbinar, "Beneran Pah?"
__ADS_1
"Iya inshaAllah," jawab laki-laki itu dengan lembut.
Setelahnya, Bayu pun beralih kepada sang putra yang dari tadi hanya diam saja, "Kak, kamu kenapa? Kok diem aja dari tadi," tanya laki-laki itu dengan raut wajah khawatir.
Shaka yang sejak tadi sibuk memainkan dasi sang ayah sambil menunduk pun langsung mendongakkan kepalanya saat mendapatkan pertanyaan seperti itu.
"Papah, aku nggak mau punya mamah baru," ucap anak laki-laki itu dengan nada tajamnya.
Mendengar hal tersebut, Bayu pun tampak mengerutkan keningnya bingung. Mamah baru? Siapa juga yang sedang mencari mamah baru? Kenapa putranya berkata seperti itu? Apa jangan-jangan…
"Nenek bilang apa sama kamu?" tanya Bayu pada sang putra.
Dengan wajah polosnya, Shaka pun menjawab, "Nenek nggak bilang apa-apa,"
"Terus kenapa kamu ngomong kaya gitu? Siapa yang bilang sama kamu tentang mamah baru?"
Bukannya menjawab, Shaka malah memutar tubuhnya lalu mengangkat tangan kanannya.
"Itu pasti orang yang mau jadi mamah baru kita kan?" tanya anak laki-laki itu sambil menunjuk ke arah seseorang yang sejak tadi berdiri mematung di dekat gerbang.
Rania yang merasa ditunjuk pun langsung melebarkan matanya karena terkejut, "Bukan, bukan," ucap gadis itu sambil menggerak-gerakkan tangannya di depan dada.
"Kakak cantik!"
Anjani yang baru menyadari kehadiran Rania pun langsung berteriak histeris, dengan cepat gadis kecil itu minta diturunkan dari gendongan sang ayah lalu berlari menghampiri Rania.
"Kakak cantik! Aku kangen," lirih Anjani sambil memeluk kaki Rania.
Rania yang belum siap dengan pelukan itu pun hampir saja terjengkang ke belakang, untung saja kakinya masih kuat untuk menahan, karena kalau tidak mereka berdua pasti sudah jatuh ke bawah.
Tanpa diduga, tiba-tiba saja Shaka ikutan maju ke depan lalu langsung menarik tangan Anjani agar terlepas dari kaki Rania.
"Anjani! Kamu kenapa peluk-peluk dia? Kamu mau dia jadi mamah baru kita?!" tanya anak laki-laki itu dengan suara tegasnya.
__ADS_1
Rania bahkan sampai tersentak kaget saat mendengar ucapan anak itu. Dia benar-benar bingung, kenapa bocah laki-laki itu tiba-tiba saja menuduhnya seperti itu. Apakah wajah Rania terlihat seperti wajah-wajah pelakor?