Jatuh Cinta Pada Ayah Si Kembar

Jatuh Cinta Pada Ayah Si Kembar
Makanan favorit Rania


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Rania tak henti-hentinya *******-***** kedua tangannya sendiri untuk menghilangkan rasa gugup yang ia alami. Saat ini dia benar-benar merasa tidak nyaman, bahkan untuk sekedar bernafas pun rasanya tidak enak.


Ini semua gara-gara ucapan yang dilontarkan oleh Bayu tadi. Seketika semua orang yang ada di dalam mobil langsung terdiam. Bahkan, Anjani yang biasanya tidak bisa diam pun tiba-tiba menjadi anteng.


Selain merasa canggung, sebenarnya Rania juga tengah sakit hati. Padahal apa yang tadi diucapkan oleh laki-laki itu kan memang benar. Ia hanyalah adik dari sahabatnya Bayu saja. Tidak lebih.


Emangnya lo mau dianggep apa sama dia Rania?! Rutuk Rania dalam hati.


"Pah, kita ngapain kesini?" tanya Anjani saat tiba-tiba sang ayah membelokkan kemudinya ke sebuah restoran cepat saji yang menjadi favorit hampir semua umat manusia, tak terkecuali anak-anak Bayu.


Rania yang tadinya masih termenung pun langsung tersadar saat mendengar ucapan Anjani. Dan mata gadis itu langsung melebar seketika kala melihat kalau saat ini mobil yang mereka tumpangi sedang berjalan menuju restoran favoritnya.


Dengan pandangan yang masih lurus ke depan, laki-laki dengan kemeja berwarna pink lembut itu pun menjawab, "Beli makan siang,"


Sontak saja, jawaban dari laki-laki itu pun berhasil menimbulkan binar di mata sang putri, bahkan Shaka yang sejak tadi hanya diam saja sampai ikutan bangkit saat mendengar ucapan sang ayah.


"Serius yah kita boleh makan ini? Bukannya jadwalnya masih minggu depan ya?" tanya anak laki-laki itu dengan kening yang berkerut.


Pasalnya sang ayah memang menerapkan peraturan yang cukup ketat untuk dia dan sang adik. Salah satunya, hanya boleh makan makanan instan seperti itu satu kali dalam seminggu.


"Boleh, kakak sama adek mau pesen apa?" tanya Bayu dengan lembut saat mobil yang dikendarai nya sebentar lagi sampai di depan tempat pemesanan menu.


Dengan semangat Anjani pun menjawab "Aku mau happy meal!"


"Aku juga!" sahut Shaka tak kalah exited nya.


Melihat kebahagiaan yang terpancar dari kedua buah hatinya membuat Bayu langsung menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman.


Berbanding terbalik dengan Rania yang wajahnya terlihat sangat sendu saat melihat pemandangan harmonis di depannya. Entah kenapa, ucapan Bayu tadi langsung terlintas begitu saja di kepalanya. Rania memang bukan bagian dari mereka, ia hanya orang luar yang tidak seharusnya berada disini.


Memikirkan hal tersebut, membuat hati Rania terasa seperti tersengat lebah. Perih. Perih sekali, hingga membuat kedua matanya berkaca-kaca. Dan pada saat air matanya hendak turun, dengan cepat gadis itu langsung mengalihkan pandangannya ke arah jendela agar tidak ada yang melihat kondisinya sekarang.


Rania tahu ini berlebihan, tapi dia juga sedih saat Bayu tak bertanya kepadanya apa yang ingin ia beli. Padahal kan, laki-laki itu tahu kalau restoran ini adalah restoran favoritnya. Setidaknya, kalau memang laki-laki itu tidak mau mentraktir nya bilang saja, Rania kan bisa bayar sendiri.


"Silahkan mau pesan apa Kak?"


Terdengar suara dari sebuah alat berwarna hitam yang memang bertugas untuk mencatat semua pesanan customer. Karena saat ini adalah jam makan siang jadi restoran terlihat sangat penuh. Oleh karena itulah Bayu lebih memilih untuk pesan drive thru agar bisa makan lebih nyaman di dalam mobil.


"Mbak, saya mau pesan Happy meal nya dua, Big Mac nya satu, sama double cheeseburger nya satu," jawab Bayu menyebutkan pesanannya.


"Baik Kak, untuk minumnya mau apa?"


"Coca cola sama Fanta Mc Float aja Mbak,"


"Baik, apakah ada tambahan lagi,"


Cukup lama Bayu terdiam sebelum laki-laki itu menjawab, "Es krim oreo nya tiga ya Mbak,"


Shaka dan Anjani yang sejak tadi masih berdiri di belakang kursi pun langsung bersorak kegirangan saat sang ayah membelikan mereka es krim.


Setelahnya pelayan yang berada di seberang sana pun kembali mengulangi pesanan Bayu agar tidak terjadi kesalahan, barulah setelah itu, semua harganya di jumlah lalu Bayu langsung membayarnya di konter depan.


Cukup lama mereka menunggu makanan nya jadi, sampai akhirnya…


"Silahkan Kak, ini pesanan nya," ucap pelayan dengan seragam khusus restoran seraya mengulurkan paper bag berisi pesanan Bayu.


Dengan senyum ramah yang terpatri di wajah tampan nya laki-laki itu pun langsung menerima paper bag yang diberikan oleh Mbak Pelayan seraya berkata, "Terimakasih Mbak,"


Setelah semuanya selesai, Bayu pun kembali melajukan mobilnya menuju jalan raya karena di belakang mereka masih banyak mobil yang mengantri untuk membeli makan siang.


"Pah, aku buka ya!" seru Anjani yang sudah tidak sabar untuk memakan makanan favoritnya, begitu juga dengan Shaka.


"Iya boleh, tapi hati-hati ya, jangan sampe tumpah," ucap Bayu dengan tangan yang masih bergerak untuk memutar kemudi.

__ADS_1


"Siap!"


Setelah mobilnya melewati jalanan yang lumayan sepi, Bayu pun tampak melirik ke arah Rania yang sejak tadi masih mengalihkan wajahnya ke arah jendela.


Dia tahu, pasti gadis itu tengah marah gara-gara ucapannya barusan. Tapi, tadi dia berucap seperti itu untuk membalas ucapan Rania tadi pagi. Kalian pasti ingat kan? Saat dengan mudahnya gadis itu mengenalkannya sebagai teman sang kakak pada laki-laki yang katanya dulu pernah menyatakan cinta kepada Rania di tengah lapangan.


Mengingat hal itu, tanpa sadar tubuh Bayu bergidik ngeri.


ABG alay! Rutuknya dalam hati.


Oke kembali ke pembicaraan yang tadi. Apakah tidak bisa Rania mengenalkan nya sebagai kakaknya sendiri? Padahal ia kira beberapa waktu terakhir ini hubungan mereka sudah kembali membaik seperti dulu. Tapi nyatanya, sampai sekarang sikap gadis itu belum juga kembali seperti dulu.


Karena sudah tidak tahan lagi dengan keheningan yang terjadi, Bayu pun akhirnya memberanikan diri untuk memulai pembicaraan.


"Ehem,"


Laki-laki itu mencoba berdehem untuk menarik perhatian Rania terlebih dahulu. Namun hasilnya nihil, gadis itu tetap kekeh pada posisinya.


Akhirnya, dengan susah payah, laki-laki itu pun mengambil sebuah burger yang ada di dalam tote bag lalu mengulurkan nya ke arah Rania.


"Nih, makan," ucap laki-laki itu singkat.


Rania yang tadinya sedang melamun pun langsung tersentak kaget saat melihat tangan Bayu sudah berada di depan wajahnya, dan hal yang membuatnya lebih terkejut lagi adalah sesuatu yang dipegang oleh laki-laki itu.


Ini kan…


"Double cheeseburger kesukaan kamu, masih sama kan?"


Seketika Rania langsung menoleh ke arah Bayu saat mendengar apa yang diucapkan oleh laki-laki itu.


Mas Bayu… masih inget?


Karena Rania tak kunjung mengambil burger yang ada di tangannya, Bayu pun kembali bertanya, "Kenapa? Kamu udah nggak suka ya?"


"Loh, loh, kamu kenapa nangis Ran?" tanya laki-laki itu panik, sambil sesekali melirik ke arah Rania karena saat ini posisinya sedang menyetir jadi dia tidak bisa melihat gadis itu sepenuhnya.


Sejujurnya, Rania juga tidak tahu alasan kenapa dia sampai menangis seperti ini. Mungkin karena ia tidak menyangka kalau Bayu masih mengingat makanan favorit nya setelah bertahun-tahun lamanya.


Mendengar suara tangisan itu, kedua bocah kembar yang tadi sedang asyik makan sambil bermain mainan yang baru saja mereka dapatkan dari paket happy meal pun langsung bangun dari duduknya lalu berdiri di belakang kursi yang diduduki oleh Rania.


"Kakak Cantik, Kakak Cantik kenapa nangis?" tanya Anjani dengan raut wajah khawatir nya. Gadis kecil itu bahkan sampai menyelipkan tubuh mungilnya di antara kedua kursi depan agar bisa duduk di samping Rania.


Namun karena perasaannya masih nano nano, gadis itu pun belum bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Anjani. Ia hanya ingin menangis sampai perasaannya lega.


"Papah! Papah apain Kakak Cantik sampe Kakak Cantik nangis kayak gini?" tanya Anjani yang saat ini sudah menghadap ke arah sang ayah.


Bayu yang tiba-tiba mendapatkan tuduhan seperti itu pun cukup terkejut, dengan pandangan yang masih lurus ke depan, laki-laki itu menjawab, "Papah nggak ngapa-ngapain Kak Rania kok,"


"Terus kenapa Kakak Cantik nangis?" Anjani kembali bertanya dengan nada tajamnya, bahkan kini gadis kecil itu sampai berkacak pinggang ke arah Bayu.


"Papah juga nggak tau, tadi-"


Belum sempat Bara menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja sang putra yang sejak tadi hanya diam saja ikutan angkat bicara.


"Papah nggak boleh kayak gitu. Kan Papah sendiri yang bilang sama aku kalo kita sebagai laki-laki nggak boleh bikin nangis cewek,"


Mendengar hal itu, Bayu pun reflek mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.


"Ran, please ngomong dong. Ini Mas udah kayak tersangka korupsi yang lagi di adili," gerutu laki-laki itu. Membuat Rania menjadi tertawa di sela tangisannya.


"Kak, Kakak Cantik di apain sama Papah? Bilang aja sama kita. Nanti biar aku sama Kak Shaka yang marahin Papah, iya kan Kak?" tanya Anjani meminta dukungan dari sang kakak. Yang langsung dibalas dengan anggukan kepala oleh anak laki-laki itu.


Bayu sampai speechless mendengar ucapan kedua buah hatinya itu.

__ADS_1


Ini sebenernya mereka anak siapa sih? Kenapa jadi gue yang terzolimi di sini?!


Rania yang sudah mulai tenang pun menggerakkan tangannya yang tidak memegang burger untuk menghapus air mata yang mengalir di pipinya sambil berkata, "Aku nggak papa Kok, Papah kalian juga nggak ngapa-ngapain aku," ucap gadis itu dengan suara sengau nya.


Dengan kening yang berkerut, gadis kecil yang saat ini duduk disamping Rania itu pun bertanya, "Terus Kakak Cantik kenapa nangis?"


Sontak saja, gadis itu pun langsung gelagapan saat mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Anjani. Apa yang harus ia katakan untuk menjawab pertanyaan gadis kecil itu? Tidak mungkin kan Rania bilang kalau ia menangis karena terharu sebab Bayu masih mengingat makanan kesukaannya.


"Kak Rania kelaperan itu, makanya dia nangis," timpal Bayu yang sejak tadi dizalimi oleh anak-anaknya sendiri.


Mendengar hal tersebut, Anjani pun langsung bertanya lagi pada Rania, "Emang iya Kakak Cantik?"


"Hah? O-oh iya, iya, aku laper," jawab gadis itu dengan gugup.


"Tuh kan? Bukan Papah yang salah. Lain kali kalo ada orang lagi ngomong, dengerin dulu sampai selesai, baru deh kalian boleh berpendapat. Kalo kalian berbuat kaya tadi, itu namanya fitnah, fitnah itu dosanya besar, bahkan lebih besar dari dosa pembunuhan. Kalian mau dapet dosa besar?" tanya Bayu pada kedua anaknya.


Shaka dan Anjani yang merasa bersalah pun langsung menggelengkan kepalanya secara bersamaan. Sedangkan Rania, lagi-lagi dia merasa speechless karena Bayu bisa berbicara seperti itu kepada kedua anaknya.


Pantas saja Shaka dan Anjani terlihat sangat pintar di usia mereka yang masih 4 tahun. Pelajaran yang mereka dapat dari ayahnya saja materi untuk anak-anak SMP.


"Maaf Papah," lirih Shaka sambil dengan kepala yang tertunduk.


Mendengar hal itu, Bayu pun langsung menarik kedua sudut bibirnya lalu mengelus kepala Shaka dan Anjani secara bergantian.


"Iya Papah maafin. Tapi Papah juga bangga sama kalian, karena kalian tadi berani banget waktu belain Kak Rania. Apalagi Kakak, Papah bangga banget karena kamu masih inget sama kata-kata yang Papah omongin sama kamu. Kalian berdua hebat,"


Perkataan Bayu pun berhasil mengembalikan senyum pada kedua buah hatinya.


Rania yang sejak tadi diam saja pun kini ikutan berbicara, "Makasih ya kalian berdua tadi udah belain aku, kalian keren banget," ucap gadis itu seraya mengelus kepala Shaka dan Anjani dengan lembut.


Membuat pipi chubby kedua bocah kembar itu langsung memerah karena dipuji seperti itu. Setelahnya, Bayu pun kembali menyuruh kedua buah hatinya untuk melanjutkan kegiatan makan mereka yang tadi sempat tertunda.


"Maaf ya Mas," lirih Rania saat Shaka dan Anjani sudah kembali ke tempatnya semula.


Bayu yang sudah fokus menyetir lagi pun tampak mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan gadis itu.


"Loh, minta maaf buat apa?" tanya laki-laki itu seraya melirik ke arah Rania.


"Karena aku udah bikin kamu diadili sama anak-anak kamu," ucap gadis itu dengan senyum yang tertahan di bibirnya.


Sontak saja, hal itu pun membuat Bayu jadi ikut-ikutan tersenyum.


"Liat aja nanti, aku bakal bikin perhitungan sama kamu," sahut laki-laki itu seraya memberikan seringai nya ke arah Rania.


Dengan tatapan meremehkan, karena ia yakin Bayu tidak akan berani berbuat apa-apa kepadanya, gadis itu pun bertanya, "Perhitungan apa?"


"Rahasia dong, biar surprise," jawab Bayu dengan senyum yang tertahan.


"Oke, aku tunggu,"


Setelahnya, suasana pun kembali hening. Rania kembali memandangi burger di tangannya yang sejak tadi belum ia makan sedikitpun sambil sesekali gadis itu melirik ke arah laki-laki tampan yang ada di sebelah nya.


"Mm… Mas," panggil Rania pada Bayu.


Laki-laki yang tengah fokus menyetir itu pun kembali melirik ke arah Rania sambil berkata, "Kenapa?"


"Makasih ya,"


"Makasih buat apa?"


"Buat ini," jawab gadis itu seraya mengangkat tangannya yang tengah memegang burger pemberian laki-laki itu.


Bayu yang melihat hal tersebut pun langsung mengangkat kedua sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman manis yang terpatri di wajah tampangnya. Laki-laki itu kemudian mengangkat tangannya lalu mengelus kepala Rania dengan lembut.

__ADS_1


"Sama-sama,"


__ADS_2