
Hari demi hari terus berlalu dengan cepatnya, sampai tak terasa hari yang paling Rania tunggu-tunggu akhirnya datang juga.
Yaitu, hari kelulusannya.
Ya, setelah hari dimana ia masuk rumah sakit karena terus-terusan memikirkan Bayu, Rania bertekad untuk bisa melupakan laki-laki itu dengan cara menambah porsi belajar nya. Dari pagi sampai malam gadis itu menghabiskan waktunya untuk belajar, bahkan Rania juga mengikuti beberapa les sebagai pelajaran tambahan.
Ia melakukan itu semua bukan hanya sekedar agar tidak selalu teringat dengan Bayu, melainkan karena Rania mempunyai sebuah target yang harus ia capai setelah lulus dari Sekolah Menengah, yaitu kuliah ke luar negeri.
Meskipun awalnya, kedua orang tua dan juga kakaknya menolak idenya itu. Namun, pada akhirnya Rania berhasil untuk meyakinkan mereka semua kalau ia pasti bisa. Dan itu semua Rania buktikan dengan nilai akhirnya yang sangat memuaskan. Gadis itu bahkan menjadi peringkat pertama dalam satu angkatan.
Tok. Tok. Tok.
"Dek, lo udah siap belum? Lama amat sih, kaya orang mau lamaran aja lo," seru Irsyad dari depan kamar sang adik.
__ADS_1
Rania yang tengah bersiap-siap di depan meja rias pun berdecak kesal saat mendengar suara laki-laki itu.
"Sebentar lagi," sahut gadis itu dengan tangan yang tengah sibuk mencatok rambut panjangnya.
Mendengar hal itu, Irsyad pun kembali berseru, "Beneran ya lo sebentar lagi, awas aja kalo lama. Gue tinggal,"
"Iya, iya, bawel lo,"
Setelah mengatakan hal itu, Irsyad pun langsung pergi dari kamar sang adik menuju lantai satu, dimana kedua orang tuanya sedang menunggu.
Bahkan, tadi pagi gadis itu berhasil membuat kedua orang tuanya amat bangga, karena mereka dipanggil ke atas panggung sebagai wali murid dari siswa dengan nilai ujian tertinggi di sekolah. Orang tua mana yang tidak bangga jika memiliki anak seperti itu?
Jadi sebagai hadiah, malam ini Henry dan Santika ingin mengajak kedua anaknya untuk makan malam di sebuah hotel yang cukup terkenal di kalangan anak muda jaman sekarang.
__ADS_1
"Gila! Cantik juga gue," puji Rania pada dirinya sendiri.
Saat ini gadis itu tengah berdiri di depan standing mirror yang menampakkan seluruh tubuhnya dari atas sampai bawah. Rania bahkan sampai pangling dengan dirinya sendiri, karena ia sangat jarang berdandan seperti ini. Terakhir kali ia berdandan adalah saat … ia menjadi bridesmaid di pernikahan Bayu.
Mengingat hal itu, Rania pun langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tidak, dia tidak boleh merusak hari bahagia ini hanya dengan kesedihan tak berarti seperti itu.
Sekali lagi gadis itu pun memutar tubuhnya di depan cermin, gaun berbahan shimmer dengan warna hitam itu melekat sempurna di tubuh indahnya. Lengan berbentuk balon dan bagian bawah yang mengembang seperti payung membuat gadis itu terlihat seperti seorang princess. Apalagi ditambah dengan rambut panjang nya yang ia ikat sedikit bagian atasnya sedangkan bagian bawahnya ia biarkan tergerai bebas di atas punggungnya.
Setelah merasa puas dengan penampilan nya, Rania pun langsung meraih flatshoes dan slingbag yang sudah ia siapkan. Setelah itu barulah ia keluar dari kamar dan berjalan menuruni tangga menuju lantai satu.
"Ayah, bunda, adek udah siap!" seru gadis itu sambil berlari-lari kecil menuju ruang tamu.
Namun, langkah kakinya itu langsung berhenti seketika saat ia melihat dua sosok manusia yang sudah membuat hidupnya berubah 180° tengah duduk di atas sofa ruang tamu dan mengobrol dengan keluarga nya seperti tanpa beban.
__ADS_1
"Rania, sini cepetan. Ada Mas Bayu sama istrinya, salim dulu kamu,"