
Suara tembakan mengema di kamar itu di ikuti oleh suara teriakan Petter dengan memengang tangannya yang terkena tembakan Rean.
Wanita itu berteriak keras saat peluru mengenai lengan kanan Petter.
Rean berjalan mendekati Petter yang memengang lengannya yang terkena timah panas.
Rean mencengkram lengan Petter yang terkena peluru kemudian menghempaskan tubuh Petter ke tengah kamar itu, sedang wanita itu hanya mampu menutup mulutnya.
Teriakan Petter lagi-lagi memgema di kamar itu saat Rean menghempaskan tubuhnya di tengah ruangan itu.
Rean berjalan mendekati Petter dengan tangan yang masih memengang pistol.
Petter menjauhkan dirinya saat Rean berjalan mendekatinya dengan tertatih Petter berlari ke arah pintu tapi lagi-lagi Rean memberikannya bogem mentah membuat tubuh Petter kembali membentur dinding.
"Orang sepertimu itu seharusnya mati dari dulu," ucap Rean dingin kemudian menginjak dada Petter sehingga membuat pria itu sulit bergerak.
"Sia**n," umpat Rean kemudian memukul Petter tanpa ampun sehingga membuat pria itu tewas dengan wajah yang hancur.
Wanita itu gemetar melihat hal itu kemudian menatap Rean yang berdiri setelah memukul habis-habisan Petter.
Rean berdiri dengan tangan yang di penuhi darah kemudian mengambil pistol yang tadi ia letakkan di lantai kemudian menembak tubuh Petter yang sudah tidak bernyawa berkali-kali hingga tersisa satu peluru saja di dalam pistol itu.
Rean menoleh pada wanita yang terduduk di atas tempat tidur dengan tubuh yang gemetar beserta tangan yang menutup mulutnya sendiri dengan keringat dingin yang bercucuran.
Rean mengangkat pistol itu mengarahkannya pada wanita itu yang membelalakkan matanya dan kemudian terdengar suara tembakan lagi di kamar itu dan peluru mengenai tepat di kepala wanita itu membuat wanita itu tewas seketika.
Rean keluar dari kamar itu dengan tangan yang di penuhi darah yang sudah mulai mengering.
Rean keluar dari rumah itu, kemudian merongoh ranselnya mengambil granat kemudian membuangnya ke arah rumah itu dan sedetik kemudian rumah itu pun meledak.
Rean hanya menatap dingin dengan apa yang di lihatnya, Rean segera meninggalkan tempat itu untuk segera pulang ke apartemennya.
Pukul 11 malam.
Lili masih terjaga di kamarnya sama sekali tidak berniat untuk tidur, entah mengapa Lili menjadi gelisah.
__ADS_1
Lili memejamkan matanya dan tiba-tiba terdengar suara bel apartemen membuat Lili beranjak dari kamarnya dan segera keluar berniat untuk membuka pintu.
Saat Lili ingin membuka pintu, ia teringat dengan perkataan Rean untuk tidak membuka pintu jika ia tidak berteriak.
Lili mengurungkan niatnya untuk membuka pintu, dengan hati yang berdebar Lili perlahan berjalan menjauj dari pintu hingga tiba-tiba ia mendengar suara teriakan Rean yang seketika membuatnya tersenyum senang.
"LILI," teriak Rean yang kini berada di depan pintu apartemennya dan sedetik kemudian pintu pun terbuka.
Rean terkejut saat tiba-tiba Lili berhambur ke pelukannya.
"Syukurlah, kamu baik-baik saja," ucap Lili masih dengan posisi memeluk Rean.
Rean masih terdiam tidak berniat untuk membalas pelukan Lili.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Rean tiba-tiba membuat Lili tersadar dan segera melepaskan pelukannya pada Rean dan menunduk malu.
"Ta ... tanganmu berdarah!" ucap Lili saat melihat tangan Rean yang di penuhi darah yang sudah agak kering.
"Oh ini, ini tidak apa-apa, ini bukan darahku, kau tenang saja," ucap Rean kemudian masuk ke dalam apartemen di ikuti oleh Lili.
Lili menutup pintu apartemen kemudian menghampiri Rean yang duduk di sofa.
Tiba-tiba Rean berbicara membuat Lili menghentikan langkahnya kemudian menoleh pada Rean.
"Tidak usah, Aku tidak minum kopi," ucap Rean menghentikan Lili yang berniat untuk membuatkannya kopi padahal tubuhnya sama sekali tidak bisa minum kopi.
"Kalau begitu, aku buatkan teh saja," ucap Lili membuat Rean menatap wanita muda itu yang hanya berbeda 3 tahun darinya.
"Baiklah," ucap Rean membuat Lili tersenyum kemudian berjalan memasuki dapur untuk segera membuat teh untuk Rean.
5 menit kemudian.
Lili keluar dari dapur dengan nampan du tangannya yang berisi 1 cangkir teh.
Lili meletakkan cangkur itu di meja di hadapan Rean kemudian kembali ke dapur.
__ADS_1
Rean berniat untuk mengambil cangkir di depannya untuk meminum teh buatan Lili tapi, tiba-tiba wanita itu keluar dari dapur dengan wadah kecil yang berisi air tidak lupa dengan handuk kecil.
Rean menautkan alisnya menatap wanita itu yang tiba-tiba duduk di sampingnya dengan meletakkan wadah kecil yang berisi air di atas meja.
Tiba-tiba Lili meraih tangan Rean kemudian membersihkannya dengan handuk yang sudah ia basahi, Lili membersihkan darah kering di tangan Rean dengan begitu telaten.
Rean hanya terdiam melihat hal itu dan membiarkan wanita itu membersihkan tangannya dari darah Petter.
Setelah selesai membersihakan kedua tangan Rean, Lili beranjak dari duduknya kemudian masuk lagi ke dapur dengan membawa wadah kecil itu yang airnya sudah berubah menjadi merah.
Rean kemudian meraih cangkir di hadapannya dan meminum teh buatan Lili yang begitu pas di lidahnya.
Lili keluar dari dapur dan duduk di sofa di hadapan Rean, tiba-tiba Lili berbicara membuat Rean tersedak teh yang di minumnya.
"Bisakah aku ikut denganmu ke negaramu," ucap Lili tiba-tiba.
"Uhuk ... uhuk," batuk Rean yang tersedak teh yang ia minum.
Rean menatap lekat wanita di hadapannya itu yang menatapnya dengan serius.
"Apa yang baru saja kamu katakan, bagaimana bisa kamu berkata seperti itu pasa orang yang baru saja kamu kenal," ucap Rean menatap Lili dengan tatapan penuh tanya.
"Aku mengatakan hal itu karna aku mempercayaimu, kamu telah menyelamatkan nyawaku dan juga membantuku, Kau sudah melakukan banyak hal untukku dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku percaya padamu," ucap Lili panjang lebar.
Rean terdiam sejenak dengan apa yang di katakan oleh Lili membuat kepalanya tiba-tiba pusing.
"Bagaimana jika aku hanya akan memanfaatkanmu saja?" ucap Rean yang tiba-tiba membuat Lili tersentak dan kemudian menundukkan kepalanya nampak berfikir.
"Tidak apa-apa, itu tidak sebanding dengan apa yang kamu lakukan untukku, aku bersedia meski harus mengorbankan nyawaku sekali pun," ucap Lili dengan menatap Rean.
Rean tidak melihat kebohongan di mata wanita di hadapannya itu, Rean menghembuskan nafasnya kemudian berbicara.
"Baiklah, kamu bisa ikut denganku ke negaraku, tapi sebelum itu, kita perlu membuat paspor, kamu pergilah tidur, besok lusa kita akan berangkat," ucap Rean membuat Lili tersenyum dan kemudian berterima kasih pada Rean dan kemudian masuk ke dalam kamarnya untuk segera tidur karna sudah larut malam.
Setelah Lili masuk ke dalam kamarnya, Rean merutuki dirinya sendiri.
__ADS_1
'Dasar bodoh, bagaimana bisa aku menyetujui hal itu, bagaimana mungkin aku mudah untuk kasihan pada orang lain, dasar Rean bodoh, kenapa tubuh ini begitu mudah untuk merasa kasihan pada orang lain, Sia**n,' rutuk Rean dalam hati memaki dirinya sendiri atau bisa di bilang memaki pemilik tubuh sebelumnya.
Rean pun beranjak dari duduknya kemudian masuk ke dalam kamarnya untuk segera tidur agar bisa melupakan masalahnya sejenak.