JENDRAL MENJADI TUAN MUDA

JENDRAL MENJADI TUAN MUDA
MENOLAK


__ADS_3

Pukul 8:30


Kini Rean berada didalam kantornya, duduk dikursi kebesarannya dengan fokus pada dokumen dihadapannya.


Tok ... tok ... tok.


"Masuk," ucap Rean tanpa menoleh dan melihat siapa yang mengetuk pintu.


"Pak, ini dokumen yang anda minta," ucap Kania yang sudah berada didepan meja kebesaran Rean dengan menaruh setumpuk dokumen dihadapan Rean.


Rean mengangkat kepalanya dan menatap Kania yang juga menatapnya.


"Kemarilah," ucap Rean meminta Kania mendekat kesampingnya.


Kania melangkahkan kakinya mendekati kursi kebesaran Rean dan tiba-tiba, Rean menarik tangan Kania lembut, hingga membuat Kania duduk dipangkuannya.


"Nanti aku akan pulang terlambat, tidak apa-apa 'kan?" ucap Rean dengan kepalanya yang berada dipundak Kania.


"Iya, tidak apa-apa, aku akan menunggu diapartemen," ucap Kania dengan tersenyum pada Rean.


"Terima kasih, aku janji akan pulang dengan cepat," ucap Rean yang membuat Kania menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, lepasin dulu, aku masih banyak pekerjaan, pak direktur," ucap Kania membuat Rean terkekeh.


Rean melepaskan pelukannya diperut Kania, dan membiarkan Kania berdiri dan keluar dari ruangannya.


Tiga puluh menit kemudian.


Rean sudah menyelesaikan hampir semua dokumen yang harus ia tanda tangani, karena bosan, Rean memutuskan untuk mengecek cctv diruangan itu, untuk memastikan siapa saja yang masuk selama ia pergi ke Amerika.


Rean menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kebesarannya dengan mata yang fokus pada laptop.


Rean sedikit tersenyum saat melihat sesuatu yang menarik yang direkam oleh cctv itu.


"Ck, sepertinya rubah mulai bergerak, dokumen apa yang ia ambil," ucap Rean kemudian mencoba memperjelas apa yang Nira ambil diruangannya.


Rean berdiri dari duduknya kemudian mendekat kearah lemari tempat penyimpanan dokumen penting.


Rean memeriksa semua berkas didalam laci lemari itu, mencoba untuk menemukan hal apa yang hilang.

__ADS_1


Rean kembali menutup laci lemari itu dan menghembuskan nafasnya berkali-kali kemudian tersenyum kecil.


"Aku akan memberimu kejutan besar tidak lama lagi, Nira," ucap Rean dengan tersenyum devil.


* * *


Pukul 4 sore.


Saat ini Rean tengah mengantar Kania kembali keapartemen, karena ia akan pulang ke kediaman William karena tadi pagi, sang ibu memintanya untuk datang.


Dua puluh menit kemudian.


Rean menghentikan mobilnya didepan bangunan apartemennya.


"Jaga dirimu, aku akan pulang cepat," ucap Rean dan Kania pun menganggukkan kepalanya lalu mencium pipi Rean sekilas kemudian keluar dari mobil dan melambaikan tangannya pada Rean.


Rean melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk segera tiba dikediaman William.


Dua puluh menit kemudian.


Rean menghentikan mobilnya didepan rumah, kemudian keluar dan segera berjalan memasuki rumah besar itu.


"Yah, ma, aku pulang," ucap Rean saat sudah berdiri disamping sofa yang diduduki oleh kedua orang tuanya.


Reynal dan Neina tersenyum melihat Rean yang sudah tiba, Lily yang melihat Rean sudah tiba, tersenyum senang dan kemudian berdiri dari duduknya dan segera memeluk Rean.


pasangan parubaya yang duduk berhadapan dengan Reynal dan Neina terkejut, sedang Reynal dan Neina hanya tersenyum.


Rean terkejut saat tiba-tiba Lily memeluknya hingga wanita itu tiba-tiba berbisik ditelinga Rean.


"Hati-hati, ada wanita gila," bisik Lily ditelinga Rean kemudian melepaskan pelukannya lalu melirik kearah wanita yang duduk berhadapan dengannya tadi.


Rean mengerti kode mata yang diberikan Lily, ia pun melihat kearah wanita yang duduk berhadapan dengan Lily tadi yang juga menatapnya dengan tatapan yang menurut Rean sangat aneh.


"Rean, duduklah, perkenalkan dia pak Wibowo dan juga istrinya" ucap Reynal memperkenalkan kedua tamunya pada putranya.


Rean tersenyum pada nyoya Wibowo dan berjabat tangan dengan tuan Wibowo.


"Senang bertemu dengan anda, tuan Wibowo," ucap Rean dan tersenyum kecil pada pria parubaya dihadapannya.

__ADS_1


Rean kemudian duduk disofa tunggal disamping sofa panjang yang diduduki oleh kedua orang tuanya, sedang Lily kembali duduk ditempatnya dengan melirik malas kearah wanita yang terus menerus menatap kakak angkatnya penuh nafsu.


"Rean, perkenalkan dia Claudia, anak tuan Wibowo," ucap Reynal memperkenalkan Claudia pada Rean.


Rean hanya tersenyum kecil tidak berniat menyapa atau berbicara pada wanita yang disebut gila oleh Lily.


"Rean, seharusnya kau mengabari ayah saat kau pulang kemarin malam, tapi kau sama sekali tidak menelfon kami," ucap Reynal pada putranya itu.


"Aku tidak bisa menelfon ayah, karena ponselku mati, dan juga karena aku tiba larut malam disini," ucap Rean membuat Reynal hanya mampu menghembuskan nafas mereka.


"Baiklah, ayah memaklumi hal itu, sekarang ayah akan berbicara hal yang penting padamu," ucap Reynal yang mendadak membuat Rean menoleh padanya.


"Kami tadi sudah berbicara dan juga sudah menyetujui semua hal, dan kami sudah sepakat jika kau dan Claudia akan bertunangan 3 minggu lagi," ucap Reynal panjang menjelaskan hal yang tadi ia bicarakan dengan tuan Wibowo.


Mendadak suasana diruang tamu menjadi hening seketika, Reynal melihat kearah Rean yang menatapnya dengan tatapan menusuk tajam.


Reynal menelan salivanya dengan susah payah, sedang Neina menatap Rean dengan tatapan sedikit takut, takut jika Rean tiba-tiba mengatakan hal yang akan membuat semua orang diruangan itu kaget.


Lily terdiam mendengar hal itu, ia tidak tahu jika kedua orang tua angkatnya tadi membahas hal seperti itu, karena ia juga baru tiba tidak lama sebelum Rean.


"Aku menolak," ucap Rean tiba-tiba dengan nada suara yang datar dengan penuh penekanan.


Neina dan Reynal terdiam mendengar hal itu, sedang tuan Wibowo dan istrinya terkejut bukan main, begitu pun dengan Claudia.


"Rean ... tadi kau mengatakan apa?" tanya Reynal mencoba memperjelas hal yang diucapkan Rean barusan.


"Aku bilang, aku menolak, dan itu final," ucap Rean kemudian berdiri dari duduknya.


Semua orang menatap Rean yang tiba-tiba berdiri dari duduknya.


"Aku tidak akan menikah dengan wanita itu, apapun yang ayah lakukan, aku akan tetap menjawab, tidak!" ucap Rean menekan kata terakhirnya kemudian berjalan berniat meninggalkan ruang tamu itu.


Rean menghentikan langkahnya saat melihat Nira berjalan mendekat kearahnya.


"Apa yang kau katakan, Rean. apa alasanmu menolak perjodohan ini, kami ingin melihatmu bahagia, jadi kami merencanakan hal perjodohan ini, lagi pula kak Reynal dan kakak ipar setuju, maka kamu juga harus setuju 'kan," ucap Nira menatap Rean dengan tatapan sedih, tapi bagi Rean itu adalah tatapan mengejek.


'Ini adalah rencananya, Rubah sia**n,' ucap Rean dalam hati dengan mengepalkan tangannya.


"Aki sudah bilang, tidak berarti tidak, jika pertunangan ini tetap terjadi meski aku sudah mengatakan tidak, maka wanita itu hanya akan mempermalukan dirinya sendiri," ucap Rean dingin kemudian berjalan melewati Nira dan segera keluar dari kediaman William meninggalkan semua orang yang terdiam dan mematung ditempat karena ucapannya.

__ADS_1


__ADS_2