
Pukul 6 pagi.
Rean dan Kania sudah berada dibandara bersiap untuk naik kepesawat yang akan membawa mereka kembali ke Indonesia.
Rean dan Kania duduk berdampingan dengan Kania yang duduk disamping jendela dan Rean yang duduk disampingnya.
Tidak lama kemudian, pesawat pun lepas landas meninggalkan bandara. Kania menghembuskan nafasnya lalu menyandarkan kepalanya dibahu Rean dan perlahan-lahan tertidur.
* * *
Rean dan Kania kini berada ditaksi dalam perjalanan pulang keapartemen Rean, setelah tadi hampir 21 jam naik pesawat dan akhirnya pesawat pun mendarat dengan sempurna dibandara Seokarno Hatta.
Dua puluh menit kemudian.
Rean dan Kania turun dari taksi dan segera menyeret koper mereka memasuki gedung apartemen Rean, yang sering Rean gunakan saat menjadi Dokter,(pemilik tubuh sebelumnya).
Naina dan Steve tidak tahu jika Rean sudah pulang karena Rean tidak mengabari kedua orang tuanya dengan alasan tidak sempat.
Pintu lift terbuka, Rean dan Kania berjalan kearah pintu apartemen Rean, Rean membuka pintu apartemen itu yang memang ada dalam memori pemilik tubuh sebelumnya.
Ceklek (Suara pintu terbuka)
Rean dan Kania segera masuk kedalam apartemen kemudian mengunci pintu, Rean segera manarik tangan Kania lembut kearah pintu kamarnya.
Rean menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur dan kemudian terlelap tanpa memperbaiki posisi tidurnya.
Kania tersenyum melihat hal itu, ia pun membaringkan tubuhnya disamping Rean dan Rean pun memeluk tubuh Kania dengan begjtu posesif.
Rean dan Kania pun tertidur dan berharap bertemu dialam mimpi.
Pukul 7 pagi.
Rean terbangun dari tidurnya tapi belum membuka kelopak matanya yang masih terasa berat untuk terbuka.
"Kak Rean, bangun udah pagi!" ucap Kania mengoyangkan tubuh Rean yang masih terbalut selimut tebal.
"5 menit lagi, sayang," ucap Rean dengan mata yang masih terpejam.
"Bangun, ini udah jam 7 loh, udah lewat 1 menit juga, bangun kak Rean," ucap Kania yang tidak berhenti mengoyangkan tubuh Rean yang sama sekali tidak ingin beranjak daro tidurnya.
"Katanya mau urus surat nikah, gimana sih," ucap Kania kesal dengan mengembulkan pipinya.
__ADS_1
Rean yang mendengar hal itu, segera bangun dari tidurnya, dan menarik pelan tangan Kania hingga terduduk ditepi tempat tidur disampingnya.
"Ini udah bangun," ucap Rean dengan senyuk diwajahnya lalu mencium singkat pipi Kania.
"Dari tadi dong, suara aku udah habis, baru bangun," ucap Kania mendengus kesal kemudian bangkit dan berjalan keluar dari kamar.
Rean yang melihat hal itu hanya tersenyum kemudian turun dari tempat tidur dan berjalan kearah kamar mandi.
Lima belas menit kemudian.
Rean keluar dari kamar dan berjalan kedapur dan segera mendekat ke meja makan.
Rean menarik kursi kemudian duduk dan menatap punggung Kania yang tengah membuat kopi setelah tadi selesai membuat sarapan.
Kania berjalan mendekat kearah meja makan, kemudian menaruh cangkir kopi dihadapan Rean.
Kania menyendokkan nasi goreng kepiring Rean. Rean yang melihat hal itu, tersenyum kecil.
Kania meletakkan piring dihadapan Rean yang sudah berisi nasi goreng beserta lauknya.
Rean memakan makanannya dengan lahap, Kania duduk setelah selesai menyendokkan nasi kepiringnya lalu makan dengan sesekali menoleh pada Rean yang duduk disampingnya.
"Ada apa?" tanya Kania saat menoleh kearah Rean yang tengah menatapnya dengan mulut yang mengunyah makanan.
Selesai sarapan, Kania membereskan piring-piring bekas makan mereka dan menaruhnya diwestafel kemudian segera mencucinya agar nanti ketika pulang kerja, ia bisa langsung istirahat.
Hari ini, Kania akan pergi bekerja meski sebenarnya Rean malarangnya tapi Kania tetap saja kekeh dan Rean hanya bisa pasrah.
Sepuluh menit kemudian.
Kania sudah selesai dengan kerjaannya dan segera keluar dari dapur dan mendapati Rean yang tengah duduk disofa menunggunya.
"Aku sudah selesai," ucap Kania dan Rean pun menoleh dengan senyum diwajahnya.
* * *
Saat ini, Kania dan Rean berada dimobil milik Rean yang tadi pagi diantar oleh supir. Rean menelfon Reynal tadi pagi dan meminta sang ayah untuk menyuruh supir untuk mengantar mobil keapartemennya.
"Kita akan ke kantor catatan sipil dulu, baru kemudian ke kantor," ucap Rean dengan fokus pada jalan.
Kania yang mendengar hal itu, menoleh dan kemudian tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Kak Rean, apa hal ini tidak masalah?" ucap Kania dengan nada suara sedikit takut.
Rean mengernyit bingung kemudian melirik Kania sekilas lalu kembali fokus pada jalan.
"Maksudnya apa?" tanya Rean mencoba memperjelas apa yang dikatakan oleh Kania.
"Maksudnya ... apa orang tua kak Rean akan setuju, aku tidak berasa dari keluarga ...," Kania mengehentikan ucapannya saat tangan Rean yang bebas mengenggam tangannya erat.
Rean melirik Kania sekilas kemudian mengecup punggung tangan Kania dan kembali fokus pada jalan.
"Tidak perlu difikirkan, jika mereka tidak setuju, maka aku akan membuat mereka setuju, apapun yang terjadi, kita akan bersama, percayalah," ucap Rean dengan tersenyum manis pada Kania.
Kania tersenyum senang mendengar ucapan Rean.
Dua puluh menit kemudian.
Rean menghentikan mobilnya saat sudah tiba ditempat tujuan, yaitu kantor catatan sipil. Rean dan Kania keluar dari mobil lalu berjalan bergandengan tangan memasuki bangunan besar itu.
Lima belas menit kemudian.
Rean dan Kania berjalan mendekati mobil lalu segera masuk dengan perasaan suram yang terpapang jelas diwajah Rean.
Kania menutup pintu dan tersenyum kecil melihay wajah Rean yang terlihat begitu suram karena menunggu begitu lama didalam tadi, padahalkan cuma 15 menit, tapi sudah seperti 1 jam bagi Rean.
Rean segera menyalakan mesin mobilnya dan menancap gas meninggalkan tempat itu menuju kekantor.
"Kak Rean baik-baik saja?" tanya Kania membuat Rean mengembulkan pipinya seperti anak kecil.
"Sepertinya hal itu bagus untuk melatih kesabaran kak Rean," ucap Kania terkikik geli membuat Rean meliriknya sekilas.
"Tertawalah, nanti ketika pulang aku akan meminta jatahku," ucap Rean dengan tersenyum mesum membuat wajah Kania memerah karena malu.
"Dasar mesum," ucap Kania kemudian melipat tangannya didada dengan mengembukkan pipinya membuat Rean menjadi gemas.
Rean mencubit pipi Kania gemas dengan tangannya yang bebas.
"Jangan seperti itu, bisa-bisa aku mengambil jatahku disini, sayang," ucap Rean dengan nada suara yang terdengar begitu berat.
"Memangnya kak Rean berani melakukannya disini," ucap Kania dengan menatap tidak percaya pada Rean.
"Bisa, bahkan aku bisa melakukan beberapa ronde tuh," goda Rean yang berhasil membuat wajah Kania semakin memerah.
__ADS_1
"Ish, apaan sih," ucap Kania dengan memalingkan wajahnya yang memerah kearah jendela.
Rean terkikik melihat hal itu dan kemudian kembali fokus pada jalan, agar hal yang tidak diinginkan tidak terjadi.