
Rean mematung di tempatnya dan menelan salivanya dengan susah payah.
"Siapa Kau?" ucap Kania mengulang pertanyaannya.
Rean mengalihkan pandangannya kearah laina mencoba agar tatapan matanya tidak bertemu dengan tatapan mata Kania.
"Siapa kamu sebenarnya! jawab!," ucap Kania dengan nada suara yang meninggi.
Rean masih terdiam, lalu mendekat pada Kania mencoba untuk menenangkan Kania, tapi Kania dengan kasar menghempaskan tangan Rean.
"Jangan sentuh saya!" ucap Kania kemudian keluar dari kamar itu lalu segera masuk ke kamar sebelah dan menguncinya dengan membawa bingkai foto itu.
Rean mengacak rambutnya kesal kemudian segera keluar dari kamarnya mencoba untuk mengetuk pintu kamar disebelah kamarnya.
"Buka pintunya!" ucap Rean mengulang perkataannya tapi tetap saja Kania tidak membuka pintu.
Rean berdecak kesal kemudian keluar dari pintu apartemen meninggalkan Kania di apartemen.
Kania menangis sesugukan didalam kamar, entah mengapa ia tiba-tiba marah saat melihat fotonya dan Rey berada di kamar Rean. Niat hati ingin berbicara dengan Rean tapi malah melihat fotonya dan Rey.
Kania masih belum percaya sepenuhnya pada Rean karna menurutnya, Rean sedikit mencurigakan.
"Kak Rey, apa benar pria itu adalah sahabatmu?" ucap Kania berbicara pada bingkai foto itu.
Kania memeluk bingkai foto itu lalu menangis.
'Kenapa wajahnya terlihat mirip denganmu, kak Rey' ucap Kania dalam hati menyadari jika setiap ia melihat Rean, dia seperti sedang melihat Rey.
* * *
Sementara itu, Rean tengah berada di salah satu club malam tengah menenguk minuman keras.
'Percuma juga aku menjelaskan padanya, toh dia tidak akan percaya, lalu kenapa dia harus seperti tadi sih,' ucap Rean mengacak rambutnya.
Rean ingin menjelaskan semuanya tapi ia takut jika Kania tidak akan percaya padanya, mana mungkin seseorang bisa berpindah ke tubuh orang lain, jelas tidak bisa.
Pukul 9 malam.
__ADS_1
Saat ini Kania tengah berada di ruang tamu menunggu Rean kembali, Kania berniat meminta maaf untuk kejadian tadi siang, bisa-bisanya dia bersikap kasar seperti itu pada atasannya tanpa alasan.
Tiba-tiba pintu terbuka membuat Kania menoleh dan terkejut saat Rean membuka pintu dan terjatuh ke lantai.
Kania segera menghampiri Rean dengan raut wajah khawatir.
"Tuan Rean, apa anda baik-baik saja?" tanya Kania kemudian mencoba memapah tubuh Rean ke sofa.
"Dia habis minum," ucap Kania saat berhasil mendudukkan Rean di sofa panjang dengan bau alkohol yang menyengat.
Kania berniat pergi ke dapur untuk mengambil sesuatu yang bisa meredakan mabuk, tapi tiba-tiba tangannya di pengang oleh Rean yang dalam keadaan setengah sadar.
"Tuan Rean, tunggu disini ya, saya mau ...," ucap Kania yang terhenti saat Rean menaruh jari telunjuknya di bibirnya kemudian berbicara.
"Diam ... apa kamu tidak bisa diam, dasar gadis cerewet," ucap Rean yang dalam keadaan setengah sadar.
Kania terdiam mendengar ucapan Rean yang terdengar seperti Rey yang sedang memarahinya waktu kuliah dulu.
Rean menarik tangan Kania hingga membuat Kania duduk di pangkuannya. Kania terkejut dan berusaha untuk melepaskan diri dari tangan Rean yang memeluk perutnya erat.
"Jangan bergerak, jika tidak aku akan ... memakanmu," ucap Rean kemudian mengecup singkat leher Kania.
Kania berusah untuk melepaskan diri hingga ucapan yang keluar dari mulut Rean selanjutnya membuatnya terdiam.
"Nia ... maafkan aku, Aku salah ... aku selalu mengabaikanmu setiap saat ... bahkan sangat jarang menghubungimu," ucap Rean dengan nada suara yang sedikit pelan.
Kania terdiam mendengar hal itu lalu menoleh pada Rean yang menatapnya sayu dalam keadaan setengah sadar.
"Aku ingin pulang untuk segera melamarmu, tapi kecelakaan itu terjadi membuat aku ... mati!," ucap Rean dengan raut wajah sendu.
Kania semakin terdiam dengan apa yang ia dengar.
'Apa maksud tuan Rean?' ucap Kania dalam hati bertanya pada dirinya sendiri dan ucapan Rean selanjutnya membuatnya membulatkan matanya dengan sempurna.
"Dan ketika aku sadar ... aku sudah berada di tubuhnya Rean, aku ingin membalas ... 'kan dendam Rean, tapi kemudian aku bertemu denganmu lagi ...," ucap Rean membuat Kania mematung.
"Aku berniat untuk mendekatimu dengan tubuh Rean ini, tapi ... aku takut jika kamu akan menjadi incaran si rubah itu, lalu tadi siang aku ingin ... menjelaskannya tapi takut jika kamu tidak akan percaya." ucap Rean membuat setetes air mata Kania mengalir dipipinya dan perlahan-lahan terisak.
__ADS_1
Rean yang dalam keadaan mabuk menatap wanita di pangkuannya yang menangis dengan mulut yang ia tutup dengan tangannya.
"Jangan menangis ... nanti cantiknya ilang," ucap Rean yang mabuk dengan sedikit bercanda dengan Kania.
"Kak Rey ...," ucap Kania dengan tangis yang pecah.
Rean mengelengkan kepalanya kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Kania.
Rean mengecup bibir Kania dan perlahan-lahan menjadi ******n, Kania mengalungkan tangannya di leher Rean dan membalas ciuman Rean atau lebih tepatnya Rey.
Rean melepakan ciumannya kemudian berbicara.
"I love you, Nia," ucap Rean kemudian menindih tubuh Kania di atas sofa panjang dengan tangannya sebagai penyanggah.
"I love you too, kak Rey," ucap Kania dan Rean pun kembali melum*t bibir Kania.
Malam ini menjadi malam yang panjang untuk Kania dan Rean dengan di penuhi oleh suara desahan diruang tamu.
* * *
Pukul 8 pagi.
Rean perlahan-lahan mengerjapkan matanya yang begitu berat dan kepalanya yang sedikit pusing akibat minum terlalu banyak.
Rean terdiam saat merasakan ada sebuah tangan yang berada diatas perutnya, Rean terkejut melihat Kania tertidur di sampingnya tanpa sehelai benang, hanya kemeja putihnya saja yang menutupi tubuh mereka berdua itu pun tidak tertutup semua.
Rean membelalakkan matanya melihat hal itu hingga memori kejadian semalam berputar di kepalanya, dimana ia dan Kania melakukan hal itu beberapa kali.
Rean segera duduk membuat Kania mengeliat dari tidurnya, Rean menelan salivanya dengan susah payah.
Kania bangun dari tidurnya dan kemudian duduk sehingga membuat kemeja putih yanh menutupi bagian atasnya merosot turun.
Rean segera memalingkan pandangannya kesembarang arah agar tidak melihat hal yang menantang birahinya terlebih lagi ada bekas cupa*g dileher Kania akibat perbuatannya semalam.
Rean berdiri dari duduknya kemudian memungut celananya lalu mengenakannya. Kania menatap Rean atau lebih tepatnya Rey dengan wajah yang merona dan kepala yang menunduk.
"Maaf untuk tadi malam, aku akan bertanggung jawab," ucap Rean dengan posisi membelakangi Kania.
__ADS_1
Kania memakai kemeja putih itu tanpa memakai pakaian dalamnya lalu berusaha untuk berdiri tapi tiba-tiba ia terjatuh ketika merasa kakinya tidak mampu untuk menopang tubuhnya.
Rean menoleh ketika mendengar suara di belakangnya dan terkejut saat melihat Kania terduduk dilantai dengan mata yang mengerjap bingung lalu menatap Rean yang juga menatapnya.