JENDRAL MENJADI TUAN MUDA

JENDRAL MENJADI TUAN MUDA
RAHASIA


__ADS_3

"Uhuk ... uhuk ...," batuk Xiper yang tersedak kopi yang ia minum.


Xiper menatap Rean dengan tatapan tidak percaya.


"Dokter ... bedah?" ucap Xiper dengan nada bicara seperti bertanya.


Rean mengangguk membenarkan ucapan Xiper, Xiper terkejut melihat Rean yang menganggukkan kepalanya.


"Dia ...," belum selesai Xiper berucap, pukulan sudah kembali melayang ke kepalanya.


PLAK


"Aduh, sakit tau kak," rengek Xiper dengan mengelus kepalanya setelah menaruh cangkir kopinya kembali diatas meja.


"Sudahku bilang agar tidak menunjukku seperti itu, apa kamu mau terus mendapatkan hukuman," ucap Rean dengan mengangkat tangannya membuat Xiper menelan salivanya dengan susah payah kemudian segera mengelengkan kepalanya.


"Jadi kapan kakak akan kembali ke Indonesia," ucap Xiper dengan mengalihkan pandangannya kesegala arah, agar Rean tidak melihatnya menangis.


Rean menghembuskan nafasnya melihat Xiper yang mencoba menyembunyikan kesedihannya.


"Rencananya besok, aku dan Kania akan pulang dan segera melangsungkan pernikahan," ucap Rean dengan kepala yang menunduk.


"Wah, itu berarti aku harus datang dong," ucap Xiper dengan raut wajah bahagia mendengar Rean akan segera menikah dengan Kania.


"Kamu tidak boleh datang sekarang, pernikahan yang akan kulakukan dengan Kania tidak digelar mewah, kami hanya akan menikah di kantor catatan sipil," ucap Rean membuat Xiper terkejut.


"Apa! kenapa tidak dilakukan dengan besar-besaran, lagi pula pemilik tubuh itukan anak orang terpandang," ucap Xiper segera menutup mulutnya dengan tangan karena tidak sengaja menunjuk Rean sekaligus mengatakan hal yang dilarang oleh Rean.


Rean menoleh dan menatap horor pada Xiper, Xiper yang ditatap seperti itu, menelan salivanya dengan susah payah.


Xiper hanya cengegesan mendengar hal itu dan Rean hanya menatap datar pada Xiper tidak berniat untuk memukul pria ceroboh disampingnya yang entah mengapa bisa menjadi seorang jendral seperti sekarang.


Rean berdiri dari duduknya berniat untuk kedapur, Rean mematung saat melihat Kania berdiri tidak jauh darinya dengan menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


Xiper mengernyit bingung saat melihat Rean hanya terdiam ditempatnya tanpa berniat untuk melangkahkan kakinya.


Xiper mengikuti arah pandang Rean dan terkejut saat melihat Kania berdiri tidak jauh dari mereka.

__ADS_1


Xiper menelan salivanya dengan susah payah, kemudian berdiri dari duduknya dan berbicara.


"Begini, kak. aku pamit dulu, aku masih ada urusan," ucap Xiper berpamitan pada Rean dan Kania kemudian segera keluar dari pi tu apartemen itu dan menutupnya.


Rean berjalan mendekati Kania yang hanya terdiam ditempatnya, tidak bergeming sama sekali.


"Kania ... aku ...," ucap Rean yang terhenti saat Kania menaruh jari telunjuknya dibibirnya.


"Tidak apa-apa, kak Rey pasti memiliki alasan untuk melakukan pernikahan rahasia, aku akan mengerti dan selalu mengerti apapun keputusan kak Rey," ucap Kania dengan senyum diwajahnya.


Rean tersenyum mendengar hal yang Kania ucapkan, Rean kemudian memeluk tubuh Kania erat dengan kasih sayang membuat Kania tersenyum bahagia.


"Terima kasih, karena sudah ingin mengerti dengan apa yang aku lakukan, aku berjanji, setelah masalah itu selesai, aku akan memberi tahukan pernikahan kita pada publik," ucap Rean dan Kania hanya menganggukkan kepalanya didalam dekapan pria yang ia cintai itu.


Pukul 5 sore.


Kania tengah bersiap-siap untuk memasak makan malam, sedang Rean tengah tertidur dikamar setelah tadi melakukan hubungan intim saat siang hari tadi.


Kania mulai membuka lemari pendingin dan mengeluarkan semua bahan-bahan makanan yang akan ia buat untuk makan malam.


Kania memakai celemeknya lalu kemudian mulai mengupas sayuran dan memotongnya ditalenan berniat untuk membuat sop kesukaan Rean.


"Kak Rey udah bangun? udah mandi belum?" tanya Kania dengan tangan yang masih memotong sayuran.


"Sebentar lagi," ucap Rean dengan kepala yang berada dibahu Kania dengan sesekali mengecup singkat leher Kania yang memiliki beberapa tanda kepemilikannya.


Kania hanya bisa menghembuskan nafasnya mendengar ucapan Rean yang semakin memekuknya erat tanpa mengenakan baju dan hanya mengenakan celana kain berwarna hitam.


"Kania, mungkin akan baik jika, memanggilku dengan Rean, jangan Rey, itu akan terdengar aneh tau," ucap Rean manja dengan mulut yang ia majukan sedikit kedepan.


Kania terdiam mendengar ucapan Rean, Kania menghembuskan nafasnya kemudian menganggukkan kepalanya membuat Rean tersenyum.


"Thank you, Baby," ucap Rean mengecup singkat leher Kania dengan tangan yang mengelus perut rata Kania yang tertutup celemek dan juga baju.


"Kalau begitu, aku pergi mandi dulu, sayang," ucap Rean kemudian mencium leher Kania dna melepaskan pelukannya diperut Kania dan berjalan kembali masuk kedalam kamar untuk membersihkan diri.


Kania hanya bisa mengelengkan kepalanya dengan tingkah laku Rean yang kadang seperti anak kecil.

__ADS_1


Pukul 7 malam.


Semua makanan sudah tersedia dimeja makan dan Rean juga sudah duduk sedari tadi sambil menopang dagu dna menatap Kania lekat.


Kania duduk dikursi berhadapan dengan Rean yang masih menatapnya lekat dengan tersenyum.


"Apaan sih, kak. dari tadi liatin aku gitu, ada kotoran ya, dimuka aku," ucap Kania yang gugup karena Rean menatapnya sedari tadi.


"Tidak ada kotoran atau apapun diwajahmu, hanya saja, kamu semakin cantik," goda Rean yang berhasil membuat wajah Kania merona merah.


"Ish, apaan sih," ucap Kania dengan wajah yang merona bak tomat matang.


Rean tersenyum melihat hal itu, mereka pun makan dengan sesekali Rean berbuat jahil dengan memainkan kakinya dibawah meja membuat Kania tersedak makanan yang ia kunyah.


"Uhuk ... uhuk," batuk Kania saat Rean dengan sengaja memainkan kakinya dengan begitu lembut menyentuh kaki Kania.


Rean segera menyodorkan air putih pada Kania.


"Kamu baik-baik aja," ucap Rean kemudian beranja dari duduknya dan berpindah kekursi disamping Kania lalu memijit tengkuk Kania.


Kania hanya menganggukkan kepalanya lalu kembali menyantap makan malam begitu pun dengan Rean yang kembali duduk dikursinya.


Selesai makan, Kania membersihkan meja makan, sedang Rean sudah keluar sedari tadi keruang tamu untuk mengurus sesuatu yang entah apa, Kania tidak tahu.


Selesai membersihkan meja makan, Kania berjalan keluar menuju keruang tamu dengan secangkir teh dinampan yang ia bawa.


Rean tengah berkutak dengan laptopnya untuk mencari beberapa data tersembunyi tentang Nira.


Rean terkejut saat mengetahui jika Nira ternyata beberapa hari ini tengah menjalin hubungan dengan seorang ketua mafia di Indonesia.


Rean segera menutup laptopnya saat Kania berjalan mendekat kearahnya. Rean tersenyum saat Kania meletakkan nampan yang berisi cangkir teh diatas meja.


Kania duduk disamping Rean dengan senyum diwajahny.


"Besok kita akan pergi kebandara pagi sekali, jadi sebaiknya kita tidur cepat," ucap Rean dengan tersenyum canggung pada wanita disampingnya itu.


Kania hanya menganggukkan kepalanya, ingin bertanya tapi ia urungkan.

__ADS_1


Kania pun beranjak dari duduknya dan berjalan kearah kamar untuk segera tidur.


Rean menghembuskan nafasnya lalu kembali membuka laptopnya dan melihat semua hal yang tadi sempat tertunda.


__ADS_2