
Nira menelan salivanya dengan susah payah, entah mengapa ia merasakan firasat buruk melihat senyum diwajah Rean.
Reynal dan Neina menanti apa hadiah yang diberikan Rean untuk Nira.
"Bisa ambilkan aku laptop," ucap Rean, dan salah satu dari pelayan dirumahnya segera pergi untuk mengambil laptop.
"Apa hadiahku begitu spesial sampai harus mengunakan laptop?" tanya Nira dengan tersenyum, meski ia sudah benar-benar takut.
"Sangat spesial, Bibi," ucap Rean penuh arti.
Pelayan itu mulai mendekat kearah Rean, dengan membawa laptop ditangannya. Ia memberikan laptop itu pada Rean, dan dengan senang hati Rean menerimanya.
"Xiper," panggil Rean, dan pria itu segera berjalan mendekat kearah Rean yang sudah menyalakan laptop itu.
Xiper tidak menyadari jika seseorang tengah menatapnya dengan tatapan rindu yang tertahan dan ingin segera memeluk pria itu.
Xiper memberikan USB pada Rean, Rean segera memasangkan USB itu pada laptop dan mulai mengotak-atik mencari file yang akan membuat rubah itu ketakutan.
Hampir Dua bulan Rean mencari tahu hal tentang Nira, bahkan diam-diam memasang CCTV dirumah wanita itu, bahkan memasang penyadap pada ponsel Nira.
Nira mulai berkeringat dingin, ia mulai memundurkan langkahnya mendekat pada meja tempat kue ulangtahunnya.
Rean mulai memutar video dilaptop itu, dan semua orang mulai mendengarkannya dengan baik. Nira terkejut melihat video pada laptop itu, dengan hati-hati ia mengambil sesuatu yang ia selipkan dibawah meja.
"Aku ingin membunuh pria itu, tapi kenapa begitu susah,"
"Kenapa dia tidak mengangkat telfonnya, apa terjadi sesuatu padanya,"
Orang mulai menajamkan pendengaran mereka, dan mengelengkan kepala, mendengar ucapan Nira divideo itu.
"Kenapa aku merasa jika Rean sudah berubah? Dan hal itu semakin saja membuatku sulit untuk melenyapkannya. Apa aku membunuh kak Reynal saja lebih dulu, baru Rean?"
Reynal terkejut mendengar ucapan Nira yang ingin membunuh dirinya dan juga putranya. Ia menoleh pada Nira dan terkejut melihat wanita itu, mengarahkan pistol padanya.
"Nira kau ....," ucapan Reynal terhenti kala Nira menarik pelatuk pistolnya.
DOR!
"Astaga!" pekik salah satu tamu wanita, saat melihat seseorang yang terkena peluru pada lengannya.
Reynal terkejut melihat Rean yang berada dihadapannya, dengan lengan yang terkena timah panas.
Nira membuang pistolnya, lalu berlari keluar dari rumah, sedang Xiper berusaha untuk mengejarnya.
"REAN!" pekik Kania dan mendekat pada suaminya dan berdiri dengan memengang lengannya yang terkena tembakan.
"SEGERA TELFON DOKTER!" teriak Reynal yang begitu khawatir pada putranya itu.
Juan beserta keluarga dan Lily, mendekat pada Reynal. Sedang para tamu nampak panik, tapi hanya terdiam ditempat mereka dan menatap Rean yang lengannya terus mengeluarkan darah.
__ADS_1
"Biar aku periksa, paman," ucap Juan dan segera berjongkok dan memeriksa lengan Rean.
Tiba-tiba Kania pingsan membuat semua orang terkejut terutama Rean.
"Kania!" ucap Rean mendekap istrinya itu tanpa merasakan sakit pada lengannya yang terkena peluru.
"Kania! sadar sayang!" ucap Rean dengan menepuk pelan pipi chuby istrinya itu.
"Dia pingsan, syok melihatmu seperti ini. Paman sebaiknya, kakak ipar dibawah kekamar untuk istirahat," ucap Juan dan Reynao segera mengendon Kania kekamar tamu diikuti oleh Lily.
"Juan, cepat hentikan pendarahan dilengan Rean," ucap Neina khawatir karena lengan Rean tidak henti-hentinya mengeluarkan darah.
"Iya, bibi. Kakak bisakah kau tidak mengerakkan tanganmu, kau semakin membuat darahmu keluar tau!" ucap kesal Juan pada Rean yang tidak bisa mendiamkan lengannya yang terluka itu.
"Diamlah! Aku khawatir tau, bagaimana jika anak dalam kandungannya kenapa-kenapa?" ucap Rean yang tidak kalah kesalnya pada Juan.
Semua orang terdiam mendengar ucapan Rean, sedang Rean berniat berdiri, membuat Juan dengan paksa menariknya duduk.
"Dudukkan dirimu dulu! Peluru itu harus segera dikeluarkan tau!" maki Juan semakin kesal pada Rean yang seperti kucing ingin lahiran saja.
"Kau tenang saja, mama akan menemani Kania," ucap Neina dan segera bangkit dan berjalan kekamar tamu untuk menemani menantunya yang pingsan, bersama dengan Lily.
"Saya mohon maaf pada semuanya, pesta ini telah berakhir. Maaf apabila kalian harus melihat dan mendengar hal yang tidak baik," ucap Reynal setengah membungkukkan badannya pada para tamu yang hadir, setelah tadi ia mengendong menantunya kekamar tamu.
Semua orang hanya mengangguk mengerti dengan keadaan, mereka pun berpamitan untuk pulang.
* * *
Saat Xiper jarak antara Xiper dan Nira tinggal beberapa meter lagi, Nira tiba-tiba menyebrang jalan, dan tanpa diduga sebuah mobil melaju dengan cepat hingga menabrak tubuh Nira tanpa sempat mengelak.
Xiper terdiam ditempatnya melihat hal itu, sedang pengendara mobil tersebut, menancap gas malarikan diri dari tempat kejadian.
Xiper mendekat kearah tubuh Nira yang perlahan-lahan menutup matanya.
Xiper segera menelfon ambulance untuk datang kesana, setelah Xiper menelfon ambulance, ia pun segera menelfon nomor Rean.
* * *
"Halo, ada apa?" tanya Rean saat mengangkat telfon dari Xiper, sedang Juan berusaha mengeluarkan peluru dari lengan Rean.
"Dia ditabrak mobil, kak. Dan tidak tertolong," ucap Xiper dengan menatap Nira yang dimasukkan kedalam mobil ambulance, setelah ia memeriksa deyut nadinya.
Rean terdiam sesaat, membuat Reynal mengernyir menatap putranya itu.
"Segeralah kesini!" ucap Rean, dan Xiper dengan cepat menganggukkan kepalanya diseberang telfon.
"Ada apa, Rean?" tanya Reynal saat melihat Rean mengakhiri telfon dari Xiper.
"Nira telah meninggal dunia," ucap Rean dengan kepala yang tertunduk.
__ADS_1
Reynal terdiam, meski ia tahu bahwa Nira ingin membunuhnya. Tapi tetap saja ia merasa sedih mendengar bahwa Nira telah tiada.
Ayah dan ibu Juan menunduk sedih, turut prihatin dengan apa yang mereka dengar, sedang Juan mematung ditempatnya dan tanpa sengaja menarik paksa peluru dilengan Rean dengan tangannya, hingga sedikit mencubit luka Rean yang menganga membuat pria itu memekik.
"Akh! Kau ingin menghabiskan darahku kah, Juan!" ucap Rean kesal menyadarkan Juan dan segera membersihkan luka Rean setelah menaruh peluru itu pada wadah yang telah disediakan oleh pelayan.
Sepuluh menit kemudian.
Xiper memasuki rumah dan mendapati Juan yang tengah memakaikan perban kelengan Rean. Ia melangkah mendekat pada kerumunan itu, karena Juan melakukan tindak pembedahan dadakan diruang tamu keluarga William.
Rean menoleh kearah Xiper yang berjalan mendekat kearahnya.
"Selesai," ucap Juan dan segera membersihkan tangannya dari darah.
Rean hanya menatao datar pada lengannya yang diperban oleh Juan.
Rean bangkit dari duduknya dengan bertelanjang dada, dan hanya memakai celana, karena jas dan kemejanya dibuka oleh Juan tadi, saat akan mengeluarkan peluru dari lengannya.
Rean berjalan pergi keruang tamu, untuk melihat keadaan istrinya itu. Xiper segera mengekor dibelakang Rean menuju kamar tamu.
Rean membuka pintu kamar tamu dan berjalan masuk, mendapati Kania yang duduk dengan gelisah diatas tempat tidur.
"Kania," ucap Rean semakin berjalan mendekat pada Kania.
Neina berdiri lalu melangkahkan kakinya untuk keluar kamar dan membiarkan menantu dan putranya itu berduaan dulu.
Lily bangkit dan berbalik, berniat untuk keluar dari kamar itu, tapi betapa terkejutnya ia, saat melihat seorang pria yang berdiri dihadapannya sekarang.
"Ka-ka-kakak," ucap Lily dan berhambur kepelukan Xiper yang masih dengan keterkejutannya.
"Li-Lily, syukurlah kau baik-baik saja," ucap Xiper memeluk erat Lily yang menangis didada bidangnya.
Juan yang baru saja ingin memasuki kamar tamu, untuk memeriksa Kania, menghentikan langkahnya saat melihat momen yang ada didalam kamar itu, membuatnya mengundurkan niat untuk masuk.
"Aku rindu kakak," ucap Lily dengan tangis yang semakin pecah.
"Aku juga merindukanmu," ucap Xiper dan mengecup puncuk kepala Lily berulang-ulang.
Sedang Kania memeluk erat tubuh suaminya, yang tidak meneganakan baju.
"Sudahlah, aku tidak apa-apa. Kau tidak perlu khawatit oke," ucap Rean mengelus rambut istrinya itu.
"Iya," ucap Kania lirih dengan sesungukkan.
'Maaf ya, harus membuatmu khawatir seperti ini. Mulai sekarang dan seterusnya, tidak akan ada bahaya lagi didalam rumah ini, aku akan menjagamu selamanya, suka maupun duka, aku akan tetap bersamamu,' ucap Rean dalam hati dan mengecup lembut kening istrinya itu.
"I love you," ucap Rean semakin mengeratkan pelukannya pada istrinya itu, meski merasa nyeri dilengannya.
"I love you Too," ucap Kania dengan senyum lembut menatap wajah suaminya, yang juga menatapnya, tanpa peduli pada Xiper dan Lily yang berada diruangan itu, seolah hanya mereka berdua saja disana.
__ADS_1
END