
Rean memarkirkan mobilnya di depan kediaman William dan segera keluar dari mobil untuk segera masuk ke dalam rumah.
Rean berjalan memasuki rumah dan bergegas ke kamarnya di lantai atas melewati sang ibu dan Lili di ruang tamu yang sedang berbincang.
Kedua wanita itu menoleh pada Rean yang naik ke lantai atas tanpa menoleh ke arah mereka.
Naina dan Lili saling bertukar pandang seolah bertanya pada diri mereka sendiri.
"Mungkin Rean lagi banyak masalah, sampai tidak menyapa seperti biasanya," Lirih Naina membuat Lili sedikit menundukkan kepalanya.
Naina dan Lili kembali berbincang tentang pekerjaan, karna Lili yang ingin sekali bekerja sehingga membuat Naina menyarankan untuk mengurus butik yang baru saja ia buka.
Sementara itu, Rean segera masuk ke dalam kamarnya lalu segera menutup pintu kemudian mendekati lemarinya.
Rean menatap nanar foto kebersamaannya dengan Kania yang ia simpan di dalam lemarinya kemudian memejamkan matanya.
Rean kembali menyimpan foto itu di dalam lemari lalu berjalan ke arah tempat tidur dan membaringkan tubuhnya dan terbaring terlentang.
"Kania, maaf jika tadi aku membuatmu kesal," ucap Rean kemudian memejamkan matanya berusaha untuk tidur dan melupakan hal yang terjadi.
* * *
Pukul 10 malam.
Rean turun dari tangga bergegas keluar rumah untuk melakukan sesuatu karna saat ini semua orang sudah masuk ke kamar mereka masing-masing, jadi dia memiliki kesempatan untuk keluar tanpa di ketahui oleh siapa pun.
Rean berjalan mengendap dan membuka pintu utama secara perlahan agar tidak menimbulkan suara.
Rean segera menutu pintu dan bergegas keluar dari gerbang saat melihat satpam yang tengah buang air kecil di toilet.
* * *
Dua puluh menit kemudian
Rean tiba di club malam dengan mengunakan taksi, Rean keluar dari taksi dan berjalan masuk ke club malam itu setelah mrmbayar taksi tadi.
Rean masuk ke dalam club malam dengan santay hingga pandangannya tertuju pada seorang pria yang tengah mengoda seorang pelayan.
Rean mengepalkan tangannya melihat hal itu, Rean dengan cepat berjalan mendekati pria yang masih begitu asyik mengoda pelayan wanita itu yang hanya tersenyum dan menundukkan kepalanya dengan takut.
__ADS_1
Saat pria itu ingin memengang wajah pelayan wanita itu, Tiba-tiba sebuah bogem mentah mendarat di pipinya membuatnya terpental dan menimpa meja di belakangnya.
Semua orang terkejut, pelayan wanita itu menoleh dan terkejut melihat Rean dengan wajah marahnya.
"Pak Rean!" ucap pelayan wanita itu yang tidak lain adalah Kania.
Kania bekerja saat malam di club itu untuk segera mencukupi uangnya untuk membeli tiket ke Amerika.
"SIA**N," umpat pria itu segera berdiri dan menghampiri Rean dan bersiap untuk melayangkan bogem menatah ke arah wajah Rean.
Saat tangan pria itu hampir mengenai wajah Rean, Rean memengangnya dan kemudian mematahkannya membuat pria itu berteriak sedang Kania menutup mulutnya karna terkejut.
"AAAA!" teriak pria itu saat Rean mematahkan lengannya.
Semua orang terkejut dengan hal itu, kemudian 2 orang pria menghampiri Rean berniat untuk memukulnya dan dengan lihai Rean menghindar dan memukul kedua pria itu hingga terpental dan menimpa meja.
Keadaan Club mulai kacau, Rean menarik tangan Kania keluar dari club itu dengan cepat setelah memukul 10 lebih.
* * *
Kini Kania dan Rean berada di dalam taksi dalam perjalan entah kemana, Kania tidak tau.
Entah mengapa Kania merasa takut untuk menatap pria di sampingnya itu yang duduk dengan rahang yang mengeras akibat marah.
Kania segera mengelengkan kepalanya menyadarkannya, jika pria di sebelahnya itu bukan Rey melainkan orang lain.
Lima belas menit kemudian.
Taksi berhenti di tepi jalan, Kania mengernyit bingung saat keluar dari taksi dan terkejut ketika melihat hal di depannya.
'Ini kontrakanku, bagaimana pak Rean bisa tau,' ucap Kania dalam hati bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Taksi itu pun pergi dari tempat itu ketika Rean selesai membayar, Rean menarik tangan Kania lembut dan berjalan mendekati kontrakan Kania.
"Maaf, pak. pak Rean!" ucap Kania berusaha melepaskan tangan Rean yang mengengan pergelangan tangannya.
"Pak Rean!" ucap Kania dan Rean pun melepaskan pengangannya pada pergelangan tangan Kania saat sudah tiba di depan pintu kontrakan Kania.
Kania segera menarik tangannya dan menyentuh pergelangan tangannya yang di pengang tadi oleh Rean.
__ADS_1
Kania terkejut saat mendengar Rean berbicara dan kemudian mendongak dan menatap pria itu yang menatapnya dengan tatapan sayu.
"Apa yang kamu lakukan di club itu?" ucap Rean dan menatap sayu pada Kania.
Rean bergegas keluar dari kamarnya saat mendapat pesan dari orang yang ia minta untuk mengawasi Kania yang mengatakan jika Kania pergi ke club malam.
Rean mendekat pada Kania dan tiba-tiba menjatuhkan kepalanya di bahu Kania, Kania tersentak dengan apa yang di lakukan oleh Rean.
"Pak Rean, apa yang ...," Kania menghentikan ucapannya saat mendengar perkataan yang keluar dari mulut Rean.
"Nia, maafkan aku, maaf," ucap Rean tiba-tiba.
Kania terdiam mendengar Rean memanggilnya Nia yang adalah panggilan sayang yang sering Rey ucapkan padanya dan hanya Rey saja yang tau.
* * *
Pukul 6 pagi.
Rean masuk ke dalam rumah setelah tadi lari pagi di halaman rumah sebanyak 50 kali hingga keringatnya benar-benar keluar.
Rean segera naik ke lantai atas ke kamarnya tanpa berucap sepatah kata.
'Ada apa dengan kak Rean, apa dia baik-baik saja,' ucap Lili dalam hati dan kemudian menghembuskan nafasnya lalu kembali mengerjakan pekerjaannya yaitu membantu Naina menyiapkan sarapan.
Pukul 7 pagi.
Semua orang sudah berkumpul di meja makan, Rean makan dengan begitu lahap tanpa mengeluarkan sepatah kata membuat Lili, Naina dan Reynal menatapnya bingung.
"Rean, apa kamu ada masalah?" tanya Reynal membuat Rean menghentikan tangannya yang menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Tidak ada apa-apa, Ayah," ucap Rean singkat kemudian kembali menyuapkan nasi ke mulutnya di ikuti lauknya.
"Aku sudah selesai, aku pergi dulu, Ma, pa, Lili," ucap Rean kemudian mengusap rambut Lili dan keluar dari ruang makan dan bergegas ke mobilnya.
Semua orang terdiam melihat hal itu dan saling bertukar pandang seolah bertanya.
"Aku rasa, dia tertekan, pa. dia 'kan tidak pernah urus urusan kantor," ucap Naina membuat Reynal nampak berfikir.
"Mungkin saja, ma." ucap Reynal yang membuat Naina mengangguk.
__ADS_1
"Memang kak Rean dulu kerja apa, Om, tante," ucap Lili penasaran.
"Lili, jangan panggil Om atau tante, panggil Mama dan papa, kamu udah jadi anak kami, mengerti sayang, jangan seperti orang asing," ucap Naina membuat Lili tersenyum malu.