JENDRAL MENJADI TUAN MUDA

JENDRAL MENJADI TUAN MUDA
PERCAYA


__ADS_3

BRUK


Rean menoleh dan terkejut mendapati Kania terduduk dilantai dengan menatap kearahnya.


Rean segera menghampiri Kania dan mengendongnya ala bridel style lalu mendudukkannya disofa.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Rean khawatir.


Kania hanyam mengangguk lagi-lagi Rean menelan salivanya dengan susah payah saat melihat paha Kania yang terpampang jelas membuat adik kecilnya terbangun.


Rean memalingkan pandangannya kearah lain dengan berusaha untuk mengatur nafasnya yang terasa berat.


Tiba-tiba Kania menyentuh dada bidang Rean membuat Rean menoleh dan terkejut saat melihat Kania tersenyum padanya.


"Kak Rey ...," ucap Kania dengan tersenyum pada Rean.


Rean terdiam mendengar hal yang diucapkan oleh Kania.


"Aku bukan ...," ucap Rean yang terhenti saat Kania mengecup singkat bibirnya.


"Aku sudah tahu semuanya kak Rey, aku tahu jika kamu adalah Rey ku, Rey yang kucintai," ucap Kania dengan senyum diwajahnya.


Rean terdiam mendengar hal itu lalu tersenyum dan mencium bibir Kania yang perlahan-lahan menjadi ******n.


Kania membalas ciuman Rean dengan mengalungkan tangannya dileher Rean.


Rean berniat untuk menindih tubuh Kania tapi, tiba-tiba Kania melepaskan ciumannya membuat Rean menatap heran padanya.


"Badanku sakit jika harus disofa lagi, kak Rey." ucap Kania menunduk dengan wajah yang memerah karna malu jika mengingat kejadian semalam.


Rean tersenyum kecil dan kemudian mengangkat tubuh mungil Kania lalu membawanya kekamarnya.


Rean membuka pintu dengan kamarnya lalu kemudian menutupnya lalu segera membaringkan tubuh Kania secara perlahan keatas tempat tidurnya.


Rean mulai mencium bibir Kania dengan begitu lembut, Rean perlahan-lahan turun ke leher Kania, mencium kemudian menghisap hingga meninggalkan kissmark disana.


Kania mulai mendesah membuat Rean semakin memanas, Rean membuka kancing kemeja yang Kania kenakan dengan perlahan dan tersenyum pada Kania yang juga tersenyum padanya.


Rean kembali mencium bibir ranum Kania dan kini ia dan Kania sudah tidak mengunakan sehelai kain pun ditubuh mereka.


"Kita akan segera meninggalkan Amerika dan segera pulang untuk melangsungkan pernikahan dan mengurus hal yang ingin ku urus," ucap Rean dan Kania pun mengangguk..


Rean dan Kania kembali melakukan hal yang mereka lakukan semalam, kini dalam keadaan sadar, tidak seperti semalam dimana Rean dalam keadaan mabuk.


Pukul 10 pagi.


Rean terbangun dari tidurnya dimana yang begitu nyenyak dimana Kania memeluknya erat.

__ADS_1


Rean tersenyum kecil melihat Kania yang tertidur dengan wajah polosnya, Rean memandang wajah polos Kania lama dan kemudian mencium kening Kania lama.


"Kania ... bangun, waktunya mandi," ucap Rean membangunkan wanita yang ia cintai itu.


Kania perlahan-lahan membuka matanya dan tersenyum pada Rean yang menatapnya.


"Kamu bisa jalan?" tanya Rean pada Kania.


Kania kemudian duduk dan menatap Rean dan ikut duduk.


"Aku rasa belum bisa jalan sendiri," ucap Kania tersenyum dengan wajah yang merona.


Rean tersenyum kemudian mencium pipi Kania lalu turun dari tempat tidur dan kemudian mengendong Kania ala bridel style.


Kania tersenyum senang lalu mengalungkan tangannya dileher Rean dan menyandarkan kepalanya didada bidang Rean.


Rean menurunkan Kania dibathtub lalu kemudian mandi bersama.


Sepuluh menit kemudian.


Rean dan Kania keluar dari kamar mandi dengan Rean yang mengendong Kania ala bridel style dengan hanya memakai handuk.


Rean menurunkan Kania diatas tempat tidur lalu berjalan keluar dari kamar dengan hanya mengunakan handuk yang menutupi pinggang hingga lutut.


Rean berjalan memasuki kamar sebelah kamarnya lalu segera mengambil koper Kania dan membawanya kekamarnya.


Rean menyiapkan semuanya diatas tempat tidur disamping Kania yang sedang menahan tawanya melihat Rean yang menyiapkan segela keperluannya.


"Ada apa?" tanya Rean bingung dengan raut wajah Kania yang seperti menahan tawanya.


"Tidak apa-apa," ucap Kania membuat Rean hanya mengangguk mengerti.


Pukul 7 malam.


Rean dan Kania bersiap untuk pergi keacara tuan Steve yang diadakan dihotel bintang lima.


Rean memakai setelan jas berwarna hitam sedang Kania mengunakan gaun berwarna navi yang tidak terlalu mencolok namun elegan.


Kini Rean dan Kania berada didalam mobil khusus yang menjemput mereka berdua diapartemen utusan dari tuan Steve.


Kania menghembuskan nafasnya membuat Rean menoleh pada wanita disampingnya itu.


"Ada apa?" tanya Rean yang sedikit khawatir.


"Tidak apa-apa, hanya saja ...," ucap Kania menjeda kalimatnya kemudian mendekat pada Rean dan membisikkan ucapannya selanjutnya.


"Kak Rey jahat, masa ninggalin bekas dileher banyak banget sih, untung aja bisa di tutupin," bisik Kania ditelinga Rean kemudian kembali duduk ditempatnya.

__ADS_1


Reana hanya bisa mengaruk tengkuknya yang tidak gatal lalu tersenyum kecil.


"Maaf tidak sengaja," ucap Rean menahan senyumnya.


Kania hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Rean, mau marah tapi tidak bisa, bagaimana dia bisa marah pada pria yang ia cintai.


Tiga puluh menit kemudian.


Mobil berhenti didepan hotel tempat acara diselenggarakan.


Seorang pelayan hotel segera membukakan pintu untuk Rean diikuti oleh Kania yang turun dengan memengang tangan Rean.


Rean dan Kania berjalan masuk kedalam hotel dengan Kania yang merangkul tangan Rean, tentu saja dengan profesional.


Rean dan Kania memasuki ruangan tempat pesta berlangsung dan mencoba untuk mencari tuan Steve.


Seorang pria parubaya mendekati mereka dengan senyum diwajahnya, siapa lagi jika bukan tuan Steve.


"Selamat datang, Tuan Rean, senang bisa bertemu anda lagi," ucap tuan Steve dengan senyum diwajahnya.


"Saya juga senang bisa bertemu anda lagi, Tuan Steve," ucap Rean dengan senyum diwajahnya begitu pun dengan Kania.


"Semoga anda menikmati pestanya," ucap Tuan Steve kemudian berpamitan pada Rean dan Kania untuk menyambur tamu lain.


Rean dan Kania pun mulai berbaur dengan para tamu yang lain, tentu saja mengunakan bahasa inggris.


Rean berbincang dengan pengusaha lain sedang Kania berbaur dengan para wanita lalu berniat untuk pergi mengambil wine.


Tiba-tiba seorang wanita dengan sengaja menumpahkan wine ke gaun Kania membuat semua orang menatap mereka.


"Ah, i'm Sorry," ucap wanita itu dengan raut wajah seolah tidak sengaja padahal sebaliknya.


Kania hanya tersenyum manis pada wanita itu.


"No problem," ucap Kania membuat raut wajah wanita itu terlihat sedikit masam.


Tiba-tiba wanita itu mengambil wine dari nampan pelayan yang berjalan melewatinya lalu menyiramkannya pada Kania.


Semua orang mulai histeris melihat hal itu, sedang Kania terdiam lalu menatap wanita itu dengan tatapan terkejut.


"Aduh, maaf saya tidak sengaja," ucap Wanita itu lalu dengan sengaja menuangkan wine kekepala Kania.


Kania mencoba untuk mengatur nafasnya yang mulai tidak beraturan akibat menahan emosi dan juga tangis.


Wanita itu tersenyum mengejek pada Kania sedang yang lain hanya mampu berbisik ingin membantu tapi takut karna wanita yang melakukan hal itu pada Kania adalah putri dari pengusaha yang cukup dihormati.


Rean berjalan mendekat kearah keributan dan terkejut melihat Kania yang rambut dan gaunnya terkena wine.

__ADS_1


Rean berjalan mendekat kearah Kania lalu membuka jasnya dan memakaikan Kania mengabaikan wanita itu yang tersenyum padanya.


__ADS_2