
Tiga puluh menit kemudian.
Rean turun dari taksi kemudian membayar taksi itu lalu berjalan perlahan dengan melihat kesegala arah.
Rean mengepalkan tangannya dengan terus berjalan dan melihat sekeliling, tiba-tiba ponsel Rean berdering, Rean segera merogoh saku celananya dan mengangkat telfon yang tidak lain dari nomor yang tadi mengiriminya pesan.
"Halo," ucap Rean saat mengangkat telfon dari nomor itu.
"Halo, berjalanlah kegudang dekat dermaga," ucap seorang pria diseberang telfon kemudian mematikan telfon sepihak.
Rean mengerang kesal kemudian segera berlari kearah gudang dekat dermaga.
Rean melihat dari kejauhan pintu gudang tua yang sedikit terbuka. Rean segera berlari dan membuka pintu dengan keras dan terkejut ketika melihat, Kania yang terikat dikursi dengan tangan yang diikat kebelakang.
"AWAS! ..." teriak Kania kala melihat seorang pria yang berada dibelakang Rean dan siap memukul dengan balok kayu yang ia pengang.
Saat balok kayu itu hampir mengenai Rean, Rean segera menundukkan kepalanya kemudian berbalik dan melayangkan bogem mentahnya pada pria itu.
Pria itu mundur beberapa langkah akibat pukulan Rean yang tepat mendarat dipipi kanannya.
Rean terkejut ketika melihat siapa yang ia pukul.
'Xiper!' ucap Rean dalam hati yang terkejut melihat sahabat baiknya saat menjadi jendral.
Xiper menyentuh pipinya yanh terkena bogem mentah Rean dengan punggung tangannya.
"Siapa kau, bagaimana bisa kamu masuk kedalam apartemen Rey," sargas Xiper dengan menatap tajam pada Rean.
Xiper curiga pada Rean saat melihatnya bersama Kania dipesta semalam, karena Xiper tahu jika Kania adalah kekasih Rey, karena ia pernah melihat foto Kania diponsel Rey.
Dan Xiper juga mengikuti Rean saar pulang semalam dan terkejut saat melihat Rean masuk kedalam apartemen Rey.
Rean menghembuskan nafasnya, lalu menatap Xiper tajam, Xiper tersentak saat melihat Rean menatapnya dengan tajam, persis seperti Rey saat marah padanya.
"SIAPA KAU, JAWAB!" teriak Xiper dengan mengepalkan tangannya menatap kesal kearah Rean.
Rean tau, jika Xiper sangat-sangat terpukul dengan kepergiannya karena mereka sudah seperti saudara, dan Xiper jauh lebih baik dibanding dengan Petter.
Rean menghembuskan nafasnya lalu menatap Xiper dengan tatapan yang sulit diartikan.
__ADS_1
Rean berbalik dan segera menghampiri Kania untuk membuka tali yang mengikat kekasihnya itu.
"HEY, AKU BERTANYA PADAMU, SIA**N!" teriak Xiper karena Rean mengabaikannya.
Rean yang tengah membuka tali yang mengikat Kania menjadi kesal mendengar teriakan Xiper.
"DIAMLAH BODOH, kau sama sekali tidak berubah, masih saja bodoh dan gegabah," ucap Rean dengan berdecak dan kemudian membuang tali yang mengikat Kania kesegala arah.
Xiper terdiam mendengar ucapan Rean yang memarahinya seperti Rey memarahi dirinya.
"Re ... Rey ...," ucap Xiper yang perlahan-lahan keluar dari mulutnya.
Xiper memengang kepalanya dengan kepala menunduk dan raut wajah yang terkejut.
"Bagaimana bisa ...," ucap Xiper dengan kedua tangannya mengacak rambutnya.
Rean berjalan mendekati Xiper dengan Kania yang berjalan dibelakangnya. Rean menepuk bahu Xiper, membuat Xiper mendongak dan menatap Rean yang juga menatapnya.
"Aku akan menjelaskannya. ikuti aku!" titah Rean dan Xiper hanya bisa mengikutinya.
* * *
Tiga puluh menit kemudian.
Xiper mengacak rambutnya setelah Rean menceritakan hal yang terjadi padanya hingga ia bisa berada disituasi seperti sekarang.
"Bagaimana mungkin, itu sulit dipercaya, bagaimana bisa kakak berada ditubuh pria ini," ucap Xiper dengan menunjuk Rean.
Rean menatap datar pada pria yang sudah menganggapnya seperti kakak sendiri dengan tatapan datar sekaligus kesal.
PLAK.
"Aduh, sakit kak!" ringis Xiper saat Rean memukul kepalanya karena memang mereka duduk disofa panjang sedang Kania duduk disofa tunggal yang berhadapan dengan kedua orang itu.
"Makanya, kalau mau berbicara itu, jangan langsung mengucapkan, saring terlebih dahulu," ucap Rean kesal dengan tangan yang dilipat didada.
Xiper hanya bisa mengangguk dengan tangan yang tidak henti-hentinya mengelus kepalanya.
"Bagaimana keadaan kalian sekarang?" tanya Rean membuat Xiper terdiam dengan kepala yang tertunduk.
__ADS_1
Kania yang melihat hal itu segera bangkit dari duduknya untuk membuat kopi kepada kedua orang itu.
"Semuanya parah, semenjak mayat kakak dikubur, keadaan disana menjadi kacau, terlebih lagi dengan Petter yang memimpin dan tidak lama setelah ia naik pangkat, rumahnya terbakar beserta dengan semua orang didalamnya," ucap Xiper dan Rean yang mendengar hal itu hanya bisa diam, tidak berniat untuk mengakui bahwa dirinya lah yang membunub Petter.
"Kami sudah berusaha untuk mencari bukti, tapi sama sekali tidak menemukan satu pun yang bisa digunakan untuk melecak pelakunya, kejadian itu juga bersamaan dengan kejadian yang menimpa club malam dan ledakannya hampir sama," ucap Xiper melanjutkan ucapannya.
Rean hanya bisa terdiam dengan menatap datar Xiper.
"Aku turut prihatin dengan hal itu, tapi aku rasa mereka pantas mendapatkan hal itu, terutama Petter," ucap Rean membuat Xiper menoleh padanya.
"Memang apa benar, semenjak Petter menjadi pemimpin, sifat aslinya muncul, suka bermain dengan wanita dan juga melalaikan tugas, dan kemudian setelah itu, menyalahkan bawahan, sungguh berbeda sekali dengan kakak," ucap Xiper yang mengepalkan tangannya kala mengingat Petter memukul bawahannya sendiri hanya karena masalah sepeleh.
Rean tersenyum kecil kemudian menepuk pundak Xiper pelan.
"Sudahlah, tidak perlu diingat lagi, itu hanya akan membuatmu semakin kesal," ucap Rean yang diangguki oleh Xiper.
Tidak lama kemudian, Kania keluar dari dapur dengan nampan ditangannya, Kania meletakkan 2 cangkir kopi diatas meja dihadapan Rean dan Xiper.
Kania kembali duduk ditempatnya setelah menaruh nampan didapur.
"Soal yang tadi, aku minta maaf," ucap Xiper pada Kania dengan menundukkan kepalanya.
Kania hanya tersenyum kecil mendengar hal itu.
"Iya, tidak apa-apa," ucap Kania dengan tersenyum kecil.
"Jadi ... sekarang kakak menetap di Indonesia dengan tubuh itu," ucap Xiper dengan menunjuk Rean.
PLAK
"Aduh ...," ringis Xiper kala Rean lagi-lagi memukul kepalanya.
"Berhenti menunjukku dengan raut wajah seperti itu, itu terlihat sangat menyebalkan tau," ucap Rean dingin membuat Xiper menelan salivanya dengan susah payah.
"Maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi, aku hanya heran, karena tubuh itu sangat lemah tidak seperti tubuh kakak yang sebelumnya," ucap Xiper yang menyadari jika tubuh Rey yang sekarang sangat lemah, terbukti saat Rey memukul Xiper dan hanya mundur beberapa langkah, tidak seperti sebelumnya yang mana ketika Rey memukul Xiper, maka siap-siap untuk memperbaiki tembok yang hancur.
Rean menatap Kania yang juga menatapnya.
"Bukankah, kami belum makan, Nia. pergi makan dulu sana," ucap Rean dan Kania mengangguk mengerti kemudian beranjak dari duduknya dan masuk kedalam dapur.
__ADS_1
Rean menghembuskan nafasnya kemudian berbicara.
"Karena tubuh ini tidak pernah dilatih seperti militer, karena pemilik tubuh sebelumnya hanyalah seorang dokter bedah," ucap Rean membuat Xiper tersedak kopi yang ia minum.