
Pukul 7 malam.
Rean bersiap untuk keluar malam ini, Rean memasukkan barang yang di butuhkannya ke ransel kemudian keluar dari kamarnya dengan Ransel yang ia bawa di punggungnya.
Rean mengetuk pintu kamar di samping kamarnya dan pintu itu pun terbuka dengan Lili yang berdiri di sana menatap Rean dari atas hingga bawah.
Lili menatap Rean seolah bertanya pada pria yang sudah menolongnya itu.
"Aku akan keluar malam ini, mungkin akan lama." ucap Rean dan Lili yang mendengar hal itu hanya mengangguk mengerti.
"Jangan membuka pintu jika aku tidak berteriak, dan lagi kau tidak perlu khawatir, pintu apartemen ini tidak akan mudah di dobrak jadi kamu bisa tidur nyenyak malam ini," ucap Rean membuat Lili sedikit terdiam.
"Kalau begitu, aku pergi dulu," ucap Rean mengusap rambut Lili lembut kemudian keluar dari apartemen meninggalkan Lili yang terdiam akibat ulahnya.
Wajah Lili memerah dengan jantung yang berdetak kencang dan kemudian tersenyum.
"Rean," ucap Lili dengan senyum di wajahnya.
"Sepertinya aku menyukainya pada pandangan pertama," ucap Lili tersenyum dan memengan dadanya dengan jantung yang berdegup kencang seperti lari maraton.
* * *
Sementar itu, Rean telah tiba di tempat tujuannya yaitu club malam tempat Lili meminjam uang, Rean berdiri di gang kecil tidak jauh dari club malam itu.
Rean melihat dari kejauhan jika club malam itu sangat ramai terlihat dari orang yang masuk dengan membawa wanitanya atau seorang wanita bayaran.
Rean tersenyum kemudian mulai mengendap dan berjalan ke belakang club itu yang terbilang cukup sepi.
Rean membuka ranselny kemudian mengeluarkan sesuatu yang akan di kendalikan dari jauh, kemudian memasangnya di dinding belakang club itu lalu mengaturnya.
Rean tidak hanya memasang benda itu di satu tempat, tapi di beberapa tempat, tentu saja dengan sangat hati-hati agar dirinya tidak ketahuan oleh para penjaga.
Rean kembali ke tempatnya dengan hati yang begitu senang, Saat Rean ingin mengeluarkan sesuatu yang akan memicu benda yang ia pasang, tiba-tiba pandangannya terhenti pada seorang pria yang sangat-sangat ia kenali.
Rean kembali memasukkan benda yang ingin ia ambil kemudian menatap orang itu yang masuk ke dalam club malam membuat Rean menautkan alisnya tanda tidak mengerti, bagaimana bisa seseorang yang ia tahu tidak suka dengan club malam malah masuk ke dalamnya.
'Apa yang di lakukan Petter di sana, bukankah dia tidak suka jika harus menginjakkan kaki di club malam, apakah dia mendapat misi?' ucap Rean dalam hati, bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Karna penasaran Rean memutuskan untuk memakai topi jaketnya kemudian berjalan mendekati club malam itu.
Dua penjaga itu menghadang Rean dan menatapnya tajam yang membuat Rean kembali menatap tajam pada kedua orang itu.
"Aku ingin bersenang-senang, apa club ini sudah tidak menerima orang lagi," ucap Rean dingin membuat kedua penjaga itu sedikit tersentak kemudian mempersilahkan Rean untuk masuk.
Rean kemudian masuk dan melihat ke segala arah berusaha mencari orang yang bernama Petter itu yang tidak lain adalah sahabat baiknya di markas dan menjabat sebagai Jendral sejak kematian Rey.
Pandangan Rean terhenti pada Petter yang tengah duduk dengan seseorang yang merupakan saingan dari Rey.
Rean berjalan mendekati kedua orang itu, Rean membuka topi jaketnya kemudian mengacak rambutnya membuatnya terlihat seperti Badboy.
Rean duduk di kursi yang berdekatan dengan kursi yang di duduki oleh kedua orang itu.
Rean terdiam sejenak kemudian mencoba untuk mendengar percakapan 2 orang itu.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Petter pada pria di hadapannya yang bernama Kiel.
"Kabarku baik dan sepertinya kabarmu jauh lebih baik," ucap Kiel dengan senyum licik di wajahnya.
"Untung saja kau memiliki ide seperti itu, berkat idemu itu, Rey mati dan aku menjadi Jendral," ucap Petter membuat Kiel tertawa.
Rean membelakakkan matanya saat mendengar perkataan Petter, meski keadaan di sana begitu berisik akibat musik DJ yang begitu keras tidak membuat Rean tuli atau tidak dapat mendengar pembicaraan 2 orang itu.
Rean mengepalkan tangannya berusaha untuk menahan amarahnya dan kembali mendengar pembicaraan kedua orang itu.
"Kau sungguh sahabat yang kejam, padahal Si bodoh Rey itu sangat mempercayaimu," ucap Kiel membuat Petter tersenyum mengejek.
"Aku fikir dia pintar, tapi ternyata dia cukup bodoh, aku mendekatinya hanya untuk menaikkan pangkatku saja," ucap Petter tertawa jahat begitu pun dengan Kiel.
Rean semakin mengepalkan tangannya kemudian beranjak dari duduknya dan keluar dari club malam itu kembali ke tempatnya dimana ia menaruh ranselnya.
30 menit kemudian.
Rean masih terdiam di tempatnya menunggu seseorang, dan tidak lama kemudian, orang yang di tunggunya pun pergi mengunakan mobilnya.
Rean menunggu mobil itu jauh dan kemudian memencet benda yang ia pengang dan club malam itu pun meledak dan semua orang di dalamnya pun tewas tak tersisa.
__ADS_1
Yang Rean pasang tadi di dinding club itu adalah bom, dan yang Rean pengan dan pencet tadi adalah kontrol bom itu yang akan meledak ketika Rean memencat tombol pemicu.
Rean menyimpan semua itu di apartemennya untuk jaga-jaga sekaligus persiapan.
Rean meninggalkan tempat itu menuju ke suatu tempat yang akan membuat tangannya berdarah karna darah orang lain.
* * *
Sementara itu, Petter tiba di rumahnya lebih tepatnya di kediamannya dengan hati yang senang dan tidak lupa dengan wanita bayaran yang sudah ia sewa untuk menyenangkannya malam ini.
Petter dan wanita itu pun segera memasuki kamar dan memulai hal yang ingin mereka mulai sedari tadi.
1 jam lebih Petter san wanita itu melakukan hal itu, Petter pun turun dari tempat tidur dan kemudian berjalan ke kamar mandi dan tanpa ia sadari seseorang sudah menerobos masuk ke dalam rumahnya dengan membunuh semua penjaga.
10 menit kemudian.
Petter selesai membersihkan dirinya kemudian keluar dari kamar mandi dan terkejut melihat seseorang yang tengah duduk di sofa di dalam kamarnya.
"SIAPA KAU!" teriak Petter pada pria itu membuat wanita itu terbangun dari tidurnya.
"Ada apa sayang, kok teriak-teriak begitu sih," ucap wanita itu manja dan tekejut ketika melihat ada orang lain di dalam kamar selain dirinya dan Petter.
Pria itu menatap wanita itu yang tubuhnya hanya tertutup selimut membuat pria itu tersenyum meremehkan.
Pria itu berdiri dari duduknya dan kemudian berjalan mendekat ke arah Petter, Petter yang meliihat hal itu segera berlari ke arah meja di samping tempat tidur untuk mengambil pistol.
Belum 3 langkah Petter berlari, bogem mentah sudah mendarat di pipinya membuat Petter terlempar hingga tubuhnya terbentur di dinding membuatnya semakin jauh dari tempat tidur dan juga dari meja tempat ia menaruh pistol miliknya.
Petter segera bangkit dan mengusap bibirnya yang robek akibat pukulan pria di hadapannya itu.
"Kau benar-benar tidak tau diri," ucap pria itu yang tidak lain adalah Rean yang menatap tajam pada Petter.
Wanita itu terdiam saat Rean berjalan mendekatinya dan kemudian membuka laci meja dan mengambil pistol milik Petter.
"Siapa kau! aku sama sekali tidak mengenalmu, mengapa kau mencari masalah dengan ku, HAH, dan juga bagaimana kau bisa masuk ke sini," ucap Petter lantang meski sebenarnya takut karna Rean sudah memengang pistolnya.
"Maksudmu para penjaga lemah di bawa itu, aku sudah mengirim mereka ke neraka lebih dulu dan kamu tidak lama lagi akan menyusulnya," ucap Rean mengarahkan pistol ke arah Petter dan kemudian terdengar suara tembakan membuat wanita itu berteriak dan menutup telinganya.
__ADS_1