
Wanita itu sedikit memohon pada 5 pria berbadan kekar yang mencoba untuk membawanya pergi.
"Ku mohon jangan bawa saya, saya akan melunasi semua hutang saya, tapi saya mohon jangan membawa saya ke tempat itu lagi," ucap Wanita itu dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.
"Kau masih berutang dengan bos kami dan kamu harus membayarnya dengan cara melayani para tamunya, apa kau tidak mengerti, HAH," ucap salah satu pria berbadan kekar itu sambil menarik rambut wanita itu ke belakang membuat wanita itu meringis.
Tiba-tiba seseorang menyentuh bahu pria kekar itu yang sedang menarik rambut wanita itu, ke 5 pria itu menatap seseorang yang masuk tanpa permisi lalu tiba-tiba ....
Satu bogem mentah mendarat di pipi pria itu hingga mengakibatkannya terlempar dan terbentur ke dinding.
Ke empat pria itu segera menghampiri pria yang terkena bogem mentah oleh orang yang tidak lain adalah Rean.
"Aku paling benci dengan seseorang yang begitu berisik," ucap Rean menatap ke 5 pria itu dengan tatapan dingin.
"Sia**n," ucap pria yang tadi Rean pukul lalu memberi isyarat pada ke 4 pria itu untuk memukul Rean.
Mereka pun maju dan bersiap untuk memukul Rean tapi naas, mereka semua bukan tandingan Rean.
10 menit kemudian.
Para pria kekar itu segera keluar dari apartemen itu dengan tertatih dan kemudian menatap Rean tajam sebelum keluar dari pintu.
"Thank you," ucap Wanita itu dengan keadaan yang begitu berantakan.
Rean menghembuskan nafasnya, lalu kemudian membungkukkan badannya dan mengulurkan tangan pada wanita itu.
Wanita itu menerima uluran tangan Rean dan Rean pun membantuhnya berdiri.
"Sebaiknya kau tidak tinggal di sini malam ini, karna orang-orang itu pasti akan kembali," ucap Rean membuat wanita itu hanya mampu menunduk.
Entah mengapa Rean jadi merasa sedikit kasihan pada wanita itu, lalu kemudian berbicara.
"Ambil beberapa bajumu, kemudian ikuti aku," ucap Rean membuat wanita itu tersentak.
"Kamu tidak perlu khawatir, aku bukan orang jahat," ucap Rean membuat wanita itu mengangguk kemudian berjalan ke arah kamarnya yang pintunya sudah rusak akibat di dobrak tadi oleh pria kekar itu.
__ADS_1
Rean menghembuskan nafasnya lalu memijit kepalanya yang sedikit pusing, entah mengapa ia jadi mudah untuk berbelas kasih pada orang lain, benar-benar tidak seperti dirinya yang dulu.
'Apa Rean sebelumnya adalah orang yang berhati lembut bak kapas, sampai mudah sekali kasihan pada orang lain, sepertinya aku sudah tertular sifat lemah lembutnya itu,' ucap Rean dalam hati sesekali menghembuskan nafasnya.
Tidak lama kemudian wanita itu pun keluar dari kamarnya dengan membawa ransel lalu menatap Rean.
Rean kemudian berjalan keluar dari apartemen itu kemudian berjalan ke apartemennya lalu membuka pintu dan masuk di ikuti oleh wanita itu yang mengekor di belakangnya.
"Kau bisa mengunakan kamar itu dan setelah itu bersihkan dirimu, lalu ke meja makan, untuk makan siang," ucap Rean pada wanita itu setelah menunjuk pintu kamar di samping kamarnya.
Wanita itu hanya mengangguk kemudian masuk ke dalam kamar yang di tunjuk oleh Rean.
Sementara itu, Rean kembali duduk di kursi tempatnya tadi dan berniat untuk makan tapi tiba-tiba nafsu makannya menghilang entah kemana.
Rean mengusap wajahnya kasar, sesekali menghembuskan nafasnya.
15 menit Rean menunggu, Wanita itu pun datang dengan penampilan yang sudah rapi dengan memakai baju kaos lengan pendek dengan celana jeans lalu mengucir rambutnya.
"Duduk," ucap Rean dan wanita itu pun duduk di kursi yang berhadapan dengan Rean.
Wanita itu dengan ragu mengambil nasi membuat Rean menatapnya datar.
"Aku tidak menatuh racun atau pun obat perangsang," ucap Rean menekan kata terakhirnya membuat wanita itu menundukkan kepalanya merasa malu karna sudah berfikir yang tidak-tidak.
Mereka pun makan denga lahap bahkan wanita itu menambah porsi makanannya membuat Rean menautkan alisnya.
'Sepertinya wanita ini kelaparan,' ucap Rean dalam hati dengan menatap wanita itu.
"Siapa namamu?" tanya Rean tiba-tiba membuat wanita itu menatapnya.
"Li ..Liliyana Difson," ucap Wanita itu dengan menundukkan kepalanya.
"Apa masalahmu dengan orang-orang dari club malam itu," ucap Rean lagi membuat wanita itu menengang dan menatap Rean dengan raut wajah takut.
"Kau tidak perlu menatapku seperti itu, aku tau mereka dari club malam itu, dengan tato di tubuh mereka dan itu sudah jelas mereka bukan orang baik-baik," ucap Rean membuat Lili bernafas lega.
__ADS_1
"Jika kau tidak ingin cerita juga tidak apa-apa, aku tidak berhak tau urusan pribadimu," ucap Rean kembali menyantap makanannya.
"Aku memiliki utang," ucap Lili tiba-tiba membuat Rean menghentikan tangannya yang menyuapkan nasi ke mulutnya kemudian menatap Lili yang juga menatapnya.
"Aku terlilit utang dan kemudian meminjam uang pada bos Ferzo pemilik dari club malam itu," ucap Lili menundukkan kepalanya dengan mengingit bibir bawahnya berusaha untuk menahan isak tangisnya.
"Untuk apa kau meminjam uang pada orang berbahaya seperti dia," ucap Rean menatap Lili lekat.
"Untuk biaya pengobatan nenekku, aku berjanji akan melunasinya dan ketika dia sudah memberikanku uang itu, aku pun membayar biaya rumah sakit nenek tapi 2 hari kemudian nenek pergi meninggalkan aku sendiri," ucap Lili mulai terisak membuat Rean tidak tega untuk meminta wanita itu melanjutkan ucapannya.
"Kau tidak perlu meneruskannya, jika kau tidak bisa," ucap Rean tapi Lili mengelengkan kepalanya.
"Saya berjanji pada bos Ferzo untuk melunasinya dan mulai bekerja part time di beberapa tempat tapi, tetap saja tidak bisa melunasi uang yang ku pinjam, malahan semakin banyak," ucap Lili mulai terisak keras.
"Jadi mereka tadi datang untuk membawamu ke club malam untuk menjadi wanita penghibur," ucap Rean dan Lili pun mengangguk.
Rean menghembuskan nafasnya kemudian menatap wanita di hadapannya itu.
"Berapa umurmu sekarang?" tanya Rean membuat Lili mendongak dengan air mata yang membasahi pipinya itu.
"22 tahun," ucap Lili mengusap air mata yang tidak berhenti mengalir di pipinya.
"Berapa hutangmu pada pria itu?" tanya Rean lagi dan kali ini membuat Lili menatapnya bingung.
"2 juta US dollar, beserta dengan bunganya," ucap Lili masih dengan bibir yang gemetar.
"Anggap saja utangmu itu sudah lunas, jadi kau tidak perlu pusing lagi," ucap Rean seketika membuat Lili terkejut.
"Makanlah, soal utangmu itu, serahkan saja padaku," ucap Rean dengan tersenyum.
Wajah Lili merona ketika melihat senyum di wajah Rean yang membuatnya terlihat begitu tampan.
"Terima kasih," ucap Lili menundukkan kepalanya dengan wajah yang sudah merona merah.
'Sepertinya nanti malam akan ada petasan di club malam itu,' ucap Rean dengan senyum devil di wajahnya dan tidak sabar untuk pertunjukan nanti malam yang akan ia lakukan.
__ADS_1