
Pukul 6 pagi.
Rean terbangun dari tidurnya dan segera beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi untuk segera mandi dan keluar untuk memasak makanan.
Rean keluar dari kamar mandi dengan keadaan rambut yang basah. Rean segera memakai pakaiannya kemudian keluar dan berjalan ke dapur.
Rean terdiam saat melihat ternyata Lili sudah bangun dan sekarang tengah menyiapkan sarapan untuk mereka berupa roti dan juga susu.
Lili tersenyum saat melihat Rean berdiri tidak jauh darinya.
"Aku sudah menyiapkan sarapannya, makanlah dulu, Aku akan membersihkan kamarmu," ucap Lili dan mendapat anggukan kepala dari Rean.
Rean kemudian duduk di kursi dan meminum susunya kemudian memakan roti yanh sudah di beri selai coklat oleh Lili tadi.
Lili masuk ke dalam kamar Rean berniat untuk membersihkan kamar itu. Lili dengan telaten membesihkan kamar Rean karna sisa kamar Rean saja yang belum ia bersihkan sedang ruangan lain sudah ia bersihkan semua.
Saat merapikan tempat tidur Rean, pandangan Lili terhenti pada bingkai foto yang memperlihatkan seorang wanita yang tersenyum begitu manis dan seorang pria yang hanya berwajah datar dengan senyum kecil yang tidak mampu di tangkap kamera.
Lili memandang foto itu dengan begitu intens hingga suara pintu terbuka membuatnya terkejut dan reflesk menyentuh dadanya.
"Sedang apa?" tanya Rean yang kini berdiri di ambang pintu kemudian berjalan mendekati Lili yang masih berdiri di tempatnya.
"Maaf, aku ...," ucap Lili menunjuk bingkai foto itu.
"Wanita itu sangat cantik, sangat serasi dengan pria itu," ucap Lili dengan menundukkan kepalanya.
Rean tersenyum kecil mendengar pengakuan Lili yang mengatakan jika Kania sangat cocok dengan dirinya sebelum kejadian na'as itu.
"Dia kekasihku," ucap Rean kemudian mengambil bingkai foto itu dan menyentuh wajah Kania di foto itu.
Lili terdiam mendengar perkataan Rean yang mengatakan bahwa wanita di foto itu adalah kekasihnya, dada Lili terasa sesak membuatnya reflek menyentuh dadanya yang tiba-tiba nyeri.
"Lalu pria itu ...," ucap Lili mencoba menatap wajah Rean.
"Itu sebelum kecelakan yang menimpaku dan membuat wajahku berubah menjadi seperti sekarang, dan hal itu membuat dia tidak mengenaliku, tapi meski begitu, aku akan berusaha untuk membahagiakannya," ucap Rean membuat Lili terdiam.
__ADS_1
"Aku berharap agar kakak dan dia bisa bersama lagi dan hidup bahagia selamanya," ucap Lili dengan tersenyum pada Rean.
Rean mengangguk dan kemudian mengelus rambut Lili layaknya seorang kakak pada adiknya.
"Terima kasih, Mulai hari ini kau adalah adikku," ucap Rean dan Lili pun tersenyum.
"Terima kasih, Kak," ucap Lili tersenyum meski hatinya sakit.
'Tidak apa-apa jika kamu hanya menganggapku sebagai adik, aku akan mendukung kebahagianmu dari balik bayangan saja,' ucap Lili dalam hati.
Kini Lili tengah sarapan di meja makan, sedang Rean sudah pergi sedari tadi untuk mengurus paspor milik Lili sekaligus memindahkan apartemennya atas namanya yang sekarang.
Lili menghembuskan nafasnya mendadak dirnya tidak berselera makan.
"Nenek apa takdirku memang sudah buruk sejak lahir sehingga semua yang aku cintai pergi meninggalkanku, aku menyukainya tapi dia menyukai orang lain dan hanya menganggapku sebagai adik saja," ucap Lili dengan wajah sendunya.
"Aki berharap agar dia dan wanita itu bahagia," ucap Lili tersenyum getir pada dirinya sendiri.
* * *
Saat ini Rean sudah selesai dengan urusannya dan berniat untuk kembali ke apartemen.
Orang-orang mulai berlarian akibat terkejut dan takut, sementara pria yang terkena tembakan itu mulai ambruk dan orang yang menembaknya melarikan diri.
Rean segera berlari mendekati pria itu, Saat Rean tiba di dekat pria itu ia segera mendudukkan dirinya dan segera berteriak meminta seseorang untuk segera memanggil ambulans tentu saja mengunakan bahasa inggris.
Pria itu merintih kesakitan, seseorang mulai berkumpul dan mulai menghubungi ambulans.
Rean berusaha untuk mengeluarkan peluru itu dengan susah payah, perlu waktu yang lama hingga peluru itu keluar dan ambulans pun tiba dan segera membawa pria itu ke rumah sakit setelah Rean melakukan pertolongan pertama untuk mencegah darah terus mengalir keluar.
Semua orang mulai bubar dan berbisik tentang keberanian Rean menyelamatkan seseorang yang tertembak.
Kini tangan Rean penuh dengan darah dan juga bajunya yang terkena cipratan darah membuatnya mendengkus kesal.
Rean kemudian berdiri dari duduknya dan teringat dengan pelaku yang menembak pria itu.
__ADS_1
Tidak ingin memikirkannya, Rean memilih untuk segera kembali ke apartemennya, tanpa ia sadari, dari kejauhan seseorang menatap Rean dengan begitu lekat.
"Pria itu terlihat seperti Jendral Rey," ucap pria yang sedari tadi menatap Rean dari kejauhan.
"Selidiki pria itu," ucap pria itu pada bawahannya dan sang bawahan pun mengangguk mengerti dan segera pergi untuk memeriksa apa yang di perintahkan oleh atasannya.
"Ikuti pria itu," ucap pria itu pada salah satu bawahannya yang masih setia berdiri di belakangnya.
Rean segera keluar dari toilet umum setelah mencuci bersih tangannya dan segera mencari taksi yang akan membawanya ke apartemen miliknya.
Sambil menunggu taksi, Rean memainkan ponselnya dan kemudian terdiam dan sedikit melirik ke arah gang kecil yang tidak jauh dari tempatnya menunggu taksi.
Rean tersenyum kecil, kemudian mengelengkan kepalanya.
"Dasat tikus bo**h," ucap Rean yang menyadari jika seseorang tengah mengawasinya dari gang kecil yang tidak jauh dari tempatnya.
Rean memasukkan ponselnya ke dalam saku kemudian, tersenyum kecil dan tiba-tiba berlari sangat kencang sehingga membuat orang yang mengawasinya berusaha untuk mengejarnya tapi sayang, Rean berlari dengan sangat cepat membuat orang yang sedang mengawasinya itu tidak dapat mengejarnya.
Merasa sudah cukup jauh dirinya berlari, Rean kemudian berhenti dan kemudian mendekati mesin penjual minuman dingin otomatis dan segera memasukkan uang dan tidak lama kemudian satu kaleng minuman dingin pun keluar.
Rean mengambil minuman itu dan segera membukanya kemudian meminumnya karna dirinya benar-benar haus.
'Tubuh ini memang lemah, bahkan cuma lari 50 meter saja sudah lelah,' ucap Rean dalam hati merutuki tubuh Rean yang begitu lemah.
"Sebaiknya aku segera kembali ke Indonesia, jika terlalu lama di sini, bisa-bisa aku akan mendapat masalah dan hal itu sangat merepotkan," ucap Rean kembali menenguk minuman kalengnya.
* * *
Rean kini berada di depan pintu apartemennya yang tertutup rapat, Rean mengetuk pintu dan tidak lama kemudian pintu pun terbuka.
Lili tersenyum melihat Rean sudah kembali, Rean kemudian masuk ke dalam dan duduk di sofa kemudian menaruh amplok coklat di atas meja di hadapannya.
"Bukalah!" ucap Rean meminta Lili untuk membuka amplok coklat itu.
Lili pun membuka amplok coklat itu dan ternyata isinya adalah paspor miliknya, Lili rersenyum senang kemudian menatap Rean yang juga menatapnya dengan senyum di wajahnya, sepertinya Rey sudah mulai terbiasa untuk tersenyum menggunakan tubuh Rean.
__ADS_1
"Bersiaplah, kita akan berangkat besok pagi pukul 9, bawa barang yang menurutmu berharga soal pakaian kita akan membelinya di sana," ucap Rean dan Lili pun mengangguk mengerti.
'Akhiranya, besok aku akan meninggalkan kota ini dan kembali ke Indonesia, Nira William, saat aku sudah pulang dari sini, mari kita mulai permainannya,' ucap Rean dalam hati dengan senyum yang tidak bisa di artikan.