
Pukul 4 sore.
Kini Rean dan Kania dalam perjalan pulang ke apartemen mereka. Ditengah perjalan hanya ada keheningan, Kania memilih melihat keluar jendela mobil, sedang Rean fokus pada jalan.
Dua puluh menit kemudian.
Rean menghentikan mobilnya dibasemant apartemen dan segera keluar dari mobil, berniat untuk membuka pintu untuk istrinya, tapi terhenti karena Kania yang sudah berjalan mendahuluinya kelift.
Rean menghembuskan nafasnya dan segera berjalan menyusul sang istri yang sudah berada didalam lift.
Rean melirik kearah Kania yang menghembuskan nafas lelah, membuat pria itu sedikit tidak tega.
'Apa sebaiknya Kania tidak perlu kerja lagi ya? Aku jadi tidak tega melihatnya seperti ini,' ucap Rean dalam hati dengan menatap Kania lekat.
Ia meraih pinggang istrinya itu agar sedikit dekat dengannya, Kania yang menyadari hal itu, tersenyum kecil kemudian menyandarkan kepalanya dipundak suaminya, dalam keadaan berdiri.
Ting!
Pintu lift terbuka, Rean dan Kania berjalan kearah pintu apartemen mereka dengan bergandengan tangan. Saat tiba didepan pintu apartemen, Rean segera membuka pintu dan sedikit terkejut melihat seseorang yang tidur disofa ruang tamu.
Kania terkejut melihat seorang pria tidur disofa ruang tamu, ia menatap suaminya itu dengan tatapan penuh tanda tanya.
Rean menoleh kearah Kania yang menatapnya penuh tanda tanya, ia baru menyadari jika belum memberitahu Kania, bahwa ada pria lain yang akan tinggal bersama dengan mereka.
"Sayang, aku minta maaf, karena tidak memberitahumu tadi, mulai hari ini hingga beberapa hari kedepan, Xiper akan tinggal serumah dengan kita," ucap Rean dengan tersenyum canggung pada istrinya itu.
Kania terdiam mendengar penjelasan suaminya, ia mengerjapkan matanya beberapa kali kemudian menghembuskan nafasnya.
"Ya sudah," ucap Kania dengan senyum diwajahnya.
"Aku kekamar dulu, mau mandi," ucap Kania kemudian berjalan meninggalkan Rean yang masih setia berdiri ditempatnya.
Rean menghembuskan nafasnya, lagi-lagi ia ingin mencaci maki pemilik tubuh sebelumnya, karena sifat pelupanya yang sangat mencemari nama baiknya.
Ia berjalan mendekat kearah pria yang begitu nyenyak tidur diatas sofa panjang, bahkan tidak menyadari kedatangannya dan Kania.
'Sejak kapan dia jadi tidak waspada seperti ini?' tanya Rean dalam hati pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Rean menatap Xiper dengan alis yang mengkerut, seutas senyum jahil terbit dibibirnya saat melihat gelas air putih diatas meja.
'Aku rasa kau belum mandikan, Xiper?' ucap Rean dalam hati dengan tersenyum jahil, lalu meraih gelas air minum itu dan terkikik geli.
Satu ... dua ... tiga ......
"Aaaaaa!" teriak Xiper saat wajahnya terkena air hingga sofa tempat ia tidur sedikit basah.
Xiper terduduk seketika dan mengusap wajahnya kasar, ia menatap kesegala arah hingga tatapannya terkunci pada seorang pria yang memakai jas berdiri disampingnya.
'Ya tuhan, yang benar saja!' ucap Xiper dalam hati dengan menatap kesal pada Rean.
Dengan santainya Rean menaruh gelas kosong itu diatas meja, dan segera berjalan kearah pintu kamarnya.
"Segera mandi dan bersiap," ucap Rean sebelum membuka pintu dan masuk kekamar meninggalkan Xiper yang terus mengumpat didalam hati.
'Akh, sia**n! Kejam! tidak berperasaan! Kakak sia**n,' umpatan yang terus menerus Xiper teriakan didalam hatinya.
Dengan malas, ia segera bangkit dari duduknya dan berjalan kekamar tamu untuk membersihkan diri, dan bersiap untuk hal yang akan terjadi sebentar malam.
Pukul 7 malam.
Selesai makan, Xiper beranjak dari duduknya berniat untuk membantu kakak iparnya, tapi Kania menolak dengan halus.
"Biar aku bantu," ucap Xiper dan Kania dengan cepat mengelengkan kepalanya.
"Tidak perlu, kau istirahatlah aku bisa mengerjakannya, lagi pula tamu harus diperlakukan seperti raja," ucap Kania dengan lembut lalu kembali melanjutkan aktifitasnya.
Xiper yang mendengar hal itu hanya bisa menghembuskan nafasnya, lalu berjalan keluar dari ruang makan keruang tamu, dan mendapati Rean yang duduk dengan raut wajah seriusnya.
Xiper duduk perlahan disamping Rean, dan kemudian berbisik.
"Kapan kita akan pergi?" bisik Xiper ditelinga Rean.
"Jam 7:30," ucap Rean singkat lalu segera tersenyum manis saat melihat Kania yang berjalan mendekat kearah mereka dengan nampan ditangannya.
Kania tersenyum saat meletakkan nampan itu, lalu duduk dihadapan kedua pria yang menatapnya dengan berkeringat dingin.
__ADS_1
"Kalian kenapa?" tanya Kania yang sedikit heran dengan kedua pria itu, yang mendadak gugup saat ia datang.
"Itu ... aku ingin meminta ijin untuk keluar sayang, karena Xiper ingin ditemani pergi bertemu dengan teman kencannya," ucap Rean dengan tersenyum kikuk.
Xiper menoleh kearah pria disampingnya dengan tatapan terkejut, sedang Kania yang mendengar hal itu, terdiam seribu bahasa, laku menatap Xiper dengan tatapan aneh.
'Ya tuhan, apa pria ini sama sekali tidak memiliki alasan lain? kenapa dia selalu saja ingin membuatku malu begini?' rintih Xiper dalam hati, bertanya pada dirinya sendiri.
"Em, baiklah," ucap Kania dengan ragu, entah mendadak perasaannya sedikit tidak enak, seperti suaminya itu ingin pergi berperang.
"Terima kasih, sayang," ucap Rean dengan tersenyum manis.
Kania menganggukkan kepalanya lalu tersenyum.
* * *
Pukul 8 malam.
Rean dan Xiper tiba ditempat yang ingin mereka kunjungi, mereka menatap dari kejauhan seorang pria yang berlalu lalang menjaga gudang tua didekat dermaga dengan begitu ketat.
"Kau yakin disana?" tanya Xiper dengan menunjuk gudang tua itu.
"Iya, saat ini pemimpin mereka ada disana, jadi kita punya kesempatan untuk membunuh mereka sekaligus, sampai akar," ucap Rean dingin dengan raut wajah datarnya.
"Kau membawa semua ditas itu 'kan?" tanya Rean dengan menunjuk tas yang berada dipunggung Xiper.
"Tentu saja, bahkan karena kau, aku jadi harus membuang benda ini dari jendela hingga ketempat sampah dilantai paling dasar," ucap Xiper dengan nada sedikit kesalnya, membuat Rean tertawa kecil.
Xiper segera meletakkan ransel itu dihadapan Rean, dan mereka pun mulai mempersiapkan semua yang akan mereka gunakan beberapa saat lagi.
Rean dan Xiper terdiam dan menghentikan gerakan mereka saat merasakan seseorang yang mendekat kearah mereka.
Xiper dan Rean bertukar pandang satu sama lain dan segera bersembunyi dibalik tembok dengan belati yang siap mereka gunakan untuk merobek sesuatu.
"Eh, apa kau yakin? Si bos itu terlalu banyak memerintah, sangat-sangat menyebalkan," ucap salah satu pria yang berjalan mendekat kearah tempat Rean dan Xiper bersembunyi.
"Kau benar! Tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa, dia memiliki kekuasaan. Kau tau, aku sedikit heran, kenapa ia mau saja diperbudak oleh wanita itu," ucap teman pria itu dengan nada kesalnya dan semakin berjalan mendekat kearah persembunyian Rean dan Xiper.
__ADS_1
Rean mengernyit mendengar hal itu, lalu menatap Xiper yang juga menatapnya.
Rean memberi isyarat pada Xiper saat kedua pria itu ingin melewati tempat mereka. Xiper menarik salah satu pria itu, hingga temannya terkejut dan berniat untuk berteriak, tapi dengan cepat Rean membungkamnya dan menancapkan belati diperut pria itu bertubi-tubi.