
Pukul 9 malam.
Seorang pria keluar dari kediaman William, pria itu adalah pelayan yang tadi siang berbicara pada Nira.
Terlihat dari balkon kamar lantai 2 seorang pria tengah tersenyum mendapati mangsanya keluar dari sarang, siapa lagi jika bukan Rean.
Rean masuk ke dalam kamarnya kemudian mengambil jaketnya dan kemudian membuka pintu kamarnya dengan pelan dan segera menuruni anak tangga hingga tiba di lantai dasar.
Rean melihat suasana rumah yang memang sudah mulai sepi karena para pelayan yang sudah tertidur begitu pun dengan kedua orang tuanya.
Rean membuka pintu utama dengan kunci cadangan yang di ambil secara diam-diam tadi.
Rean membuka pintu kemudian keluar dan kembali menutup pintu, Rean memakai jaketnya kemudian menutup kepalanya dengan topi jaketnya dan segera berlari mengejar pelayan pria tadi.
Rean mengikuti pria itu dengan jarak 10 meter agar tidak ketahuan oleh pria itu jika dirinya sedang mengikuti secara diam-diam.
Pria itu memasuki Atm sementara Rean menunggu di balik tembok yang tidak jauh dari tempat pria itu menarik uang.
Pria itu pun segera berjalan setelah selesai menarik uang yang di kirim oleh Nira. saat sudah tiba di sebuah gang kecil, tiba-tiba seseorang menaruk bajunya membuatnya terlempar beberapa meter.
"Si ...siapa kau?" tanya pria itu yang mulai ketakutan.
"Menurutmu," ucap Rean yang kini perlahan-lahan mendekati pria itu yang mulai gemetaran.
"Maaf saja, hari ini hari kematianmu," ucap Rean membuat Pria itu semakin gemetar dan kemudian terdengar suara teriakan dan sedetik kemudian sunyi.
"Ck, Kau benar-benar bodoh, hanya untuk uang kau berani menghianati keluarga William," ucap Rean pada pria itu yang sudah tidak bernyawa.
Rean memengang amplok coklat yang berisi uang sekitar 5 juta kemudian membuangnya di tong sampah yang cukup jauh dari tempatnya membunuh pria itu.
Rean tiba di kediaman William saat jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.
Rean membuka pintu perlahan kemudian masuk dan segera mengunci pintu setelah tadi memanjat tembok pagar rumahnya sebanyak dua kali, pulang dan pergi agar para satpam tidak curiga.
Rean membaringkan badannya di atas tempat tidurnya dan perlahan-lahan memejamkan matanya dan tertidur.
Pukul 6 pagi.
Rean kembali ke rumah setelah tadi lari pagi, Rean memasuki rumah dan mulai lah terdengar para pelayan yang bergosip.
__ADS_1
"Apa kau melihat pelayan Ril, aku sama sekali tidak melihatnya sedari tadi"
"Iya aku juga"
"Dia kemana ya"
Gosip para pelayan yang mempertanyakan kebaradaan pelayan yang bernama Ril yang tentu saja sudah tidak akan pulang karna Rean sudah menghabisinya.
Rean berjalan ke arah meja makan dan mendapati Ayah dan ibunya yang sudah duduk untuk sarapan.
"Pagi, Rean," ucap Reynal pada putranya.
"Pagi, Yah. Pagi juga, Ma," ucap Rean kemudian duduk di salah satu kursi yang berhadapan dengan kursi yang di duduki oleh Reynal.
"Papa dengar dari mama kamu, kamu ingin pergi ke Amerika, untuk apa?" tanya Reynal yang begitu penasaran karena tiba-tiba Rean ingin pergi ke Amerika.
"Iya, Yah. aku mau pergi hari ini, aku sudah memesan tiket dan akan berangkat jam 12 siang nanti," ucap Rean kemudian makan roti yang di berikan oleh ibunya.
"Kenapa terburu-buru sekali dan lagi, untuk apa kamu ke sana?" Ucap Reynal mengulang kembali pertanyaannya.
"Ada urusan kecil, Yah. ayah dan mama tidak perlu khawatir aku akan menjaga diri dan lagi, aku hanya 2 atau 3 hari saja di sana," ucap Rean dengan menatap kedua orang tuanya yang juga menatapnya.
"Ayolah, Yah. aku akan baik-baik saja, percayalah," ucap Rean mencoba menyakinkan Reynal.
Reynal menghembuskan nafasnya dan kemudian menatap Rean.
"Baiklah, tapi kau harus menjaga kesehatanmu selama di sana, mengerti," ucap Reynal membuat Rean tersenyum kecil.
"Siap, komandan," ucap Rean memberi hormat pad Reynal membuat Reynal mengelengkan kepalanya.
Pukul 11.30 siang.
Rean tengah bersiap-siap untuk segera berangkat ke bandara.
Rean tidak membawa banyak barang, hanya 1 atau 2 baju yang di bawa di tas punggung miliknya.
Rean menuruni anak tangga dan mendapati Neina sedang duduk di ruang tamu, Rean pun mendekati Neina kemudian mencium singkat kening ibunya dan tersenyum.
"Aku berangkat dulu, Ma." ucap Rean yang mendapat anggukan kepala oleh Neina.
__ADS_1
"Hati-hati di jalan," ucap Neina sedikit berteriak pada Rean yang sudah berada di ambang pintu.
Rean hanya mengangguk kemudian melambaikan tangannya pada Ibunya dan segera memasuki mobil.
Di tengah perjalanan Rean hanya terdiam sambil melihat keluar jendela dan kemudian menghembuskan nafasnya.
20 menit kemudian.
Rean tiba di bandara dan segera berlari kecil untuk segera menaiki pesawat yang akan membawanya ke Amerika di mana jadwal keberangkatannya tinggal 9 menit lagi.
Arian mencari nomor kursinya yang terletak di dekat jendela. Rean kemudian duduk dengan sesekali menghembuskan nafasnya dan tersenyum mengingat berita yang dia nonton tadi pagi, dimana di berita itu menanyangkan tentang pembunuhan pada seorang pria di gang kecil yang di klaim oleh pihak kepolisian sebagai pembunuhan sekaligus pencurian.
Saat mendengar hal itu, Reynal dan Neina terkejut begitu pun dengan para pelayan di kediaman William tapi tidak dengan Rean yang hanya tersenyum kecil.
Rean merasa puas karna sudah menyingkirkan tikus kecil di rumahnya, kini dia tinggal menunggu apa yang akan menimpanya di Amerika, karna sudah pasti bibinya itu berusaha untuk membunuhnya jika ada kesempatan.
Setelah hampir 22 jam didalam pesawat, Akhirnya Rean tiba di bandara internasional di Amerika, Rean melihat sekeliling kemudian membawa tasnya keluar dari bandara untuk segera mencari taksi menuju ke hotel.
Kini Rean sudah berada di perjalanan ke hotel terdekat untuk segera beristirahat karna lelah akibat perjalanan jauh.
Sesampainya di depan hotel, Rean turun dari taksi kemudian membayar dan bergegas masuk ke dalam hotel untuk memesan kamar.
Rean memasuki lobi hotel kemudian mendekati Resepsionis untuk segera cek in.
"Excuse Me," ucap Rean pada Resepsionis itu yang kini menatapnya.
"Yes, Sir. Is there anything I cane help (ada yanh bisa saya bantu)," ucap resepsionis itu pada Rean
"I want to book a room (saya ingin memesan kamar)" ucap Rean dan wanita resepsionis itu pun tersenyum kemudian memberikan kunci pada Rean.
"Thank you," ucap Rean kemudian mengambil kunci itu.
Resepsionis itu mengangguk dan Rean pun berjalan menuju lift.
Rean memencet tombol lift untul segera ke kamarnya, Pintu terbuka, Rean pun segera keluar dan mencari nomor kamarnya.
Rean segera membuka pintu kamarnya dan masuk kemudian mengunci pintu dan segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan memejamkan matanya.
'Besok adalah hari yang melelahkan, aku harus istirahat penuh agar tidak merasa lelah besok' ucap Rean dalam hati kemudian tertidur.
__ADS_1