
Kania mendongak dan menatap Rean yang juga menatapnya.
Rean tersenyum pada Kania, lalu memapah Kania untuk segera keluar dari tempat itu mengabaikan wanita yang hanya bisa terdiam dengan mengepalkan tangannya kesal karena Rean mengabaikannya.
"Maaf tuan Steve, sepertinya saya harus segera kembali keapartemen, saya permisi," ucap Rean kemudian melangkahkan kakinya berniat untuk keluar tapi sebuah teriakan membuatnya menghentikan langkahnya begitu pun dengan Kania.
"HEY ..," teriak gadis itu membuat Kania dan Rean berbalik dan menoleh padanya.
Wanita itu berjalan mendekat kearah Kania dan Rean kemudian menatap benci pada Kania.
"Aku menyukaimu, aku ingin kamu jadi kekasihku," ucap wanita itu lantang pada Rean membuat semua orang yang hadir disana terkejut.
Kania terkejut mendengar hal itu kemudian menoleh pada Rean. Rean hanya menatap datar pada wanita dihadapannya itu tanpa berniat berbicara.
Rean menghembuskan nafasnya kemudian berbalik dan kembali memapah Kania keluar dari hotel itu meninggalkan wanita itu yang terkejut bukan main.
Wanita itu mengerang kesal kemudian menghentakkan kakinya kesal, sementara para tamu laina berbisik melihat hal yang begitu langkah, dimana wanita yang bernama Serly Herison ditolak oleh seorang pria.
Serly menatap tajam semua orang yang seketika bungkam denga kepala yang tertunduk.
Sementara itu, Rean dan Kania tiba didepan pintu mobil yang mereka naiki tadi, yang akan membawa mereka kembali keapartemen.
Rean membukakan pintu untuk Kania masuk diikuti oleh dirinya tanpa berniat menunggu seseorang untuk membukakan pintu untuk mereka.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang untuk segera membawa dua orang itu kembali keapartemen mereka.
Di tengah perjalanan hanya ada keheningan, Kania terdiam mendengar hal yang diucapkan oleh Serly tadi, sedang Rean terdiam dengan otak yang terua berfikir bagaimana caranya agar masalahnya selesai dengan cepat.
Dua puluh menit kemudian.
Kania dan Rean tiba didepan bangunan apartemen, Rean segera turun untuk segera membukakan pintu untuk Kania.
Sopir itu hanya terdiam melihat hal itu, tidak berniat untuk membantu karna ia tahu jika Rean sekarang dalam keadaan mood jelek, bisa ia lihat dari raut wajah Rean yang terlihat masam.
Rean membukakan pintu untuk Kania kemudian Kania pun turun dengan dipapah oleh Rean masuk kedalam lift.
Mobil itu pergi untuk kembali ketempatnya sedang Rean dan Kania memasuki lift untuk naik kelantai atas.
Pintu lift terbuka, Rean dan Kania berjalan keluar dari lift untuk segera menghampiri pintu apartemen mereka.
Rean memencet sandi pintu apartemen dan pintu apartemen pun terbuka.
Rean dan Kania masuk kedalam, Rean kemudian menutup pintu sedang Kania masuk kedalam kamar untuk segera membersihkan diri.
__ADS_1
Rean hanya bisa menghembuskan nafasnya melihat hal itu, ia tahu jika wanita itu sedang cemburu karena wanita yang tadi menyatakam perasaannya pada Rean dengan cara terang-terangan.
Rean masuk kedalam kamar dimana Kania sudah masuk kedalam kamar mandi, Rean membuka kancing kemejanya lalu melemparkan kemejanya kesembarang arah dan kemudian menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur.
Rean mengatur nafasnya kemudian memejamkan matanya berusaha untuk rileks.
Lima belas menit kemudian.
Kania keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah dan tidak lupa hanya mengenakan handuk putih yang melilit ditubuhnya.
Kania melihat Rean yang terbaring terlentang diatas tempat tidur dengan memejamkan matanya.
Kania mendekati tempat tidur kemudian membangunkan Rean untuk mandi.
"Kak Rey, bangun! mandi dulu gih, baru tidur!" ucap Kania dengan sedikit menguncang tubuh Rean.
Rean perlahan-lahan membuka matanya kemudian menatap Kania dengan tatapan terkejut.
Rean dengan segera terduduk membuat Kania terkejut.
Rean segera berlari kearah kamar mandi untuk segera membersihkan diri dan menenangkan adiknya yang tiba-tiba terbangun.
Kania hanya menatap Rean dengan tatapan aneh, Kania segera mengelengkan kepalanya kemudian mendekati kopernya lalu mencari baju yang akan ia kenakan untuk tidur.
Dua puluh menit kemudian.
Rean mengeringkan rambutnya dengan handuk dan sedikit melirik kearah tempat tidur dimana Kania sudah tertidur pulas.
Rean tersenyum kemudian segera memakai pakaiannya untuk segera tidur disamping sang kekasih.
Rean menaiki tempat tidur dengan hati-hati agar Kania tidak terbangun dari tidurnya, Rean membaringka badannya disamping Kania kemudian memeluk wnaita itu erat dan kemudian tertidur pulas.
Pukul 6 pagi.
Rean terbangun dari tidurnya dan terkejut saat melihat Kania sudah tidak ada disampingnya.
Rean segera beranjak dari tempat tidurnya dan keluar dari kamar kemudian mencari Kania.
Rean berjalan kearah dapur dan terdiam saat melihat Kania yang tengah menyiapkan sarapan pagi untuk mereka.
Kania meletakkan teh yang baru saja ia buat diatas meja, dan kemudian tersenyum saat melihat Rean berdiri tidak jauh darinya.
"Kak Rey udah mandi belum?" ucap Kania dengan menatap Rean dengan tatapan tanda tanya.
__ADS_1
Rean hnaya tersenyum kikuk dan mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
Kania hanya mengelengkan kepalanya melihat tingkah Rean yang sedikit berbeda dari sebelumnya.
"Ya udah, aku pergi mandi dulu," ucap Rean berbalik dan berjalan kearah kamarnya.
Kania hanya bisa menghembuskan nafasnya melihat hal itu yang begitu langkah menurutnya.
Lima belas menit kemudian.
Rean keluar dari kamar dan segera mendekati meja makan untuk sarapan bersama Kania.
"Kak Rey, aku pergi ke supermarket dulu ya, aku mau beli buah, lagi pengen," ucap Kania membuat Rean mengernyitkan alisnya.
Reana menatap Kania lekat dengan tatapan aneh yang menurut Kania.
"Ada apa sih, kak?" tanya Kania yang penasaran karna Rea yang menatapnya seperti itu.
"Tidak apa-apa, mungkin saja anakku sudah ada didalam sana," ucap Rean mengoda Kania.
Wajah Kania bersemu merah mendengar hal itu.
"Apaan sih," ucap Kania kemudian berjalan keluar dari apartemen untuk segera ke supermarket.
Rean hanya tersenyum kecil melihat Kania yang malu mendengar gombalannya. Rean memakan sarapannya dengan lahap dengan sesekali tersenyum kecil.
Mungkin Rean akan terua tersenyum kecil jima bersama dengan Kania.
Dua puluh menit kemudian.
Rean sudah selesai sarapan dan kini duduk disofa diruang tamu menunggu kepulangan Kania dari supermarket.
Rean mengambil ponselnya berusaha untuk menghubungi Kania.
Rean mengernyit saat nomor Kania tidak aktif dan hanya operator saja yang berbicara. Rean menelan salivanya dengan susah payah, entahe mengapa, tiba-tiba perasaannya tidaj enak.
Tiba-tiba ponsel Rean berdering menandakan ada pesan yang masuk.
Rean mengernyit saat melihat nomor yang mengirimkannya pesan yang ternyata sama sekali tidak memiliki nama.
Rean membuka sandi ponselnya, Rean terkejut saat melihat isi pesan dari nomor baru itu.
"Datanglah kegudang tua dipelabuhan xxx, jika kau tidak datang, maka nyawa wanita ini akan melayang saat itu juga" isi pesan dari nomor baru itu membuat Rean mengepalkan tangannya dan segera keluar dari apartemen untuk segera pergi kealamat yang dimaksud oleh nomor itu dengan perasaan khawatir bercampur marah.
__ADS_1