JENDRAL MENJADI TUAN MUDA

JENDRAL MENJADI TUAN MUDA
SEGERA DIMULAI


__ADS_3

Pukul 6 pagi.


Kania terbangun dari tidurnya dan beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.


Lima belas menit kemudian.


Kania keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk putih yang melilit ditubuh rampingnya, menutupi dada hingga paha putihnya.


Kania segera keluar dari kamar untuk membuat sarapan meninggalkan Rean yang masih tidur diatas tempat tidur.


Rean terbangun dari tidurnya dan mengerjapkan matanya beberapa kali.


"Dia sudah bangun," ucap Rean kemudian beranjak dari tempat tidur berjalan kearah kamar mandi.


Sepuluh menit kemudian.


Rean keluar dari kamar mandi dan berjalan kearah lemari pakaian untuk segera memakai pakaiannya.


Rean mengernyit saat mendengar suara deringan ponselnya dan ia pun berjalan perlahan mendekat kearah meja disamping tempat tidur.


"Halo, Rean. Kamu dimana?" tanya Neina diseberang telfon dengan nada suara yang begitu khawatir.


Rean terdiam mendengar suara sang ibu, ia menghembuskan nafasnya kemudian berbicara.


"Aku baik-baik saja, mama tidak perlu khawatir seperti itu," ucap Rean merasa bersalah.


"Maaf jika kami melakukan hal itu tanpa memberitahumu terlebih dahulu, tapi kami fikir karena Nira mengatakan jika kau akan menyetujuinya, jadi kami ....," ucap Neina diseberang telfon, tidak bisa melanjutkan lagi ucapannya.


Rean yang mendengar hal itu, mengepalkan tangannya.


'Rubah sia**n,' umpat kesal Rean dalam hati.


"Tidak perlu minta maaf, Ma. Aku tidak menyalahkan mama dan ayah, tapi aku tetap tidak setuju dengan pertunangan itu, tidak akan setuju," ucap Rean penuh penekanan membuat Neina diseberang telfon terdiam.


"Baiklah, kami juga sudah membatalkan semua hal itu, jadi kau tidak perlu khawatir lagi," ucap Neina diseberang telfon.


"Baiklah, ma. Aku ingin bersiap untuk pergi kekantor," ucap Rean kemudian mematikan panggilan setelah mendapat jawaban dari Neina.


Rean berniat untuk berbalik dan kembali mengerjakan apa yang tadi tertunda, hingga pandangannya terhenti pada seseorang yang berdiri diambang pintu, menatap tidak percaya padanya.


"Kania," ucap Rean menyadarkan Kania dari keterkejutannya.


"Aku berniat untuk memanggila kakak sarapan dan juga, ada seseorang yang mencari kakak diluar," ucap Kania dengan kepala menunduk dan segera berjalan kembali kedapur.

__ADS_1


Rean yang melihat hal itu mengernyitkan alisnya.


"Siapa? tidak ada orang yang tau tentang apartemenku yang ini, kecuali ....," Rean mengantung ucapannya dan segera memakai celana kainnya dan kemejanya.


Setelah selesai, Rean segera keluar dari kamar dan melihat seorang pria yang duduk dengan santainya disofa ruang tamu.


"Juan," ucap Rean dan seseorang yang dipanggil pun menoleh dan tersenyum penuh arti.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Rean dengan menatap pria itu penuh tanda tanya.


"Oh itu, hanya jalan-jalan saja, pantesan kau melarangku sering kemari, ternyata kau ....," Juan mengantung ucapannya dengan tersenyum jahil pada Rean.


"Siapa dia?" tanya Juan dengan menaik turunkan alisnya.


"Siapa apanya?" tanya Rean pura-pura tidak tau.


"Jangan berbohong, tadi aku melihatnya. Dia sangat cantik, apa pembantu diapartemenmu ini?" tanya Juan membuat Rean menatap kesal padanya.


"Dia bukan pembantu, Juan. Dia kakak iparmu," ucap Rean penuh penekanan.


Juan yang mendengar hal itu terdiam, dan sedetik kemudian .....


"WHAT!" teriak Juan yang begitu terkejut, hingga membuat Kania yang berada di dapur hampir menjatuhkan piring.


"Bukan itu ... Dia benar-benar istrimu?" tanya Juan mencoba memastikan pendengarannya.


"Iya, kau fikir aku berbohong," ucap Rean kemudian berjalan kearah dapur.


"Kemarilah, kita sarapan bersama!" ucap Rean meninggalkan Juan diruang tamu.


Juan segera menyadarkan dirinya dan dengan cepat bangkit dari duduknya mengikuti Rean yang berjalan dihadapannya.


Suasana menjadi sunyi, yang terdengar hanya suara sendok yang bergesekan dengan piring, hingga tiba-tiba Juan berbicara.


"Itu ... siapa namamu?" tanya Juan canggung.


"Kania," ucap Kania singkat dengan tersenyum.


Juan menoleh kearah Rean yang masih asyik dengan sarapannya, dengan sesekali melirik kearahnya.


"Itu, kapan kalian menikah? kenapa om dan Tante tidak memberitahukan hal ini pada keluarga?" tanya Juan pada Rean.


Rean menghentikan tangannya yang bergerak menyuap makanan kemulutnya, dan kemudian menatap Juan.

__ADS_1


"Aku belum memberitahu mereka, mungkin setelah masalah selesai," ucap Rean melirik kearah Kania yang terdiam.


Juan yang mendengar hal itu mengernyitkan alisnya, ia bingung dengan masalah yang dikatakan oleh Rean.


'Maksudnya apa? apa ada rahasia yang disembunyikan kak Rean padaku dan juga keluarga?' ucap Juan bertanya dalam hati dan menatap Rean.


"Oh, baiklah. Kau membawa wanita menyebalkan kerumahmu dan aku sungguh tidak suka padanya," ucap Juan membuat Rean dan Kania mengernyit, kemudian bertukar pandang satu sama lain.


"Wanita yang mana?" tanya Rean penasaran.


Juan menghentikan mulutnya yang menguyah makanan, kemudian menatap pria dihadapannya yang bersikap seolah tidak tau, meski sebenarnya memang tidak tau.


"Bagaimana mungkin kau bisa lupa dengan wanita menyebalkan yang kau bawa dari Amerika itu, wanita yang selalu saja membuatku kesal," ucap Juan dengan kesal, mengingat beberapa hari yang lalu, disaat ia pergi kekediaman William dan bertemu dengan wanita menyebalkan, yang membuat darah tinggi.


Rean mencoba mengingat siapa yang ia bawa kerumah dari Amerika, yang ia tahu hanya Lily saja, tapi Lily tidak menyebalkan.


."Aku tidak pernah membawa wna6ita menyebalkan, kecuali Lily dan dia adikku sama sekali tidak menyebalkan," ucap Rean membuat pria dihadapannya terdiam.


"Yang benar saja, Rean. Dia menyebalkan, bahkan sangat menyebalkan, hingga aku harus segera pergi memeriksa tekanan darahku saat bertemu dengannya," ucap Juan dengan wajah kesalnya, yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.


'Apa dia segitu menyebalkan? tidak mungkin. Lily bahkan sangat baik dan mudah berbaur, tapi kenapa pria ini mengatakan ia menyebalkan?' Rean terus bertanya dalam hati.


Setelah membahas hal itu, akhirnya mereka makan dalam keadaan hening lagi, sungguh membuat Kania tidak nyaman.


* * *


Pukul 10:30 pagi.


Rean tengah duduk dikursi kebesarannya dengan mata yang fokus pada dokumen yang ada dihadapannya.


Terdengar suara pintu diketuk dari luar.


"Masuk," ucapnya tanpa menoleh dan masih fokus pada dokumen yang ia tanda tangani.


"Rean," ucap orang itu, membuat Rean terdiam kemudian mendongak dan membelalakkan matanya, melihat seseorang dihadapannya.


"Bibi Nira?" ucapnya dengan raut wajah datar dan segera menutup dokumen yang ada ditangannya.


"Ada apa?" tanya Rean dengan nada suara tidak suka yang sengaja ia perjelas dihadapan wanita itu.


"Kau marah padaku, Rean? aku melakukan perjodohan itu karena aku peduli padamu, jadi bibi mohon terima, oke!" bujuk Nira yang membuat Rean mengertakkan giginya.


"Maaf, Bibi. Jika hanya itu yang ingin kau beritahu, aku tidak bisa meladenimu. Jadi akan lebih baik jika kau segera keluar dari ruanganku, karena aku sangat sibuk!" ucap Rean penuh penekanan, ia sudah tidak mampu menyembunyikan kekesalannya pada Nira, ia akan segera membuat wanita itu menyesal karena mencari masalah dengannya.

__ADS_1


__ADS_2