
Rean dan Lili tengah bersiap-siap untuk segera pergi ke bandara untuk segera naik pesawat untuk segera kembali ke indonesia.
Kini Rean dan Lili berada di dalam taksi menuju ke bandara.
20 menit kemudian.
Rean dan Lili tiba di bandara, Rean membayar taksi itu kemudian berjalan memasuki bandara dengan Lili yang berjalan di sampingnya.
Kini Reana dan Lili tengah mencari nomor kursi mereka dan duduk setelah menemukannya.
Lili dudul di samping jendela dengan Rean yang duduk di sampingnya.
Rean terdiam dan kemudian memejamkan matanya mencoba untuk menenangkan dirinya.
Pesawat pun lepas landas dan mulai naik ke atas awan, Rean terdiam sedang Lili asyik melihat keluar jendela yang pemandangannya begitu indah menurutnya.
Rean memejamkan matanya dan tidak lama kemudian tertidur.
Di dalam mimpi, Rean lagi-lagi melihat memori dari tubuh itu.
Dalam mimpi Rey.
Rey melihat Rean yang begitu sibuk dengan pekerjaannya sebagai dokter bedah.
Rean melakukan operasi dengan begitu baik.
Selesai melakukan operasi Rean berjalan kembali ke ruangannya dan menghentikan langkahnya saat melihat Nira duduk di kursi tunggu di depan ruangannya.
"Tante, ada apa?" tanya Rean pada Nira saat sudah berdiri di hadapan wanita itu.
"Hay Rean, aku hanya datang untuk memberikanmu ini, jaga kesehatanmu ya," ucap Nira kemudian pergi meninggalkan Rean setelah memberi Rean botol yang berisi jus.
Rean masuk ke dalam ruangannya kemudian membuka botol jus itu lalu mencium aromanya.
Rean masuk ke dalam kamar mandi didalam ruangannya dan membuang jus itu di westafel lalu menatap pantulan dirinya di cermin.
"Segitunya kah kamu ingin membunuhku, Tante," ucap Rean pada dirinya sendiri kemudian menatap pantulan dirinya di cermin.
Tiba-tiba Rey terbangun dari tidurnya saat merasakan seseorang menguncang tubuhnya berusaha untuk membangunkannya.
Rey menatap Lili yang memengang lengannya berusaha untuk membangunkannya tadi.
"Maaf, aku ketiduran," ucap Rey tersadar dan kemudian memijit keningnya yang mendadak pusing.
__ADS_1
"No problem," ucap Lili pada Rey atau Rean.
Rey mengangguk kemudian berbicara dalam hati.
'Sungguh keji, kau bahkan sudah berniat untuk membunuh pemilik tubuh ini dari awal, dasar rubah sia**n,' ucap Rey kesal dalam hati mengingat mimpinya yang adalah memori dari tubuh Rean.
22 jam perjalanan naik pesawat, akhirnya Rean atau Rey tiba di Indonesia, pesawat pun mendarat.
Rean dan Lili turun dari pesawat kemudian berjalan hingga terdengar suara seseorang yang memanggil Rean, membuat kedua orang itu menoleh.
Rean tersenyum saat melihat Neina dan Reynal berdiri tidak jauh dari mereka dengan melambaikan tangan padanya.
Rean dan Lili berjalan mendekat pada kedua pasangan paru baya itu.
Neina berlari dan memeluk putranya denga erat karena sudah begitu rindu pada Rean.
Neina melepas pelukannya dan terkejut melihat wanita yang berdiri di belakang putranya yang tersenyum kecil padannya.
Neina menatap Rean kemudian menatap wanita di belakangnya seolah bertanya.
"Perkenalkan, Ma. ini Lili dia yatim piatu dan aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri, tidak apa-apakan, Ma." ucap Rean membuat kedua orang tuanya terdiam.
Lili terdiam saat Neina mendekat padannya.
"Selamat datang di keluarga William," ucap Neina membuat Lili tersenyum.
"Terima kasih," ucap Lili dengan susah payah karna dirinya yang belum lancar berbahasa Indonesia.
Rean sudah mengajar Lili berbahasa Indonesia tadi malam dan Lili sudah mengerti sedikit bahasa Indonesia meski belum lancar untuk mengucapkannya.
Neina tersenyum kemudian menarik tangan Lili lembut ke arah mobil di ikuti oleh Reynal yang merangkul putranya itu.
20 menit kemudian.
Mereka tiba di kediaman Reynal dan segera turun dari mobil untuk masuk ke dalam rumah.
"Lili, mulai sekarang kamu akan tinggal di sini, menjadi bagian dari kami," ucap Neina membuat Lili menangis bahagia.
"Thank you ... thank you," ucap Lili di sela-sela tangisnya.
Neina memeluk Lili erat berusaha untuk menenangkan anak itu yang begitu terharu.
"Ayo, aku akan mengantarmu ke kamar yang akan kamu tempati mulai hari ini hingga seterusnya," ucap Neina dan Lili pun mengangguk.
__ADS_1
Neina mengantar Lili ke lantai atas ke kamar yang akan Lili gunakan, Sedang Rean dan Reynal terdiam mematung di tempat karna di abaikan oleh Neina.
"Rean ...," ucap Reynal tiba-tiba membuat Rean menatapnya.
"Soal yang kamu bilang hari itu, ayah menyetujuinya. kamu tinggal pilih saja ingin jadi apa," ucap Reynal membuat Rean tersenyum.
"Terima kasih, Yah." ucap Rean berterima kasih pada Reynal.
"Tidak masalah, Son. ayah pikir wanita itu tadi adalah calon menantu di rumah ini, ternyata hanya calon anggota keluarga baru toh," ucap Reynal dengan tersenyum kecil.
Rean terdiam mendengar perkataan sang ayah dan kemudian tersenyum kecil.
"Tidak lama lagi aku akan membawa menantu ayah ke rumah ini," ucap Rean kemudian menaiki tangga untuk segera ke kamarnya beristirahat karna lelah dengan perjalanan panjang yang menguras tenaga.
Reynal terdiam mendengar ucapan Rean barusan dan kemudian tersenyum senang.
"AKU TIDAK SABAR MENANTINYA, NAK," ucap Reynal dengan berteriak sementara Rean yang mendengar hal itu mengelengkan kepalanya tidak percaya jika sang ayah akan begitu senang saat dia mengatakan akan membawa menantu untuk keluarga William.
Rean membuka pintu kamarnya kemudian masuk lalu menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur dan sedetik kemudian tertidur.
* * *
Pukul 6 pagi.
Rean terbangun dari tidurnya kemudian beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri dan bersiap untuk sarapan kemudian ke kantor untuk mulai bekerja dan juga pdkt dengan sang pacar.
Rean keluar dari kamarnya dengan penampilan yang rapi mengunakan setelan jas berwarna hitam tanpa mengunakan dasi.
Rean turun ke bawah menuju meja makan untuk segera sarapan dan berangkat ke kantor bersama sang ayah.
Rean terkejut melihat Neina, Reynal dan Lili telah duduk di meja makan bersiap untuk segera sarapan.
Lili tersenyum pada Rean begitu pun sebaliknya.
Mereka pun makan dengan sesekali bercanda membuat Lili tertawa, Rean tersenyum kecil melihat hal itu, entah mengapa dia merasa senang melihat ketiga orang di hadapannya ini tertawa.
'Aku berjanji akan melindungi kalian dan tidak akan membuat rubah itu mencelakai kalian, karna kalian adalah keluargaku dan sudah kewajibanku untuk melindungi kalian, terutama Kania,' ucap Rean dalam hati berjanji untuk menjaga semua orang yang ia sayangi.
* * *
Di sisi lain, Kania keluar dari kosannya berniat untuk pergi bekerja.
Kania menutup pintu kosannya dan terdiam sejenak dan kemudiaj mengigit bibir bawahnya berusaha untuk menahan isak tangisnya.
__ADS_1
"Kak Rey, aku rindu, kenapa kak Rey pergi ninggalin aku," ucap Kania kemudian berjongkok dan terisak mengeluarkan semua yang ingin ia keluarkan, rasa rindu yang begitu dalam pada sang kekasih yang sudah pergi menggalkannya sendiri di dunia yang kejam ini.