JENDRAL MENJADI TUAN MUDA

JENDRAL MENJADI TUAN MUDA
SEKERTARIS


__ADS_3

Dua puluh menit kemudian.


Rean tiba di parkiran kantor dan segera turun dari mobil dan berjalan memasuki lobi kantor dengan ekspresi dingin.


Semua karyawan yang melihat Rean segera membungkukkan badannya, Rean masuk ke dalam lift kemudian memencet tombol lift dan pintu lift pun tertutup.


Rean menghembuskan nafasnya kemudian memijit keningnya yang mendadak sedikit pusing.


'Tubuh ini benar-benar lemah sekali, meskipun dia sangat rajin berolah raga tapi tetap saja lemah,' ucap Rean dalam hati kesal karna tubuhnya yang begitu lemah.


Pintu lift terbuka, Rean segera keluar dari lift dan bergegas masuk ke ruangannya.


Rean mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya kemudian membuka laptopnya untuk segera mengerjakan pekerjaannya.


Di sisi lain, Kania terkejut saat tiba di kantor dan di minta untuk segera menghadap ke Direktur yaitu Rean.


Kania terdiam di dalam lift dan kemudian menelan salivanya dengan susah payah. Kania sebenarnya tidak ingin bertemu dengan Rean lantaran kejadian semalam.


* * *


Kania terkejut saat mendengar perkataan Rean, Tiba-tiba Rean mengangkat kepalanya dan sedetik kemudian mengecup bibir Kania singkat membuat Kania terkejut bukan main.


Kania masih terdiam dengan kejadian yang baru saja terjadi dan kemudian menatap pria di hadapannya yang sudah mengambil ciumannya.


Rean memajukan wajahnya untuk kembali mencium wajah Kania, tapi Kania segera memundurkan dirinya membuat Rean terdiam.


Kania menatap Rean dengan tatapan yang sulit di artikan, Rean menghembuskan nafasnya kemudian pergi tanpa mengelurkan sepata kata membuat Kania menatap kepergiannya dengan penuh tanda tanya.


* * *


Kania menyentuh bibirnya yang masih terasa saat Rean mengecup bibirnya singkat, Kania jadi teringat pada Rey saat menatap Rean, tapi Kania terus berusaha untuk mengangap semua hal itu sebagai kebetulan semata.


Pintu lift terbuka, Kania segera berjalan mendekati ruangan Rean.


Kania menarik nafas perlahan kemudian menghembuskannya perlahan, Kania mengetuk pintu dan terdengar suara dari dalam yang memepersilahkannya untuk masuk.


Kania membuka pintu dengan perlahan lalu berjalan mendekati meja Rean, Rean nampak fokus pada dokumen di hadapannya tanpa berniat menoleh pada Kania yang sudah berdiri di depan mejanya dengan tangan yang meremas baju cleaning servisnya.


"Ada apa bapak panggil saya?" tanya Kania sopan.

__ADS_1


Rean menghentikan tangannya yang menandatangani dokumen kemudian mendongak dan menatap Kania yang menundukkan kepalanya.


"Mulai hari ini, kamu akan jadi sekertaris saya," ucap Rean yang membuat Kania terkejut.


Kania mengangkat kepalanya yang menunduk kemudian menatap Rean yang juga menatapnya.


"Maksud bapak apa?" ucap Kania mencoba memastikan apa yang ia dengar barusan.


Rean menghembuskan nafasnya kemudian menatap wanita di hadapannya itu.


"Maksud saya, hari ini kamu akan belajar untuk jadi sekertaris yang baik, kamu naik pangkat, paham!" ucap Rean yang memang tidak bisa mengulang kata-katanya.


"Sekertaris Fia, tolong kemari dan ajari nona Kania apa saja yang harus di lakukan sebagai sekertaris pribadi!" ucap Rean menelfon sekertari Fia yaitu sekertari sang ayah.


Tidak lama kemudian, terdengar pintu yang di ketuk dari luar.


"Masuk!" ucap Rean yang kembali fokus pada dokumen di hadapannya.


Pintu terbuka, Sekertaris Fia pun masuk kemudian membungkuk pada Rean yang kemudian menunjuk ke arah Kania.


Fia mengerti kemudian mengajak Kania ke ruangannya.


Kania hanya menurut kemudian mengikuti Fia dengan kepala yang menunduk.


"Maaf ya, pak Rean emang gitu orangnya," ucap Fia tiba-tiba membuat Kania menatap wanita yang tua beberapa tahun darinya.


Kania hanya tersenyum menanggapi ucapan Fia.


"Aku dengar dari tuan William, katanya Pak Rean itu dulunya Dokter, tapi semenjaka kecelakaan dia jadi kayak berubah gitu dan juga mendadak mau kerja di kantor padahal orangnya ngga terlalu suka untuk mengerjakan urusan kantor," ucap Fia panjang lebar menceritakan semu yang ia tahu pada Kania.


Kania terdiam mendengar ucapan Fia, entah mengapa tiba-tiba ia begitu bersimpatik pada orang yang sering kali membuatnya kesal.


Pukul 4 sore.


Kania bersiap-siap untuk pulang dan mempersiapkan diri untuk besok, karna esok adalah hari yang melelahkan karna dirinya sudah harus menjadi sekertaris sang atasan yang cukup irit bicara.


Kania terdiam saat dari kejauhan ia melihat Rean tengah menelfon seseorang, dengan sesekali memijit keningnya.


Kania mengelengkan kepalanya kemudian segera berjalan mencari angkutan umum untuk pulang ke kontrakannya.

__ADS_1


* * *


Pukul 6:30 pagi.


Rean bersiap-siap untuk segera pergi ke kantor karna hari ini ia ada rapat yang harus di hadiri pukul 8 pagi.


Rean menuruni tangga dengan tergesa-gesa menuju ruang makan dengan dasi yang ia pengang di tangannya.


"Pagi, Ma, Yah, Lili," ucap Rean saat tiba di meja makan dan segera megambil rotinya kemudian mengigitnya lalu memasang dasinya dengan cepat.


Reynal, Naina dan Lili terdiam melihat hal itu dan kemudian saling bertukar pandang satu sama lain.


"Rean berangkat dulu, Ma, Yah dan Lili," ucap Rean lagi-lagi mengacak rambut Lili kemudian keluar dari rumah dengan mulut yang mengunyah roti selai coklat yang di buat oleh sang ibu.


* * *


Pukul 8 pagi.


Kini Rean berada di ruang rapat beserta Kania yang berdiri di sampingnya. Rean menatap datar pada orang yang tengah melakukan presentasi di hadapannya.


Rean menghembuskan nafasnya membuat semua orang menatapnya dengan sedikit takut, takut jika mereka akan bernasib sama dengan seseorang yang baru saja di pecat tadi.


Rean memijit keningnya yang tiba-tiba sakit melihat semua orang di hadapannya terutama dengan orang yang melakukan presentasi, sunggu membuatnya semakin pusing.


'Bagaimana mereka bisa mengembangkan Perusahaan ini, jika mereka saja bekerja dengan pemikiran yang begitu sempit,' ucap Rean dalam hati pusing tujuh keliling.


"Jika kalian tidak bisa melakukan presentasi dengan baik, maka lebih baik kalian semua mengundurkan diri saja, rapat di hentikan sampai disini, jika rapat selanjutnya kalian masih sama seperti sekarang, maka tidak usah lagi bekerja di perusahaan ini!" ucap Rean tegas kemudian keluar dari ruang rapat di ikuti oleh Kania yang mengekor di bekakangnya.


Semua orang di ruang rapat itu mulai resah sekaligus takut, Sedang Kania nampak sedikit takjub dengan pria yang berjalan di hadapannya itu yang terlihat begitu tegas dan juga berwibawa.


Rean masuk ke ruangannya sedang Kania kembali ke ruangannya untuk segera mengurus jadwal Direkturnya itu.


Rean menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kebesarannya.


Tok ... tok ... tok.


"Masuk!" ucap Rean memejamkan matanya karna sedikit pusing melihat kinerja karyawan yang begiti tidak becus menurutnya.


Kania masuk ke dalam ruangan Rean saat mendengar jawaban dari dalam yang mengijinkannya untuk masuk.

__ADS_1


"Pak, hari ini anda ada janji temu dengan pemilik perusahaan Frost jam 1 siang nanti," ucap Kania membuat Rean membuka matanya yang terpejam.


"Baiklah, terima kasih karna sudah mengingatkanku," ucap Rean membuat Kania terdiam kemudian membungkukkan badannya lalu keluar dari ruangan Rean kembali ke ruangannya.


__ADS_2