
Pukul 1 siang.
Rean dan Kania sedang berada di dalam mobil perjalanan menuju ke restoran tempat pertemuan Rean dengan kliennya.
Dua puluh menit kemudian.
Rean menghentikan mobilnya kemudian keluar dari mobil di ikuti oleh Kania lalu berjalan masuk ke dalam restoran.
Rean membuka pintu restoran kemudian melihat sekeliling hingga pandangannya jatuh pada pria paru baya yang sedang duduk tidak jauh dari pintu masuk.
Rean berjalan mendekat ke arah meja yang di tempati oleh pria paru baya itu lalu di ikuti oleh Kania yang mengekor di belakangnya.
"Maaf, tuan Steve membuat anda menunggu," ucap Rean setengah membungkukkan bedannya.
Pria paru baya itu tersenyum dan kemudian mengangguk lalu mempersilahkan Rean untuk duduk di kursi di hadapannya.
Rean duduk di ikuti oleh Kania yang duduk di sampingnya, mereka mulai berbincang masalah bisnis dan kontrak kerja sama yang akan mereka lakukan.
"Saya sangat menyukai anda, tuan Rean. senang bisa bekerja sama dengan anda," ucap Tuan Steve lalu kemudian berjabat tangan dengan Rean.
Rean tersenyum karna berhasil kontrak kerja sama dengan tuan Steve karna hal itu adalah langkah awal untuk menghancurkan Nira.
"Saya juga senang bisa bekerja sama dengan anda, tuan Steve," ucap Rean dengan senyum di wajahnya.
"Besok lusa di Amerika aku akan mengadakan pesta pembukaan untuk perusahaanku yang baru, bagaimana jika anda juga datang, saya akan merasa sangat senang jika anda hadir di sana," ucap Tuan Steve dengan tersenyum.
Rean nampak berfikir kemudian menatap Kania yang juga menatapnya, Kania segera mengalihkan pandangannya ke arah lain saat Rean menatapnya.
"Dengan senang hati, Tuan Steve." ucap Rean dan kemudian, tuan Steve pun pamit bersama dengan sekertarisnya.
Rean mendudukkan bokongnya di kursi kemudian memghembuskan nafasnya perlahan.
"Persiapkan barang-barang yang ingin kamu bawa, kita akan berangkat besok pagi," ucap Rean membuat Kania terkejut.
"Baik, pak," ucap Kania dengan tersenyum kecil karna ia akan ke Amerika, mungkin saja dia akan bisa mengunjungi makan Rean disana.
Pukul 4 sore.
Rean pulang dari kantor dengan keadaan yang tidak serapi tadi pagi, Rean berjalan masuk ke rumah dengan keadaan yang lesuh.
"Rean, kamu udah pulang?" tanya Naina yang baru saja keluar dari dapur.
Rean hanya mengangguk kemudian naik ke tangga untul segera tiba di kamarnya.
Naina hanya terdiam melihat tingkah laku Rean yang begitu acuh, membuat Naina menjadi khawatir.
__ADS_1
Rean menutup pintu kamarnya kemudian membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Aku harus segera membongkar kelakuan bejat Nira, jika tidak aku rasa pemilik tubuh ini tidak akan tenang di alam sana," ucap Rean bertekat pada dirinya sendiri.
* * *
Rean terbangun dari tidurnya dan bergegas untuk segera mandi lalu pergi kebandara karna jam terbang pesawat yang membawanya akan berangkat pukul 7 pagi.
Saat ini Rean tengaj duduk di kursi di meja makan, sarapan bersama dengan Reynal, Naina dan juga Lili.
Selesai sarapan, Rean berpamitan pada kedua orang tuanya beserta Lili.
"Aku pergi dulu, Ma, Yah." ucap Rean pada kedua orang tuanya.
"Hati-hati di jalan," ucap Reynal dan Naina.
Rean hanya mengangguk kemudian berdiri dihadapan Lili yang hanya menundukkan kepalanya.
"Aku pergi dulu, Lili. jaga dirimu," ucap Rean dan Lili pun mengangguk.
Rean pun pergi dengan di antar oleh supir ke kontrakan Kania untuk menjemput Kania.
Sepuluh menit kemudian.
Mobil pun berhenti di tepi jalan dimana sudah ada Kania yang berdiri menunggu sedari tadi.
Rean dan Kania turun dari mobil dan segera berjalan masuk untuk segera naik ke pesawat.
Rean duduk di kursi didekat jendela sedang Kania duduk di sampingnya.
Pesawat pun lepas landas meninggalkan bandara dan naik ke atas awan.
Kania menguap tanda mengantuk dan perlahan-lahan tertidur. Rean terkejut saat merasakan bahu yang sedikit berat, ia menoleh dan menatap Kania yang tertidur pulas tanpa beban.
Rean tersenyum kecil kemudian mengusap rambut Kania lembut.
22 jam kemudian.
Tidak terasa Mereka berdua pun tiba di Amerika, Rean dan Kania turun dari pesawat dan berjalan keluar dari bandara.
Kania terus menundukkan kepalanya malu karna tadi tidak sengaja tidur di bahu bosnya itu.
Mereka pun masuk ke dalam taksi untuk segera pergi dari bandara. Kania hanya terdiam tidak berbicara dan tidak berniat untuk bertanya pada sang bos kemana mereka akan pergi karna jelas arah yang mereka tuju bukanlah arah menuju hotel.
Dua puluh menit kemudian.
__ADS_1
Taksi berhenti dan Kania mengernyit heran saat melihat keluar dimana tempat yang sekarang mereka tempati adalah makam.
Kania menoleh ke arah Rean yang sudah turun dari taksi dengan berbicara pada supir taksi itu untuk menunggu mereka.
"Ayo!" ucap Rean dan Kania pun segera berjalan mengikuti bosnya itu dari belakang.
Rean menghentikan langkahnya begitu pun dengan Kania.
"Bukankah kamu ingin bertemu dengannya," ucap Rean kemudian menunjuk ke arah makan yang bertuliskan nama Rey Jim.
Kania mematung di tempatnya melihat makam sang kekasih lalu menoleh pada Rean yang menatap ke arah lain.
Kania berjalan ke arah makan Rey kemudian terduduk dan memeluk nisan Rey dengan tangis yang semakin menjadi.
Rean tidak tega mendengar hal itu, ia pun mendekat kemudian mencoba menenangkan Kania dengan cara mengelus punggungnya.
Kania menoleh ke arah Rean dan sedikit terdiam.
'Kak Rey,' ucap Kania dalam hati dengan menatap Rean dengan wajah yang berlinang air mata.
Satu jam kemudian.
Kini Rean dan Kania sedang dalam perjalan ke arah apartemen Rey atau Rean.
Rean sudah menjelaskan semua pada Kania mengatakan jika dirinya dan Rey adalah sahabat baik dan Kania hanya menganggukkan kepalanya mencoba untuk percaya pada Rean.
Lima belas menit kemudian.
Kania dan Rean tiba di depan gedung apartemen milik Rey.
Rean membayar taksi itu kemudian berjalan masuk ke lift untuk segera ke lantai apartemennya.
Kania hanya terdiam dengan sesekali melirik ke arah Rean. pintu lift terbuka, Rean dan Kania keluar dari lift mendekat ke arah pintu apartemen Rean.
Rean memencet sandi apartemennya kemudian pintu pun terbuka, Rean mempersilahkan Kania untuk masuk ke dalam.
Kania melihat sekeliling sangat nyaman dan menenangkan baginya membuatnya enggan untuk pulang.
"Ini kamar yang akan kamu gunakan saat kita di Amerika," ucap Rean membuka pintu kamar yang sempat disamping kamarnya.
Kania hanya mengangguk mengerti dan kemudian masuk ke dalam kamar, sedang Rean juga masuk ke dalam kamarnya.
Rean menutup pintu kamarnya dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk sedikit membasuh wajahnya.
Selesai membasuh wajahnya, Rean keluar dari kamar mandi dan terkejut melihat Kania berada di dalam kamarnya dan menatap foto yang berada di bingkai foto di atas meja.
__ADS_1
Kania menoleh saat mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka dan menatap Rean yang menatapnya dengan tatapan terkejut bukan main.
"Siapa kau?" itulah ucapan yang keluar dari mulut Kania yang membuat Rean membeku di tempatnya.