JENDRAL MENJADI TUAN MUDA

JENDRAL MENJADI TUAN MUDA
MULAI BERGERAK


__ADS_3

Ditengah perjalanan, Rean menelfon seseorang dengan pandangan yang sesekali fokus pada ponselnya.


Drrrt ... drrrt ... drrrrt.


"Halo," jawab seseorang diseberang telfon.


"Halo, kau dimana?" tanya Rean pada orang diseberang telfon, yang tidak lain adalah Xiper.


"Aku diapartemenku, kak. ada apa? apa ada masalah?" tanya Xiper diseberang telfon.


"Apa kau tidak sibuk disana?" ucap Rean yang malah balik bertanya pada Xiper diseberang telfon.


"Tidak, urusanku disini sudah selesai, aku sedang ambil cuti beberapa hari," ucap Xiper dengan mengernyitkan alisnya diseberang telfon.


"Segera kesini! ada masalah," ucap Rean membuat Xiper terdiam diseberang telfon.


"Aku akan segera kesana!" ucap Xiper dan Rean pun mematikan panggilan sepihak lalu membuang ponselnya disamping kursi kemudi.


Sementara itu, setelah Rean mematikan panggilan sepihak, Xiper segera mengemas beberapa pakaiannya setelah memesan tiket pesawat yang berangkat hari ini.


* * *


Sepuluh menit kemudian.


Rean menghentikan mobilnya dibasement apartemennya dan segera turun dari mobilnya, lalu berjalan memasuki lift.


Rean memencet tombol lift kelantai 4, tempat apartemennya berada. Tidak lama setelah itu, pintu lift terbuka, Rean berjalan keluar dengan wajah datarnya dan ketika tiba didepan pintu apartemennya, ia mengubah raut wajahnya dengan tersenyum kecil.


Rean membuka pintu, karena Kania yang sama sekali tidak mengunci pintu apartemen, Rean berjalan perlahan memasuki apartemennya.


Rean membuka perlahan pintu kamarnya dan tidak menemukan Kania disana, ia pun berjalan kearah dapur dan perlahan-lahan mendekat pada wanita yang tengah sibuk memotong sesuatu ditalenan.


Kania yang begitu sibuk dengan wortel yang ia potong, tidak menyadari jika Rean sudah berada dibelakangnya.


"Sore sayang," ucap Rean tiba-tiba dengan tangan yang sudah melingkar sempurna diperut Kania dan juga kepala yang berada diceruk leher Kania, dengan sesekali mengencup singkat leher Kania.


"Ish, bikin kaget aja tau, untung aku ngga jantungan, coba aja aku punya riwayat penyakit jantung, terus dikagetin kayak tadi," ucap Kania panjang lebar dengan mengelengkan dan menghembuskan nafasnya masih fokus pada hal yang ia kerjakan.


Rean yang mendengar hal itu, hanya terkekeh.

__ADS_1


"Maaf sayang, ngga lagi. Mau masak apa sih?" tanya Rean dengan melihat kearah talenan dimana Kania masih setia memotong, kini bukan wortel, tapi kentang.


"Bikinin kamu sup, dengan sayur tumis kesukaan kamu dulu," ucap Kania dengan menoleh sekilas pada Rean dan kembali memotong kentang.


Rean terdiam, lalu mencium pipi Kania lembut.


"Udah sana, pergi mandi dulu! bau asem gitu malah peluk-peluk," ucap Kania membuat Rean melepaskan tangannya lalu menghirup bau badannya sendiri.


"Tidak bau asem kok sayang, malahan wangi," ucap Rean membuat Kania mengelengkan kepalanya.


"Emangnya kak Rean ngga mau mandi?" ucap Kania yang terdengar seperti ocehan bagi Rean.


"Iya sayang, aku pergi mandi dulu ya," ucap Rean mengecup singkat pipi Kania, kemudian berjalan kearah kamar mereka.


Lima belas menit kemudian.


Rean keluar dari kamar, dengan memakai kaos berwarna hitam lengan pendek dan celana pendek diatas lutut sedikit.


Kania tengah menyusun makanan yang sudah matang diatas meja dengan begitu telaten, Rean yang melihat hal itu, terdiam diambang pintu dapur beserta ruang makan.


'Sampai kapanpun, wanita manapun tidak akan bisa sepertimu, atau pun mengantikanmu. Persetan dengan perjodohan itu, aku akan menyelesaikan hal ini lebih cepat, agar Kania bisa bertemu dengan ayah dan ibu,' ucap Rean dalam hati masih terdiam ditempatnya.


"Ish, kok ditatap terus sih, ada sesuatu dimuka aku?" tanya Kania pada suaminya itu, karena sedari tadi terus menatapnya.


"Tidak ada, lagi pengen aja liat kamu," ucap Rean dengan mengedipkan matanya, mengoda istrinya itu.


Wajah Kania merona merah melihat Rean mengedipkan matanya seperti itu.


"Ya udah, kak Rean makan duluan, aku mau mandi dulu," ucap Kania kemudian berjalan kearah kamar.


Lima belas menit kemudian.


Kania keluar dari kamar dengan memakai pakaian rumahan, lalu berjalan mendekat kearah meja makan.


Kania mrngernyit melihat makanan yang masih utuh diatas meja, sedang Rean fokus pada ponselnya.


"Kak Rean belum makan?" tanya Kania yang kini duduk disamping Rean.


Rean yang mendengar Kania berbicara, segera menaruh ponselnya diatas meja dan menoleh pada istrinya itu.

__ADS_1


"Nungguin kamu sayang, biar kita makan bareng," ucap Rean dengan tersenyum manis pada Kania.


Kania tersenyum mendengar hal itu, kemudian mengambil piring dan mengisinya dengan nasi beserta lauknya.


Kania menaruh piring yang sudah berisi nasi dam lauknya dihadapan Rean, kemudian mengambil untuk dirinya sendiri.


Mereka pun makan, dengan sesekali kaki Rean bermain dibawah meja, membuat Kania sesekali tersedak makanan yang ia kunyah.


Selesai makan, Rean keluar keruang tamu, sedang Kania membereskan meja makan, dan mencuci piring, lalu membuatkan kopi untuk suaminya.


Rean begitu fokus pada laptop dipangkuannya, ia begitu fokus untuk mengerjakan hal yang akan ia gunakan untuk menghancurkan Nira.


Kania berjalan mendekat kearah sofa tempat Rean duduk, ia kemudian menaruh perlahan nampan yang berisikan secangkir kopi dimeja dihadapan Rean.


Rean yang melihat hal itu, dengan cepat menutup laptopnya, takut Kania melihat hal yang ia kerjakan.


"Kak Rean lagi kerjain apa? urusan kantor ya?" tanya Kania berturut-turut dengan duduk disamping Rean.


Rean yang mendengar hal itu, segera menganggukkan kepalanya dengan cepat kemudian mengecup singkat bibir ranum istrinya itu.


"Ya udah, aku tidur duluan deh, ingat untuk tidak tidur terlalu malam," ucap Kania beranjak dari duduknya lalu berjalan kearah kamar setelah Rean menganggukkan kepalanya.


'Maaf, aku tidak bisa memberitahukan hal ini padamu, aku janji akan menyelesaikan hal ini dengan cepat, aku juga akan melindungimu dengan baik,' ucap Rean dalam hati dengan menatap nanar kearah pintu kamar yang tertutup.


Ia pun segera membuka laptopnya dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda, kali ini ia akan membuat bibinya itu tidak berdaya, sehingga ia bisa tau seperti apa rupa dari mafia sia**n itu.


Pukul 23:00.


Rean menutup laptopnya dan melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 11 malam.


Rean beranjak dari duduknya lalu berjalan kearah pintu kamarnya dan membukanya perlahan.


Rean menutup pintu kamarnya perlahan, dan tersenyum melihat Kania yang terlelap dengan wajah polosnya.


Rean naik ketempat tidur dengan hati-hati, takut jika Kania terbangun tiba-tiba akibat ulahnya.


Rean memeluk pinggang Kania, lalu mengecup singkat kening wanita yang sudah menyandang status sebagai istrinya itu dengan mesra.


"Good night, my wife," ucap Rean kemudian menutup matanya perlahan dan beberapa detik kemudian terlelap.

__ADS_1


__ADS_2