
Nira terkejut mendengar ucapan Rean, yang secara terang-terangan menunjukkan ketidak sukaannya, akan keberadaan dirinya disana.
'Ada apa dengan pria penurut ini?' ucap Nira dalam hati, dengan menatap tidak percaya pada Rean yang menatap tajam kearahnya.
"Baiklah, aku akan pergi," ucap Nira kesal kemudian berbalik dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu dan melewati Kania yang berniat masuk dengan setumpuk dokumen ditangannya.
Kania mengernyitkan alisnya melihat raut wajah Nira yang kesal saat keluar dari ruangan Rean.
Kania meletakkan perlahan dokumen itu diatas meja disamping Rean, membuat Rean menoleh kearahnya.
"Ada apa?" tanya Kania bingung karena Rean terus menatapnya dengan raut wajah yang sulit dibaca.
Rean menghembuskan nafasnya kemudian memberi isyarat pada Kania untuk duduk dipangkuannya. Dengan cepat Kania mengelengkan kepalanya, tanda menolak untuk duduk dipangkuan Rean.
"Ayolah," ucap Rean dengan wajah memelasnya, dan Kania dengan pasrah duduk dipangkuan suaminya itu.
Rean tersenyum karena Kania menurut dan duduk dipangkuannya, ia menaruh kepalanya diceruk leher istrinya itu, dengan sesekali menghembuskan nafasnya.
"Udah ih, jangan lama-lama entar ada yang liat," ucap Kania mencoba melepaskan pelukan Rean dipinggangnya.
"Biarkan saja," ucap Rean santai dan semakin memeluk erat pinggang Kania.
"Tidak boleh! Bukankah kak Rean sendiri yang mengatakan untuk merahasiakannya dulu, sebelum orang tua kakak tau," ucap Kania mencoba membujuk Rean untuk segera mengakhiri kegiatannya.
"Tidak akan ada yang datang dan masuk kesini tanpa mengetuk pintu, jadi tidak apa-apa," ucap Rean tidak ingin hal yang ia lakukan berakhir dengan cepat.
Kania menghembuskan nafasnya pasrah, dan tetap membiarkan Rean memeluknya dengan kepala yang berada diceruk lehernya.
Rean memejamkan matanya dengan nafas yang teratur, ia ingin rileks dengan posisinya sekarang, hingga sebuah suara mengagetkan mereka berdua.
"Rean," ucap seseorang yang berdiri diambang pintu dengan melihat kearah dua orang yang berpelukan diatas kursi kebesarannya.
Kania segera berdiri dari duduknya dengan wajah yang memerah dan segera pergi dari ruangan itu setelah sedikit membungkukkan tubuhnya pada pria parubaya yang menangkap basah kegiatan mereka.
Rean menatap tidak percaya pada pria parubaya yang berjalan perlahan mendekat kearahnya, ia menatap Kania yang keluar dari ruangan itu dengan kepala yang menunduk dan wajah yang merona merah.
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan tadi?" tanya pria parubaya itu dengan tatapan intimidasi.
"Tidak ada," ucap Rean singkat dan kembali fokus pada pekerjaannya yang sempat tertunda.
"Apa kau fikir bisa berbohong setelah ketahuan seperti tadi, Rean," ucap pria parubaya itu yang tidak lain adalah Reynal.
Rean yang mendengar hal itu, menghembuskan nafasnya dengan menoleh kearah lain.
"Rean, ayah berbicara padamu," ucap Reynal dan lagi-lagi membuat Rean menghembuskan nafasnya.
"Apa yang ayah lakukan disini?" tanya Rean mengalihkan pertanyaan sang ayah.
Reynal menatap datar pada putranya itu, kemudian menghembuskan nafasnya kasar, putranya itu tidak akan pernah bicara jika ditanya seperti tadi.
"Ayah ingin minta maaf padamu tentang kejadian kemarin," ucap Reynal lirih dengan kepala yang tertunduk dan melupakan pertanyaannya tadi.
"Tidak apa-apa, ayah. Aku sudah memaafkan ayah, hanya saja tidak bisa memaafkan seseorang yang sudah mengatakan jika aku setuju dengan hal itu," ucap Rean dingin membuat Reynal mendongak dan menatapnya tidak percaya.
"Dan juga, aku akan membuktikan pada ayah, jika salah satu dari anggota keluarga William adalah orang yang licik," ucap Rean penuh penekanan, Reynal yang mendengar hal itu tersentak dengan menatap tidak percaya pada Rean, dan fikiran yang menebak siapa yang dimaksud putranya itu.
"Sebaiknya ayah bersiap untuk menerima kenyataan itu, jika saat itu tiba ... aku tidak akan memandang bahwa orang itu keluarga atau bukan!" ucap Rean kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangan itu, meninggalkan Reynal dengan teka-teki fikirannya.
Tiga puluh menit kemudian.
Rean menyandarkan punggungnya pada mobilnya dengan posisi berdiri dan menatap kearah pintu keluar bandara.
Rean mengernyitkan alisnya melihat arloji yang melingkar sempurna dipergelangan tangannya, yang sudah menunjukkan pukul 11:05 siang.
Rean mendongak dan tersenyum kecil melihat seorang pria dengan ransel dipunggung nya yang hanya ia pengang dengan satu tangannya.
"Maaf membuatmu menunggu, kakak," ucap pria itu saat tiba dihadapan Rean, yang tidak lain adalah Xiper.
"Tidak apa-apa, ayo!" ucap Rean kemudian membuka pintu mobil untuk segera meninggalkan tempat itu.
Xiper segera masuk kedalam mobil dan duduk dikursi samping kemudi. Karena ia tahu, jika Rean sangat tidak ingin menjadi sopir seseorang.
__ADS_1
Ditengah perjalanan hanya ada keheningan, hingga tiba-tiba Rean membuka suara yang membuat Xiper menoleh padanya.
"Aku perlu bantuanmu," ucap Rean dengan padangan fokus kedepan tanpa menoleh pada Xiper.
"Ada apa?" tanya Xiper yang sangat penasaran.
"Aku ingin menghancurkan kelompok mafia dikota ini," ucap Rean melirik sekilas pada Xiper yang terkejut.
"What! You are serious?!" ucap Xiper tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
Rean melirik aneh Xiper yang terkejut seperti mendengar kabar duka kematian seorang presiden.
"Ada apa denganmu? bukankah kau sudah biasa melakukan hal itu? jadi untuk apa kau terkejut seperti itu," ucap Rean santai dengan mengelengkan kepalanya tidak percaya.
"Bukan seperti itu. Aku hanya terkejut saja, ku fikir mafia tidak ada dikota ini, tapi ternyata dugaan ku salah," ucap Xiper dengan sesekali menepuk pipinya pelan.
"Aku juga berfikir seperti itu, hingga aku melihatnya sendiri. Mereka bukan asli dari negara ini, mereka orang luar," ucap Rean yang membuat Xiper menghembuskan nafasnya dan mengangguk mengerti.
"Jadi apa yang akan kita lakukan?" tanya Xiper membuat Rean mengedipkan matanya sekilas kemudian berbicara.
"Kita akan menyerang mereka diam-diam, karena kau baru saja tiba hari ini. Kita akan melakukannya besok malam, dan aku ingin kau ada di negara ini hingga minggu depan, karena hari itu akan terjadi hal besar," ucap Rean dengan serius.
Xiper mengangguk mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Rean.
'Sepertinya aku harus mengurus surat keterangan untuk menjadi WNI,' ucap Xiper dalam hati, mulai memikirkan apa yang akan ia lakukan jika masalah ini selesai.
Lima belas menit kemudian.
Rean menghentikan mobilnya ditepi jalan didepan sebuah bagunan tinggi menjulang yang tidak lain adalah hotel.
"Kakak ... kau tidak memintaku untuk tinggal disini 'kan?" tanya Xiper dengan ekspresi wajah yang sulit dibaca.
"Menurutmu?" ucap Rean bertanya kembali pada Xiper.
'Yang benar saja!' ucap Xiper dalam hati, tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
__ADS_1
"Oh ayolah, kak. Bukankah kau memiliki apartemen, tidak mungkin 'kan anak orang kaya tidak memiliki apartemen pribadi?" ucap Xiper dengan raut wajah memelasnya.
Rean yang melihat hal itu, menghembuskan nafasnya dan segera menyalakan mesin mobilnya, menancap gas keapartemennya.