
Pukul 7 pagi di kantor Reynal William.
Saat ini, Reynal berada di ruang rapat bersama dengan Rean yang berdiri di sampingnya dengan beberapa orang yang menatap bingung pada Rean.
"Sekali lagi saya perkenalkan pada kalian semua, Rean William, dia putraku dan akan menjadi direktur di perusahaan ini mulai hari ini!" ucap Reynal membuat beberapa orang di ruangan itu saling bertukar pandang.
"Aku hanya ingin memberitahukan hal itu pada kalian, sekarang kalian bisa kembali ke ruangan kalian masing-masing." ucap Reynal lagi pada para ketua departemen perusahaannya.
Orang yang berjumlah 10 orang itu keluar dari ruang rapat dan ketika sudah berada di luar ruang rapat, mereka pun mulai berbisik.
"Jadi itu putra tuan Reynal, sepertinya sangat berwibawa ya,"
"Aku baru pertama kali melihatnya dan dari sorot matanya, sepertinya dia orang yang tegas."
"Tapi kenapa kita tidak pernah melihatnya saat acara perusahaan ya?"
"Aku rasa dia orang yang begitu sibuk, jadi tidak bisa hadir di setiap acara perusahaan,"
Begitulah pembicaraan para ketua departemen yang keluar dari ruang rapat dengan membicarakan Rean putra bos mereka.
* * *
Kini Rean berada di ruangan sang ayah, ruangan yang sekarang menjadi miliknya yang akan ia tempati hingga tugas yang ia kerjakan selesai yaitu menyingkirkan Nira William.
"Baiklah, ayah akan pulang, jika ada hal yang kamu butuhkan, beritahu saja pada ayah," ucap Reynal menepuk pundak putranya itu.
Rean tersenyum dan mengangguk mengerti dengan apa yang ayahnya ucapkan.
"Kalau begitu, ayah pulang dulu," ucap Reynal dan lagi-lagi Rean memgangguk.
"Hati-hati di jalan, ayah," ucap Rean dan Reynal pun mengangguk kemudian keluar dari ruangan itu.
Setelah kepergian Reynal, Rean terdiam kemudian menatap sekeliling ruangan itu dan tersenyum.
'Aku akan membuatmu tau apa artinya jika membangunkan singa tidur, Nira William. kau ingin bermain-main dengan api, maka api itu akan membakarmu hingga habis tak tersisa,' ucap Rean dalam hati bersiap untuk mengangkat bendera kemenangan.
* * *
Pukul 1 siang.
__ADS_1
Rean masih berkutak denga dokumen di hadapannya tanpa berniat untuk beristirahat.
Tiba-tiba pintu ruangan Rean terbuka dan terdengar suara sekertarinya yang mencoba menghentikan seseorang yang menerobos masuk tanpa ijin.
"Nyonya, saat ini direktur tidak ingin di ngangu, nyonya," ucap sekertaris Reynal atau bisa di bilang sekertaris Rean sekarang.
Pintu terbuka dengan keras membuat Rean mendongak dan menatap seseorang di ambang pintu yang menatapnya penuh marah.
"Maaf, pak. saya tidak bisa menghentikan nyonya Nira untuk masuk," ucap sekertaris itu dengan menundukkan kepalanya merasa bersalah.
Rean hanya berwajah datar kemudian memberi isyarat pada sekertarisnya untuk pergi.
Sekertaris itu pergi dan kemudian Nira masuk ke ruangan Rean dan kemudian mengebrak meja membuat Rean menatap wanita itu datar.
"Apa maksudmu, Rean. bukankah kamu tidak bisa mengurus urusan kantor, lalu kenapa kamu sekarang ingin menjadi direktur!" ucap Nira emosi sementara Rean hanya menatap wanita itu tanpa bergeming sedikit pun.
"Aku hanya ingin membantu Ayah di kantor, Tante. jadi apa salahnya?" ucap Rean berpura-pura seolah tidak tau.
Nira mengepalkan tangannya berusaha untuk menahan emosinya yang sudah sampai di ubun-ubun dan siap meledak.
Nira hampir saja menjadi direktur di perusahaan itu, tapi tiba-tiba Rean mengajukam diri untuk bekerja membuatnya gagal mendapatkan posisi yang akan membuatnya menjadi penguasa di keluarga William.
Rean berusaha untuk menahan tawanya melihat ekspresi Nira yang kesal dan itu terlihat lucu di mata Rean.
"Aku merasa sudah saatnya untuk membantu ayah di perusahaan, jadi ya, aku rasa sekarang saat yang tepat, dan juga aku tidak ingin merepotkan tante terlalu bekerja di kantor bahkan harus lembur, itu 'kan tidak baik untuk kesehatan," ucap Rean panjang lebar membuat Nira semakin mengepalkan tangannya.
"Oh iya, tante. saya masih banyak pekerjaan, apa tante bisa keluar dari ruangan saya, saya harus segera mengerjakan hal ini!" ucap Rean lembut namun sedikit memerintah.
Nira keluar dari ruangan itu dengan menghentakkan kakinya kesal kemudian pergi dari kantor itu menuju ke suatu tempat untuk membantunya menyelesaikan masalahnya.
Rean memejamkan matanya dengan tertawa tanpa suara, perutnya benar-benar sakit akibat menahan tawanya melihat Nira yang begitu lucu menurutnya dengan wajah yang merah padam menahan emosinya.
Rean segera memgatur nafasnya kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu ruangannya membuat Rean berbicara dan orang di luar pintu pun masuk ke dalam.
Tok ... tok ... tok.
"Masuk!" ucap Rean tanpa menoleh ke arah pintu.
__ADS_1
Seseorang mendekat ke arah meja Rean dengan membawa nampan yang berisi teh manis untuk Rean.
"Ini tehnya, pak," ucap seseorang dengan menaruh cangkir teh di meja Rean.
Rean menghentikan tangannya yang sedang mengerjakan dokumen di hadapannya dan kemudian menoleh pada sumber suara yang seseorang yang begitu ia rindukan.
Rean terdiam saat melihat Kania menaruh cangkir teh iti di atas meja kemudian berniat keluar dari ruangan itu tapi di hentikan oleh Rean.
"Berhenti!" ucap Rean membuat Kania menghentikan langkahnya kemudian menoleh pada Rean.
"Iya, pak?" ucap Kania sedikit menundukkan kepalanya.
"Si ... siapa namamu?" ucap Rean seolah-olah tidak mengetahui nama Kania.
Kania tersentak kemudian menjawab pertanyaan Rean.
"Kania, pak," ucap Kania dan Rean mengangguk mengerti.
"Ganti teh ini, saya tidak suka terlalu manis," ucap Rean kemudian kembali fokus pada dokumen di hadapannya.
Kania terdiam mendengar perkataan Rean dan mengernyit bingung saat Rean mengatakan bahwa teh yang ia buat manis padahalkan Rean belum mencobanyan bagaimana ia bisa tahu jika teh itu manis atau tidak.
Kania menghembuskan nafasnya kemudian berjalan ke arah meja Rean dan kembali membawa cangkir teh itu keluar dari ruangan Rean berniat untuk membuatkan yang baru.
Beberapa menit kemudian.
Kania kembali mengetuk pintu dan kemudian masuk saat Rean mempersilahkannya untuk masuk.
Kania mendekat ke arah meja Rean dengan nampan yang berisi cangkir teh yang baru saja ia buat.
Kania meletakkan cangkir teh itu dan belum satu langkah ia melangkahkan kakinya, Rean kembali berbicara.
"Ganti lagi, saya tidak suka terlalu pekat," ucap Rean tanpa menoleh ke arah Kania.
Kania terkejut dengan apa yang Rean katakan kemudian kembali mengambil cangkir teh itu lalu membawanya keluar dari ruangan Rean.
Kania kembali mengetuk pintu dan kemudian masuk dengan cangkir teh di nampan yang ia bawa dan tentu saja teh yang baru saja ia buat.
Kania menaruh cangkir itu di atas meja kemudian berniat pergi dan baru 2 langkah ia melangkahkan kakinya, lagi-lagi Rean berbicara membuat Kania kesal dan mengeluarkan unek-uneknya yang sedari tadi ingin Kania keluarkan.
__ADS_1
"Ganti lagi, Kurang manis," ucap Rean tanpa menoleh ke arah Kania.
"Bagaimana bapak bisa tau, itu kurang manis padahalkan bapak belum meminumnya dan tadi, teh yang saya bawa sama sekali tidak pekat tapi bapak mengatakan jika teh itu pekat, sebenarnya mau bapak apa sih!" ucap Kania mengeluarkan unek-uneknya yang sedati tadi ingin ia keluarkan.