JENDRAL MENJADI TUAN MUDA

JENDRAL MENJADI TUAN MUDA
XIPER BODOH


__ADS_3

Rean dan Xiper menghembuskan nafasnya, kemudian melihat dua mayat yang tergelatak ditanah, akibat ulah mereka.


"Kita ubah rencana awal," ucap Rean tiba-tiba membuat Xiper mengernyit heran.


"Maksud kakak?" tanya Xiper dengan kening yang mengkerut.


"Kita akan menyerang secara langsung!" ucap Rean membuat Xiper terdiam.


Xiper menghembuskan nafasnya mendengar hal itu, lalu segera mengangguk tanda mengerti.


"Baiklah," ucap Xiper dan mereka pun segera bersiap, dengan hanya membawa pistol dan belati dipinggang mereka.


Rean dan Xiper mulai berjalan mengendap-gendap mendekat kearah gudang tua itu. Rean memberi isyarat pada Xiper untuk berhenti dan segera merapatkan punggung mereka pada tembok.


Rean mengambil belati dipinggangnya dan bersiap membidik kesalah satu penjaga yang berada dibelakang gudang itu.


Rean melemparkan belatinya dan tepat mengenai leher penjaga itu hingga tumbang seketika.


"Siapa?" ucap salah satu teman penjaga itu dan segera menghampiri sumber suara.


Ia terkejut melihat temannya telah tumbang, hingga terdengar suara tembakan membuat para penjaga lainnya terkejut.


DOR!


Satu tembakan lepas dan tepat mengenai kepala pria itu hingga terjatuh diatas tubuh pria yang dibunuh oleh Rean.


"KITA DISERANG!" teriak salah satu dari penjaga itu dan mulai menembak membabi buta kearah suara tembakan sebelumnya.


Suara tembakan mengema terus menerus, membuat seseorang didalam gudang merasa terganggu.


"Ada apa?" tanyanya dengan kesal pada salah satu bawahannya.


"Kita diserang tuan," ucap bawahannya membuat pria itu berdecak kesal.


"Sia**n! Siapa yang berani menyerang kita!" ucap pria itu dengan kesal dan tangan yang terkepal.


Sedang diluar gudang itu, Rean dan Xiper membalas tembakan para mafia itu. Karena keadaan dimana kurangnya pencahayaan ditempat itu, membuat Rean dan Xiper diuntungkan.


Tembakan Rean dan Xiper terus melesat sempurna mengenai kepala lawannya, hingga hanya menyisahkan beberapa.


"Aku akan maju duluan," ucap Rean karena peluru pada pistolnya telah habis.

__ADS_1


Xiper mengangguk mengerti dan kembali menembakkan peluru pada musuhnya.


BUK!


Satu bogem mentah Rean mendarat pada salah satu pria itu, membuat teman-temannya menoleh dan berniat menembak Rean, tapi Xiper dengan cepat melepaskan pelurunya pada orang yang ingin menembak Rean.


BUK!


BUK!


BUK!


Rean menghajar membabi buta pada musuhnya, hingga hanya menyisahkan satu orang saja.


Pria itu berusaha menarik pelatuk pistolnya, tapi sama sekali tidak ada yang terjadi. Rean menendang perut pria itu hingga tersungkur ketanah, dan dengan cepat Rean menindih tubuh pria itu, menghajar wajahnya dengan membabi buta tanpa henti.


"Sepertinya dia sudah mati," ucap Xiper yang berjalan mendekat kearah Rean dengan sesekali berjongkok, untuk mengambil pistol milik musuhnya yang masih memiliki peluru.


Rean menghentikan tangannya lalu bangkit dari atas tubuh pria itu, yang kini wajahnya telah hancur.


Xiper menyodorkan belati milik Rean yang ia ambil dari mayat pria tadi, Rean menerimanya dengan senang hati lalu menatap kearah pintu gudang.


"Kita selesaikan segera," ucap Rean dan berjalan dengan santai kearah pintu gudang itu diikuti oleh Xiper dibelakangnya, karena semua penjaga diluar gudang itu telah terbunuh, tinggal yang didalam saja itupun tidak seberapa menurur Rean dan Xiper.


* * *


Ia memberi perintah pada 10 orang bawahan didalam gudang itu untuk bersiap, karena sepertinya akan ada orang yang membuka pintu gudang yang tertutup itu.


Sepuluh orang itu mengarahkan senapan dan pistol mereka kearah pintu gudang itu, bersiap jika seseorang membuka pintu itu dan akam menembak tanpa henti.


BRAK!


Pintu terbuka dan mulai terdengar suara tembakan digudang itu, mereka terkejut saat melihat apa yang membuka pintu itu, dan tidak lain mayat yang sudah tergelak tak bernyawa ditanah.


Pria itu terdiam melihat hal itu, kemudian bangkit dari duduknya dan terkejut melihat dua orang tengah berdiri didepan pintu.


Sepuluh orang itu kembali mengarahkan senapan dan pistol mereka pada dua tamu tak diundang itu, sedang pria itu menatap lekat pada salah satu orang yang berdiri diambang pintu dengan pakaian yang terkena cipratan darah.


"Rean William," ucap pria itu dengan menatap dingin pada Rean, sedang Xiper hanya terdiam dan memasang wajah dinginnya.


"Kau mengenalku?" tanya Rean dengan menunjuk dirinya sendiri, membuat Rean mengernyit bingung dengan kakaknya itu.

__ADS_1


Pria itu memberi isyarat pada sepuluh bawahannya untuk menurunkan senjata mereka, mereka patuh dan kini menatap datar kearah Rean dan Xiper.


Pria itu melangkahkan kakinya kedepan, lalu berbicara, "Siapa yang tidak mengenalmu, putra tunggal keluarga William, pewaris satu-satunya. Meski masih ada orang lain selain dirimu," ucapnya dengan nada datarnya itu.


"Maksudmu rubah sia**n itu. Apa yang ia janjikan padamu, sehingga membuat ketua mafia harus turun tangan mengatasi hal yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kelompok mafia," ucap Rean dengan nada dinginnya, membuat pria itu hanya tersenyum kecil.


"Ia menjanjikan sesuatu yang menarik, yaitu kekuasaan. Kekuasaan yang akan menjadi milikku setelah membunuhmu dan keluargamu," ucap pria itu santai membuat Rean berdecak.


"Cih, aku peringatkan padamu untuk berhenti. Jika tidak ... maka jangan salahkan aku untuk bertindak lebih kejam darimu," ucap Rean kemudian berbalik diikuti oleh Xiper.


Pria itu mengepalkan tangannya, dan terkejut saat melihat Rean mengangkat tangannya dengan memengang sesuatu, yang ia yakini jika hal itu akan memicu ledakan.


"Sia**n," ucap pria itu berniat berlari keluar bersama bawahannya, tapi .....


DUAR!


Suara ledakan terdengar, membuat senyum diwajah Rean dan Xiper semakin mengembang.


"Rencana berhasil," ucap Rean lalu bertos riah dengan Xiper.


"Bagaimana cara kita menghilangkan bau amis ini?," tanya Xiper yang bingung untuk menghilangkan bau darah yang melekat ditubuhnya.


Rean yang mendengar hal itu menghembuskan nafasnya, ia kesal dengan adiknya yang mendadak seperti orang bodoh.


"Bukankah tadi kau bawa farfum," ucap Rean menoleh kearah Xiper.


Xiper yang mendengar hal itu mengaruk tengkuknya yang tidak gatal, bingung harus mengatakan seperti apa pada kakaknya itu.


"Jangan bilang jika kau lupa membawanya," ucap Rean penuh selidik yang hanya dibalas senyuman penuh penyesalan oleh Xiper.


Rean menepuk keningnya, percuma mereka membawa baju ganti jika tidak membawa farfum, karena aroma darah itu akan tetap ada ditubuh mereka.


"Dasar bodoh!" ucap kesal Rean pada Xiper.


"Sebaiknya Kania sudah tidur saat kita tiba disana," ucap Rean kemudian bergegas menghampiri mobilnya, dimana sudah ada baju ganti mereka disana.


* * *


Dua puluh menit kemudian.


Rean dan Xiper bertukar pandang satu sama lain, sudah lebih dari lima menit mereka berada didepan pintu apartemen, ingin masuk tapi takut jika Kania masih bangun dan menunggu mereka diruang tamu.

__ADS_1


"Kakak, kapan kita masuk?" pertanyaan yang keluar dari mulut Xiper membuat Rean mengepalkan tangannya kesal.


__ADS_2