JENDRAL MENJADI TUAN MUDA

JENDRAL MENJADI TUAN MUDA
SERANGAN


__ADS_3

Pukul 6 pagi.


Rean terbangun dari tidurnya dan segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Rean keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah dan kemudian berjalan ke tempat tidur untuk segera memakai bajunya.


Selesai Rean memakai baju, Rean segera memakai jaketnya kemudian mengambil tasnya dan kemudian keluar lalu mengunci kamarnya.


Rean memasuki lift dan memencet tombol lift ke lantai dasar.


Rean sesekali melihat arlojinya dan tidak lama kemudian, pintu lift pun terbuka.


Rean berjalan ke arah meja resepsionis untuk melakukan cek out karna nanti malam dia akan tidur di apartemennya.


Rean memberikan kunci pada resepsionis itu kemudian keluar dari hotel lalu mencari taksi untuk segera ke apartemennya.


Rean kini dalam perjalanan ke apartemennya yang bisa di bilang terletak sedikit jauh dari pusat kota New York.


20 menit kemudian.


Rean turun di salah satu gang yang tidak jauh dari apartemennya, Rean kemudian membayar taksi dan berjalan sedikit menjauh setelah taksi itu pergi.


Rean memasuki gang kecil itu dan tidak lama setelah itu, muncul 7 orang berbaju hitam dengan senjata di masing-masing tangan mereka.


Kini Rean terkepung oleh kumpulan pembunuh itu, bukannya takut, Rean hanya tersenyum kecil kemudian menjatuhkan tasnya dan merengangkan ototnya dan menatap meremehkan pada para pembunuh itu.


Sedetik kemudian, terjadi perkelahian antara Rean dan para pembunuh itu.


Dor.


Suara tembakam mengema di gang kecil itu, Rean mememgang bahunya yang terkena timah panas dan kemudian menatap tajam pada pria yang menembaknya.


Rean berlari mendekati pria itu yang menembakkan pistolnya tapi Rean dengan lihai menghindar dan ketika Rean sudah tiba tepat di hadapan pria itu, bogem mentah pun melayang dan membuat pria itu terlempar cukup jauh hingga mengenai tembok.


15 menit kemudian.


Rean mengatur nafasnya yang tidak beraturan dan kemudian melihat 6 orang pembunuh yang tewas dan satu lagi yang masih hidup dengan luka di tangan dan kakinya yang di sebabkan oleh Rean.

__ADS_1


Rean berjalan mendekat membuat pria itu gemetar ketakutan.


"Berapa yang wanita itu berikan pada kalian," ucap Rean dingin pada pembunuh itu.


Bukannya menjawab, pembunuh itu malah meludah membuat Rean kesal dan kemudian suara tembakan pun lagi-lagi mengema di gang kecil itu.


pembunuh itu tewas dengan timah panas yang tepat pengenai kepalanya yang di tembakkan oleh Rean.


Rean meninggalkan gang kecil itu kemudian berjalan dengan keadaan tangan kanan yang terus menerus mengeluarkan darah akibat peluru yang tadi mengenainya.


'Tubuh ini terlalu lemah, baru melawan 7 orang saja sudah lelah,' ucap Rean merutuki tubuhnya yang tidak sesuai dengan tubuhnya sebelumnya.


"Sepertinya aku harus melatih tubuh ini agar bisa seperti tubuhku sebelumnya." ucap Rean lagi.


15 menit kemudian.


Rean tiba di bangunan apartemennya kemudian memencet tombol lift ke lantai atas di mana apartemennya berada.


Pintu lift terbuka, Rean berjalan keluar dari lift menuju pintu apartemennya.


Untung saja kondisi bangunan itu saat ini sedang sepi, jika tidak, mungkin Rean akan mendengar gosip dari orang-orang yang tinggal di sana.


Pintu terbuka, Rey atau Rean tersenyum kemudian masuk ke dalam kemudian menekan saklar lampu.


Rean tersenyum melihat suasana yang masih sama seperti sebelum ia pergi. Rean melemparkan tasnya di atas sofa kemudian berjalan ke arah dapur untuk mengambil pisau.


Rean membuka bajunya meski merasa sakit di bagian lengannya yang terkena peluru.


Rean berusaha untuk mengeluarkan peluru itu dari lengannya mengunakan pisau kecil yang ia ambil di dapur tadi.


15 menit kemudian.


Peluru itu pu keluar dengan cepat Rean mengambil kain yang sudah ia siapkan lalu menakan lukanya, Rean berusaha untuk mengatur nafasnya, baginya mengobati dirinya sendiri adalah hal biasa.


Rean membesihkan lukanya kemudian mengoleskannya dengan obat merah lalu mengambil perban yang sudah ia siapkan tadi.


Rean memgigit salah satu ujung perban sementara yang satunya ia gunakan untuk melilit dan menutup lukanya kemudian mengikatnya.

__ADS_1


Setelah selesai, Rean membersihkan semua perlengkapan yang ia gunakan tadi. Rean menaruh semuanya ke tempatnya masing-masing kemudian membersihka sedikit noda darah yang terciprat ke lantai.


Setelah selesai, Rean segera memakai bajunya yang berada di dalam lemari kemudiam bersiap-siap untuk keluar membeli bahan makanan.


Rean menutup pintu apartemennya kemudian berjalan ke lift lalu memencet tombol lift.


Rean menghembuskan nafasnya lalu kemudian bersandar lalu memejamkan matanya.


'Tubuh ini benar-benar lemah, Pantas saja rubah ekor sembilan itu dengan mudah menyingkirkannya,' ucap Rean dalam hati dengan menyebut Nira dengan sebutan Rubah ekor sembilan.


'Saat pulang dari sini nanti, aku akan pergi ke jim setiap pulang dari kantor dan soal Kania, aku akan mendekatinya dengan tubuh ini, ku harap semua akan berjalan lancar,' ucap Rean lagi dalam hati masih dengan memejamkan matanya.


Lift terbuka, Rean segera keluar untuk ke supermarket terdekat dengan Apartemennya karna dirinya benar-benar sudah lapar.


30 menit kemudian.


Rean telah kembali dari supermarket dan kini tengah berjalan kembali ke apartemennya.


Rean memencet tombol lift untuk ke lantai atas, Saat lift ingin tertutup, tiba-tiba seorang wanita masuk dengan nafas yang tidak beraturan dan bisa Rean pastikan bahwa wanita itu habis berlari.


Wanita itu memencet tombol lift kemudian berdiri di samping Rean dengan nafas yang masih memburu.


Dapat Rean lihat jika wanita itu sedang cemas dengan tangan yang terus meremas ujung bajunya.


Lift terbuka, Rean segera keluar dari lift dan berjalan ke arah pintu apartemennya lalu membuka pintu dan sekilas melirik ke samping dan melihat wanita yang tadi bersamanya di dalam lift sedang membuka pintu di samping apartemennya.


Rean segera masuk tanpa berniat menyapa, Rean meletakkan semua belanjaannya yang lumayan banyak karna dirinya akan tinggal selama 4 hari kedepan, karna harus mengurus surat apartemennya untuk di pindahkan atas namanya yang sekarang.


Rean segera memakai celemek untuk segera memasak karna dirinya ingin segera makan.


30 menit kemudian.


Masakan Rean pun sudah siap untuk di makan, Rean segera menyusun makanannya di atas meja dan menyiapkan piring.


Rean kemudian mencuci tangannya lalu duduk di kursi dan kemudian menyendok nasi ke piringnya tidak lupa lauknya yang berupa Ayam tumis kecap kesukaannya tidak lupa dengan sayur sup yang ia masak.


Saat Rean berniat menyendokkan makanan ke mulutnya, Tiba-tiba terdengar suara keributan dari apartemen sebelah membuat Rean mengerang kesal kemudian bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah pintu.

__ADS_1


Rean membuka pintu dan keluar kemudian berjalan mendekat ke arah pintu apartemen sebelah yang tidak lain milik wanita tadi.


Rean terkejut saat mendapati Pintu apartemen yang tidak terkunci, tanpa permisi Rean masuk dan terkejut dengan apa yang di lihatnya.


__ADS_2