
Hujan yang turun di bulan Juni
Memberikanku sebuah pelangi.
Aku tak suka hujan.
Aku sangat benci dingin.
Ada rasa rindu yang tak bisa kutahan.
Meski aku dikelilingi ratusan teman.
Aku selalu menutup pintu.
Ku harap aku bisa mengembalikan waktu.
Aku membuka jendela.
Dan kamu ada di sana.
Di dalam hidupmu, ku harap aku bisa menjadi matahari.
Namun, ternyata aku hanya salah satu bagian dari galaksi.
Aku tak akan serakah.
Aku tak akan meminta lebih.
Aku ingin terus bersamamu.
Di dalam sisa hidupku.
Semua orang terpukau, mendengar puisi yang dibacakan oleh Alrez di atas panggung termasuk Dea yang menyaksikannya dari kursi belakang. Mereka semua bersorak, bertepuk tangan, memujinya berkali-kali. Mendengarnya saja, Dea langsung tahu puisi itu ditujukan untuk siapa. Alrez masih memiliki rasa pada Sonya. Dia selalu mengutarakannya lewat puisi. Wajar jika ada banyak orang yang bertepuk tangan. Mereka tidak menduga Alrez bisa selembut ini. Sifatnya ini tertutup oleh tindakannya yang blak-blakan dan selalu memukuli temannya di sekolah.
Dari atas panggung, Alrez melihat Sonya sedang memotretnya di kursi belakang. Sonya tersenyum untuknya. Sonya bahagia untuknya. Dan Sonya bertepuk tangan untuknya. Setelah melihatnya pingsan pagi ini, akhirnya Alrez bisa melihat senyumnya lagi. Dia tak berharap menjadi juara. Melihatnya tersenyum seperti itu, baginya sudah seperti hadiah yang tak tergantikan.
"Kamu hobi sekali memotret wajah orang tanpa izin. Ternyata kamu ini sangat menyeramkan." ucap Aratha, berdiri di sebelah Sonya.
"Ini momen langka. Baru kali ini aku lihat Alrez membacakan puisinya di depan orang banyak. Biasanya, dia selalu menolak untuk menunjukkan bakatnya di depan umum.” ucap Sonya sembari melihat-lihat hasil fotonya. "Kinan baru saja mengajariku cara memotret foto dan menyimpannya dengan benar. Jadi aku bisa mengambil gambar apapun saat ini."
"Hah? Jadi, selama ini kamu nggak pernah tahu cara memakai kamera? Wahh, kamu ini kuno sekali. Aku curiga kamu tinggal di hutan." cibir Aratha, mengejek.
__ADS_1
"Wah, aku nggak tahu apakah kamu berusaha memujiku atau mengejekku dengan bahasa hewan. Soalnya aku nggak paham yang kamu katakan." Sonya tersenyum mengejek, tak ingin kalah dari ucapan Aratha.
"Bicara kamu pintar juga. Harusnya ada kompetisi debat di sini. Aku yakin nggak ada yang bisa ngalahin kamu."
”Kamu yakin begitu? Kayaknya kamu satu-satunya cowok yang nggak akan ngalah sama cewek. Siapa yang ngajarin kamu begini?! Dasar galak!” Sonya tiba-tiba membentak sambil mengacungkan jari telunjuknya.
”Lah? Kok tiba-tiba.” batin Aratha heran. Dia menaruh jaket parkanya di atas kepala Sonya sampai menutupi setengah dari tubuhnya. "Kayaknya hari ini aku nggak punya kesempatan buat bicara banyak sama kamu. Pokoknya pakailah itu! Awas saja kalau kamu pingsan lagi di sembarang tempat!"
Setelah mengatakannya, Aratha pergi meninggalkan Sonya bersama dengan jaketnya yang sengaja di tinggal. Sonya menyentuh jaket hitam yang lembut dan tebal di atas kepalanya. Ini bukanlah kali pertama Aratha begitu perhatian padanya. Pastinya, Sonya merasa sangat senang dan semua itu menambah rasa sukanya pada Aratha.
"S- Sonya."
Suara Alrez mengalahkan suara keramaian yang ada di sekitarnya. Seketika semuanya hening. Tak ada satupun suara yang terdengar padahal, matanya dengan sangat jelas melihat orang-orang sedang saling berbicara.
Sonya memberanikan diri untuk berbalik dan menghadap Alrez. Meskipun wajahnya tampak sedikit ketakutan, Sonya berusaha untuk tetap tenang saat menghadapinya. Terlebih, dia lah yang memulai duluan dengan memberi perhatian padanya. Dia juga harus berterima kasih pada Alrez karena sudah membawanya ke UKS pagi tadi.
"Kamu, sudah mendingan?" canggung Alrez, tak biasanya.
Sonya mengangguk. Dia menggantungkan jaketnya di atas pundak lalu menutup kameranya. "Terima kasih untuk pagi ini dan seterusnya" ucap Sonya pelan.
Keduanya terlihat saling canggung. Tak juga memulai sebuah pembicaraan. Matanya saling teralihkan dan menolak untuk saling menatap. Rasanya sangat berbeda saat mereka masih bersama. Tak ada jarak yang tercipta. Tak ada kata yang tertahan di tenggorokan.
"Nggak ada lagi yang ingin aku katakan. Aku pergi dulu." sesegera mungkin, Sonya berbalik membelakanginya. Tak ingin kehilangan kesempatan untuk berbicara dengannya, Alrez langsung berlari ke arah Sonya lalu menahan pergelangan tangannya dengan tiba-tiba.
Alrez langsung melepaskan tangannya dan berdiri tegak. Dari gerakannya, Alrez terlihat canggung karena tangannya terus mengusap tengkuk lehernya dan mengalihkan perhatiannya.
"Sore ini,..."
"Sore ini? Kenapa?"
"Kamu mau pulang bersama?"
Sonya begitu terkejut mendengar beberapa patah kata yang keluar dari mulut Alrez. Namun, dia tidak begitu yakin. Mungkin saja dia salah bicara atau lidahnya terpleset sehingga tidak sengaja mengatakannya.
"Ahh, kayaknya kamu salah bicara. Aku yakin itu." canggung Sonya.
"Ini serius. Aku mau pulang bersama Sonya. Mengantarkannya sampai ke depan pintu." ucap Alrez dengan alis sedikit berkerut bertanda kalau dia tidak main-main.
...~o0o~...
...Untuk waktu yang tak bisa diulang....
__ADS_1
...Untuk waktu yang tak bisa dikembalikan....
...Aku marah karena tak bisa menghargai mu....
...Padahal kamu adalah sesuatu yang sangat berharga dan tidak bisa dibeli dengan uang....
...~o0o~...
...Untuk kesempatan yang jarang terjadi dua kali....
...Untuk kesempatan yang membuat semua orang lega setelah mendengarnya....
...Aku merasa sedang dihukum karena tak bisa menggunakan mu dengan baik....
...Padahal kamu, adalah sesuatu yang paling diharapkan ketika seseorang berada di posisi terburuk....
...~o0o~...
Hari ini Alrez sengaja tidak membawa kendaraan. Diam-diam, Alrez ingin menikmati waktu berjalan bersama dengan Sonya. Mengingat masa lalu yang tak akan kembali, mungkin saja ini menjadi sesuatu yang langka untuknya dan sangat berharga dalam hidupnya.
"Biasanya kamu membawa gitar dan memainkannya secara blak-blakan di kelas. Gitar kamu kemana?" tanya Sonya.
Alrez menjawab sesaat kemudian, "Aku merusaknya sendiri."
Sonya terkejut. "Kenapa kamu merusaknya?"
"Sudah dua bulan lalu. Kamu pasti ingat kejadian saat aku melakukan hal buruk padamu. Tapi tolong, jangan katakan ini pada semua orang,..."
"... Sehari sebelumnya, Ayah dan Ibuku bercerai. Aku tinggal bersama Ayah dan Adik perempuanku tinggal bersama Ibu. Kejadian itu, adalah sesuatu yang nggak pernah bisa aku bayangkan. Saat itu, aku nggak bisa mengendalikan amarahku sendiri. Ayahku memiliki temperamen yang buruk, pemabuk dan selalu berjudi. Kalau aku pulang telat sedikit saja, Ayahku langsung mengambil kayu untuk memukuliku sampai berdarah-darah. Aku kesal karena tidak bisa melawan. Karena itu, menghancurkan gitarku sendiri. Lalu, besoknya gosip buruk tentangmu menyebar. Aku masih tidak bisa mengendalikan amarahku. Jadi, aku menyakitimu."
Mendengarnya saja sudah cukup membuat Sonya menangis. Sonya tak peduli seperti apa wajahnya saat ini, sederas apa air mata yang mengalir di pipinya dan jawaban apa yang diberikan Alrez setelah melihat wajahnya yang mungkin terlihat buruk.
"Kenapa kamu nggak bilang dari awal? Aku nggak tahu kalau saat itu, kamu sedang mengalami hal-hal yang buruk."
Alrez tak bisa membiarkan Sonya menangis di depan umum. Dia menutup wajah samping Sonya dengan telapak tangannya. Sedangkan tangannya yang lain mengusap pipinya dengan sapu tangan putih.
"Kamu gampang banget nangis. Aku pernah bilang ke kamu, jangan tunjukin air mata kamu ke semua orang." ucap Alrez, serius menatap Sonya yang terus menangis.
"Tapi, aku nggak bisa bayangin apa yang selama ini kamu alami di rumahmu sendiri. Rumah yang seharusnya menjadi tempat hangat dari dinginnya dunia luar, berubah menjadi tempat dimana kesengsaraan itu terjadi. Maaf karena saat itu, aku nggak tahu kamu sedang melewati masa-masa sulit."
"Aduh, nangisnya udahan dong. Selain sapu tangan ini, aku nggak punya apa-apa lagi buat ngilangin air mata kamu. Harusnya aku yang minta maaf karena sudah melampiaskannya ke kamu."
__ADS_1
Alrez terus mengusap wajah Sonya sampai akhirnya dia memutuskan untuk mengusapnya sendiri dengan lengan pakaiannya. "Tapi, aku juga nggak tahu kenapa aku nggak bisa berhenti menangis."
Mencoba menghiburnya, Alrez menarik tangan Sonya lalu berkata, "Ayo pergi. Kamu aku traktir es krim."