Jingga Untuk Aratha

Jingga Untuk Aratha
Bab. 27 - Saudara Terbaik


__ADS_3

Untuk Aretha.


Aku tahu kamu kesal padaku. Aku tahu kamu ingin aku cepat-cepat mati. Dan aku tahu, apa yang selalu kamu teriaki dalam hatimu. Tapi, aku tidak pernah menganggap kamu serius mengatakannya.


*Setiap hari, rasa sakit ini semakin membuat kesadaranku memudar. Kematian selalu terbayang dalam pikiranku. Aku bosan dengan jarum suntik yang katanya bisa membuatku jadi lebih baik. Dan rasa obat yang terasa sangat pahit sampai aku ingin memuntahkannya.


Tetapi, kenapa rasanya malaikat kematian berusaha menarik tanganku, keluar dari ruangan yang membuatku tersiksa? Mengapa malaikat kematian selalu menggodaku dengan rasa sakit yang tak berujung? Mengapa mereka merasa bosan karena terus menungguku untuk menyerah?


Meski begitu, aku tetap yakin aku bisa hidup sampai usia seratus tahun. Jangan pernah meremehkan kemampuan seorang Aratha yang terus memperjuangkan hidupnya, meski berada di ujung tanduk*.


Suatu hari nanti, aku ingin melihat Aretha bahagia, tumbuh dewasa, kemudian menikah dengan wanita yang dicintainya, lalu memiliki anak dan hidup bahagia selamanya.


Aku pun demikian.


Tapi, keinginanku untuk tidak menyerah malah membuat keadaanku semakin parah. Aku menjerit, melihat wajahku yang pucat di depan cermin. Lidahku tidak bisa merasakan gurih, manis, asin dan pedas dari makanan yang masuk ke dalam mulutku.


Aku tak bisa berdiri, untuk menyusun semua yang sudah tak berbentuk. Seperti gelas kaca yang aku pecahkan setiap hari.

__ADS_1


Aku rindu rasa makanan Bibi. Aku rindu rasa kue yang selalu dikirimkan Bibi setiap bulan. Aku rindu semua rasa yang pernah aku cicipi dalam hidup.


Semakin hari, kesadaranku semakin menurun.


Aku sadar kalau waktuku tidak lama lagi.


Aku sadar kalau ucapanku hanya sebatas kata-kata biasa.


Aku merasa diseret menuju ruangan yang sepi dan seluruhnya berwarna putih.


Keputusanmu, menunjukkan kemana arah hidupmu pergi.


Aku sangat merindukan semua orang pernah yang datang dalam hidupku.


Begitu banyak penyesalan yang aku tinggalkan.


Begitu banyak kata yang ingin aku ucapkan.

__ADS_1


Begitu banyak hal yang ingin aku lakukan bersama dengan Aretha.


Tapi, aku sudah tidak kuat lagi.


Aku berusaha keras untuk tetap terjaga. Lalu, aku melihat Ibu sedang menangis di depan jendela. Aku kira Ibu kita sudah pergi ke surga dan menikmati semua kesenangan di sana. Tapi, ternyata Ibu tetap berada di sisi kita dan terus mengawasi.


Lagi-lagi aku membuat Ibu sedih karena cinta.


Lagi-lagi aku membuat duka dan mengabaikan cinta.


Aku harap Aretha bisa melihat Ibu ada di sini setiap harinya.


Kamu pasti ingat saat aku meminta agar kamu dan Bibi Anieq menetap di sini. Itu bukanlah sebuah permintaan biasa melainkan permintaan terakhirku.


Aku ingin, Aretha melanjutkan SMA-nya di sini dan berdiri di sisi Sonya. Dia mungkin akan terkejut setelah mendengar kabar ini. Jadi, tolong hiburlah dia dengan menjadi seorang Aratha meski hanya beberapa hari saja. Aku akan sangat berterima kasih padamu.


Untuk Aretha, aku sangat menyesal karena harus berpisah denganmu. Saat kamu berada di Makassar, aku tak sanggup menahan kerinduan dalam hatiku. Apalagi, jika harus berpisah denganmu selamanya.

__ADS_1


Terima kasih untuk segalanya. Sampaikan juga terima kasihku pada Bibi Anieq dan juga Ayah karena telah memberikan Aratha kesempatan untuk bernafas dan menikmati hari layaknya remaja normal.


Selamat tinggal. Kamu akan tetap menjadi saudaraku yang terbaik, selamanya.


__ADS_2