Jingga Untuk Aratha

Jingga Untuk Aratha
Bab. 21 - Masing-masing Orang


__ADS_3

Pintu terbuka dan Aretha berjalan masuk ke rumahnya sendiri. Tak ada yang menyambutnya saat pulang ke rumah. Bibi Anieq pasti sedang belanja dan Ayah sedang bekerja. Saat membuka pintu, terpasang dua sofa berwarna coklat yang saling berhadapan di antara meja. Dan di atas salah satu sofa, Aratha tertidur di sana. Meski dibilang tidur, alis Aratha terus berkerut, menambah kecemasan pada setiap orang.


”Bukannya tidur di kamar! Dia malah tidur di sini!” gerutu Aretha kesal. Dia berjalan menuju kamarnya di lantai dua. Saat Aratha mendengar suara langkah kaki Aretha ketika sedang menaiki tangga, Aratha langsung terbangun dan menatapnya.


”Aretha! Apa yang terjadi? Kenapa kamu menggantikanku sekolah?”


Aretha menatap dingin Aratha yang berjalan dan berhenti tepat di bawah tangga. Aretha membuka satu persatu kancing seragamnya lalu melemparnya ke wajah Aratha. ”Kalau sudah sehat, besok kamu pergi ke sekolah sendiri!” ketusnya berjalan kembali.


”Aretha! Kamu ngapain aja di sekolah tadi?”


Pertanyaan ini membuat langkah Aretha langsung terdiam. Sekali lagi, perhatiannya kembali tertuju pada Aratha dengan tatapannya yang terlihat sama. ”Nggak ada. Aku cuma pengin sekolah! Emangnya kenapa? Lagian kamu nggak pernah cerita tentangku pada semua orang dan kamu juga nggak pernah cerita kalau ada cewek yang dekat denganmu.”


”Kamu ketemu sama Sonya? Kamu bilang apa ke dia?”


”Tanya aja sama dia besok! Aku sibuk!” ketus Aretha yang langsung berjalan cepat menaiki tangga, meninggalkan Aratha dengan segala pertanyaannya.


Aratha tampak kecewa. Saat ini dia tidak diizinkan memegang ponsel oleh Bibi Anieq yang terus memaksanya beristirahat. Aratha berbalik lalu dia merasakan sesuatu yang hangat keluar dari dalam hidungnya.


”Darah?”


Dengan terburu-buru, Aratha segera berlari ke kamar mandi setelah darahnya menetes ke lantai. Langkahnya yang goyah, membuat beberapa benda jatuh ke lantai dan pecah termasuk gelas beling yang tak sengaja di taruh di pinggir meja. Aretha yang mendengarnya dari dalam kamar merasa sedikit terkejut. Kali ini dia langsung berjalan keluar kamar lalu menuruni tangga.

__ADS_1


Tepat di lantai bawah, tempat Aratha sebelumnya berdiri di sana, terdapat bercak darah yang menetes. Tak hanya satu saja, di depan sana terdapat bercak darah yang lain meskipun ukurannya lebih kecil dari yang satu ini. Dari dalam kamar mandi, Aretha bisa mendengar suara keran air yang sedang menyala. Sudah pasti yang menyalakannya adalah Aratha karena sejak tadi sampai sekarang, Aretha tak mendengar siapapun yang membuka pintu.


Lama-lama Aretha kesal, melihat keadaan Aratha yang semakin parah. Dia pun berteriak dengan penuh amarah, ”KALAU MAU MATI, MATI SAJA SANA! JANGAN BIKIN ORANG LAIN KEPIKIRAN!”


Aratha yang mendengarnya hanya terdiam, menahan posisinya berdiri di depan wastafel dan cermin besar. Wastafel putih itu harus mendapatkan begitu banyak bercak darah setelah Aratha mencoba membersihkan hidungnya. Air keran masih dinyalakan sehingga membuat suara berisik yang cukup mengganggu. Aratha tahu, Aretha masih berdiri di depan pintu kamar mandi. Sayangnya dia terlalu takut untuk berjalan keluar dan menemui Aretha di sana.


Ada satu kata yang diucapkannya di dalam kamar mandi, ”Maaf.”


~o0o~


Sonya memperhatikan sebuah boneka beruang dan mawar merah muda yang diletakkan berdampingan di atas meja. Dia berekspresi sedih setelah mendengar cerita dari Aretha saat perjalanan pulangnya. Katanya Aratha sedang sakit. Namun, dia tidak ingin mengatakannya pada semua orang termasuk Sonya. Aretha sangat membenci Aratha. Semua itu bukan tanpa alasan. Hanya saja Aretha tidak ingin terlalu sedih dan depresi saat Aratha pergi dan tak akan menemuinya lagi.


”Belakangan ini, gejalanya semakin memburuk. Tetapi, dia terus menolak untuk pergi ke rumah sakit. Katanya ada satu orang cewek yang selalu membuat perasaannya menjadi lebih baik. Dia takut cewek itu disakiti oleh orang lain. Dia masih ingin melihatnya, mendengar tawanya, mendengar omelannya dan merasakan kelembutan telapak tangannya. Jadi, dia berusaha untuk tetap pergi ke sekolah untuk menemuinya setiap saat.”


”Aku nggak pengin kehilangan Aratha. Aku nggak pengin Aratha pergi lebih dulu dariku.”


Dering ponsel membuat Sonya terbangun. Dia langsung mengambil ponselnya dan menjawab teleponnya. ”Ayah!” Sonya sangat senang, karena akhirnya Ayah mau menelponnya meskipun hanya beberapa menit saja.


”Gimana kabar kamu belakangan ini? Maaf, Ayah belum sempat pulang.”


”Nggak apa-apa. Aku baik-baik saja di sini. Fahruz menjagaku dengan baik.”

__ADS_1


”Kamu di sana sehat-sehat saja, kan?”


”Aku sehat. Bahkan semakin sehat. Dokter Lina bilang sebentar lagi aku akan sembuh. Jadi, Ayah tidak perlu terlalu bekerja keras dan bisa pulang.”


”Maafkan Ayah, ya nak. Ayah tetap harus bekerja di sini. Kamu butuh uang untuk kuliah. Nanti, kalau kamu sudah lulus, Ayah akan ajak kamu ke kota besar.”


Sonya terdiam, menahan sedih yang masih bisa ditahan. Dia berusaha menjaga nada bicaranya agar tidak terdengar sedih. ”Iya. Aku akan kuliah dan hidup bersama Ayah lagi. Aku akan berjuang di sini.” setelah mengucapkannya, Sonya langsung menutup panggilan. Dia tahu ini tidak sopan namun, dia tidak ingin Ayahnya mendengar suara tangisannya.


Itu adalah panggilan yang hanya berlangsung dua menit saja. Dia tidak pernah bicara dengan Ayahnya selama lebih dari sepuluh menit. Sonya selalu meminta Ayah untuk segera pulang. Namun, Ayahnya selalu beralasan karena harus memenuhi kebutuhan hidupnya.


”Ayah nggak pernah sadar kalau aku selalu berbohong. Aku rindu Ibu.”


~o0o~


Fahruz berdiri tepat di depan kamar bernomor 102, gedung rumah sakit. Tangannya sibuk memegang sebuket bunga mawar dan krisan. Dari balik pintu yang memiliki sedikit jendela, Fahruz menatap seorang wanita yang sedang duduk di atas tempat tidurnya. Kepalanya terbungkus perban dan terdapat plester hangat yang menempel di pipi kanannya.


Fahruz tak bisa memandanginya lebih dari ini. Dia selalu merasa dirinya seorang kriminal karena telah menyakiti Ibunya sendiri menggunakan pisau cutter. Dia memiliki luka di kepala dan trauma terhadap putranya sendiri. Ditambah lagi, dokter mendiagnosisnya mengalami stroke.


”Aku ingin Ibu menyadari keberadaanku di sini. Hari ini sekolahku cukup menyenangkan. Ada banyak orang baru dalam hidupku selain Sonya dan mereka menerimaku dengan sangat baik.” gumam Fahruz.


Puas melihatnya hanya dari balik pintu, Fahruz meletakkan buket bunganya tepat di bawah pintu lalu, dia berjalan pergi meninggalkan kamarnya. Saat Fahruz sudah berjalan ke koridor lain, Ibunya membuka pintu kamarnya. Dia tahu kalau sebelumnya Fahruz berada di depan kamar ini. Jadi, dia pergi untuk melihatnya.

__ADS_1


Sebuket bunga berada tepat di depan pintu. Ibu mengambilnya dan menghirup aromanya yang harum. Di dalamnya terdapat sebuah kertas yang ditulis oleh Fahruz. Kertas itu bertuliskan, ”Maafkan aku, Ibu. Semoga Ibu cepat sembuh.”


__ADS_2