Jingga Untuk Aratha

Jingga Untuk Aratha
Bab. 11 - Gitar Dan Roti Daging


__ADS_3

"Aduh, maaf ya. Ini roti daging terakhir." ibu kantin tampak segan ingin memberikan roti daging ini pada Sonya dan Fahruz yang saling berebut.


"Aku duluan yang nemu jadi, aku yang pantas membelinya!" ketus Sonya.


"Kamu aja yang merasa menemukannya lebih dulu! Aku yang pertama kali lihat! Jadi, roti daging ini milikku!" balas Fahruz, kesal.


"Kamu kan nggak begitu suka roti daging! Kenapa hari ini kamu ingin merebut jatahku?! Lagian, aku sudah langganan di sini!"


"Kamu kan doyannya cuma mie instan! Ngapain ikut-ikutan beli roti daging?!"


"Aduh, anak-anak. Jangan bertengkar seperti itu. Tidak enak dilihatnya." Ibu kantin berusaha menenangkan mereka berdua yang sedang memanas. Para siswa di sana mendukung pertengkaran mereka berdua. Mereka saling bertaruh siapa yang akan memenangkan roti daging itu.


"Bisa tenang sedikit nggak sih?!" Aratha datang dari arah belakang Fahruz. Dia meletakkan sejumlah uang di atas meja lalu, mengambil roti daging yang menjadi incaran mereka berdua.


"Kayaknya nggak ada satupun dari kalian yang akan menang hanya karena roti daging. Jadi, aku ambil saja." setelah mengatakannya, Aratha langsung berjalan cepat meninggalkan mereka berdua.


Sonya menatap heran, begitu juga dengan Fahruz yang tak percaya dengan kesimpulan ini. "Aduhh, kenapa di kasih ke dia? Aku kan juga mau!" Sonya kesal dan langsung melipat tangannya.


"Mau bagaimana lagi? Dia sudah membayarnya. Memangnya kita bisa apa kalau uang sudah berbicara?"


"... Ayolah, cari makanan lain." Fahruz langsung menarik Sonya pergi menuju warung lain. Kantin memang selalu ramai apalagi saat jam istirahat. Semua orang terus berkerumun seperti orang yang sedang melakukan demo makanan. Saling dorong mendorong tak pernah terhindarkan begitu juga dengan meja kantin yang selalu penuh setiap detiknya. Rasanya ingin sekali membeli makanan di luar. Namun, sekolah ini terlalu pelit untuk membiarkan siswanya keluar pada jam pelajaran maupun istirahat.


"Hmm. Kayaknya kita ditakdirkan makan angin. Semuanya sudah habis." keluh Sonya setelah dia terus berkeliling tanpa hasil dan tanpa tujuan.


"Ya sudah. Nanti kita makan di luar saja. Baiknya, kembali ke kelas." Fahruz berjalan ke kelasnya dengan gerakan lemah, lesu, loyo karena belum makan sejak pagi.


"Fahruz! Awas kamu kesandung tangga!" Sonya berlari menyusulnya dari belakang.


"Ngomong apaan sih? Kakiku kan panjang." Fahruz menjawabnya malas. Dua detik setelahnya, Fahruz mendadak jatuh karena tersandung salah satu anak tangga. Suara dentumannya bahkan rasanya terdengar sampai kantin. Sonya menahan tawanya, menatap Fahruz dengan posisi seperti suster ngesot.


"Aku kan udah bilang. Ngeyel banget sih." cibir Sonya, menertawainya dari bawah tangga.


...~o0o~...


Alrez berdiri di ambang pintu ruang klub musik. Di sana ada alat musik piano, biola, gitar dan yang lain. Tatapan Alrez terlihat kosong saat memasukinya dan menutup pintunya lagi. Pandangan Alrez tertuju pada sebuah gitar yang bersandar pada kursi piano. Sebentar, dia menyentuhnya seujung jari lalu melepasnya lagi.


"Gitar membuatku teringat pada Ayah dan Ibu yang selalu bertengkar. Tetapi, Sonya ingin aku kembali memainkan gitar. Apakah dia suka ketika aku memainkannya?"


Alrez duduk di kursi piano sembari memangku gitarnya. Gitar itu nyaris menutupi seluruh badannya seakan sedang memeluknya. Permukaan yang halus dan bau yang sering dirasakan olehnya. Alrez mencoba menyetelnya dan memetiknya sekali.


Namun, setelah dia melakukannya, Alrez mendadak sakit kepala. Dia langsung menjatuhkan gitarnya lalu meremas kepalanya yang terasa ingin meledak. Nafas Alrez mulai terengah-engah seperti baru saja lari maraton. Suhu tubuhnya mendadak dingin dan keringat terus bercucuran dari atas kepalanya.


Gitar membuatnya ingat pada masa lalunya.

__ADS_1


"Alrez! Kamu nggak apa-apa?" suara cewek ini terdengar panik setelah Alrez mendengar suara sekardus pakaian jatuh dari genggaman seseorang. Cewek ini langsung berdiri di sebelah Alrez, mencoba untuk membuatnya lebih baik.


Melihat rambut panjangnya yang menjuntai sampai ke bawah dada, harapan Alrez mengenai Sonya yang berdiri di sebelahnya seketika hancur. Dia baru sadar kalau yang berdiri di sana adalah Kinan.


"Kenapa kamu masih di sekolah? Semua orang sudah pulang lima menit lalu." lanjut Kinan.


Alrez langsung menepis tangan Kinan yang menyentuh bahunya. Kaki dan tubuhnya langsung berdiri tegak, menatap dingin ke arah Kinan yang berusaha membantunya.


"Aku baik-baik saja! baru saja aku mau pulang!" ketus Alrez sembari mengambil tasnya lalu berjalan terburu-buru meninggalkan ruang musik.


"Sifatnya benar-benar membuatku kesal! Kenapa Sonya mau saja pacaran sama dia?!" gerutu Kinan, kesal.


Alrez berjalan menyusuri koridor lantai dua yang sudah sepi. Jam baru menunjukkan pukul 4 sore dan semua orang termasuk para guru sudah kembali ke rumah. Setiap pintu kelas tertutup. Angin berhembus dingin dan membawa serta debu di dalamnya.


Tanpa sengaja, Alrez berpapasan dengan Aratha dari arah berlawanan. Tampaknya, Aratha sengaja kembali ke kelas untuk mengambil sesuatu yang tertinggal di sana.


Baru beberapa langkah mereka saling menjauh, Alrez langsung menghentikan langkahnya lalu bertanya, "Kamu punya hubungan apa sama Sonya?"


Aratha yang terkejut langsung menghentikan langkahnya. Bola matanya melirik ke arah Alrez di belakangnya. Tatapannya terlihat dingin, jelas-jelas dia sangat terburu-buru saat ini. Dia harus kembali ke rumah sebelum matahari terbenam.


"Memangnya kenapa? Sejak awal Sonya yang sengaja dekat denganku. Apa itu menjadi masalah buatmu?"


"Aku serius."


Alrez terlihat marah. Dia berbalik dan berdiri menghadap Aratha yang masih memunggunginya. "Kalau kamu nggak mau menjawabnya, aku akan mengambil Sonya kembali. Lagian, masalahku dengannya sudah selesai. Akan aku pastikan, Sonya tak akan sempat bertemu denganmu."


Aratha langsung membalas, "Kamu orang yang sangat menantang. Kamu pikir, aku nggak akan melakukan apa-apa untuk menghalanginya? Akan aku pastikan, Sonya tak akan sempat bertemu denganmu."


...~o0o~...


"HACHIIM!!"


"Kenapa? Kecoa masuk ke hidungmu?"


"Nggak. Kayaknya ada yang membicarakan ku. Aku merasa merinding."


"Sejak kapan bersin dan merinding menjadi bertanda kamu sedang dibicarakan orang lain? Hari ini cukup dingin karena sebentar lagi hujan. Mungkin itu yang membuatmu bersin dan merinding."


"Ah, iya. Aku lupa mengembalikan jaket Aratha. Kemarin dia meminjamkan ku padahal aku tidak memintanya."


"Besok saja mengembalikannya. Hari ini kita cari makan dulu."


"Hmm, Aku ingin makan kue."

__ADS_1


Sonya berhenti berjalan dan melirik toko kue yang ada di pertigaan jalan. Toko kue itu terlihat sepi. Katanya yang mengurus toko itu adalah seorang nenek tua yang rabun dan tidak bisa membedakan mana gula dan mana garam. Sedangkan, tidak jauh dari toko kue itu berada, sudah ada toko kue yang baru dengan para karyawannya yang muda dan cantik.


"Kamu yakin mau membelinya di sana?" Fahruz curiga kue di sana beracun karena tak ada satupun orang yang datang.


"Dulu Ibu sering membelinya di sana dan rasanya sangat enak! Aku akan tetap pergi!" Sonya langsung berlari menuju toko kue itu tanpa mengajak Fahruz.


Fahruz tersenyum sedikit, menatap Sonya yang perlahan menjauh darinya. "Sonya masih nggak bisa melupakan Ibunya. Rasanya aku kurang bersyukur karena aku tidak begitu dekat dengan Ibu."


...~o0o~...


Alrez terlihat berjalan memasuki rumahnya sendiri yang berada di sebuah blok. Rumahnya cukup besar dengan satu mobil merah yang mengkilap. Namun sayang, rumah itu hanya ditempati oleh dua orang yang jarang sekali pulang.


Ayahnya adalah seorang pemboros. Setelah bercerai, dia langsung membeli sebuah rumah yang cukup besar dan sebuah mobil mewah. Berbeda sekali dengan Ibunya. Dia selalu menyimpan uang untuk kebutuhan di masa depan semisal ada keperluan mendadak.


"Alrez! Kenapa baru pulang sekarang?!"


Suara teriakan Ayahnya terdengar dari arah tangga. Alrez terlihat begitu terkejut. Hari ini baru pukul enam sore dan dia sudah bertemu dengan Ayahnya yang seharusnya masih bekerja.


"Nggak biasanya Ayah pulang cepat. Ada sesuatu yang terjadi?"


"Kamu nggak senang Ayah pulang cepat? Harusnya kamu sudah di rumah saat Ayah sampai dan membuat makanan untuk Ayah."


"Hari ini jadwal sekolahku padat. Aku nggak sempat. Ayah beli saja makanan di luar. Aku mau istirahat."


Alrez langsung berjalan menuju kamarnya. Ayahnya mengejar dengan membawa sebuah tongkat kayu. "Anak yang tidak tahu diri!" teriak Ayahnya. Dia mendaratkan pukulan kayunya di punggung Alrez sampai membuatnya bergeser ke samping beberapa langkah.


"Kamu sama kayak Ibumu! Selalu melawan perintah Ayah! Sama-sama nggak tahu diri!"


Alrez terdiam, menahan perih di punggungnya. Dia juga siap menerima pukulan yang akan dilancarkan oleh Ayahnya sendiri. Tangannya mengepal kuat, amarahnya melonjak, pikirannya memberontak ingin melakukan perlawanan.


"Kenapa aku harus menuruti ucapan Ayah? Menurut Ayah, apa yang membuatku melawan seperti ini? Ayah saja tidak pernah menunjukkan hal bagus di depanku. Bisanya hanya marah dan marah. Apakah Ayah hanya bisa memukuliku setiap hari tanpa ampun? Di masa depan, Aku tidak ingin seperti Ayah maupun Ibu! Kalian berdua sama saja buruknya!"


Sebuah pukulan keras mendarat di wajah kiri Alrez sampai membuatnya terbanting ke samping. Alrez bahkan merasa darah mengalir keluar dari hidungnya. Sudut matanya terasa sangat perih sampai mengeluarkan air.


"SEKALI LAGI KAMU NGOMONG GITU, KAMU BUKAN LAGI ANAK AYAH!"


"TERUS KENAPA?! DARI AWAL AKU NGGAK PERNAH MERASA KALAU AKU ANAK AYAH! AYAH PASTI SENANG KALAU AKU HILANG SEKARANG JUGA!”


Alrez berdiri, menatap tajam Ayahnya. Dia sangat marah sampai-sampai mengeluarkan kata-kata yang membuatnya Ayahnya langsung terdiam. Alrez sudah menebaknya. Setelah ini, Ayahnya pasti akan langsung mengeluarkannya dari rumah dan membiarkannya hidup di luar.


Ayahnya menghela nafas. Perlahan tangannya mengendur setelah terus menerus mengepal kesal. Ayahnya mengalihkan perhatiannya lalu berkata, "Bersihkan dirimu dan tidurlah."


Setelah mengatakan beberapa patah kata, Ayahnya langsung berjalan pergi meninggalkannya. Alrez bingung dengan sifatnya yang jauh berubah dan jauh di luar perkiraannya. Dia mencoba menyentuh wajahnya yang memar. Ternyata benar-benar sakit meski hanya disentuh sedikit.

__ADS_1


__ADS_2