Jingga Untuk Aratha

Jingga Untuk Aratha
Bab. 12 - Perhatian


__ADS_3

”Wah, dia sampai babak belur begitu. Kayaknya dia habis berantem lagi.”


”Kira-kira siapa yang bisa ngalahin Alrez? Aku bahkan sampai nggak habis pikir. Padahal dia itu keliatan kayak preman.”


”Shhht! Jangan membicarakannya dari belakang. Kayaknya dia lagi bad mood.”


Benar saja, setelah kejadian kemarin, Alrez langsung menjadi pusat perhatian dengan luka memarnya yang ada di setiap wajah apalagi dia tidak tahu cara mengobati lukanya sendiri. Jadi, sudah semalaman Alrez menahan rasa perih di punggung dan wajahnya sampai-sampai tidak bisa tidur.


”Sonyaaa! Mantan kamu berulah lagi!” teriak Rika yang langsung menyambar meja Sonya ketika dia sibuk mencari ketenangan.


”Apaan sih heboh banget! Nggak ada yang mati ini!” ketusnya. Sonya sangat malas bertemu dengan Rika, teman sekelasnya sendiri. Rika bagaikan mata-mata. Dia selalu datang dengan membawa kabar heboh yang terjadi di sekolah dan selalu berbagi dengannya.


”Itu loh! Mantan kamu, Alrez! Mukanya babak belur kayak habis di rampok sama dihajar rentenir!”


”Hah? Serius di rampok sama dihajar rentenir juga?! Dia kan juara satu lomba taekwondo se-provinsi, kenapa jadi babak belur?!” Sonya mulai panik dan terjatuh dalam perkataan bohong Rika.


”Kamu nggak pernah dengar ya? Kadang-kadang, manusia ada batasnya. Mungkin saja orang yang merampok Alrez jauh lebih kuat darinya. Jadi, dia mati-matian melawan mereka.”


”Masa sih dia sekuat itu? Yang benar?!”


”Iyah! Beneran! Malah, Alrez nyaris pingsan saat berjalan di kelasnya. Keadaannya benar-benar parah! Kamu pasti nggak bisa bayangin gimana wajah memarnya sekarang.”


”Kalau gitu, kenapa nggak ada yang menolong?”


”Kamu sendiri tahu kan? Semenjak kamu putus sama Alrez, tindakan Alrez berubah kayak preman. Semua orang takut sama dia!”


Sonya semakin panik seperti dirinyalah yang berada dalam bahaya. ”Aduh, kenapa dengan semua orang?!”


Sonya langsung berlari keluar kelas dan mengabaikan keberadaan Rika di sana. Saat dia berada di ambang pintu, secara tak sengaja dia menabrak Aratha yang ingin berkunjung ke kelasnya.

__ADS_1


Keduanya berhenti, saling bertatapan selama beberapa detik. Saat itu terjadi, Aratha langsung berkata, ”Sonya, aku pengin bilang sesuatu ke kamu.”


”Maaf Aratha! Aku nggak bisa ngomong sama kamu sekarang. Alrez lagi sekarat! Aku harus ke sana!” Sonya langsung berlari pergi ke kelas Alrez melupakan Aratha yang ingin berbicara hal penting padanya. Sedangkan Aratha terlihat sedikit kecewa karena Sonya tak memiliki waktu untuk berbicara sedikit dengannya.


Perlahan dia kehilangan rasa percaya dirinya untuk melawan Alrez dan membuktikan perkataannya.


Sonya berlari melewati koridor yang sedikit ramai, tak peduli rasa sakit yang dialaminya setiap hembusan nafas. Dia berhenti di depan sebuah kelas dan langsung membuka paksa pintunya. Nafas Sonya terdengar terengah-engah matanya langsung menusuk ke arah Alrez yang duduk di kursi pojok belakang.


”Alrez!”


Mendengar seruan Sonya, membuat perhatian Alrez langsung tertuju pada Sonya yang masih berdiri di ambang pintu. Alrez memasang ekspresi terkejut dengan memar yang masih melengkapi wajahnya. Sonya sendiri juga terlihat cemas sekaligus ngeri melihatnya.


Sonya langsung berjalan cepat, menghampiri Alrez. Tanpa mengucapkan beberapa patah kata, Sonya langsung menarik Alrez berjalan keluar dari kelasnya. Ini adalah hal yang luar biasa bagi Alrez. Sonya yang sebelumnya takut padanya, mendadak berubah cemas padanya.


Apa itu artinya aku bisa tetap bersamanya?


”Sonya? Kamu mau bawa aku ke mana?” tanya Alrez yang langsung memperlambat langkahnya.


Alrez seakan sedang mengalami serangan jantung mendadak. Degub jantungnya begitu terasa bahkan dia takut Sonya bisa mendengarnya. Wajahnya canggung saat dia memutar bola matanya ke arah yang sebaliknya.


”J- jalannya pelan-pelan saja. Punggungku juga sedang sakit. Jadi, nggak bisa jalan cepat.” Alrez tak sadar dengan apa yang sudah dikatakannya.


Sonya berkedip cepat beberapa kali. Dia bingung mengapa Alrez berubah menjadi gagap seperti ini. Mungkinkah dia salah bicara? Atau Alrez yang salah tingkah terhadapnya?


”Ya sudah, kita jalannya pelan-pelan saja.” Sonya memegang pergelangan tangan Alrez dan perlahan, keduanya menuruni tangga. Semua orang yang pernah mendengar kalau Alrez dan Sonya sudah putus merasa sangat terkejut melihat pemandangan tak biasa ini.


Sangat tidak bisa dipercaya! Sonya dan Alrez akhirnya kembali bersama. Semua orang memperhatikan dan membuat Sonya merasa risih. Alrez yang mengetahuinya, langsung menatap dingin mereka semua. Seketika, orang-orang itu berhenti menatap mereka berdua dan kembali ke kebiasaan mereka masing-masing.


”Ah! Pelan-pelan sedikit!” Alrez meringis kesakitan saat Sonya mengoleskan obat pada pipi kanannya.

__ADS_1


”Maaf, lagian kamu kenapa sampai babak belur begini? Apa preman itu sangat kuat sampai-sampai kamu nggak bisa ngalahin dia?”


”Siapa yang ngomong gitu ke kamu? Aku nggak mungkin kalah dari preman.”


”Salah, ya? Rika bilang kamu dihajar preman atau rentenir apalah itu.”


”Nggak mungkin aku kalah. Memangnya kamu sendiri pernah melihatku kalah dan berakhir babak belur kayak gini?”


”Kayaknya enggak. Terus, gimana ceritanya kamu bisa berakhir babak belur kayak gini?”


Alrez menghela nafasnya. Dia terlihat ragu untuk mengatakan jawabannya. Dia pikir, Sonya sudah tahu siapa yang membuatnya seperti ini. Karena itu, dia menjawabnya dengan pelan, ”Karena Ayah.”


Sonya begitu terkejut setelah mendengar jawaban ini. Dia tak percaya Ayahnya sendiri yang melakukan ini pada Alrez. Sebelumnya, Alrez memang sudah bilang kalau Ayahnya selalu memukulinya setiap hari namun, saat itu dia tidak begitu mempercayainya. Lalu, setelah dia melihat bukti, dia benar-benar bisa mempercayainya.


”Kamu babak belur begini, gara-gara Ayahmu?” tanpa sadar, Sonya menangis mendengarnya. Dia sangat sedih. Dia ingin menghibur Alrez. Namun, dia tidak tahu bagaimana caranya. Pada akhirnya, dia hanya menambah luka pada hati Alrez karena melihatnya menangis.


”Aduh, kenapa kamu menangis lagi? Kemarin kamu juga menangis karena aku menceritakan ini padamu. Apakah sekarang, kamu kasihan padaku?” Alrez merogoh sakunya dan mengeluarkan sapu tangan putih dari sana. Dia mengusap wajah Sonya yang basah karena air matanya.


”Habisnya, aku sempat nggak percaya kalau Ayah kamu ngelakuin ini sama kamu. Tapi, ternyata semuanya benar.”


Alrez tersenyum tipis. Tangannya tidak lagi memegang wajah Sonya beralaskan sapu tangan. Kali ini, dia benar-benar menyentuh wajah Sonya menggunakan telapak tangannya sendiri. Tak hanya itu, dia juga mendekatkan wajahnya pada Sonya hingga berjarak 15 senti saja.


Sonya yang mendapatinya langsung berhenti menangis dan menahan ekspresi terkejutnya. Berulang kali dia mengalihkan perhatiannya ke segala arah. Kali ini, dia benar-benar canggung. Dia tidak tahu bagaimana cara mengatasi situasi yang seperti ini.


”Kamu kasihan ke aku? Kalau kamu kasihan, kamu mau hadir dalam hidupku lagi? Selama ini aku kesepian. Ibu dan adik perempuanku sudah berada di luar jangkauanku. Aku ingin, kamu menjadi milikku lagi.”


Sonya terdiam, menatap Alrez dengan penuh kebimbangan. Ucapannya memang hampir sama seperti yang dituliskan dalam puisinya yang tersimpan dalam boneka. Saat itu, Alrez menuliskan dia takut Sonya direbut orang lain. Dan sekarang, Alrez menginginkannya lagi karena takut posisinya digantikan oleh Aratha.


Di sisi lain, mereka berdua tidak tahu kalau Aratha sudah mendengarkan percakapan mereka berdua dari balik pintu. Dia mendengarkan semuanya. Dia sangat paham dengan apa yang dikatakan oleh Alrez. Dan dia memang sudah tahu kalau Alrez dan Sonya pernah bersama.

__ADS_1


Tak tahan mendengarnya lagi, Aratha segera berjalan menjauh, meninggalkan UKS. Lagipula, dia tidak begitu penasaran dengan jawaban yang akan diberikan Sonya setelah ini.


__ADS_2