Jingga Untuk Aratha

Jingga Untuk Aratha
Bab. 20 - Hortensia


__ADS_3

"Kinan. Berjanjilah, kamu akan terus bersamaku. Kinan itu milikku dan aku adalah milik Kinan. Terus seperti itu sampai kita meninggal nanti."


Kinan menaruh bunga hortensia di atas sebuah makam milik seorang cowok bernama Algi yang meninggal dua tahun lalu. Tepatnya saat ulang tahunnya yang ke-14. Dia menjadi korban kecelakaan bus beruntun yang menewaskan 7 orang. Saat ini, kesedihan itu masih menyelimuti dirinya. Namun, dia sengaja menutupinya agar tidak ada seorangpun yang menyadarinya.


Sampah dedaunan kering dan rumput liar telah dibersihkan olehnya dengan hati-hati. Kinan menuangkan air mawar di sekitar kayu pusara dan menaburinya sedikit bunga agar terlihat indah.


"Maaf, aku jarang berkunjung kemari. Sekarang aku akan menemanimu, untuk satu jam mendatang." Kinan duduk di sebelah makam Algi. Diam tak berkutik dan terus menekuk lututnya. Matanya terus memandang makam Algi. Sesekali dia mengusapnya perlahan dan tersenyum untuknya.


Di sisi lain, Kinan tak tahu kalau di belakangnya sudah ada Faiz yang mengawasi. Faiz terlihat sedih. Dia dan Kinan sudah kenal sejak SMP dan Faiz sudah sangat tahu kalau Kinan pernah dekat dengan Algi, sahabatnya sendiri.


Algi adalah orang yang sangat baik terutama pada Kinan. Dia orang yang berhasil merubah Kinan dan orang yang selalu menghibur Kinan. Faiz sangat ingat bagaimana Algi membuat Kinan tersenyum dan tertawa. Namun, semenjak Algi sudah tidak ada, Kinan jauh berubah dan menjadi jarang tertawa bahkan tersenyum.


Setiap hari Selasa, Kinan selalu menaruh bunga hortensia di makam Algi. Bunga itu adalah bunga yang selalu diberikan Algi padanya. Sangat harum dan indah. Faiz tak memiliki pilihan selain menunggunya untuk satu jam ke depan di tempat yang sama.


...~o0o~ ...


"Akhirnya pulang!"


Setelah Guru keluar, Sonya adalah orang pertama yang berlari keluar kelas. Baru saja dia menghirup udara berbeda yang ada di sepanjang koridor, tiba-tiba dia merasakan hawa dingin yang berasal dari arah kiri.


”Apa ini? Bukan sesuatu yang bagus rasanya.” batin Sonya, menolak untuk melihat ke kiri.


"Woh!! Alrez! Kamu ngapain di sini?" teriak Rika yang tahu keberadaan Alrez setelah dia berdiri di sebelah Sonya. Suara Rika berhasil membuat kehebohan di kelasnya sampai-sampai membuat semua orang di sana berlarian ke arahnya.


"Bisa nggak sih punya teman yang waras dikit?!" gerutu Sonya kesal, menatap mereka semua.


Dengan berani, Alrez berdiri berhadapan dengan Sonya di depan semua orang yang melihatnya. Tangannya menyembunyikan sesuatu di belakang punggungnya. Sorot matanya menolak untuk bertatapan langsung dengan Sonya. Sungguh luar biasa kejadian hari ini. Dimulai dari Aretha yang berpura-pura menjadi Aratha lalu menghajar semua orang yang sudah mengejeknya. Dan hari ini pula diakhiri dengan pertemuan di sengaja antara Alrez dan Sonya yang membawa kejutan.

__ADS_1


Sonya lebih dulu bertanya, "Kenapa Alrez? Kamu mau bilang sesuatu?"


Diamnya Alrez membuat semua orang merasa penasaran. Mereka rela menunggu jawaban itu kapan saja sampai Alrez siap untuk mengatakannya.


Hening, penuh dengan bisik kecurigaan.


Perlahan, Alrez mengeluarkan sesuatu yang tersembunyi di belakang punggungnya lalu, menunjukkannya pada Sonya. Sebuah bunga mawar merah muda kesukaan Sonya, tampak indah dengan pita merah yang diikat tepat di bawahnya. Semua orang tercengang, tak percaya dan tak mengira Alrez akan melakukan apa saja untuk mengembalikan Sonya padanya.


"Aku mau kamu menerimanya."


Sonya langsung membeku di tempatnya. Dia menatap mawar yang bentuknya hampir sama seperti yang diberikan Aratha kemarin. Sayangnya, Sonya sudah memilikinya satu dan tampaknya, Alrez terlambat memberikan itu padanya.


"Alrez aku—


Sonya langsung ditarik mundur ke belakang oleh seorang cowok ketika dia hendak menolaknya. Cowok itu mengajaknya lari meninggalkan Alrez dan kerumunan di sana. Langkahnya begitu cepat sampai membuat Sonya nyaris tersandung berkali-kali. Sementara Alrez terlihat sangat marah. Di depan semua orang, dia telah dipermalukan oleh cowok asing tadi. Sekali melihatnya, tuduhan Alrez langsung mengarah pada Aratha karena dia dan Aratha sebelumnya saling mempertahankan.


Alrez langsung membanting bunganya ke lantai lalu menginjaknya berkali-kali. Emosi telah mengendalikan pikirannya. Sebagian besar orang menatapnya dengan kasihan dan itu membuat Alrez merasa semakin marah. Dia berjalan mengarah pada salah satu cowok. Tangannya yang terus mengepal, langsung meninju wajah cowok tadi sampai membuatnya terjatuh ke belakang.


...~o0o~...


"Ih! Apaan sih! Lepasin!" Sonya langsung menarik tangannya ketika dia dan cowok tadi sudah berlari sampai mereka berdua berhenti di depan minimarket. Sonya merasa aneh dengan cowok ini. Namun, dia juga beruntung karena dia berhasil menolak pemberian dari Alrez tanpa melukai perasaannya.


Cowok itu menoleh ke arah Sonya dan menunjukkan senyumnya yang hangat. "Kamu Aratha, ya?" Sonya tak percaya menatap wajahnya saat ini.


"Hah? Kamu ngomong apaan? Kamu udah lupa sama Aretha yang menggantikan Aratha sekolah?"


"Oh? Kamu Aretha. Kamu keliatan mirip dari belakang."

__ADS_1


"Ternyata itu orangnya ya? Aratha pernah cerita sesuatu tentang kamu. Katanya kamu punya mantan yang lebih pemarah dari dia."


"Oh? Kayaknya dia emang udah tahu dari awal.” gumam Sonya.


"Kamu itu gimana sih! Mau aja sama cowok garang kayak dia! Aku nggak bisa bayangin kalau kalian berdua benar-benar menjalin hubungan keluarga. Pantas saja Aratha takut kamu selalu disakitin sama dia."


"Aratha sering cerita itu ke kamu?"


"Nggak. Aku cuma menguping pembicaraannya dengan Bibi. Seminggu lagi aku akan kembali ke Makassar. Aku cuma pengin selesain masalah dia di sini. Aku nggak begitu dekat dengan Aratha dan malah sedikit menjauh darinya."


"Kenapa? Kamu punya masalah ke dia atau dia yang punya masalah ke kamu?"


Aretha tiba-tiba tersenyum seperti biasa setelah dia menahan ekspresi sedihnya. Tangannya mengandeng tangan Sonya sembari berkata, "Kita ngomongnya sambil jalan aja."


...~o0o~...


Satu jam telah berlalu. Kinan segera berdiri, meninggalkan makam Algi dan berjalan kembali ke rumahnya. Beberapa langkah setelah dia berbalik, Kinan kembali berhenti ketika dia melihat Faiz berdiri di depannya dan sudah menunggunya sejak tadi. Wajahnya yang terlihat sedih adalah sesuatu yang tidak ingin dilihat oleh Kinan saat ini.


"Dari tadi kamu di sana?" Kinan menatap Faiz serius.


Faiz mengangguk kemudian berjalan mendekati Kinan. Tangan kanannya meraih tangan Kinan lalu menariknya pergi dari tempat ini. Dengan cepat, Kinan langsung menarik tangannya lagi sembari menjaga jarak dari Faiz yang juga sedang menatapnya.


"Nggak usah pegang-pegang! Aku bisa jalan sendiri!" ketus Kinan yang langsung berjalan cepat mendahului Faiz.


Faiz mengejar sampai keduanya berjalan beriringan. Sunyi. Mereka sama-sama diam, tak ingin memulai pembicaraan pertama. Faiz bukanlah seseorang yang bisa mengobati kesedihan orang lain. Namun, tidak ada salahnya jika dia mencobanya.


"Kinan. Aku perlu sesuatu."

__ADS_1


Kinan tak menjawab bahkan tak melirik ke arahnya. Dia tetap berjalan seolah tak menghiraukan keberadaan Faiz di sebelahnya. Setiap kali Kinan mengunjungi makam Algi, dia selalu terlihat depresi dan putus asa. Dia akan kembali lagi menjadi Kinan yang biasanya saat esok hari.


Faiz tak tinggal diam. Dia menarik tangan Kinan dan mengajaknya berjalan menuju suatu tempat. Kali ini Kinan tidak menolaknya dan melangkah tepat di belakangnya. Faiz melanjutkan perkataannya tadi, "Aku perlu kamu menemaniku ke toko buku. Jadi, ikut saja."


__ADS_2