
”Aku ingin Sonya terus berada di sampingku. Sampai tua nanti dan menyambut usia kita yang ke-100.”
Sonya masih memikirkan kata-kata Aratha siang tadi. Dia tidak berharap Aratha mencintainya dan biarlah Sonya yang mencintainya dalam diam. Namun, ternyata Aratha memiliki perasaan yang sama dengannya. Dia tidak menyangka akan mendapatkan perasaan dicintai lagi oleh seseorang.
”Aratha, aku nggak pengin jadi kenangan berharga buat kamu. Lagian, aku punya batas waktu yang aku sendiri nggak bisa tebak. Aku nggak bisa ngeliat orang sedih.”
Sonya menghela nafas. Langkahnya berjalan melewati lorong kelas yang sepi karena sudah sore. Serat-serat oranye seperti kulit jeruk terlihat di langit barat. Angin berhembus pelan, menerbangkan beberapa helai rambut Sonya.
Wajahnya yang sedih, menambah sendu waktu di sore hari. Aratha sudah pulang sejak tadi. Fahruz masih ada di lapangan luar karena harus berlatih futsal. Mendadak, dada kiri Sonya terasa sangat sakit dan tangan kirinya tidak bisa digerakkan. Dia langsung jatuh berlutut, dengan tangan kanan yang menahan rasa sakit di dadanya. Keringat dingin mulai bercucuran dari atas kepalanya. Bahkan kedua kakinya terasa sangat lemah.
”Aku harus tetap tenang.”
Sonya mencoba mengatur nafasnya. Dia merasa seperti baru saja berlari naik turun bukit tanpa henti dan tanpa istirahat. Rasa sakitnya terasa semakin parah. Selama beberapa menit, Sonya terus menahannya hingga rasa sakit itu menghilang secara perlahan.
”Sonya!”
Teriakan penuh kecemasan ini menggema di telinga Sonya. Anehnya, suara ini membuat Sonya merasa lega dan bisa bernafas bebas. Dia seperti baru saja mendapatkan hadiah yang melebihi harga sebuah pulau.
”Fahruz.”
Fahruz langsung berlutut di depan Sonya. Dia membuka jaketnya lalu memakaikannya ke tubuh Sonya. Wajahnya terlihat cemas dan takut. Fahruz langsung mengambil tas milik Sonya dan mengambil sesuatu dari dalam sana.
Diambilnya se-tablet obat pereda dan sebotol air mineral di tangannya. Dia memberikannya pada Sonya dan memintanya untuk segera meminumnya. Namun, bukannya melakukan apa yang diminta olehnya, Sonya justru mengalihkan perhatiannya seakan menolaknya.
”Sonya, kamu harus meminumnya. Dokter Lina bilang kamu harus meminumnya kalau rasa sakitnya muncul.”
Merinding.
__ADS_1
”Tenggorokanku sudah lelah. Lama kelamaan, aku nggak akan bisa bertahan. Aku capek! Aku capek begini terus!”
Sonya tak bisa menahan air matanya yang memberontak ingin keluar. Dia membasahi bibir bawahnya dan menatap Fahruz dengan penuh putus asa. Kedua tangannya mengepal dan air matanya jatuh ke lantai. Fahruz mampu merasakan apa yang dirasakan Sonya saat ini.
Fahruz memeluk Sonya, melingkari kepala Sonya dengan lembut. Fahruz menatap ke atas, meredam suara tangisan Sonya yang tidak juga berhenti. Dalam sunyi, Fahruz juga meneteskan air mata untuknya. Mengharapkan sesuatu yang terbaik untuknya.
”Sonya. Aku yakin kamu kuat. Kamu itu luar biasa. Jadi, jangan menyerah.”
...~o0o~...
Aratha langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan sprei berwarna coklat. Kali ini dia terlihat sangat lelah padahal saat di UKS dia tidur cukup lama dari biasanya. AC yang ada di kamarnya tidak pernah dinyalakan olehnya meskipun setiap hari, tubuhnya selalu diselimuti oleh keringat.
Aratha menatap langit-langit yang tertutup plafon berwarna putih. Sesekali dia tertawa kecil, mengigat kata-kata yang sebelumnya diucapkannya pada Sonya. Aratha tak percaya bisa mengatakan itu dengan leluasa tanpa beban sedikitpun. Di sisi lain, dia juga merasa lega karena bisa mengeluarkan seluruh isi hatinya.
”Ibu benar. Seseorang sudah menerobos masuk ke dalam kehidupanku. Dinding yang sudah aku buat susah payah, dihancurkan begitu saja olehnya. Aku tidak bisa menghindar karena aku terlalu lemah.”
”Kamu sudah lebih baik?” Bibi Anieq berdiri di sebelah tempat tidur Aratha yang sedang berbaring.
Aratha mengangguk. ”Bibi akan menetap di sini kan? Aku nggak bisa jauh-jauh dari Aretha.” Aratha berkata seperti sedang memohon.
Bibi Anieq membuang nafas. Dia meletakkan piringnya di atas meja dan dengan lembut, dia menyingkirkan rambut poni yang menutupi sebagian besar dahi Aratha.
”Bibi punya pekerjaan di sana. Jadi, Bibi nggak bisa lama-lama. Aretha juga sudah memiliki banyak teman di sana. Dia sengaja izin sekolah selama beberapa hari untuk menemani Bibi.”
”Tapi, aku pengin Bibi dan Aretha tetap di sini. Aku janji aku akan langsung pulih kalau kalian berdua menetap di sini.”
”Nggak bisa, Aratha. Bibi akan cari cara bagaimana kamu bisa sembuh. Untuk sementara, kamu harus berjuang, ya. Yakinlah kamu tidak sendiri.”
__ADS_1
Aretha yang mendengarnya dari balik pintu berdecak kesal. Dia jengkel karena sifat Aratha yang banyak maunya. Dia sangat yakin keadaan Aratha tidak akan membaik meskipun dia dan bibi Anieq menetap di sini.
Sebenarnya Aretha juga terkejut saat mendengarnya lima tahun lalu, ketika Ibunya masih hidup. Tepat di rumah sakit yang memiliki bau antiseptik dimana-mana, Aretha sengaja menguping pembicaraan mereka dari balik pintu kamar Aratha.
Pembicaraan itu terjadi antara Ayah Ibunya dan juga seorang dokter laki-laki yang mengatasi penyakitnya. Katanya, harapan hidup Aratha hanya berkisar lima tahun saja. Setelah penyakit yang namanya Leukimia itu menggerogoti tubuhnya dengan gejala awal, Aratha dapat dipastikan tidak bisa hidup lebih lama lagi.
Dari balik pintu, Aretha bisa mendengar Ibunya menangis terisak-isak dan suara lembut Ayahnya yang mencoba menenangkannya. Tidak disangka, keluarga mereka yang semula harmonis, dalam sesaat berubah menjadi isak tangis. Untungnya saat itu Aratha sedang tertidur. Jadi, dia tidak akan tahu apa nama penyakit yang menyerangnya saat ini.
”Cih!”
Aretha menunjukkan dirinya di ambang pintu. Dia sempat membuat Bibi Anieq dan Aratha terkejut melihat kehadirannya yang penuh dengan kesedihan dan nada putus asa.
”Aku benci memiliki saudara yang lemah! Pokoknya benci! Kalau kamu tahu kamu akan penyakitan saat sudah besar, mengapa harus lahir ke dunia?!” Aretha mencoba berteriak. Namun, suaranya ditutup oleh suara isak tangis yang tidak bisa ditahan olehnya.
”ARETHA! KAMU NGOMONG APA BARUSAN?!” tegas Bibi Anieq, menatap Aretha dengan sangat marah.
”KENAPA?! AKU SALAH LAGI?! ARATHA LAHIR UNTUK MENINGGALKAN DUKA! BUKAN KEBAHAGIAAN!” teriak Aretha sekuat tenaga.
”Aretha! Kamu cepat minta maaf sama Aratha!”
”Nggak! Pokoknya nggak akan pernah!”
Lagi-lagi Aretha kabur dengan berlari menuju kamarnya lalu menguncinya dari dalam. Bibi Anieq yang melihatnya hanya bisa menghela nafas. Dia tidak menyangka Aretha akan mengatakan ini pada Aratha yang sedang sakit.
”Tolong kamu maafkan dia. Bibi nggak mendidiknya menjadi orang dewasa.”
Aratha menggelengkan kepala lalu berkata, ”Sebenarnya Aretha sayang sama Bibi, Ayah dan juga diriku. Aretha hanya berusaha untuk tetap tegar menghadapi semua yang dialaminya sendiri.”
__ADS_1
Bibi Anieq tersenyum. Dia mengusap dahi Aratha begitu lembut hingga tidak bisa dirasakan olehnya. ”Kamu mudah mengerti. Sekarang tidurlah dan beristirahat. Bibi akan membangunkanmu besok.”