Jingga Untuk Aratha

Jingga Untuk Aratha
Bab. 22 - Tidak Akan Memaksamu


__ADS_3

”Hari biasa, pelajaran biasa. Nggak ada yang istimewa di sini. Rasanya aku kurang semangat.”


Sonya nampak lelah sedangkan Fahruz merasa bingung dengan sifat barunya ini. Padahal kemarin dia baru saja melihat Sonya bersama dengan Aratha di sepanjang hari bahkan sampai Sonya pulang ke rumah. Dia tidak tahu hal penting apa yang mereka bicarakan saat itu. Mereka terlihat serius sampai-sampai tak menyadari keberadaan Fahruz di belakang mereka.


”Kenapa kamu nggak temuin Aratha? Biasanya juga gitu kan?”


”Lho? Kamu nggak suka aku jalan sama kamu?”


”Lah, kamu? Biasanya kamu selalu temuin Aratha. Mau pagi, siang, sore, tiap hari ketemuan terus.”


”Kamu cemburu atau kamu berusaha ngomong sesuatu ke aku?” Sonya mencoba menggoda wajah Fahruz yang terus teralihkan darinya.


”Kalau iya, kenapa? Aku cemburu kamu dekat-dekat sama cowok lain! Lagian, aku duluan cowok pertama yang dekat sama kamu. Tapi, kamunya malah milih cowok yang lain! Kamu ini beneran nggak peka atau gimana sih?”


Sonya seketika terdiam, menahan wajah keheranannya. Dia tak menduga dan dia tak pernah tahu Fahruz akan mengatakan ini padanya. Dia pikir, Fahruz tidak begitu menyukainya karena dia berisik, nggak bisa diandalkan dan nggak bisa menjaga diri. Namun, apa yang dikatakannya ini benar-benar sesuatu yang luar biasa sangat baginya.


”Maaf, Fahruz. Aku nggak tahu kalau kamu bakalan begitu.” Sonya berekspresi sedih sekaligus bersalah padanya.


Dengan cepat Fahruz tersenyum, lalu tertawa kecil dan tangannya menyentuh kepala Sonya dengan lembut. ”Kamu nggak usah begitu.” ucapnya. ”... Aku nggak apa-apa. Menyukai seseorang itu hak kamu. Aku nggak bisa maksa kamu. Aku ini tipe cowok yang beda meski aku tetap cemburu kamu dekat sama Aratha. Jadi, intinya aku suka sama kamu tapi, aku nggak maksa kamu buat suka sama aku.”


Sonya merasa wajahnya memanas. Wajah Fahruz begitu dekat dengannya sehingga itu membuatnya canggung. Sonya menggigit bibir bawahnya sembari mengalihkan perhatiannya. Jantungnya begitu berdebar-debar dan kepalanya terasa mengeluarkan asap begitu banyak.


”Woy! Alrez sama Aratha lagi berantem!” teriak seseorang.


Seketika perhatian Sonya langsung teralihkan pada suara teriakan ini. Dia memundurkan langkahnya begitu juga dengan Fahruz yang menjauh darinya. Sonya tampak cemas. Mungkin, Alrez sedang membicarakan hal yang kemarin terjadi mengenai Aretha yang langsung menariknya pergi sebelum Sonya mengatakan sesuatu pada Alrez di depan umum.


Dengan cepat, Sonya langsung berlari, mengikuti arah semua orang pergi. Fahruz mengikuti tak jauh di belakangnya. Hal yang luar biasa ternyata terjadi selama dua hari berturut-turut. Tentunya, hal ini menjadi penyemangat untuk orang-orang yang melihatnya dan membicarakannya.


Tepat di depan lab fisika, Alrez tengah berhadapan dengan Aratha. Wajah Aratha terlihat dipenuhi memar. Begitu juga dengan Alrez meski tidak terlalu besar. Tampaknya, saat keduanya baru saja berpapasan, Alrez langsung meninju wajah Aratha lalu membantingnya ke tembok. Saat ini, yang ada di sekolah bukanlah Aretha melainkan Aratha. Karena saat ini Aratha tidak sedang baik-baik saja, dia hanya bisa melakukan sedikit perlawanan.


”Aku nggak salah apa-apa! Kamu ngapain sih mukul?!”

__ADS_1


”Kamu nggak tahu diri! Sekarang kamu tahu sedang berhadapan dengan siapa?! Kayaknya kamu perlu dihajar biar sadar diri!”


Alrez mengepalkan tangannya, bersiap untuk memukul wajah Aratha kembali. Kali ini, tanpa berpikir apapun dan tanpa berpikir Sonya sedang memperhatikannya dari sisi penonton, Alrez langsung berlari menyambar Aratha.


”Alrez! Stop!”


Sonya mencoba berlari mendekati mereka berdua. Hanya Aratha yang menyadari keberadaan Sonya di belakangnya dan sedang mendekati mereka berdua. Akan sangat berbahaya baginya karena bisa saja Sonya terkena pukulan Alrez untuk yang kedua kalinya.


Dengan cepat, Aratha langsung memeluk Sonya dari samping. Tangan kiri menahan bahu Sonya sedangkan tangan kanan menahan pukulan Alrez yang begitu cepat. Aratha dan Alrez saling menatap tajam apalagi saat Alrez melihat Sonya berada di sisi Aratha.


Alrez baru saja menyadarinya sehingga dia langsung menurunkan tangannya. ”Sonya! Kamu ngapain berdiri di sana! Cepat ke sini!” bentak Alrez.


Sonya menatap Alrez dengan sangat marah. ”Emangnya kamu siapa?! Sampai sekarang kamu masih belum ngelepasin aku?! Dari dulu kamu nggak pernah berubah! Masih kayak anak-anak! Gimana aku nggak takut sama kamu?!” bentak Sonya.


Semua orang bersorak, Alrez terdiam menahan ekspresi terkejutnya. Seketika, dia merasa bersalah. Ternyata benar, inilah yang membuat Sonya takut berhadapan dengannya. Alrez mampu mengerti. Namun, dia masih belum berani mengatakan sesuatu untuknya.


Langkah Alrez perlahan mundur. Sonya melepaskan diri dari pelukan Aratha lalu berjalan mendekati Alrez dengan wajahnya yang terlihat sedih. Orang-orang tak berani berkomentar. Mereka hanya ingin kebenaran mengenai puncak masalah mereka berdua.


Ketika Sonya hendak mengatakan sesuatu padanya, Alrez sudah lebih dulu berlari pergi meninggalkannya. Sonya takut dia sudah mengatakan hal yang salah pada Alrez. Namun, dia lebih takut sesuatu yang buruk sedang menimpa Aratha saat ini.


Langkah Aratha begitu cepat sehingga Sonya harus bersusah payah untuk mengikutinya. Beberapa detik setelahnya, orang-orang yang berkerumun akhirnya membubarkan diri. Namun, tidak semuanya pergi. Fahruz masih berdiri di posisinya yang sama.


Fahruz tampaknya sedang mengoreksi penampilan Aratha saat ini. ”Memakai jaket di saat cuaca sedang panas-panasnya. Kulitnya pucat dan memar ada di seluruh badannya. Pukulan Alrez nggak seperti pukulan seorang petinju. Harusnya dia nggak sampai memar dan cuma sakit sebentar saja. Rasanya ada yang aneh.”


...~o0o~...


”Aduh! Pelan-pelan! Kamu itu punya hati nggak sih?! Ini sakit tahu!” ketus Aratha sembari memegangi pipinya yang sedang diolesi obat.


”Kamu sendiri kenapa nggak lawan dia? Lihatlah! Muka kamu sampai bonyok kayak diinjak-injak truk tronton!” balas Sonya.


”Kamunya bisa nggak sih pakai hati sedikit! Gimana kalau memar ini malah nggak bisa dihilangkan? Kamu mau tanggung jawab sama wajahku yang nggak akan keliatan seperti semula?”

__ADS_1


”Kamu itu mau sembuh nggak sih?! Kalau mau, nurut aja!”


”Kamunya niat ngobatin nggak sih? Kalau niat, yang benar dong! Nggak usah pakai teriak-teriak ke pasien! Aku nggak bisa bayangin semisal kamu jadi dokter! Semua orang pasti takut diobati sama kamu!”


”Terus, kenapa kamu minta aku ngobatin luka kamu? Kenapa nggak yang lain? Kayak Kinan atau Rika?”


”Cuma kamu yang aku kenal di sana! Lagian, nggak mungkin aku ngobatin luka ini sendirian.”


Sonya menghela nafas. Pada akhirnya, dialah yang mengalah. Sonya berusaha lembut saat mengobati memar pada wajah Aratha dan menutupinya dengan plester dan kapas. Saat memperhatikan wajahnya dari jarak dekat, Aratha baru tahu kalau Sonya memilki wajah yang cukup cantik. Pantas saja Alrez begitu mempertahankannya sampai-sampai melampiaskan kekesalannya padanya.


”Hmm, Sonya!”


”Apa?”


”Ada cowok yang lagi kamu suka?”


”Ada.”


”Kalau boleh tahu, siapa dia?”


”Kamu orangnya. Selama ini kamu nggak pernah sadar, ya?”


”Kenapa harus aku?”


”Aku juga nggak tahu. Lagian, hati nggak bisa ditebak jatuhnya akan ke mana. Aku juga nggak nyangka kalau kamu orangnya.”


”.....”


”Oh, ya. Soal kemarin. Aku udah tahu kalau yang berangkat sekolah itu saudara kembar kamu, Aretha. Aku hampir aja salah mengira. Untungnya aku udah apal jelas gimana tindakan kamu, cara berpakaian, tatapan mata dan gaya bicara kamu.”


Aratha sedikit terkejut. ”Aretha, ngomong apa aja ke kamu?”

__ADS_1


”Nggak ada. Cuma perbincangan kecil yang nggak penting. Kamu nggak usah khawatir sama dia. Selama di sekolah, Aretha bertindak baik. Malah melindungiku dari Alrez.”


Aratha kemudian terdiam dan hanya menganggukkan kepalanya. Dia tidak bertanya jadi itu yang membuat Alrez marah padanya atau pertanyaan penting lainnya mengenai tindakan Aretha kemarin. Namun, jauh di dalam lubuk hati Sonya, dia merasa sangat takut kehilangan sosok Aratha. Dia terlihat sangat sakit dan dia berusaha untuk tetap bertindak biasa di depan semua orang.


__ADS_2