
Pentas seni hanya diadakan sekali dalam satu semester. Karena itu, saat inilah momen langka itu terjadi dan momen yang paling menyenangkan. Bagi siswa tidak teladan ini adalah hal yang paling ditunggu. Karena mereka tidak perlu membawa banyak buku dan tidak perlu repot-repot belajar. Tugasnya hanya menonton serta mementaskan sebuah pertunjukkan di depan wali kelas dan orang-orang banyak.
Kali ini, giliran klub drama yang naik ke atas panggung. Aratha tampak gagah dengan kostum pangeran negara barat berwarna putih dengan hiasan berwarna emas dan biru. Semua cewek terus terpaku, menatap sorot matanya yang tampak indah namun begitu dingin.
Sepanjang pementasan, Aratha merasa ada yang kurang. Sejak dia berangkat sekolah, dia belum melihat Sonya bahkan seujung rambutnya pun tidak. Dia terus memikirkannya dan berharap pikirannya tentang keadaan Sonya saat ini menghilang.
Ahh, kurang kerjaan sekali. Untuk apa memikirkannya?
Semua mata terpukau, melihat Aratha beraksi di atas panggung apalagi saat dia memainkan adegan pertarungan dengan penjahat menggunakan pedang. Kinan tak ikut memainkan peran. Dia hanya mengawasi dari balik panggung dan mengatur semua orang di sana.
20 menit berlalu, pementasan drama akhirnya selesai. Semua orang yang memainkan peran berkumpul di atas panggung untuk mengucapkan terima kasih. Aratha berpikir semua pemain di sini harus mengucapkan terima kasih satu persatu. Namun, mendengar suara langkah kaki yang menaiki tangga, membuat perhatian Aratha seketika tertuju padanya.
Setelah tiga jam Sonya menghilang, akhirnya dia muncul kembali dan sedang berdiri di atas panggung dan di depan teman-temannya. Dia masih memakai seragam rapi seperti baru saja berangkat sekolah. Senyumnya terbentuk saat dia menatap semua orang di sana.
Aratha merasa curiga. Saat ini, wajah Sonya terlihat sangat pucat seperti kekurangan darah. Dari atas kepala sampai ujung jari, dia tampak berkeringat dingin seperti orang sakit. Sonya tak bisa dihentikan. Aratha tak memiliki pilihan lain selain mengawasinya dari belakang.
__ADS_1
”Untuk semua yang ada di sini, terima kasih karena sudah melihat pertunjukannya dengan senang hati. Ku harap kalian semua merasa senang setelah melihatnya. Sebagai perwakilan dari ketua klub drama, aku sampaikan terima kasih pada semua orang yang sudah terlibat dalam drama dan yang sudah menyaksikannya sampai ak—
Tiba-tiba Sonya terjatuh dari atas panggung yang cukup tinggi. Dengan cepat, Aratha langsung berlari ke arahnya. Namun, Aratha tidak bisa menjangkau Sonya yang sudah terjatuh lebih dulu. Beruntungnya, di bawah panggung sana sudah ada Alrez yang langsung menangkap Sonya sebelum kepalanya menyentuh lantai semen.
Begitu mendapatkannya, Alrez langsung menatap dingin ke arah Aratha seolah sedang menyatakan perang padanya. Saat ini, Aratha belum tahu apapun tentang Alrez karena keduanya belum saling kenal maupun saling menyapa. Namun, persoalan melihatnya bersama dengan Sonya di supermarket, membuat Alrez tidak akan pernah bisa melupakan pemandangan itu.
Semua orang berkumpul untuk melihat keadaannya tak terkecuali Fahruz yang baru saja selesai memindahkan barang. Sebelumnya, Fahruz memang sudah tahu tentang keadaan Sonya saat ini dan mencoba untuk melarangnya pergi ke sekolah. Namun, Sonya tidak bisa dihentikan dan tetap bersikeras ingin berpidato pada semua orang yang terlibat dalam dramanya.
”Jangan dibiarkan saja! Cepat! Bawa dia ke UKS!” Pak Zaki langsung membuka jalan untuk Alrez yang sedang membopong Sonya.
”Heeh! Kenapa kalian ke sini? Jangan buat keributan di UKS! Di sini tempat tenang!” teriak Miss Yuli, Guru UKS yang sibuk mengomeli para siswa yang juga ikut masuk ke dalam ruangannya.
”Tapi Miss! Kita juga temannya!” jawab orang lain.
”Iya! Sonya teman kita!” lanjut yang lain.
__ADS_1
Seketika, suasana di UKS berubah menjadi sangat ramai seperti pasar malam. Siswa-siswi yang ada di sini sangat keras kepala karena tidak ingin mendengarkan ucapan orang yang lebih tua dari mereka. Setelah Alrez meletakkan Sonya di atas kasur dan membiarkannya beristirahat di sana, dia langsung menatap dingin pada para siswa kelas yang memberontak ingin masuk.
”Kalian minggir dari sana atau aku harus pakai cara kasar buat ngusir kalian?!” bentak Alrez yang mengundang rasa takut dalam benak siswa kelas masing-masing.
Hanya berselang satu detik setelahnya, semua orang langsung berjalan pergi seperti kerumunan semut yang diguyur air. Meskipun begitu, ada dua orang yang masih bertahan di ambang pintu. Mereka itu Fahruz dan Aratha yang juga memasang ekspresi wajah cemasnya pada Sonya.
”Sonya tiba-tiba pingsan. Tapi, dia nggak apa-apa kan?” Aratha berjalan menghampiri Sonya disusul dengan Fahruz di belakangnya.
Alrez menatap tajam Aratha namun Aratha tidak menyadarinya. Sedangkan Fahruz memang sudah tahu kalau akan seperti ini akhirnya. Dari ekspresinya, Fahruz tahu kalau Alrez belum bisa melepaskan Sonya sepenuhnya. Sebaliknya, baru-baru ini Aratha mengikat Sonya dalam hidupnya. Gejolak perang dingin mulai terasa di antara mereka berdua.
”Kalian bertiga pergilah. Biarkan dia beristirahat di sini.” ucap Miss Yuli. Dia paling tidak suka melihat UKS penuh orang sehat. Miss Yuli mulai menatap dingin pada mereka bertiga.
”Aku akan menjaganya di sini sampai dia bangun.” ucap Fahruz mengajukan diri.
”Memangnya kamu siapa? Aku saja yang menjaganya.” ketus Alrez sembari mendorong Fahruz ke belakang.
__ADS_1
”Kalian ngomong apa sih?!” teriak Miss Yuli mulai marah. ”Miss udah bilang. Kalian bertiga pergi dari sini! Miss nggak mau lihat kalian bertiga muncul di UKS selain sakit! Lagian, pentas seni masih berlangsung kan? Kalian duduk saja di sana!”