Jingga Untuk Aratha

Jingga Untuk Aratha
Bab. 23 - Pertemuan Terakhir


__ADS_3

Hai, Sonya.


Maaf untuk kejadian pagi tadi dan sebelumnya.


Surat ini mungkin akan menjadi yang terakhir untukmu dan untukku.


Besok aku akan pergi ke Palangkaraya karena pekerjaan Ayah dan menetap di sana selama beberapa tahun.


Aku sedikit kecewa karena kita nggak bisa lulus bareng dan nggak bisa saling bertatap muka lagi.


Meski begitu, aku tetap senang bertemu denganmu. Apalagi, saat kamu menyebut namaku untuk pertama kalinya.


Aku sangat menikmati hari-hari bersama kita. Rasanya tak cukup jika hanya mengucapkan terima kasih untukmu. Aku masih ingin mengatakan banyak hal padamu. Aku masih ingin bersamamu lebih lama lagi. Tapi, sepertinya sudah ada orang lain di hatimu.


Aku tak akan memaksa kamu.


Aku tak akan muncul dalam hidup kamu.


Meski aku berharap bisa bertemu denganmu lagi.


Aku senang karena sudah mengenalmu dan tak akan pernah menyesal.


Terima kasih sudah datang dalam kehidupanku.


Selamat tinggal, Sonya.


Itu adalah surat yang ditinggalkan Alrez terakhir kali di laci mejanya. Sonya tak bisa membayangkan hidup sebagai seorang Alrez. Ayahnya memiliki temperamen buruk dan Ibunya memutuskan untuk berpisah dengan membawa serta adik perempuannya. Dia pasti merasa sangat kesepian dan kehilangan. Sonya tetap berharap, Alrez menemukan seseorang yang baru ketika dia sudah pindah nanti.

__ADS_1


Sonya berjalan keluar kelas dan sudah menemukan Aratha berdiri di ambang pintu. Dia melipat tangannya seperti kesal karena sesuatu. Sekilas, keduanya saling memandangi dan tak juga mengucapkan kata-kata pertama. Sonya menurunkan pandangannya kemudian berjalan pergi membelakanginya.


Sepertinya Aratha sudah terlanjur kesal dan tak ingin mendengarkan penjelasan apapun mengenai surat yang ada di laci meja Sonya. Dengan cepat dia langsung menarik pergelangan tangan Sonya lalu menariknya pergi ke arah sebaliknya.


”Aduh! Pelan-pelan sedikit!” Sonya menarik pergelangan tangannya dan langkah keduanya langsung berhenti. Dalam sekali pandang saja, Sonya sudah tahu kalau saat ini Aratha sedang bad mood.


Aratha terlihat berkeringat. Nafasnya terengah-engah seperti sedang kelelahan. Padahal keduanya baru saja berlari sebentar. Sudut hati Sonya terasa ngilu, membayangkan apa yang saat ini terjadi pada Aratha. Dia ingin melakukan sesuatu untuknya. Namun, dia tidak bisa sembarangan melakukannya.


Hening. Mereka berdua saling menunggu. Sampai sebuah kejadian, membuat Sonya akhirnya berkata lebih dulu.


”Aratha! Hidung kamu berdarah.”


Aratha tampak terkejut. Dia langsung mengelap bawah hidungnya menggunakan jari telunjuknya. Sonya merasa ngeri saat darah itu menetes sampai ke permukaan lantai. Melihat keadaan Aratha, membuat Sonya melupakan ujian matematika yang akan dilakukan besok. Rasa cemas dan takut akhirnya muncul kembali dalam hatinya setelah Sonya kehilangan Ibunya.


Perlahan Sonya berjalan mendekatinya dan Aratha langsung bergerak membelakanginya. Dia masih mengusap-usap hidungnya dan menghapus bercak darah di lantai menggunakan jejak-jejak sepatunya.


Selagi punggung Aratha masih terlihat dan hanya berjarak beberapa meter darinya, Sonya langsung berteriak, ”Ak- aku sayang kamu, Aratha! Jangan pergi!”


Aratha berhenti dan sedikit menoleh ke arah Sonya. Dia seperti ingin mengatakan sesuatu namun, keraguannya jauh lebih besar dari apa yang diperkirakannya. Aratha tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan berhadapan dengan Sonya. Dia tidak ingin Sonya merasa penasaran dengan apa yang ingin dikatakannya. Tetapi, rasa nyeri di seluruh tubuhnya semakin menggodanya untuk pergi dari pada membuat Sonya mencemaskan Keadaannya. Pada akhirnya, dia tidak jadi mengatakannya dan malah pergi meninggalkannya.


Sonya menggigit bibir bawahnya. Entah apa yang membuatnya berpikiran seperti ini. Sonya merasa ini adalah pertemuan terakhirnya dengan Aratha. Kata-kata aku sayang kamu, adalah kata yang tak sengaja diucapkan oleh Sonya. Bibirnya bergerak sendiri dan dia tidak tahu mengapa itu bisa terjadi.


”Nggak! Itu pasti salah! Dia pasti baik-baik saja!”


...~o0o~...


Aretha memasuki kamar Aratha tanpa izin selagi dia masih ada di sekolah. Dia melihat-lihat benda di sana termasuk sebuah bingkai foto keluarga yang ditaruh di atas meja. Foto itu tidak terlihat berdebu sama sekali karena Aratha mengusapnya setiap hari.

__ADS_1


Sembari memegangnya, Aretha duduk di atas tempat tidur Aratha. Dia memperhatikan wajah Ibunya yang tersenyum dan wajah Aratha ketika dia masih sehat. Aretha merindukan keluarganya yang dulu. Dia berharap bisa mengulang waktu untuk menghindari kejadian buruk di masa depan.


”Ibu, apa yang harus aku lakukan untuknya sekarang? Apakah Ibu sangat merindukan Aratha dan ingin bertemu dengannya di surga? Tolong jangan ambil Aratha dari keluarga ini. Aku masih ingin melihatnya lebih lama lagi. Kumohon, berikan kami waktu beberapa tahun saja. Aku sudah cukup terluka melihat kepergian Ibu.”


Aretha menunduk, menaruh bingkai foto itu di sebelahnya. Sesekali dia menghirup udara dan membuangnya dengan kasar. Hatinya menjerit setiap hari namun, tidak ada yang menyadarinya. Rasa takut kehilangan dialaminya setiap hari. Apalagi, dalam waktu beberapa hari lagi, dia dan Bibinya akan kembali Makkasar. Dia tidak bisa bertemu Aratha selama beberapa bulan.


Baru saja dia melamun sebentar, suara benda-benda berjatuhan tiba-tiba terdengar dari ruang depan. Dengan cepat Aretha langsung berlari keluar kamar untuk melihat keadaannya. Setelah berada di sana, ruang tengah begitu berantakan dengan beberapa gelas dan toples kaca yang pecah di atas lantai. Tak jauh dari pecahan itu berada, Aretha tampak sangat terkejut karena di sana dia melihat Aratha terbaring lemah.


”Aratha! Cepat bangun! Aratha!”


Aretha berteriak di depan Aratha. Dia mencoba membalikkan tubuh Aratha yang tengkurap di atas lantai. Dia terlihat pucat dan wajahnya dipenuhi dengan luka memar. Hidungnya kembali berdarah setelah Aratha berusaha menghilangkan jejaknya berulang kali. Kali ini, dia terlihat lebih parah dari sebelumnya.


”Bibi! Cepat kemari! Kita butuh ambulans!”


...~o0o~...


”Rasanya waktu berjalan begitu cepat. Baru saja kemarin aku bertemu dengan Aratha dan sekarang sudah berpisah lagi. Aku ingin berjalan-jalan lagi dengannya. Mendengarnya mengomeli pedagang curang dan bagaimana dia berdebat denganku hanya karena hal sepele. Dia orang yang membuatku memiliki semangat hidup.”


Setiap kali merenung, Sonya selalu duduk di sudut ruangan dan menjauhi bagian tengah. Dia sedih karena sesuatu. Aratha tidak seperti Aratha yang dulu di kenalnya. Jika saja, Sonya tidak mencoba menghindar dari Aratha hanya karena pergelangan tangannya yang sakit, apakah dia masih bisa berbicara dengan Aratha untuk waktu yang sangat lama? Kira-kira apa yang berusaha dikatakannya tadi sampai-sampai dia ragu untuk mengeluarkannya?


Dadanya terasa menyempit sehingga membuatnya sesak. Keringat dinginnya terus mengalir dari atas kepalanya seperti tidak ada habisnya. Tak ada satu pun suara selain suara kipas yang sedang menyala di atas kepalanya.


Bunga yang diberikan oleh Aratha beberapa hari yang lalu tampak layu di dalam vas berisikan air dingin. Beberapa kelopaknya terus berjatuhan dan kemudian berubah menjadi hitam. Bunga itu tidak lagi memiliki harum dan tidak lagi terlihat indah padahal Sonya sudah merawatnya dengan baik. Sedangkan, boneka beruang coklat yang diberikan Alrez waktu itu tampak baik-baik saja padahal Sonya tidak pernah merawatnya dan dibiarkan begitu saja di atas meja.


Sonya mengambil ponselnya dan dari bawah bantal dan mencoba menelfon Aratha. Ponselnya berdering namun, dia tidak mendengar suara apa pun. Hanya ada suara operator yang mengatakan kalau nomor ini sedang tidak aktif.


”Dasar Aratha! Jangan buat orang lain cemas dong!”

__ADS_1


__ADS_2