
Oh? Sonya, ternyata itu kamu.
Aku selalu takut yang berdiri di hadapanku ini bukan kamu. Tapi, terima kasih karena sudah datang di hadapanku.
Sebelumnya maaf karena aku selalu bertindak kekanak-kanakan di depan kamu. Aku emang cemburuan kalau kamu dekat sama cowok lain apalagi sama Alrez. Aku nggak suka kamu dekat-dekat sama dia. Alrez bukan orang baik buat kamu. Aku takut sesuatu yang buruk menimpa kamu untuk kedua kalinya.
Soal kemarin, maaf aku tidak sempat mengatakannya. Aku nggak mau kamu cemas karena melihat keadaanku yang semakin melemah tiap harinya.
Aku selalu berbohong pada Bibi Anieq dan Ayah kalau keadaanku saat ini masih baik-baik saja.
Seperti yang kamu duga. Aku ini terlalu naif dan selalu mementingkan diriku sendiri.
Dengan melihatmu, aku lupa dengan rasa sakit yang terus menggodaku.
Dengan membuatmu tersenyum, duniaku semakin terasa hangat.
Dengan berbicara denganmu, semakin aku tidak ingin jauh-jauh denganmu.
Kamu seperti segalanya bagiku.
Kamu membuat pelangi di tengah badai yang menerjang diriku.
Tetapi, pelangi itu akan segera menghilang karena badai sudah selesai.
Begitu juga dengan aku dan kamu.
Sebentar lagi, kita akan berpisah.
Aku harap, aku sempat mengucapkan selamat tinggal untukmu. Tetapi, aku tidak bisa melawan takdir yang sudah ditentukan untukku.
Aku tidak menyangka, kita akan berpisah begitu cepat.
Terima kasih, Sonya.
Selamat tinggal.
...~o0o~...
__ADS_1
Sudah sebulan Aratha tidak masuk sekolah. Nomornya juga tidak aktif sehingga Sonya sangat sulit untuk menghubunginya. Dia juga tidak tahu dimana alamat rumahnya saat ini. Pak Zaki sudah memberitahu dimana alamat rumahnya tetapi, yang Sonya temukan saat itu hanyalah rumah kosong dengan tulisan di jual. Aratha tidak memperbarui data pribadinya ketika dia sudah pindah rumah atau mungkin dia tidak sempat melakukannya.
Sonya terlihat bosan dan kesepian. Rasanya jauh berbeda dari sebelumnya. Sangat tidak bersemangat. Meskipun Fahruz sudah mencoba menghiburnya, tetapi tetap saja tidak sama. Apalagi ujian fisika baru saja selesai. Tentunya, ini menambah tekanan pada pikiran Sonya.
”Bosan. Nggak ada yang ngajak aku berdebat. Aku ingin dihibur tapi tak ada yang menghibur.” gumam Sonya sembari mengaduk jus alpukatnya sampai mencair.
”Jangan terus-terusan melamun. Nanti mulutmu kemasukan lalat.” ucap Kinan yang datang dan langsung menepuk pundak Sonya.
Kinan duduk di depan Sonya dengan membawa jus yang sama dengannya. Sepertinya, di antara semua orang yang berdiri di sisi Sonya, hanya Kinan yang mampu mengerti perasaannya dan membiarkannya sendiri untuk beberapa saat. Kinan sangat tahu kapan Sonya butuh untuk diajak bicara dan butuh waktu untuk sendiri. Karena dia, pernah mengalami hal yang sama seperti yang dialami Sonya.
”Kamu masih belum bisa hubungin Aratha sampai sekarang?”
”Belum. Pesan dariku juga nggak dibuka sama dia. Aku semakin kepikiran. Kemarin wajahnya pucat dan hidungnya mengeluarkan darah. Aku coba mencarinya di rumah sakit, tetapi namanya tidak ada.”
”Dia pasti baik-baik saja. Kamu nggak usah berpikiran dia sedang nggak baik-baik aja.” Kinan mulai menyedot minumannya sementara Sonya masih memandangi minumannya yang sudah tidak dingin.
Lagi-lagi Sonya melamun. Dia berusaha untuk menghilangkan pikiran Aratha dari kepalanya. Namun, tampaknya bayangan Aratha sudah menguasai hati dan pikirannya. Dia tidak bisa tidur belakangan ini. Dia juga tidak nafsu makan. Bahkan bahan makanan yang disimpan di rumahnya satu persatu membusuk sehingga harus dibuang. Sudah pasti, Aratha akan marah padanya jika hal ini sampai terdengar di telinganya.
”Nggak bisa! Aku nggak bisa berhenti mikirin dia! Aku masih keinget kejadian kemarin. Aratha kayaknya mau ngomong sesuatu tapi, aku malah menghindarinya hanya karena pergelangan tanganku sakit. Habis itu dia menghilang tanpa kabar dan tanpa jejak. Gimana aku nggak kepikiran terus?”
Sonya tampak putus asa. Matanya mulai berkaca-kaca karena terus memikirkannya. Ngilu rasanya saat dia membayangkan sesuatu yang buruk menimpa Aratha sampai-sampai membuatnya harus pergi ke rumah sakit atau ke tempat yang membuatnya menjadi lebih baik.
Sonya menatap Kinan dan tiba-tiba dia teringat pada Algi. Kekasih Kinan yang meninggal dua tahun lalu. Kinan pasti sedang menceritakan segalanya yang dulu pernah dialaminya. Saat itu, Sonya melihat Kinan begitu sedih dan putus asa. Hatinya seperti ditikam berkali-kali dengan pedang sampai tak berbentuk.
Dia berusaha untuk tidak mengungkit masalah Kinan dua tahun lalu.
Sampai saat ini, Sonya masih tidak bisa diajak bicara panjang lebar. Di kelas dia terus melamun bahkan sampai membuat Guru terheran. Fahruz menjadi ikut-ikutan cemas. Rasanya sangat tidak seru, melihat Sonya yang terus menerus diam seperti ini. Tak ada lagi yang berisik bahkan Sonya nyaris mengabaikannya selalu saat dia mengajaknya bicara. Fahruz mencoba mendekatinya untuk mengatakan beberapa patah kata namun, Kinan terus saja menghalangi dan mengancam. Sonya hanya akan berbicara kalau dia mau dan untuk sementara mereka harus menunggu.
...~o0o~...
Sudah biasa sekolah dibubarkan pada pukul tiga sore. Sekolah memberikan waktu pada siapapun yang ingin melakukan kegiatan ekstrakurikuler. Kali ini Fahruz tidak berani mendekat. Dia hanya mengikuti Sonya dari jarak jauh dan mengawasinya bahkan ketika mereka sampai di halte bus.
Dalam beberapa jam lagi, matahari akan terbenam. Tiba-tiba Sonya teringat tentang Aratha yang sangat takut pada kegelapan. Rasanya sangat tidak bisa dipercaya. Laki-laki pemarah seperti Aratha bisa takut pada fantasinya sendiri.
Angin kembali berhembus saat beberapa kendaraan melaju melewatinya. Sonya terus berjalan melewati trotoar dengan kepala menunduk. Dia sendiri tidak tahu sampai kapan dia akan terus menunduk dan menghindari tatapan orang lain.
”Heh! Mau sampai kapan kamu terus menunduk?!”
__ADS_1
Suara Aratha terdengar jelas di telinganya dan itu membuat Sonya sangat terkejut. Dia langsung mengangkat kepalanya dan menatap ke depan. Namun, tak ada jejak Aratha di sana. Hanya beberapa orang yang tak dikenalnya sedang berdiri menunggu bus yang sama dengannya. Sonya mulai berpikir kalau suara itu bagian dari halusinasinya karena dia terlalu memikirkannya.
”Aku di sini!” lanjutnya.
Sonya langsung berbalik secepat kilat begitu suara ini datang untuk yang kedua kalinya. Perhatiannya langsung menusuk pada sosok cowok yang memakai Jaket parka berwarna hitam, sedang berdiri dan bersandar pada tiang rambu jalanan.
”Aratha?”
Hanya nama itu yang terbayang di pikiran Sonya saat ini. Dia langsung berlari menghampiri ketika cowok itu hendak menunjukkan wajahnya. Sonya sangat berharap sosok di depannya ini adalah Aratha.
Namun, ekspetasi tak sama dengan realitanya. Langkah Sonya langsung berhenti ketika dia hanya melihat sosok Aretha berdiri di depannya. Jelas sekali suara Aretha sangat mirip dengan suara Aratha. Hanya saja wajah mereka sedikit berbeda.
”Dimana Aratha? Kayaknya aku sempat melihatnya.” ucap Sonya sembari memandangi sekitar.
”Heh! Kamu masih bisa bedain wajah kita berdua, ya? Aku kira kamu sudah lupa bagaimana cara membedakannya.”
”Gimana aku bisa lupa?! Meski cara berpakaian kamu mirip sama Aratha, tetap aja tahi lalat itu nggak bisa diubah posisinya! Aratha punya tahi lalat di bawah mata sedangkan kamu punya tahi lalat di bawah bibir!”
Secara refleks Aretha langsung menyentuh tahi lalat kecil yang ada di bawah bibirnya. ”Benar juga. Kayaknya kamu memperhatikan sedetail-detailnya. Tahi lalat sekecil ini masih kamu perhatikan.”
”Terus, dimana Aratha sekarang? Kenapa dia nggak ke sini?” Sonya kembali memperhatikan sekitar.
Aretha langsung mengalihkan perhatiannya seperti ada sesuatu yang sedang disembunyikannya. Sialnya, saat itu Sonya sedang menatap wajahnya. Sonya yang mampu menduga-duga perasaan orang lain, langsung menyadari sesuatu darinya.
”Kenapa sama Aratha? Dia kenapa? Katakan! Katakan sesuatu padaku!” Sonya mulai terlihat cemas. Kedua matanya berkaca-kaca, mengharapkan sesuatu yang terbaik untuknya.
Aretha membuang nafas. Tak kuasa menatap ekspresi Sonya saat ini. Dia tak ingin membuatnya kecewa. Namun, dia tetap harus mengatakan kenyataannya.
Tangannya kemudian bergerak menarik Sonya menuju suatu tempat yang tidak terlalu ramai. Langkah Aretha tak begitu cepat dibandingkan langkah Aratha sehingga Sonya masih bisa mengejarnya. Dan tepat di samping gedung sekolah, keduanya berhenti. Tempat itu tidak begitu ramai sehingga tidak banyak orang yang tahu pembicaraan mereka berdua.
Sonya dan Aretha saling berhadapan, menunggu jawaban yang pantas di dengar. Sonya tampak tegang. Kedua tangannya gemetar, berharap Aratha sedang baik-baik saja.
Di tengah ketegangan itu, Aretha tiba-tiba berjalan mendekatinya. Sonya memperhatikan wajah Aretha yang terlihat sedih. Tampaknya ini bukanlah sesuatu yang enak di dengar olehnya.
”Sonya,...”
”....”
__ADS_1
Aretha terdiam untuk mengambil beberapa tarikan nafas. Langkahnya semakin mendekat dan pada akhirnya, Aretha malah memeluk Sonya begitu erat. Di tengah-tengah pelukan yang membuatnya sesak itu, Aretha berkata, ”Pilih aku saja.”