Jingga Untuk Aratha

Jingga Untuk Aratha
Bab. 08 - Mengantarmu Pulang


__ADS_3

Dea terus berjalan dengan kakinya yang terluka. Semua orang memperhatikannya, menatap betapa kasihannya dia karena tak ada seorangpun yang membantu. Namun, ini semua karena ucapan Dea sendiri yang menolak kebaikan Fahruz.


Karena tak kuat lagi menahannya, Dea langsung duduk di kursi depan toko bunga. Dea terlihat kelelahan seperti orang tua yang terlalu banyak berjalan. Dia mencoba menyentuh kakinya yang semakin bengkak. Namun, dia terlalu takut dengan rasa sakitnya.


”Harusnya aku nggak menolak kebaikannya.” gumam Dea, menghela nafasnya lalu memejamkan matanya selama beberapa saat.


”Aku kan sudah bilang. Kaki kamu akan semakin terluka kalau dipaksakan.” ucap Fahruz tiba-tiba muncul di sebelah Dea dengan membawa kantong plastik.


”Kamu ngapain di sini? Aku kan udah bilang, nggak usah bantu! Aku bisa sendiri.” ketus Dea, kesal meski sebenarnya dia sangat butuh bantuan.


”Heh! Kamu kira aku ini cowok seperti apa? Aku bukan cowok yang suka membuang cewek!” ketus Fahruz sembari berlutut di depan Dea. ”Kaki kamu sudah parah sekali. Lama kelamaan, kamu bakalan nggak bisa jalan sama sekali.”


”Emangnya kamu tahu apa? Cuma segini, aku masih bisa jalan!”


Fahruz menatap Dea kesal. Dia membuka kantong plastiknya dan mengambil perban serta obat di dalamnya. ”Sifat kamu ini benar-benar ya! Keras kepala! Nggak bisa diajak bicara santai!” ketusnya.


”Emangnya kenapa?! Sifatku memang seperti ini! Mau gimana lagi?”


”Udah! Kamu diam saja! Habis ini kamu pulang terus istirahat!” Fahruz mulai mengoleskan obatnya pada bagian kaki yang bengkak dan lutut yang terluka lalu membungkusnya dengan kain perban dan plester.


Dea merasa hatinya tertusuk oleh benda yang sangat tajam. Kupu-kupu di dadanya mulai mengepakkan sayapnya dan memberontak ingin keluar. Wajahnya memanas dan memerah, tak tahan menatap wajah serius Fahruz yang sedang mengobati lukanya.


Fahruz seperti sedang menebarkan pesonanya.


Merasa terus ditatap, Fahruz mengangkat kepalanya lalu menatap Dea dengan heran. ”Kamu terus menatapku? Kenapa? Ada yang aneh?”


Seketika Dea merasa dirinya canggung. Dia langsung mengalihkan perhatiannya dengan senyumnya yang tidak sepenuhnya terbentuk. ”Nggak! Kamu aja yang kege-eran! Ngapain aku lihatin kamu terus!”


Fahruz menatap curiga. Meskipun begitu, dia tidak ingin memperpanjang masalah yang seperti ini. Setelah dia selesai mengobatinya sedikit, Fahruz segera berdiri kembali di depannya.


”Kamu tunggu sebentar di sini. Aku akan mengantarmu pulang. Kebetulan rumahku juga berada dekat dari sini. Kalau kamu tetap memaksa berjalan, obatnya nggak akan berpengaruh.”


”Nggak usah. Aku bisa pergi ke rumah sakit sendiri. Lagian, aku udah merasa lebih baik.”


”Nggak bisa. Pokoknya kamu tunggu di sini. Sebentar saja.” setelah mengatakannya, Fahruz segera berlari pulang untuk mengambil motornya.


Dea begitu berdebar saat mendengar Fahruz begitu memaksa ingin mengantarnya pulang. Alrez tak pernah memperlakukannya seperti ini meskipun dia adalah temannya saat SMP. Alrez hanya perhatian pada Sonya bahkan saat keduanya sudah saling melepaskan. Dea malu untuk bertanya pada Alrez. Mengapa dia tidak bisa melepaskan Sonya dari hidupnya? Apakah Sonya pernah merubahnya sekali atau adakah hal yang istimewa darinya?

__ADS_1


”Sonya, kamu itu orang seperti apa?”


...~o0o~...


”Filmnya keren! Aku nggak tahu selera kamu bagus juga.” Sonya terlihat sangat senang ketika dia dan Aratha pergi keluar bioskop. Sonya mau-mau saja saat diajak menonton film kesukaan Aratha yang bergenre horor dan pembunuhan. Aratha sendiri tidak menduga bahwa Sonya malah tertawa di sepanjang film. Seketika, film horor yang seharusnya menegangkan malah berubah menjadi film bergenre komedi.


”Kayaknya, dia itu cewek yang cukup menakutkan. Tapi, cukup menyenangkan juga.” batin Aratha diam-diam tersenyum ketika mengingatnya.


Aratha menghela nafas sembari memejamkan matanya sebentar. Saat membukanya kembali, Aratha terdiam heran karena dia tidak lagi melihat Sonya berada di depannya. Matanya mengincar, menatap pemandangan sekitar. Ada begitu banyak orang di sini jadi, dia sedikit kesulitan saat mencarinya.


”Ngapain dia di sana?” Aratha akhirnya menemukan Sonya tengah berada di antara tiga anak kecil. Sepertinya Sonya baru saja membantu salah satu anak perempuan di sana untuk mengambil layangannya yang tersangkut di atas pohon.


Aratha tidak begitu menyukai anak kecil. Dia selalu menganggap mereka sangat berisik dan banyak tingkah. Ketenangannya akan buyar saat dia berada di antara anak-anak itu.


”Lain kali hati-hati, ya!” Sonya melambaikan tangannya pada ketiga anak yang berlari pergi meninggalkannya. Sekarang, giliran Aratha yang berdiri di belakangnya.


”Kamu hilang sesaat cuma ingin mengambil layang-layang mereka?”


”Iya, aku menyukai mereka yang membuatku ingat pada masa kecilku. Dari dulu, aku juga ingin seorang adik. Tetapi, aku sadar aku tidak akan pernah mendapatkannya.”


”Oh?”


”Aratha, kamu—


”Kita impas!”


Aratha langsung memotong ucapan Sonya sehingga membuatnya sedikit terkejut. Suaranya terdengar begitu tegas seperti orang yang sedang menahan amarah. Seketika, suasana berubah menjadi penuh kebingungan dan rasa canggung.


”Impas? Apanya yang impas?”


”Kejadian beberapa hari yang lalu. Di sekolah saat malam tiba.”


Sonya langsung paham dengan yang dibicarakan Aratha. ”Maksud kamu, yang waktu itu? Itu cuma hal biasa. Kamu nggak usah balas apa-apa. Itu bukan sesuatu yang istimewa. Aku sudah cukup senang karena kamu mau menjadi tokoh pangeran dalam drama yang aku buat.”


”Menurutku itu sangat istimewa. Aku nggak bisa bayangin apa yang terjadi padaku kalau kamu nggak ada di sana waktu itu. Aku sangat takut, cemas, panik dan bingung. Tapi, saat kamu datang, aku seperti melihat cahaya yang sangat menyilaukan seperti matahari. Aku sangat senang sekali.”


Angin berhembus, menerbangkan ujung rambut mereka berdua. Sonya masih menatap Aratha dengan tatapan penuh perasaan. Dia bisa membayangkan seperti apa rasanya jika dia berada di posisi Aratha saat itu. Sonya merasa penasaran apa yang membuat Aratha takut pada kegelapan.

__ADS_1


Pasti dia memiliki luka di masa lalu.


Hening.


Aratha menoleh ke arah Sonya di sebelahnya dan memberikannya tatapan heran. ”Heh! Dari tadi, kamu terus menatapku. Kamu sibuk mikirin apa tentangku?” ketusnya.


”Siapa juga yang mau mikirin kamu?! Aku nggak punya waktu untuk itu!” ketus Sonya, canggung sembari memutar bola matanya lalu berjalan mendahului Aratha dengan terburu-buru.


...~o0o~...


Saat matahari terbenam, Sonya baru kembali ke rumahnya. Tentu dengan membawa belanjaan yang sudah dibayar oleh Aratha dengan memaksa. Hari ini Aratha begitu baik padanya. Sudah membayar semua belanjaannya, mentraktirnya makan di kafe dan mengajaknya nonton di bioskop yang belum pernah dikunjungi olehnya.


”Entah kapan hari ini akan datang lagi. Hari ini aku lelah dan senang.”


Sonya berjalan memasuki halaman rumahnya. Saat dia akan membuka pintu, orang yang berada di dalam rumah sudah membukanya lebih dulu.


”Ayah?” Sonya langsung menatap Ayahnya yang ternyata sudah kembali dari pekerjaannya. Sebelumnya, dia tidak mendapat pesan kalau Ayahnya akan pulang hari ini.


”Kamu darimana saja?” tanya Ayah, memasang ekspresi dingin.


”Aku baru saja selesai mengerjakan tugas kelompok dan pergi ke supermarket untuk membeli beberapa bahan makanan.” Sonya terpaksa berbohong karena dia tidak mau Ayahnya tahu tentang hubungannya dengan Aratha hari ini.


”Ayah sudah menunggu kamu dari pagi tadi. Padahal, niatnya Ayah ingin memberi kejutan buat kamu. Jadi, Ayah sengaja tidak mengirim pesan. Tapi, kamunya nggak juga kembali sampai sore. Jadi, Ayah membatalkannya.”


”Terus? Ayah mau pergi kerja lagi?” Sonya baru sadar kalau Ayahnya sekarang sudah memegang tas koper besar dan memakai jaketnya. Sama seperti saat Ayahnya akan pergi bekerja selama beberapa hari.


”Iya. Ayah sangat sibuk. Ayah sudah masakin makanan buat kamu dan sudah menaruh uang di meja. Jaga diri kamu baik-baik. Ayah pergi dulu.” setelah mengatakannya, Ayahnya langsung berjalan pergi keluar rumah.


Sonya terdiam di tempat, mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Ayahnya. Dengan cepat dia langsung berbalik, menatap punggung Ayahnya dan menunjukkan ekspresi kesalnya. ”Kenapa Ayah nggak bekerja di sini saja? Ayah nggak pernah tahu kalau aku sangat kesepian di sini?”


Ayah hanya menoleh sedikit ke arahnya dan menghentikan langkahnya. Seperti sedang menimbang sesuatu. Tidak lama, dia berjalan kembali keluar dan mengabaikan apa yang dikatakan Sonya untuknya.


Sedih rasanya. Rumah menjadi sepi kembali. Sonya tidak tahu apakah dia harus menyesal karena telah menghabiskan waktunya bersama dengan Aratha atau dia harus menyesal karena tidak bisa menyambut kedatangan Ayahnya yang tiba-tiba.


Dalam diam, Sonya menangis.


Pikirannya tenggelam dalam rasa bingung.

__ADS_1


Berharap Ibunya bisa ada di sini untuk memeluknya.


__ADS_2