
Saat itu, Sonya nggak habis pikir mengapa dia bisa mengatakan hal yang seperti itu. Setelah selesai bicara, Sonya langsung kabur dari dalam ruangan. Dia merasa bersalah karena tak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
"Aratha pasti marah besar. Aku nggak bermaksud mengatakan itu padanya. Aku sendiri juga bakalan sakit hati kalau seseorang mengatakan itu padaku."
Dalam perjalanannya, Sonya terus memikirkannya. Melewati koridor dan tangga, dia terus merenung, tak berekspresi, tak peduli apa yang diinjaknya saat ini. Ketika dia menuruni tangga, pandangannya sedikit kabur dan langkahnya seketika goyah. Perlahan, pandangannya mulai menghitam. Sonya berusaha mempertahankan posisinya saat ini. Namun, itu tidak bisa bertahan lama. Sonya terjatuh ke depan, tepat di atas anak tangga yang hanya tersisa beberapa saja.
Sonya pikir, kali ini dia akan berakhir berdarah-darah. Lalu, dia merasakan pelukan dari seseorang yang datang di hadapannya. Orang itu menangkapnya dan membawanya ke bawah tangga. Sonya sangat mengenal bau ini. Tidak salah lagi, dia pasti Fahruz.
"Sonya, kamu kenapa?" Fahruz terlihat sangat mencemaskannya karena Sonya tidak juga bergerak selama beberapa detik. Karena mendapatkan perasaan buruk, Fahruz langsung pergi dari perpustakaan dan mencari keberadaan Sonya.
"Makasih, Fahruz. Aku nggak apa-apa." perlahan Sonya mencoba berdiri dengan kedua kakinya. Namun, dia merasa kedua kakinya terlalu lemah untuk berjalan. Alhasil, dia pun berpegangan pada pundak Fahruz yang lebar.
"Sonya, kamu harus pulang sekarang. Aku bakalan nganterin kamu."
Sonya langsung menjawab, "Nggak! Aku nggak mau pulang sekarang!"
Fahruz berkata keras, "Pikirkan keadaanmu sendiri! Aku nggak bisa biarin kamu seperti ini terus!"
"Kalau aku bilang nggak, ya nggak! Aku masih kuat! Aku nggak akan pulang!" Sonya berkata keras dan mencoba untuk berjalan kembali. Namun, lagi-lagi kakinya begitu lemah sampai-sampai membuatnya harus berpegangan pada Fahruz.
"Kamu lihat sendiri kan?! Kamu harus kembali sebelum keadaan kamu semakin parah!" Fahruz mencoba memegangi Sonya namun, Sonya terus saja memberontak.
"Kamu ngeyel banget sih! Aku nggak mau pulang!" teriak Sonya dengan wajah serius.
”Sonya!”
Berselang beberapa detik setelahnya, Sonya langsung berhenti memberontak saat Fahruz memeluknya lagi dari depan. Sonya begitu terkejut bahkan tubuhnya terasa membeku. Kehangatan yang dulu hilang, kini tumbuh kembali di dalam dirinya setelah dia kehilangan sosok Ibu.
Fahruz terasa begitu serius. Dia memeluk Sonya begitu erat sampai membuatnya sesak. Fahruz mencoba berkata dengan sepenuh hati, "Kumohon, dengarkan aku sekali saja. Aku tidak ingin kehilanganmu, Sonya."
...~o0o~...
__ADS_1
"Hari ini Sonya pulang cepat." jawab Rika.
"Kenapa dia pulang cepat?" tanya Aratha.
Rika menghela nafas. "Entahlah. Padahal masih pagi tapi, mereka berdua sudah gatal ingin pulang."
"Mereka berdua? Maksudnya, Sonya pulang bareng Fahruz?"
"Kenapa kamu heran? Orang tua Fahruz dan orang tua Sonya sudah saling kenal dari dulu. Jadi, wajar kalau mereka berdua selalu terlihat dekat. Tapi, ngomong-ngomong soal itu, saat Sonya kembali ke kelas, wajahnya pucat seratus persen. Fahruz bahkan membantunya berjalan dan membawakan tasnya. Tetapi, mereka berdua tidak menjawab apapun saat teman-teman sekelasnya bertanya tentang keadaannya."
"Apa mungkin karena perkataanku dia jadi seperti ini?" batin Aratha memikirkannya.
"Heh! Kamu jangan cemburu kalau Sonya pulang bersama Fahruz. Di antara kalian berdua, kayaknya Fahruz yang akan mendapat restu lebih dulu. Lagian, Ayah Sonya sangat kenal dekat dengan orang tua Fahruz." Rika mencoba menggoda Aratha yang sedang menampilkan sosok dinginnya.
"Ngomongnya nggak usah diulang-ulang! Aku juga mestinya paham!" ketus Aratha. Setelah itu dia pun berjalan pergi dengan wajahnya yang terlihat kesal.
Dia masih memikirkan perkataan yang diucapkan Sonya pagi tadi dan juga mengenai tindakannya yang begitu berlebihan. Mungkin saja, ini semua adalah kesalahannya. Aratha tak bisa menahan hatinya sendiri untuk mengikat seseorang. Padahal orang itu baru saja bertamu ke dalam hidupnya.
"Kenapa aku harus milih?! Aku suka kalian bahkan Fahruz pun sama! Aku nggak bakalan bedain kalian! Nggak peduli, seperti apa kalian melihatku dari sudut pandang kalian. Aku nggak akan bisa memilih salah satunya."
"TERUS KAMU MAUNYA APA?! MEMANGNYA KAMU BISA HIDUP SEBAGAI SEORANG SONYA?! Tak memiliki saudara, Ibunya meninggal saat harus menemaninya, Ayahnya selalu sibuk bekerja di luar sana dan seorang Sonya, harus hidup sendiri di rumahnya tanpa ada siapapun yang menemaninya. Memangnya kamu bisa menjalani kehidupan yang seperti itu?!"
"Sonya,..."
"Aku nggak mau dengar pertanyaan kamu yang selanjutnya! Kalau kamu mau lari dari kehidupanku, silahkan saja! Aku nggak bakalan ngelarang kamu! Jalani saja kehidupanmu yang dulu!"
Kata-kata Sonya berhasil membuatnya berpikir keras. Ternyata benar, dialah yang salah dan dia juga mengakuinya. Sonya mungkin masih menganggapnya sebagai orang yang jauh dari kata teman. Lagipula, semua itu terjadi karena Sonya memaksa Aratha untuk ikut dalam klub drama. Dan setelah pementasan itu selesai, apakah masih ada hubungan di antara mereka berdua?
Jalani saja kehidupan mu yang dulu!
Aratha tertawa kecil dengan wajahnya yang tak percaya. Entah bagaimana ceritanya, dia tidak bisa melupakan Sonya. Dia merasa lucu dan di permainkan. Harusnya dia bisa mengabaikan keberadaan Sonya dan hidup seperti biasa.
__ADS_1
Setelah melihat kematian Ibunya, Aratha memutuskan untuk tidak melibatkan cinta ke dalam hidupnya. Cinta membuat Ibunya menderita. Cinta membuatnya harus kehilangan Ibunya. Kenapa sampai saat ini, dia tidak bisa memegang kata-katanya hanya karena seorang gadis muncul sekali dalam hidupnya?
Sudah sore dan semua orang sudah pulang. Bayangan semua orang terlihat jauh lebih tinggi dibandingkan orangnya. Itu mungkin hal yang biasa bagi mereka. Namun, di saat-saat seperti ini adalah hal yang paling ditakutkan oleh Aratha. Dia masih takut pada kegelapan yang akan memakannya sewaktu-waktu.
Angin yang berhembus di depannya, membawanya pada sosok Sonya yang sedang duduk di halte bus. Dari samping, wajahnya terlihat sedih. Saat ini dia masih memakai seragamnya dengan sebuah jaket yang ia taruh di atas pahanya.
"Katanya dia pulang cepat. Tapi, kenapa dia masih ada di sekitar sekolah?" gumam Aratha sembari berjalan menghampirinya.
"Aku kira setelah kejadian pagi tadi, kamu nggak mau kemari." ucap Sonya, tersenyum menatap Aratha di sebelahnya. Dia tidak lagi terlihat sedih seperti tadi. Aratha merasa tidak mungkin kalau Sonya tersenyum seperti ini hanya karena melihat dirinya.
"Katanya kamu pulang cepat. Memangnya ada apa?"
"Duduklah di sini. Ada yang ingin aku katakan."
Aratha menurutinya dan duduk tepat di sebelah Sonya yang berjarak 40 senti dari tempatnya. Mereka berdua saling menunggu jawaban. Aratha yang penasaran mengapa Sonya pulang cepat dan Sonya yang penasaran bagaimana perasaan Aratha pagi tadi. Tentulah mereka menantikan jawaban yang terbaik meskipun harus menunggu waktu yang sangat lama.
"Aku ke sini karena mau mengembalikan ini. Terima kasih." Sonya meletakkan jaket milik Aratha di tengah-tengah. Tapi, bukan itu jawaban yang diinginkannya.
"Kenapa kamu pulang cepat tadi? Ada sesuatu yang terjadi?"
Sonya terdiam selama beberapa saat. Matanya menolak untuk menatap Aratha. Tidak biasanya Sonya diam seperti ini apalagi sampai tidak ingin menjawab pertanyaannya.
"Pagi tadi, aku sudah banyak bicara. Aku bahkan mengatakan sesuatu yang tak seharusnya aku katakan padamu. Jadi, aku sedikit menyesal. Kayaknya aku memang sudah mempermainkan mu sejak awal. Jadi, kamu pantas untuk marah."
"Kenapa suara kamu terdengar lemas? Sepenuhnya kamu belum menjawab semua pertanyaan ku."
Lagi-lagi Sonya terdiam. Matanya menolak untuk menatapnya. Tangannya mengepal namun, ada keraguan di dalamnya. Sonya mulai berpikir dirinya berada dalam masalah. Dia ingin mengatakan sesuatu. Namun, itu semua terlalu berat untuk dikeluarkan.
"Sonya, kamu darimana saja? Aku mencari mu dari tadi." ucap Fahruz, berjalan menghampiri Sonya dan Aratha di halte bus.
Tak ada yang tahu bagaimana cara Fahruz menemukan mereka berdua di sini. Sonya merasa lega setelah dia bertemu dengannya. Dengan cepat, Sonya langsung berlari menghampiri Fahruz dan melupakan Aratha yang menunggu jawabannya.
__ADS_1
Setelah pembicaraan singkat tanpa hasil, pada akhirnya Aratha hanya menonton punggung Sonya yang sedang berjalan di samping Fahruz. Semakin memudar dan akhirnya menghilang.
Kesal.