
Hari ini Sonya dan Aretha berjanji pergi ke perpustakaan kota. Sonya memakai tunik lengan panjang berwarna coklat. Rambutnya dikuncir setengah kuda dan ada sedikit make up yang memperindah wajahnya. Meski dia tidak begitu pandai menggunakannya.
Aratha, kamu pasti nggak akan percaya. Dalam beberapa hari lagi, aku akan mengikuti tes ujian masuk perguruan tinggi.
Belakangan ini aku sangat bersemangat. Ayahku berjanji akan pulang kalau aku berhasil menjadi lulusan terbaik tahun ini.
Aku berjuang keras sampai pada akhirnya, Pak Zaki bilang kalau aku adalah lulusan terbaik tahun ini. Aku menempati peringkat pertama dari ratusan orang angkatan kita. Aku semakin bertambah senang, karena besok, Ayah akan pulang dan aku akan membacakan pidato di depan semua teman-teman. Sudah aku pastikan Ayah akan datang dalam acara perpisahan yang akan diadakan dua hari lagi. Jadi, aku tidak akan sendirian lagi.
Terima kasih, karena kamu telah menghidupkan duniaku.
Suara klakson mobil itu terdengar dari luar rumahnya. Dengan cepat, Sonya langsung membersihkan mejanya dari alat-alat make up yang masih berserakan. Lalu setelahnya, dia langsung melangkah cepat menuruni tangga. Tak lupa, dia mengunci pintu ketika sampai di luar dan melihat sebuah mobil hitam terparkir di sana.
”Kita nggak lagi kencan kan?” Aretha membuka pintu mobilnya dan menampakkan dirinya di sana. Kaos merah yang ditutupi jaket parka adalah jenis yang sering dipakai oleh Aratha. Namun, entah apa alasannya mengapa saat ini Aretha berpenampilan seperti Aratha yang biasanya.
”Wow? Aku hampir mengira kamu itu bukan Aretha. Penampilan kamu beda sekali hari ini. Suasana hati kamu sedang senang, ya?”
”Aku juga hampir mengira kamu orang lain. Kamu jauh lebih cantik dari biasanya. Lebih bagus pakai ini daripada pakai seragam.”
”Pujian kamu berlebihan banget. Sampai-sampai rasanya aku ingin nonjok kamu.” Sonya menunjukkan kepalan tangannya yang besar dan hanya dibalas senyuman oleh Aretha yang melihatnya.
”Ayo cepat, masuk ke dalam mobil. Aku nggak mau kecantikan kamu dilihat sama cowok lain.” Aretha membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan Sonya memasukinya. Sementara Sonya hanya tersenyum hambar setelah itu dia melangkah memasukinya.
...~o0o~...
”Kamu kenapa sih? Tiba-tiba ngajak aku bareng.” Fahruz mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, melintasi jalan raya yang tidak terlalu sibuk.
”Habisnya mau gimana lagi? Kamu mau jadi orang ketiga antara Sonya sama Aretha? Aku juga nggak ada barengannya buat ke sana.” ketus Dea yang ragu berpegangan pada pinggang dan perut Fahruz.
”Yah, aku juga nggak tahu kalau mereka berdua akan sedekat ini. Mungkin sebagian dari Sonya masih belum melepaskan Aratha. Di tambah lagi, Aretha beneran mirip sama Aratha. Pasti, sangat sulit baginya untuk melepaskan jika ada seseorang yang sama.”
Dea memilih untuk tetap diam sembari mengalihkan perhatiannya. Saat dia lengah terhadap keadaan yang ada di sekitarnya, tiba-tiba motor Fahruz berhenti mendadak bahkan nyaris membuat Dea terjatuh ke samping. Beruntungnya, Fahruz secara refleks langsung menahannya saat itu juga meski hanya menggunakan satu tangan.
”Baiknya kamu pegangan yang benar. Tadi, ada orang gila yang menyebrang sembarangan.”
Fahruz semakin membuat Dea terpesona. Tatapan dinginnya saat menatap ke depan adalah sesuatu yang membuat Dea terkagum-kagum padanya. Meskipun ada sedikit keraguan dalam hatinya, Dea berusaha memantapkannya untuk berpegangan erat pada Fahruz.
Maaf Sonya. Aku mengambil Fahruz darimu. Dia benar-benar sudah membuatku terpesona.
...~o0o~...
Selama 30 menit mengendarai mobil, akhirnya mereka sampai di perpustakaan. Saat Sonya dan Aretha baru saja selesai memarkirkan mobilnya, mereka langsung disambut dengan kedatangan Fahruz dan Dea yang sudah berdiri di sini sejak tadi.
”Kalian lama! Ngapain aja?!” ketus Fahruz, menatap Aretha penuh kecurigaan.
__ADS_1
”Kamu kayaknya curigaan sama aku. Aku kan nggak ngapa-ngapain selain jemput dia di rumah. Lagian, kamu sudah bersama Dea sejak tadi kan?” jawab Aretha, sembari menatap dingin Fahruz.
”Aduh! Datang-datang malah bertengkar! Cepat masuk sebelum ramai pengunjung!” lantas Sonya menarik Dea dan berjalan memasuki perpustakaan tanpa peduli keberadaan dua cowok ini.
Belum lama ini, Dea mampu mengenali Sonya dengan baik dan dekat dengannya. Ternyata Sonya orang yang cukup baik dan selalu membantu. Dia juga menyenangkan. Dea akhirnya bisa memaklumi mengapa saat itu Alrez begitu mempertahankannya.
Saat berada di dalam perpustakaan, rasanya sedang berada di surganya para pencinta buku. Ada ratusan rak yang mampu menampung ribuan judul buku. Bahkan novel tentang percintaan pun juga ikut disertakan.
Ruangan itu penuh dengan aroma buku yang masih baru dan juga aroma kopi dari mesin minuman. Kursi dan meja yang ada di sana selalu dipenuhi oleh orang-orang yang fokus mempelajari sesuatu atau sekedar membaca buku sebagai hiburan.
”Kamu akan kemana lebih dulu?” tanya Sonya pada Dea di sebelahnya.
”Aku akan langsung ke lantai dua. Ada buku sejarah yang ingin aku pelajari.”
”Oke. Kamu pergi bersama Fahruz, ya. Jangan sampai berpisah dengannya.” Sonya langsung berlari ke belakang, menghampiri Fahruz dan Aretha yang baru saja masuk. ”... Fahruz! Aku titip Dea! Jaga dia baik-baik!” Dengan satu gerakan cepat, Sonya langsung menarik tangan Aretha dan mengajaknya berlari ke menyusuri lantai satu.
”Aduh, Sonya. Dia itu nggak pengin aku ada di dekatnya lagi?” gumam Fahruz sembari menggaruk kepala belakangnya. Setelah itu, perlahan dia pun berjalan menghampiri Dea yang sudah menunggunya.
...~o0o~...
”Aku lihat, kayaknya kamu tertarik sekali dengan hal yang berbau sains apalagi tentang makhluk hidup.”
”Apa itu jadi hal yang luar biasa buat kamu? Dewasa nanti, aku ingin menjadi seorang dokter. Aku ingin menyembuhkan semua orang dengan pengetahuan yang aku punya.”
”Kayaknya itu cocok buat kamu. Soalnya kamu orangnya tegaan.” Aretha berhenti untuk menarik nafasnya. ”Ngomong-ngomong, kamu udah nyiapin pidato buat perpisahan nanti?”
”Oh, jadi itu yang membuat kamu bersemangat? Pantas saja kamu sering menginap di sini untuk belajar.”
Sonya terkekeh kecil. ”Iya, dari dulu aku rindu Ayah. Dia sudah lama tidak pulang. Aku cukup kesepian di rumah.”
Aretha hanya mengangguk beberapa kali setelah itu keheningan pun terjadi. Aretha sibuk memandangi Sonya yang duduk di depannya. Wajah Sonya yang sedang membaca buku dan menyalinnya pada sebuah buku biasa terlihat lebih mempesona dari pada melihatnya dari depan. Bulu matanya yang hitam terlihat panjang apalagi, saat rambut depannya turun dan menutupi dahinya. Dia tersenyum-senyum sendiri meski Sonya tak menyadarinya.
Merasa ada yang aneh, Sonya kembali menatap Aretha karena sejak tadi, dia merasa Aretha hanya diam saja di depannya. ”Kamu nggak melakukan apapun gitu? Nggak ada buku yang pengin kamu baca sekarang?”
Aretha seperti dibuat terkejut dengan ucapan Sonya. Aretha terlihat panik, takut Sonya menyadari kalau dia terus memperhatikannya. Lalu dengan cepat dia mendorong kursinya ke belakang dan berdiri menatapnya.
”Aku mau ambil minuman dulu. Kamu pasti haus. Aku tinggal sebentar.” Aretha langsung berjalan pergi meninggalkan Sonya.
Tak banyak yang dilakukan Sonya. Dia hanya berkedip beberapa kali, menatap heran sifat dan hobi baru yang dimiliki Aretha sekarang.
...~o0o~...
Rasanya tegang sekali ketika ditatap oleh seorang yang disukainya. Rasanya seperti telah dicurigai melakukan suatu kejahatan. Padahal dia hanya melihatnya sebentar. Apakah itu sebuah kesalahan besar?
__ADS_1
Saat melintas, Aretha terpaku pada rak yang jauh lebih kecil dibandingkan rak yang lain. Rak itu hanya berisikan majalah dan koran saja. Namun, bukan raknya yang membuat langkahnya terhenti. Melainkan wajah dari seorang pelaku pembunuhan keluarga yang sedang dicari oleh polisi sampai sekarang dan dia diketahui sedang berada di wilayah ini.
Bisakah seorang manusia melakukan hal sekejam ini?
Tidak ada yang berani kecuali hatinya sudah ditutup oleh gelap gulitanya malam.
Aretha memiliki firasat buruk yang belum pasti terjadi namun, mengundang kecemasan. Dia langsung berbalik dan berlari menuju tempatnya berasal. Jauh dari dalam lubuk hatinya, ada rasa takut kehilangan seseorang yang dicintainya. Dan rasa takut inilah yang menjadi bumbu terakhir rasa sukanya pada Sonya.
Sonya tidak sedang berada di tempatnya.
Aretha semakin panik. Dia pun mencari-cari Sonya di segala tempat, tak peduli orang-orang menganggapnya pengganggu. Tepat di bagian rak yang berisi novel remaja, Aretha berdiri di ujung sana. Dia melihat sosok cewek sedang berdiri di tengah-tengah sembari membuka-buka beberapa buku yang menurutnya menarik.
Dia adalah Sonya.
Pikirannya akhirnya bisa sedikit lega setelah melihat Sonya baik-baik saja. Namun, ada sesuatu yang aneh dari seorang pria yang memakai jaket hitam berserta tudungnya, sedang berjalan menghampirinya Sonya.
Pertemuan ini hanyalah sebuah kebetulan. Firasat yang sebenarnya belumlah terjadi. Jantungnya kembali berdetak kencang dan seluruh kulitnya mendadak merinding.
”Sonya! Pergi dari sana!” tanpa sadar, Aretha berteriak sembari berlari menghampiri Sonya yang baru saja menyadari keberadaannya.
Waktu tampaknya sama sekali tidak berpihak pada keduanya. Saat Aretha sedang berlari ke arahnya, pria berjaket yang berada di dekat Sonya langsung menancapkan pisau, tepat mendarat di perutnya. Tunik coklat yang menjadi pakaiannya, seketika dihiasi dengan bercak darah miliknya sendiri. Sonya begitu terkejut dengan rasa sakit luar biasa yang datang padanya secara tiba-tiba. Hingga dia tidak bisa mengeluarkan suaranya.
...~o0o~...
Aretha tak pernah menyangka, pisau itu akan dilepas dari perut Sonya hingga membuat darahnya mengalir keluar. Sonya bersandar pada rak buku dan perlahan, dia menjatuhkan seluruh tubuhnya di lantai. Aretha yang sudah terlanjur kesal, langsung mengambil melempar sebuah penggaris kayu cukup besar yang akhirnya mendarat di kepala penjahat itu sampai membuatnya jatuh dan pingsan.
Melihat penjahat itu dibuat tak berdaya olehnya, Aretha langsung menghampiri Sonya yang terlihat sangat kesakitan. Dia membuka jaketnya dan mengikatkannya di perut Sonya agar darahnya berhenti keluar.
”Sonya, tenang aja. Kamu akan baik-baik aja. Aku ada di sini.” Aretha tampak cemas dan panik, berusaha untuk menenangkan Sonya yang tak bisa menahan sakitnya.
Tepat setelah itu, hujan menyapa matahari yang tak tertutup mendung. Sonya tak lagi bisa merasakan nafasnya sendiri. Rasa sakit dalam dirinya bukan hanya terjadi pada perutnya saja melainkan dadanya yang terasa terbakar seperti ditimpa oleh setrikaan panas.
”Stop, Aretha. Stop! Ini sakit.” Sonya berusaha keras untuk mengatakan kalimatnya ditengah nafasnya yang tinggal setengah. Dia tak melakukan apapun dan hanya tergeletak di bawah rak buku. Semua orang yang mendengar keributan di sana, langsung mengerumuninya untuk melihat apa yang terjadi.
”Kamu bisa bertahan. Sebentar lagi ambulan akan datang.” Aretha berusaha menghibur Sonya yang tampak tertekan karena merasa hidupnya akan berakhir di sini.
”Aretha, selama ini kamu salah tentangku. Terima kasih, karenamu aku bisa lebih baik. Terima kasih sudah berusaha.” Sonya berusaha menyentuh wajah Aretha dengan sisa tenaganya sembari tersenyum seolah mengatakan dia akan baik-baik saja. Namun, hanya berselang lima detik setelahnya, Sonya langsung menjatuhkan tangannya seperti tidak berdaya sedikitpun.
Aretha sangat tak percaya, melihat kedua mata Sonya yang langsung tertutup saat itu juga. Darah yang keluar sampai menembus jaketnya, perlahan menjadi dingin. Sunyi. Seperti tak memiliki nyawa. Aretha berusaha meyakinkan kalau saat ini, Sonya hanya pingsan saja karena tak kuat menahan sakit.
”Sonya, kumohon buka matamu. Sekali saja. Kamu akan segera sembuh. Jadi, kumohon bukalah matamu. Kamu bilang Ayahmu akan pulang besok, kan? Kamu juga harus berpidato di depan teman-temanmu. Jadi, bukalah. Kumohon.”
Aretha menjatuhkan air matanya dan bersedih untuk yang kedua kalinya setelah dia mendengar kabar Aratha sudah tidak ada. Dia sangat menyesal karena saat itu dia pergi meninggalkan Sonya sendirian.
__ADS_1
Salah satu pengunjung yang memiliki profesi sebagai bidan, mencoba untuk mengecek kesadaran dan detak jantung Sonya saat ini menggunakan stetoskop nya. Namun, setelah memeriksanya, dia menunjukkan ekspresi kekhawatiran. Takut untuk mengatakan hal yang sebenarnya terjadi.
Sejenak, dia menghembuskan nafasnya, mencoba untuk mengatakannya dengan cara baik-baik, ”Maaf, gadis ini, dia tidak selamat.”