
Untuk Aratha.
Entah kenapa, aku ingin menulis sebuah surat untukmu.
Tentu kamu tidak akan membacanya tetapi, aku harap kamu bisa mengerti isi hatiku.
Aku tidak tahu mau dikemanakan surat ini.
Tidak mungkin aku pergi ke Jakarta hanya untuk menguburnya di atas makam mu. Jadi, aku menyimpannya di bawah bantalku, berharap kamu akan datang dalam mimpiku.
Aku nggak yakin kamu akan ingat tentang perpisahan di SD Tunas Mutiara, lima tahun lalu.
Saat itu, kamu orang pertama yang menggandeng tanganku menuju panggung bersama dengan Ibumu. Muncul rasa senang dan kecewa dalam hatiku.
Rasa senang ketika kamu menyentuh tanganku dan rasa kecewa karena Ayahku ternyata tidak datang ke acara perpisahan.
Lima tahun sudah, aku tak lagi melihatmu.
Tentu aku penasaran seperti apa wajahmu ketika dewasa nanti.
Kapan kita akan bertemu lagi?
Kapan kita bisa saling mengobrol dan saling bertatap muka?
__ADS_1
Aku selalu berharap itu bisa akan terjadi. Dan ketika kita bertemu lagi, aku ingin lebih dekat denganmu.
Dan harapan itu terwujud.
Dipertengahan bulan Juni, saat upacara bendera dimulai. Aku melihatmu berdiri di barisan kelas yang tak jauh dariku. Aku sangat senang saat melihatmu. Tetapi, sepertinya kamu nggak ingat seperti apa wajahku dulu dan sekarang.
Segala cara aku lakukan untuk dekat denganmu. Kamu yang terus mengalihkan perhatian dari semua orang, menjadi suatu tantangan besar bagiku. Selangkah demi selangkah, aku terus mencoba. Tetapi, kamu selalu saja hilang seperti harapan.
Aku malu saat bertemu denganmu. Aku tidak menyambut kedatanganmu dengan senyuman melainkan sebuah tangisan ketakutanku pada Alrez.
Kamu menghiburku dengan sebuah martabak manis. Tetapi, aku tidak begitu menyukainya. Lalu, kamu memberikanku sebuah mie. Karena sudah terlanjur lapar, aku merasa harus memakannya.
Ah, kamu benar juga. Harusnya aku nggak membicarakan hal-hal yang sudah terjadi di masa lalu. Sudah jelas kamu tahu betul seperti apa sifatku ini.
Aku sangat menyukai bunga mawar yang kamu kirimkan saat itu dan juga kalimat yang membuatku semakin terpesona padamu.
Aku ingat nada piano yang selalu kamu mainkan diam-diam di ruang musik.
Aku ingat film horor yang kita tonton berdua.
Dan aku ingat rasa waffle karamel yang kamu belikan untukku.
Hari-hari bersamamu, semuanya terekam jelas di otak ku. Semua terkesan baik di hatiku yang menolak untuk menyesal karena sudah mencintaimu.
__ADS_1
Ah, iya. Lagi-lagi aku membicarakan tentang masa lalu. Jika kamu ada di depanku sekarang, kamu pasti tidak akan berhenti berdebat denganku. Tapi, itulah yang aku rindukan saat ini.
Kalau aku menciptakan sebuah mesin waktu, aku ingin menghabiskan waktu lebih sering bersamamu.
Tertawa bersama,
Berbicara tentang hal-hal yang tidak masuk akal.
Dan berjalan beriringan di bawah teduhnya pohon rindang.
Tetapi, masa depan waktu dan takdir memang tidak bisa diprediksi. Mau tidak mau, aku harus menerimanya.
Mungkin ini menjadi satu kata terakhir dariku.
Terima kasih, telah merubah warna jingga dalam hidupku.
Terima kasih sudah datang bertamu ke dalam hidupku lalu pergi tanpa mengucapkan apapun dan hanya meninggalkan secarik kertas untukku.
Jika kamu bertemu dengan Ibuku di sana, katakan padanya. Cepat atau lambat, aku akan segera menyusulnya dan menemuimu.
Terima kasih, Aratha.
Aku mencintaimu, selalu.
__ADS_1