
Besoknya, Aretha sengaja memasuki kamar Aratha ketika pagi belum tiba. Aretha yang hanya memakai baju rumahan, menatap Aratha yang tertidur sembari menahan sakit di tubuhnya. Tak tahan melihat itu semua, Aretha mencoba mengalihkannya dengan melihat seragam Aratha yang menggantung di dalam lemari yang terbuka.
Aratha memang selalu menjaga kebersihan dan kerapiannya. Seragam yang dipakainya kemarin sangat jauh dari bau keringat. Tidak ada satupun sampah maupun buku yang berceceran di sana. Pemandangan ini jelas berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan oleh Aretha selama ini pada kamarnya sendiri. Kecoa bahkan sangat betah tinggal di lemarinya hingga membuat keluarga besar di dalamnya.
Aretha merobek kertas biru milik Aratha. Dia menuliskan sesuatu di sana dan meninggalkannya tepat di bawah bantal yang ditiduri Aratha. Setelah itu, dia langsung pergi dari kamarnya dengan membawa seragam milik Aratha.
...~o0o~...
Sonya baru saja sampai di sekolahnya. Fahruz ada urusan lain di sana jadi, dia harus pergi ke kelasnya sendiri. Dia melewati beberapa kelas termasuk kelasnya Aratha yang sudah dikerumuni orang-orang seperti sedang antri bantuan sosial. Kerumunan heboh itu sampai menutupi seluruh koridor sehingga Sonya harus memutar otak bagaimana dia bisa sampai ke kelasnya dengan melompati puluhan orang yang seketika berubah menjadi seorang jurnalis dadakan.
”Apa sih yang heboh di sana? Bikin penasaran saja.” Sonya berlari mendekati kerumunan. Dia masuk ke dalamnya karena penasaran dengan sesuatu yang terjadi di kelas Aratha.
Setelah terus bergelut hebat dan berhimpitan sampai-sampai membuatnya sesak, Sonya akhirnya berhasil masuk ke dalam kelas Aratha. Dia pikir mereka hanya mengerumuni hal konyol seperti perang kelereng atau orang yang mendadak kesurupan karena bermain game setan. Tapi, kali ini pemandangannya sangat berbeda.
Sonya membeku ketika dia melihat Aratha sedang memukuli lima orang laki-laki di sana sampai babak belur. Semuanya terpojok, menatap Aratha yang terlihat sangar dan tidak biasanya. Tentunya ini menjadi pemandangan baru bagi Sonya. Dia tidak pernah tahu keseharian Aratha di kelasnya dan dia tidak tahu kalau Aratha sampai melakukan kekerasan seperti ini.
”Aratha! Berhenti!” tanpa sadar Sonya berteriak dan mengundang perhatian semua orang termasuk Aratha yang langsung menatapnya.
Sonya sedikit heran karena memar yang ada di wajah Aratha sudah tidak ada lagi. Pakaiannya pun terlihat sangat berbeda di hari-hari biasanya. Aratha tak pernah menggulung lengannya dan selalu memakai jaket setiap hari. Rambutnya juga sedikit lebih pendek dari orang ini. Mestinya, Sonya tak akan tertipu dengan penampilan Aratha di pagi yang mendung ini.
”Kamu ikut aku!”
Sonya langsung menarik Aratha pergi meninggalkan kelasnya meskipun Aratha sempat menarik diri. Semua orang melihatnya dan penasaran dengan apa yang akan dilakukannya. Namun, Sonya langsung menatap dingin mereka dan itu membuat semua orang berhenti mengejarnya.
Sonya terus menarik Aratha menuju koridor yang lebih sepi. Dan ketika sudah cukup sepi, Aratha langsung menarik tangannya dan menjaga jarak darinya.
”Kamu ini apa-apaan! Seenaknya saja menarik orang lain!” ketus Aratha.
Sonya berdiri menghadap Aratha dengan terengah-engah. Sorot matanya terlihat serius saat dia berkata, ”Kamu bukan Aratha! Kamu ini siapa?”
__ADS_1
”Maksud kamu apaan? Aku ini satu-satunya pemilik nama Aratha di sini!”
”Bohong! Aratha nggak pernah melipat bajunya, memukuli orang tanpa alasan, rambutnya selalu tertata rapi dan tiap hari dia selalu tidur di UKS! Kamu pasti bukan Aratha!”
”Apaan sih? Bisa-bisanya ngarang!”
”Cepat jawab! Aku serius!”
Aratha terdiam menatap Sonya heran. Antara pikiran dan hatinya terasa sedang berperang, memperdebatkan sesuatu yang seharusnya menjadi rahasia atau bukan. Matanya menilai dan mulutnya menunggu untuk mengucapkan sesuatu.
”Iya, kamu emang benar. Aku bukan Aratha tapi Aretha.”
...~o0o~...
Hari ini Aratha terbangun dalam keadaan terkejut. Dia sudah membuka-buka lemarinya berulang kali namun, dia tidak menemukan seragamnya. Aratha menatap bantal yang baru saja ditidurinya dan terdapat sebuah kertas kecil yang terselip di bawahnya.
Istirahatlah yang benar! Aku hanya melakukan ini sekali saja! Lain kali jangan menyusahkan!
”Sonya juga ada di sana. Pastinya dia tahu kalau yang sekolah saat ini bukan aku.”
...~o0o~...
”Hah? Saudara kembar? Beneran?!” ucap Sonya tak percaya. Keduanya duduk di bawah pohon mangga yang sedang tidak berbuah.
”Iya! Kamu baru tahu? Aratha nggak pernah cerita apa-apa ke kamu?” ketus Aretha.
”Aratha nggak pernah cerita soal keluarganya. Aku sampai hafal kata-kata pertama yang selalu diucapkannya padaku. 'Apaan sih' dan 'minggir'. Cuma itu setelahnya, dia malah mengajakku berdebat.”
”Aratha juga nggak pernah cerita kalau dia sedang dekat dengan cewek aneh. Dia itu punya dua sisi yang beda. Saat berada di antara orang lain, dia akan bertindak dingin dan galak. Tetapi, saat berada di keluarganya dia berubah menjadi orang baik yang hangat. Dasar dua orang aneh!”
__ADS_1
”Kenapa mukamu kesal begitu? Harusnya kamu senang! Aratha yang berada di antara keluarganya sendiri tidak menjadi orang lain. Dia akan tetap menjadi Aratha yang dulu dan tidak akan berubah.”
Ekspresi Sonya seketika berubah menjadi sendu seperti orang yang mengingat peristiwa buruk yang terjadi dalam hidupnya dan tentang Ayahnya sendiri. Aretha memperhatikan meskipun sebenarnya dia tidak begitu peduli padanya.
”Gimana aku mau senang kalau muka kamu sedih begitu padahal kamu sendiri yang ngomong.”
”Aku mau tanya. Kenapa hari ini kamu menggantikan Aratha? Apa sesuatu terjadi padanya? Apa dia sedang sakit?”
Pertama kalinya, Aretha melihat wajah cemas milik Sonya. Matanya berkedip cepat beberapa kali, menatap Sonya dengan heran. Kenapa sih cewek ini?
”Heh! Kamu beneran cemas sama Aratha? Dia itu bukan keluarga atau teman dekatmu. Jadi, kamu nggak perlu repot kayak gini.”
”Emangnya kenapa harus dipermasalahkan? Wajar aja kalau satu manusia mengkhawatirkan manusia yang lain dan memiliki perasaan takut kehilangan!”
”Kamu nggak bohong?”
”Ngapain aku bohong?! Buang-buang tenaga buat ngomong!”
Tanpa aba-aba, Aretha langsung mendekatkan wajahnya pada wajah Sonya sehingga tatapan mereka berdua hanya berjarak beberapa senti saja. Aretha menunjukkan tatapan tak percaya sedangkan, Sonya mencoba untuk menjaga jarak dengannya.
”Kalau aku yang kenapa-napa, kamu bakalan cemas ke aku?” tanya Aretha penuh penasaran.
Sonya merasa tidak enak jika dia mengatakan kalau ia tidak akan cemas pada Aretha karena Aretha terlihat baik-baik saja. Lagi pula, dia belum kenal jelas dengan cowok ini. Bisa saja dia memiliki niat jahat dan maksud tersembunyi yang sangat besar melebihi pencuri.
”Iya, deh. Aku bakalan cemas ke kamu. Tapi, kamu nggak berharap sesuatu yang buruk menimpa kamu kan?” canggung Sonya.
”Nggak juga.”
”Terus? Kamu beneran mikir sesuatu yang buruk menimpa kamu?!”
__ADS_1
”Wajar dong! Aku kan laki-laki! Sekali-kali aku pengin ada cewek yang masuk dalam hidupku!”
Mendengarnya sempat membuat Sonya terkejut. Sifat Aretha ini berbanding terbalik dengan sifat Aratha. Aratha tak suka seseorang menyelam masuk ke dalam hidupnya sedangkan Aretha menerima siapa saja yang mau masuk dalam hidupnya. Katanya, saudara kembar memiliki ikatan batin yang lurus. Akan tetapi, rasanya ikatan batin yang satu ini sudah benar-benar ruwet.